Friday, 19 October 2018

Kimi no Koe wo Todoketai


Kimi no Koe wo Todoketai
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

rekomendasi tontonan mendidik bagi anak

Kimi no Koe wo Todoketai atau secara internasional dikenal dengan Your Voice -KIMIKOE- merupakan animasi movie Jepang yang dirilis oleh Madhouse Studio pada 25 Agustus 2017. Cerita berfokus pada gadis Sekolah Menengah Atas (SMA) bernama Nagisa Yukiai yang tinggal di kota tepi pantai. Ia mempercayai cerita neneknya bahwa roh-roh hidup dalam kata-kata dan mereka disebut dengan istilah kotodama (kata roh). Suatu hari, Nagisa masuk ke sebuah stasiun radio mini bernama Aqua Marine yang sudah lama tidak digunakan selama bertahun-tahun. Nagisa secara spontan mencoba untuk berbicara layaknya seorang penyiar radio menggunakan fasilitas tersebut. Namun, suaranya tidak sengaja menjangkau seseorang yang tidak pernah ia duga, yakni Shion Yakazawa, seorang anak perempuan dari pemilik stasiun radio mini tersebut. Dahulu ibu Shion merupakan pengelola sekaligus penyiar stasion radio mini Aqua Marine, namun karena suatu tragedi kecelakaan lalu lintas, ibu Shion harus terbaring koma di rumah sakit selama bertahun-tahun sampai sekarang.
Plot utama cerita anime movie ini menceritakan upaya Nagisa bersama teman-temannya untuk menghibur Shion. Nagisa bersama teman-temannya bertekad untuk menghidupkan kembali stasiun radio Aqua Marine dan meyakinkan Shion bahwa suatu hari ibunya akan mendengar siaran tersebut serta bangun dari komanya.

Adapun tokoh-tokoh yang terdapat pada Kimi no Koe wo Todoketai, di antaranya:

1. Nagisa Yukiai

Kimi no Koe wo Todoketai

Nagisa merupakan tokoh utama dari Kimi no Koe wo Todoketai. Nagisa digambarkan sebagai seseorang yang periang dan sangat peduli terhadap teman-temannya. Ia percaya bahwa terdapat roh kata, yakni apabila berucap hal baik dengan sungguh-sungguh, maka suatu hari nanti pasti akan terwujud. Sebaliknya jika berucap suatu hal yang negatif kepada orang lain, maka hal negatif tersebut akan kembali kepada diri kita.

2. Shion Yakazawa

Kimi no Koe wo Todoketai

Shion merupakan anak perempuan dari pemiliki stasiun radio mini Aqua Marine, yang dahulu sangat terkenal di kota tepi pantai tersebut. Ibu Shion merupakan pengelola sekaligus penyiar radio mini Aqua Marine. Namun, karena mengalami kecelakaan lalu lintas, ibu Shion harus terbaring koma di rumah sakit. Semenjak kejadian tersebut, Shion menjadi seorang yang pendiam dan sering merenung. Shion hampir menyerah dengan keadaan ibunya, sampai suatu ketika akhirnya secara tidak sengaja bertemu dengan Nagisa.

3. Kaede Tatsunokuchi

Kimi no Koe wo Todoketai

Kaede adalah sahabat Nagisa sejak kecil. Kaede satu sekolah dengan Nagisa dan merupakan kapten tim kriket sekolah. Kaede memiliki sifat yang selalu bersemangat, blak-blakan, dan tidak mau kalah.

4. Shizuka Dobashi

Kimi no Koe wo Todoketai

Shizuka adalah sahabat Nagisa sejak kecil. Shizuka satu sekolah dengan Nagisa. Shizuka terkesan pendiam. Namun, dibalik sifatnya itu, ia memiliki impian besar untuk melanjutkan sekolah ke Perancis untuk mempelajari pastry (membuat kue). Ia bercita-cita menjadi seorang pastry, yang bisa membuat kue yang enak.

5. Yuu Hamasuka

Kimi no Koe wo Todoketai

Yuu merupakan teman satu sekolah Nagisa pada saat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, pada saat SMA Yuu bersekolah di sekolah yang berbeda dengan Nagisa, Kaede, dan Shizuka. Yuu adalah cucu dari seorang yang berjasa terhadap pembangunan kota tepi pantai yang kini mereka tinggali. Karena itu, Yuu diharapkan dapat menjadi penerus sang kakek. Yuu merupakan kapten tim kriket di sekolahnya, yang merupakan tim kriket unggulan di perfektur tersebut.

Hal-hal positif yang terdapat pada animasi movie Kimi no Koe wo Todoketai, antara lain:

1. Peduli terhadap teman

Kimi no Koe wo Todoketai

Peduli terhadap teman merupakan inti utama yang disajikan dalam animasi movie Kimi no Koe wo Todoketai. Nagisa sangat peduli terhadap teman-temannya. Bahkan terhadap Shion, seseorang yang baru ia kenal secara tidak sengaja.

