Friday, 20 July 2018

Lingkungan Sekolah


Lingkungan Sekolah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

lingkungan sekolah SD

Sekolah merupakan lingkungan pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal. Selain itu, sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Lingkungan sekolah juga menyangkut lingkungan akademis, yaitu “sarana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, berbagai kegiatan kurikuler, dan lain sebagainya” (Sukmadinata, 2004, hlm. 164).
Menurut Sukmadinata (2004, hlm. 164) “lingkungan sekolah memegang peranan penting bagi perkembangan belajar para siswanya”. Lebih lanjut Dalyono (2009, hlm. 59) mengemukakan bahwa “keadaan sekolah turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar”.
Sekolah merupakan sebuah lembaga yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan siswa. Sekolah merupakan tempat kedua selain keluarga dalam pembentukan karakter dan pribadi anak. Menurut Hasbullah (2006, hlm. 34-35) fungsi lingkungan sekolah, antara lain:
1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan.
2. Mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh, menyampaikan pengetahuan, dan melaksanakan pendidikan kecerdasan.
3. Spesialisasi
Semakin meningkatnya diferensiasi dalam tugas kemasyarakatan dan lembaga sosial, sekolah juga sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
4. Efesiensi
Keberadaan sekolah sebagai lembaga sosial yang berspesialisasi di bidang pendidikan dan pengajaran, maka pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien.
5. Sosialisasi
Sekolah membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial, makhluk yang beradaptasi dengan baik di masyarakat.
6. Konservasi dan transmisi kultural
Ketika memasuki lingkungan sekolah, anak mendapat kesempatan untuk melatih kemandirian dan bertanggungjawab sebagai persiapan sebelum hidup di masyarakat.
Menurut Tu’u (2004, hlm. 18) faktor yang mempengaruhi lingkungan sekolah, di antaranya:
1. Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik. Melalui ilmu dan keterampilan yang dimiliki, guru dapat menjadikan siswa menjadi individu yang cerdas dan disiplin.
2. Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Keadaan gedung sekolah dan ruang kelas yang tertata rapi, ruang perpustakaan sekolah yang teratur, tersedianya fasilitas kelas dan laboratorium, tersedianya buku-buku pelajaran, media/alat bantu belajar merupakan komponen yang penting untuk mendukung kegiatan-kegiatan belajar.
3. Kondisi gedung
Kondisi gedung meliputi kondisi yang kokoh, ventilasi udara yang baik, sinar matahari dapat masuk, penerangan lampu yang cukup, dan ruang kelas yang luas merupakan komponen penting yang perlu diperhatikan. Apabila suasana ruang gelap, ruangan sempit, tidak ada ventilasi, dan gedung rusak akan menjadikan proses belajar yang kurang baik sehingga membuat proses belajar menjadi terhambat.

Referensi
Dalyono, M. (2009). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasbullah (2006). Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukmadinata, N. S. (2004). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tu’u, T. (2004). Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Belajar. Jakarta: Grasindo.
Read More

Thursday, 19 July 2018

Karakteristik Anak Disleksia


Karakteristik Anak Disleksia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