2. Indahnya persahabatan

Kimi no Koe wo Todoketai

Kimi no Koe wo Todoketai juga mengilustrasikan bagaimana indahnya persahabatan gadis SMA, yang digambarkan dengan persahabatan Nagisa, Kaede, Shizuka, Shion, Yuu, dan teman-teman lainnya.
 
3. Tetap percaya dan pantang menyerah

Kimi no Koe wo Todoketai

Shion hampir menyerah terhadap keadaan ibunya yang terbaring koma selama bertahun-tahun. Namun, setelah ia secara tidak sengaja bertemu dengan Nagisa, ia kembali memiliki semangat dan percaya bahwa kelak suatu hari ibunya akan tersadar dan bangun dari komanya.

4. Rivalitas yang sehat

Kimi no Koe wo Todoketai

Kaede selalu menganggap Yuu sebagai rivalnya. Meski begitu, saat Yuu memiliki masalah, Kaede sangat peduli terhadap Yuu, serta tetap menganggap Yuu sebagai sahabatnya.
Read More

Thursday, 18 October 2018

Media Pembelajaran Garis Bilangan


Media Pembelajaran Garis Bilangan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

garis bilangan

Garis bilangan adalah garis lurus yang ditandai dengan sejumlah titik jarak dari satu titik ke titik lain sama panjang. Pada setiap titik tertulis satu bilangan. Bilangan-bilangan tersebut merupakan rangkaian bilangan berurutan dari bilangan negatif terkecil di sebelah kiri nol sampai dengan bilangan positif terbesar di sebelah kanan nol.
Penggunaan media pembelajaran garis bilangan memudahkan siswa dalam penjumlahan dan pengurangan bilangan. Siswa akan lebih mudah memahami dan menguasai materi penjumlahan dan pengurangan bilangan jika dalam proses pembelajaran digunakan media pembelajaran garis bilangan. Kemampuan anak berkembang secara bertahap mulai dari yang sederhana ke yang rumit, mulai dari yang mudah ke yang sulit, dan mulai dari yang konkrit ke yang abstrak. Sehingga diharapkan dengan penggunaan media pembelajaran garis bilangan dapat meningkatkan kemampuan siswa terhadap penjumlahan dan pengurangan bilangan.
Untuk menjelaskan sebagian pengerjaan hitung pada bilangan bulat dapat digunakan garis bilangan, karena dengan garis bilangan ini akan memudahkan siswa dalam memahami pengerjaan hitung. Pada penggunaan garis bilangan ini sebaiknya disiapkan kapur atau spidol berwarna, sehingga “warna untuk lambang bilangan pada garis bilangan dengan lambang bilangan yang menunjukkan langkah-langkah pengerjaan berbeda” (Karso, 1998, hlm. 5). Menurut Akhsin (2006, hlm. 13) “pada penjumlahan ditunjukkan dengan melangkah ke sebalah kanan atau maju dan langkah pada garis bilangan dengan arah panah ke kanan, sedangkan pengurangan dengan melangkah ke sebelah kiri atau mundur dalam langkah pada garis bilangan dengan arah panah ke kiri”.
Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat akan lebih mudah dipahami bila menggunakan media pembelajaran garis bilangan. Media ini berisi tentang bagaimana cara menggunakan garis bilangan, penerapan cara menggunakan garis bilangan pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Media ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang dapat menjelaskan secara detail tentang penjumlahan dan pengurangan menggunakan garis bilangan sehingga siswa dapat lebih cepat memahami materi pembelajaran tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Cara menggunakan garis bilangan pada penjumlahan ditunjukkan dengan melangkah ke sebelah kanan atau maju dan langkah pada garis bilangan arah panah ke kanan. Sedangkan cara menggunakan garis bilangan pada pengurangan ditunjukkan dengan melangkah ke sebelah kiri atau mundur dalam langkah garis bilangan dengan arah panah ke kiri.
Kelebihan penggunaan media pembelajaran garis bilangan secara umum, di antaranya:
1. Media yang digunakan praktis dan mudah.
2. Kesepakatan yang ada mudah diingat oleh siswa.
Adapun kelemahan penggunaan media pembelajaran garis bilangan, antara lain:
1. Tidak melibatkan siswa secara langsung dalam melakukan praktiknya.
2. Tidak dapat secara langsung untuk mengkongkritkan operasi pengurangan, dalam hal ini siswa harus mengubah operasi pengurangan menjadi operasi penjumlahan.