anak disleksia

Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys berarti sulit dan legein berarti berbicara. Jadi, menderita disleksia berarti “menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis” (Auryn, 2007, hlm. 92). Menurut Partowisastro (1986, hlm. 50) disleksia adalah “seorang anak yang mengalami gagal belajar membaca yang diakibatkan karena fungsi neurologis (susunan dan hubungan saraf) tertentu, atau pusat saraf untuk membaca tidak berfungsi sebagaimana diharapkan”.
Berdasar pada sejumlah definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa disleksia adalah seorang anak yang menderita gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis yang disebabkan karena fungsi neurologis tertentu atau pusat saraf untuk membaca tidak berfungsi dengan baik.
Tanda-tanda disleksia tidak terlalu sulit dikenali. Anak yang menderita disleksia apabila diberi sebuah buku yang tidak mereka tahu, mereka akan membuat cerita berdasarkan gambar-gambar yang ada di buku tersebut, yang mana antara gambar dan ceritanya tidak memiliki keterkaitan sedikitpun.
Menurut Wood, dkk. (2007, hlm. 28) “anak yang mengidap disleksia mengalami ketidakmampuan dalam membedakan dan memisahkan bunyi dari kata-kata yang diucapkan”. Sebagai contoh, anak tidak dapat memahami makna kata “buku” dan malah mengeja satu persatu huruf yang membentuk kata tersebut. Selain itu, anak yang mengidap disleksia memiliki kesulitan dalam permainan yang mengucapkan bunyi-bunyi yang mirip, seperti salah mengucap “buku” dan “bulu”.
Lebih lanjut, Fanu (2007, hlm. 60) mengemukakan ciri-ciri anak disleksia, sebagai berikut:
1. Membaca dengan amat lamban dan terkesan tidak yakin atas apa yang ia ucapkan.
2. Menggunakan jarinya untuk mengikuti pandangan matanya yang beranjak dari satu teks ke teks berikutnya.
3. Melewatkan beberapa suku kata, frasa, atau bahkan baris-baris dalam teks.
4. Menambahkan kata-kata atau frasa-frasa yang tidak ada dalam teks yang dibaca.
5. Mebolak-balik susunan huruf atau suku kata dengan memasukkan huruf-huruf lain.
6. Salah melafalkan kata-kata dengan kata lainnya, sekalipun kata yang diganti tidak memiliki arti yang penting dalam teks yang dibaca.
7. Membuat kata-kata sendiri yang tidak memiliki arti.
8. Mengabaikan tanda-tanda baca.
Sedangkan menurut Sulhan (2006, hlm. 36) ciri-ciri anak disleksia, di antaranya:
1. Tidak lancar membaca.
2. Sering terjadi kesalahan dalam membaca.
3. Kemampuan memahami isi bacaan sangat rendah.
4. Sulit membedakan huruf yang mirip.
Semua anak pernah membuat kesalahan-kesalahan seperti di atas ketika mereka baru mulai belajar membaca. Tetapi, pada anak-anak yang menderita disleksia kesulitan-kesulitan tersebut terus berlanjut dan menjadi masalah tersendiri bagi perkembangan prestasi akademik mereka.
Terdapat dua tipe disleksia, dijabarkan sebagai berikut:
1. Tipe auditoris (auditory processing problems)
Auditory processing problems adalah ketidakmampuan membedakan antara bunyi-bunyi yang sama dari kata-kata yang diucapkan, atau untuk membedakan antara bagian-bagian kalimat yang terucap dengan suara-suara lain yang menjadi latar belakang dari dialog ketika kalimat-kalimat tersebut diucapkan.
Gejala-gejala yang dimiliki oleh tipe auditoris ini menurut Sulhan (2006, hlm. 35), sebagai berikut:
a. Kesulitan dalam diskriminasi auditoris dan persepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analitis fonetik. Contohnya anak tidak bisa membedakan kata “katak”, “kakak”, dan “bapak”.
b. Kesulitan analisis dan sintesis auditoris. Contohnya kata “ibu” tidak dapat diuraikan menjadi “i-bu”.
c. Kesulitan auditoris bunyi atau kata. Jika diberi huruf tidak dapat mengingat bunyi huruf atau kata tersebut, atau jika melihat kata tidak dapat mengungkapkannya walaupun mengerti arti kata tersebut.
d. Membaca dalam hati lebih baik daripada membaca dengan lisan.
e. Kadang-kadang disertai dengan gangguan urutan auditoris.
f. Anak cenderung melakukan aktivitas visual.
2. Tipe visual
Permasalahan penglihatan yang akut memang sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca anak. Ketidaksesuaian ini diduga berpengaruh terhadap cara kerja syaraf-syaraf yang mempengaruhi kerja otot-otot mata, yang mana kondisi ini berakibat pada terganggunya koordinasi mata.
Gejala-gejala yang dimiliki oleh tipe visual menurut Sulhan (2006, hlm. 36), sebagai berikut:
a. Tendensi terbalik, misalnya “b” dibaca “d”, “p” dibaca “g”, “u” dibaca “n”, “m” dibaca “w”, dan sebagainya.
b. Kesulitan diskriminasi pada huruf-huruf atau kata-kata yang mirip.
c. Kesulitan mengikuti dan mengingat urutan visual. Jika diberi huruf cetak untuk menyusun kata akan mengalami kesulitan, misalnya kata “ibu” menjadi “ubi” atau “iub”.
d. Memori visual terganggu.
e. Kecepatan persepsi lambat.
f. Kesulitan analisis dan sisntesis visual.
g. Hasil tes membaca buruk.
h. Biasanya lebih baik dalam kemampuan aktivitas auditoris.

Referensi
Auryn, V. (2007). How to Create a Smart Kids (Cara Praktis Menciptakan Anak Sehat dan Cerdas). Yogyakarta: Kata Hati.
Fanu, J. L. (2007). Deteksi Dini Masalah-Masalah Psikologis Anak. Yogyakarta: Think.
Partowisastro, K. (1986). Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sulhan, N. (2006). Pembangunan Karakter pada Anak Manajemen Pembelajaran Guru Menuju Sekolah Efektif. Surabaya: SIC.
Wood, D., dkk. (2007). Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Yogyakarta: Kata Hati.
Read More

Monday, 16 July 2018

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pengembangan kurikulum

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum.
Menurut Sukmadinata (2000, hlm. 1) pengembangan kurikulum dapat berarti “penyusun kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), dapat juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement)”. Pada satu sisi pengembangan kurikulum berarti menyusun seluruh perangkat kurikulum mulai dari dasar-dasar kurikulum, struktur dan sebaran mata pelajaran, garis-garis besar program pengajaran, sampai dengan pedoman-pedoman pelaksanaan (macro curriculum). Pada sisi lain berkenaan dengan penjabaran kurikulum yang telah disusun oleh tim pusat menjadi rencana dan persiapan-persiapan mengajar yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru-guru di sekolah, seperti penyusunan rencana tahunan, semester, satuan pelajaran, dan lain-lain (micro curriculum).
Pendekatan lebih menekankan pada usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa metode yang tepat, yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah sistematik untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Kurikulum merupakan suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan, dan evaluasi kurikulum. Jadi, pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
Berdasar cakupan pengembangannya, terdapat dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum, yakni:

1. Pendekatan top down
Pendekatan top down adalah pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah. Pendekatan top down disebabkan pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan, seperti kementrian pendidikan, dirjen pendidikan atau para kepala kantor wilayah. Selanjutnya dengan menggunakan garis komando ke bawah. Oleh karena itu, pendekatan ini dinamakan juga line staff model. Biasanya pendekatan ini banyak dipakai di negara-negara yang memiliki sistem pendidikan sentralisasi.
Berdasar cakupan pengembangannya, pendekatan top down dapat dilakukan baik untuk menyusun kurikulum yang benar-benar baru (curriculum construction) maupun penyempurnaan kurikulum yang sudah ada (curriculum impovement).
Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum top down dijabarkan seperti gambar berikut:

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Berdasar gambar di atas, tampak jelas bahwa inisiatif perubahan dan penyempurnaan kurikulum dimulai oleh pemegang kebijakan kurikulum atau para pejabat yang berhubungan dengan pendidikan, sedangkan tugas guru hanya sebagai pelaksana kurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kebijakan.