Referensi
Akhsin, N. (2006). Matematika untuk SD/MI. Klaten: Cempaka Putih.
Karso (1998). Pendidikan Matematika I. Jakarta: Depdikbud.
Read More

Wednesday, 17 October 2018

Hakikat Perkembangan Bahasa Anak


Hakikat Perkembangan Bahasa Anak
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

perkembangan bahasa anak

Salah satu bidang perkembangan dalam pertumbuhan kemampuan dasar anak adalah pengembangan bahasa. Bahasa memungkinkan anak untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam simbol-simbol yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berpikir.
Menurut Vygotsy (dalam Susanto, 2011, hlm. 73) menyatakan bahwa “language provide a means for expressing ideas and asking question and it provides the categories and concept for thinking”. Sejalan dengan itu, Susanto (2011, hlm. 74) menyatakan bahwa “bahasa adalah alat untuk berpikir, mengekspresikan diri dan berkomunikasi”. Keterampilan bahasa juga penting dalam rangka pembentukan konsep, informasi, dan pemecahan masalah. Melalui bahasa pula kita dapat memahami komunikasi pikiran dan perasaan. Melalui bahasa anak dapat berinteraksi dengan orang lain dan menemukan banyak hal baru dalam lingkungan tersebut. Melalui bahasa, anak juga mampu menuangkan suatu ide atau gagasan terhadap keinginannya tersebut. Bahasa dan komunikasi adalah dua aspek perkembangan yang berperan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa kemampuan ini, sulit bagi manusia untuk berinteraksi satu sama lain.
Secara umum tahap-tahap perkembangan bahasa anak dapat dibagi dalam sejumlah rentang usia, yang masing-masing menunjukkan karakteristik tersendiri. Guntur (dalam Susanto, 2011, hlm. 75) menjabarkan tahapan perkembangan bahasa anak sebagai berikut:
1. Tahap I (pralinguistik), yakni usia 0-1 tahun. Tahap ini terdiri atas:
a. Tahap meraba-1 (pralinguistik pertama). Tahap ini dimulai dari bulan pertama hingga bulan keenam di mana anak akan mulai menangis, tertawa, dan menjerit.
b. Tahap meraba-2 (pralinguistik kedua) Tahap ini pada dasarnya merupakan tahap kata tanpa makna, mulai dari bulan keenam hingga bulan ke-12.
2. Tahap II (linguistik). Tahap ini terdiri atas:
a. Tahap I holafrastik, usia satu tahun, ketika anak-anak mulai menyatakan makna keseluruhan frasa atau kalimat dalam satu kata. Tahap ini juga ditandai dengan pembendaharaan kata anak hingga kurang lebih 50 kosakata.
b. Tahap II frasa, usia satu sampai dua tahun, pada tahap ini anak sudah mampu mengucapkan dua untaian kata. Tahap ini juga ditandai dengan pembendaharaan kata anak sampai dengan 50-100 kosakata.
c. Tahap III pengembangan tata bahasa, yaitu prasekolah usia tiga, empat, sampai lima tahun. Pada tahap ini anak sudah membuat kalimat. Dilihat dari aspek pengembangan tata bahasa, seperti Subyek-Predikat-Obyek, anak dapat memperpanjang kata menjadi satu kalimat.
d. Tahap IV tata bahasa menjelang dewasa, yaitu usia enam sampai delapan tahun. Tahap ini ditandai dengan kemampuan menggabungkan kalimat sederhana dan kalimat kompleks.
Aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan bahasa anak menurut Jamanis (dalam Susanto, 2011, hlm. 77) dapat dibagi ke dalam tiga aspek, yaitu:
1. Kosakata
Seiring dengan perkembangan bahasa anak dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan, kosakata anak akan berkembang dengan pesat.
2. Sintaksis (tata bahasa)
Walaupun anak belum mempelajari tata bahasa, melalui contoh-contoh berbahasa yang didengar dan dilihat anak di lingkungan, anak telah dapat menggunakan bahasa lisan dengan susunan kalimat yang baik.
2. Semantik
Semantik artinya penggunaan kata sesuai dengan tujuan. Anak sudah dapat mengekspresikan keinginan, penolakan, dan pendapatnya dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat.
Pengembangan keterampilan bahasa anak merupakan kemampuan yang sangat penting untuk berkomunikasi terutama bagi mereka yang sudah masuk ke lingkungan pendidikan prasekolah. Tujuan pengembangan bahasa anak adalah:
1. Mendengarkan, menyimak, menggunakan bahasa lisan dan lebih siap dalam bermain dan belajar.
2. Menggunakan pembicaraan, untuk mengorganisasikan, mengurutkan, berpikir jelas, ide-ide, perasaan, dan kejadian-kejadian.
3. Merespons terhadap komentar, pertanyaan, dan perbuatan yang relevan.
4. Memperluas kosakata, meneliti arti, dan suara dari kata-kata baru.
5. Berbicara lebih jelas dan dapat didengar dengan kepercayaan dan pengawasan, serta bagaimana memperlihatkan kesadaran pada pendengar.
Sesuai tujuan yang dijabarkan, maka dalam pelaksanaan upaya pengembangan bahasa anak diperlukan sejumlah prinsip dasar. Prinsip pengembangan bahasa anak yang disajikan oleh Susanto (2011, hlm. 82), antara lain:
1. Sesuaikan dengan tema kegiatan dan lingkungan terdekat.
2. Pembelajaran harus berorientasi pada kemampuan yang hendak dicapai sesuai potensi anak.
3. Komunikasi guru dan anak akrab dan menyenangkan.
4. Guru menguasai hakikat pengembangan bahasa anak.
5. Diberikan alternatif pikiran dalam mengungkapkan isi hati anak.