2. Pendekatan grass roots
Pendekatan grass roots merupakan kebalikan dari pendekatan top down, yaitu inisiatif pengembangan yang dimulai dari lapangan atau dimulai dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas. Oleh karena sifatnya, maka pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan kurikulum, walaupun dalam skala yang terbatas mungkin juga digunakan dalam mengembangkan kurikulum baru.
Ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat dilakukan pada saat menggunakan pendekatan grass roots, yaitu:
a. Menyadari adanya masalah. Pendekatan grass roots biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya, didasarkan ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau kegiatan evaluasi seperti yang diharapkan, atau masalah kurangnya motivasi belajar siswa. Pemahaman dan kesadaran guru akan adanya suatu masalah merupakan kunci dalam grass roots.
b. Mengadakan refleksi. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan, misalnya dengan membaca buku, atau jurnal hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
c. Mengajukan hipotesis atau jawaban sementara berdasarkan hasil kajian refleksi serta menetapkan berbagai kemungkinan munculnya masalah dengan cara penanggulangannya.
d. Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan dengan situasi dan kondisi lapangan.
e. Mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus menerus hingga terpecahkan masalah yang dihadapi.
f. Membuat dan menyusun hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass roots. Langkah ini sangat penting dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga memungkinkan dapat diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar.
Peran guru sebagai implementator perubahan dan penyempurnaan kurikulum dengan pendekatan grass roots sangat menentukan. Tugas para administator dalam pengembangan dengan pendekatan ini, tidak lagi berperan sebagai pengendali pengembangan, tetapi sebagai motivator dan fasilitator.

Referensi
Sukmadinata, N. S. (2000). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Read More

Sunday, 15 July 2018

Alat Musik Tradisional Saluang


Alat Musik Tradisional Saluang
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

saluang

Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatera Barat. Alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang. Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat Saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tetapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm.
Fungsi saluang di Minangkabau adalah sebagai ungkapan emosional dari pemainnya yang mengungkapkan perasaan yang sedang ada pada dirinya sehingga melalui paduan kesenian salaung ini, pemain saluang akan merasa puas dengan apa yang ia rasakan. Saluang juga berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat, yakni dengan cara memberi kesan kegembiraan dan kemeriahan dalam berbagai kegiatan yang ada di tengah masyarakat. Saluang juga sering dimainkan di berbagai acara adat Minangkabau, seperti acara perkawinan, batagak penghulu, batagak rumah gadang, dan sebagainya.
Alat musik tradisional saluang memiliki berbagai jenis, antara lain:

1. Saluang darek

Alat Musik Tradisional Saluang

Saluang darek merupakan jenis instrumen musik tiup yang sangat populer di Minangkabau. Dinamakan saluang darek, karena tempat tumbuh dan berkembangnya instrumen ini terutama di daerah darek Minangkabau yang lebih dikenal dengan sebutan Luhan Nan Tigo.
Saluang darek dibuat dari bambu talang yang mempunyai ruas panjang. Talang yang baik untuk dijadikan saluang adalah talang yang agak tebal. Besar dan panjang saluang darek tergantung pada keinginan orang yang membuat atau si peniup saluang itu sendiri. Pada umumnya orang membuat saluang darek dengan garis tengah sekitar 3-3,5 cm. Saluang darek mempunyai empat buah lobang nada dengan keadaan ujung dan pangkal saluang tetap bolong. Bunyi dihasilkan melalui tiupan pada salah satu sisi yang bolong tersebut.
Berdasar pada bentuknya, instrumen musik saluang darek termasuk jenis end blown flute (tidak mempunyai lidah). Fungsi utama saluang darek adalah sebagai alat untuk mengiringi dendang (musik vokal Minangkabau). Di sisi lain, saluang darek juga berfungsi sebagai hiburan pribadi bagi anggota masyakarat yang dimainkan secara tunggal, sebagai ungkapan perasaan yang tidak dapat disampaikan pada orang lain.

2. Saluang pauah

Alat Musik Tradisional Saluang


Saluang pauah termasuk jenis instrumen musik aerophone dan memiliki lidah (wistle flute) yang sangat dikenal di daerah Pauah. Saluang ini memiliki enam buah lobang nada dengan teknik meniup hampir sama dengan recorder. Saluang pauah biasanya digunakan untuk mengiringi dendang kaba dalam acara adat di daerah Pauah dan sekitarnya, yang dilaksanakan pada malam hari sampai menjelang subuh. Pertunjukan saluang pauah dalam konteks upacara adat lebih bersifat hiburan untuk memeriahkan upacara.

3. Saluang sirompak

Alat Musik Tradisional Saluang

Saluang sirompak termasuk jenis instrumen musik aerophone dan tidak memiliki lidah (end blown flute) yang berkembang terutama di daerah Taeh Barueh, Sumatera Barat. Saluang sirompak memiliki lima lobang nada dengan ketentuan empat lobang nada terdapat pada bagian atas dan satu lobang nada terdapat pada bagian belakang (sejajar atau tepat di bawah lobang nada keempat).
Dahulu, fungsi utama dari siluang sirompak adalah sebagai alat untuk mengiringi dendang yang lebih dikenal dengan dendang sirompak. Dendang dan siluang sirompak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan musik sirompak, suatu pertunjukan yang bersifat ritual magis.

4. Saluang panjang

Alat Musik Tradisional Saluang

Saluang panjang termasuk jenis instrumen musik aerophone dan tidak memiliki lidah (end blown flute) berkembang terutama di daerah Sungai Pagu, Sumatera Barat. Saluang jenis ini sering juga disebut dengan saluang sungai pagu. Instrumen saluang panjang mempunyai tiga lobang nada dengan ketentuan dua lobang nada terletak pada bagian atas dan satu lobang nada terletak pada bagian bawah. Saluang panjang biasanya difungsikan untuk mengiringi dendang, khusunya dendang-dendang yang berkembang di daerah Sungai Pagu.

Adapun cara memainkan alat musik tradisional saluang secara umum dijabarkan sebagai berikut:
1. Posisi mulut
Posisi bibir sangat erak kaitannya dengan arah kemiringan saluang yang dimainkan oleh seseorang. Jika saluang tersebut arah miringnya ke sebelah kiri, maka saluang diletakkan pada tepi bibir sebelah kanan, sebaliknya jika saluang tersebut arahnya miring ke sebelah kanan, maka saluang diletakkan pada tepi bibir sebelah kiri. Jika diperhatikan dengan seksama, posisi saluang pada mulut dan teknik memegang saluang, maka akan terbentuk sudut kurang lebih 45 derajat sehingga arah kepala agak berlawanan dengan kemiringan saluang.
2. Posisi jari
Jika posisi saluang agak miring ke kanan-bawah, maka posisi jarinya sebagai berikut:
a. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kanan ditempatkan pada dua lubang sebelah bawah dari saluang.
b. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kiri ditempatkan pada dua buah lubang sebelah atas saluang.
c. Posisi tangan tidak tegak lurus, tetapi sedikit serong.
Adapun untuk pemain saluang yang kidal, posisi jari harus berlawanan sebagai berikut:
a. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kiri ditempatkan pada dua lubang sebelah bawah dari saluang.
b. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kanan ditempatkan pada dua buah lubang sebelah atas saluang.
3. Posisi duduk
Posisi duduk umumnya bagi si peniup saluang adalah dengan sikap duduk bersila di atas tikar bersama-sama dengan tukang dendang dan para penonton. Hal tersebut melambangkan kesederhanaan dan dapat menimbulkan suatu keakraban satu sama lain.
Terdapat dua teknik cara meniup saluang, sebagai berikut:
1. Tiupan yang berasal dari rahang dalam kerongkongan, yakni berasal dari bagian dalam mulut.
2. Tiupan dari mulut, yaitu tiupan udara yang dilahirkan dari rongga mulut di mana seolah-olah terdapat gelembung udara di dalam rongga mulut tersebut yang siap untuk ditiupkan ke lubang saluang.
Read More