Referensi
Susanto, A. (2011). Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Predana Media Group.
Read More

Tuesday, 16 October 2018

Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia


Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

makna proklamasi kemerdekaan indonesia

Melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia berarti bangsa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya secara formal, baik kepada dunia internasional maupun kepada bangsa Indonesia sendiri, bahwa mulai saat itu bangsa Indonesia telah merdeka. “Merdeka berarti bahwa mulai saat itu bangsa Indonesia mengambil sikap menentukan nasibnya dan nasib tanah airnya dalam segala bidang” (Joeniarto, 1996, hlm. 4). Pada sisi lain, proklamasi kemerdekaan sekaligus juga pernyataan bahwa Indonesia telah cakap untuk mengurus rumah tangganya sendiri dan memberitahukan sudah menegakkan suatu negara nasional yang merdeka dan berdaulat.
Keterangan kemerdekaan tersebut menandai revolusi Indonesia telah mulai berjalan. “Revolusi ini memusnahkan dan meruntuhkan keadaan yang lama dan memunculkan keadaan yang lama dan memunculkan pembentukan negara dan masyarakat baru, negara, dan masyarakat Indonesia” (Yamin, 1982, hlm. 24). Dengan adanya proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, maka mulai saat itu hanya berlaku tata hukum Indonesia, menggantikan tata hukum kolonial.
“Dengan kondisi itu berarti bangsa Indonesia telah memutuskan ikatan dengan tata hukum yang sebelumnya, baik tatanan hukum Hindia Belanda maupun tatanan hukum pendudukan Jepang” (Joeniarto, 1996, hlm. 6). Hal itulah yang sesungguhnya menjadi tujuan dari proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Proklamasi menjadi dasar hukum bagi pelaksanaan tatanan hukum yang baru. Proklamasi menjadi dasar hukum bagi berlakunya hukum nasional. Dengan demikian, segala macam peraturan, hukum, dan ketentuan yang berlaku dan akan berlaku di Indonesia, dasar hukumnya adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Menurut Joeniarto (1996, hlm. 6) Proklamasi kemerdekaan indonesia dianggap sebagai “norma pertama daripada tata-hukum Indonesia”.
Norma pertama atau ada pula yang menyebut sebagai norma dasar adalah norma/aturan/ketentuan hukum yang pertama adanya pada tata-hukum yang bersangkutan. Oleh karena itu, norma/aturan/ketentuan ini menjadi dasar bagi berlakunya segala macam norma/aturan/ketentuan hukum yang lainnya. Dengan dasar pemikiran itu, maka dapat dikatakan bahwa norma pertama menjadi dasar bagi segala sumber hukum, atau ketentuan/peraturan hukum lainnya. Segala macam ketentuan atau peraturan hukum yang terdapat dalam tata-hukum yang bersangkutan harus dapat dikembalikan kepada norma pertamanya.
Timbulnya norma pertama ini dapat dipelajari dengan pendekatan bidang ilmu, seperti filsafat, sosiologis, politis, sejarah, dan sebagainya. Dengan dasar pemikiran tersebut, maka Proklamasi Kemerdekaan merupakan norma pertama bagai tata-hukum Indonesia dasarnya tidak akan dapat dicari dalam tata-hukum Jepang maupun Belanda. Hal ini mudah dimengerti sebab “pada tata-hukum kolonial tentu saja tidak akan mungkin terdapat suatu ketentuan ataupun aturan yang memungkinkan bagi bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya” (Joeniarto, 1996, hlm. 8).
Pada kenyataannya proklamasi kemerdekaan adalah tingkatan penutup perjuangan kemerdekaan yang bergolak di Indonesia. Pada sisi lain, proklamasi kemerdekaan menjadi permulaan atau titik awal perjuangan bagi negara merdeka Republik Indonesia.

Referensi
Joeniarto (1996). Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, M. (1982). Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Read More

Kategori