Saturday, 14 July 2018

Rayman Legends


Rayman Legends
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

rekomendasi game mendidik bagi anak Rayman Legends

Rayman Legends adalah sebuah video game yang dikembangkan oleh Ubisoft Montpellier. Game ini merupakan seri kelima dari Rayman series dan sequel lanjutan dari game Rayman Origins. Rayman Legends dirilis untuk platform Microsoft Windows, Xbox 360, PlayStation 3, Nintendo Wii U, dan PlayStation Vita pada Agustus 2013. Kemudian pada Februari 2014, Rayman Legends rilis untuk versi PlayStasion 4 dan Xbox One.
Alur cerita pada game Rayman Legends berfokus pada ketiga karakter utama, yakni Rayman, Globox, dan Teensy. Dikisahkan mereka bertiga telah tertidur satu abad lamanya. Di dalam tidurnya, mereka mengalami mimpi buruk yang sama bahwa penyihir yang selamat dari ledakan pada petualangan sebelumnya telah menjadi lima Teensies jahat yang telah menangkap 10 putri kerajaan dan para Teensies lainnya. Rayman, Globox, dan Teensy kemudian terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa mimpi yang mereka alami adalah suatu kenyataan. Mereka bertiga kemudian memiliki misi untuk menyelamatkan 10 putri kerajaan dan para Teensies yang ditangkap tersebut.
Permainan ini dimulai dengan berlari mengumpulkan benda bernama Item Lums dengan cara menyentuhnya, sambil mengalahkan musuh, maupun membebaskan para Teensies yang ditangkap. Dengan menyelamatkan dan membebaskan para Teensies akan membuka map baru. Map pada game ini sangat banyak, sampai lebih dari 120 variasi level.
Rayman Legends merupakan permainan dua dimensi (2D), akan tetapi memiliki kualitas gambar serta tampilan karakter dan lingkungan yang berwarna-warni. Selain itu, game ini juga terkenal memiliki background suara yang sangat baik. Ada banyak rintangan yang variatif di berbagai map pada game ini. Sejalan dengan itu, Rayman Legends banyak mendapat respons positif dari kritikus game. Hal tersebut terbukti dengan rater-rater game ternama, seperti IGN memberi skor 9,5/10, Gamespot memberi skor 9,0/10, dan GameTrailers memberi skor 9,1/10.
Game Rayman Legends dapat dimainkan secara local multiplayer sampai dengan empat pemain sekaligus. Untuk itu, game ini sangat seru dimainkan oleh anak bersama teman-teman ataupun bersama keluarga. Fitur local multiplayer ini didukung dengan banyaknya karakter yang tersedia untuk dimainkan. Terdapat puluhan karakter yang dapat dimainkan jika kita sudah mencapai poin tertentu dalam game.
Sejumlah tokoh yang terdapat pada game Raymand Legends, antara lain:

1. Rayman

Rayman Legends

2. Globox

Rayman Legends

3. Teensy

Rayman Legends

4. Barbara

Rayman Legends

Adapun hal-hal yang mendidik dari game Rayman Legends, di antaranya:

1. Mempererat keakraban sambil bermain

Rayman Legends

Rayman Legends dapat dimainkan secara local multiplayer sampai dengan maksimal empat pemain. Maka dari itu, game ini sangat cocok untuk dimainkan oleh anak bersama dengan teman-temannya atau bersama keluarga. Hal ini dapat menambah keakraban anak dengan teman seusianya maupun dengan keluarga.

2. Melatih psikomotor halus anak

Rayman Legends

Pada game Rayman Legends, anak diharuskan untuk mengontrol suatu karakter dengan berbagai gerakan, seperti berjalan, melompat, mengalahkan musuh, menghindari halang rintang, dan sebagainya. Hal tersebut dapat melatih psikomotor halus anak. Anak diharuskan untuk menggerakkan karakter yang ia mainkan secara tepat dengan menekan tombol-tombol tertentu pada controler yang ia genggam.

3. Mengembangkan imajinasi anak

Rayman Legends

Rayman Legends menyuguhkan kualitas gambar yang luar biasa. Adegan-adegan pada game ini sangat menyenangkan untuk dilihat. Animasi-animasi sederhana yang terdapat pada background dari sepanjang permainan dikemas sangat menarik dan berwarna. Kesemuaan hal tersebut secara tidak langsung mengembangkan imajinasi anak melalui animasi dan warna-warna yang terdapat pada game Rayman Legends.

4. Melatih kesabaran

Rayman Legends

Secara umum, game Rayman Legends memang memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu sulit. Game ini memang betul-betul didesain dan ditujukan untuk dapat dimainkan oleh berbagai jenjang usia, baik anak maupun orang dewasa sekalipun. Meski begitu, beberapa poin pada game ini tetap memiliki kesulitan tersendiri dan perlu kesabaran untuk dapat melewati rintangan tersebut.
Read More

Kategori