Tuesday, 21 August 2018

Perbedaan Pendekatan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif


Perbedaan Pendekatan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pendekatan kualitatif atau kuantitatif

Pemahaman yang benar dalam menggunakan pendepatan, metode, atau teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal penting agar dapat dicapai hasil yang akurat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan. Pembahasan berikut memberikan ulasan singkat mengenai perbedaan antara pendekatan penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian kualitatif berdasar pada sejumlah hal tertentu, sebagai berikut:

1. Penekanan penelitian
Pendekatan penelitian kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian. Pendekatan penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang akan menentukan tahap berikutnya, seperti teknik analisis dan teknik statistik yang akan digunakan. Pendekatan penelitian kuantitatif lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik.
Pendekatan penelitian kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu, lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dibandingkan hasil. Oleh karena itu, urutan kegiatan dapat diubah-ubah tergantung kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan.

2. Dasar penelitian
Pendekatan penelitian kuantitatif berpijak pada hal-hal yang bersifat konkret, uji empiris, dan fakta-fakta yang nyata atau terukur.
Lain halnya dengan pendekatan penelitian kualitatif, dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsirkan berdasarkan sudut pandang yang bersangkutan dengan cara mencari makna dan dari gejala yang sedang diteliti.

3. Tujuan penelitian
Pendekatan penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, mengungkap fakta, menunjukkan hubungan antar variabel, memberikan deskripsi statistik, serta menaksir dan memprediksi hasil.
Adapun tujuan pendekatan penelitian kualitatif adalah mengembangkan pengertian, konsep-konsep yang pada akhirnya menjadi teori.

4. Desain penelitian
Desain pendekatan penelitian kuantitatif terstruktur, baku, formal, dan dirancang sematang mungkin. Desain pendekatan penelitian kuantitatif bersifat spesifik dan detail karena merupakan suatu rancangan yang akan dilaksanakan sebenarnya.
Lain halnya dengan desain pendekatan penelitian kualitatif, desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah/berkembang sesuai dengan situasi lapangan. Desain hanya digunakan sebagai asumsi dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu, desain harus fleksibel dan terbuka.

5. Penggunaan data
Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya berbentuk angka-angka.
Sebaliknya pada penelitian kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan atau dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, dan catatan-catatan lapangan saat penelitian dilakukan.

6. Penggunaan sampel
Pada pendekatan penelitian kuantitatif, jumlah sampel besar karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin besar sampel akan mempresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan penelitian kuantitatif membutuhkan sampel yang besar, maka stratafikasi sampel sangat diperlukan.
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan penelitian kualitatif karena pada pendekatan ini penekanan pemilihan sampel didasarkan pada kualitasnya bukan jumlah. Ketepatan dalam memilih sampel merupakan salah satu kunci keberhasilan pendekatan penelitian kualitatif. Sampel dipandang sebagai sampel teoritis dan tidak representatif.

7. Teknik pengumpulan data
Jika pendekatan penelitian kuantitatif diterapkan, maka teknik yang digunakan berbentuk observasi terstruktur, survei menggunakan kuesioner, dan eksperimen. Di dalam melakukan interview biasanya diberlakukan interview terstruktur untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan untuk menguji hipotesis.
Jika peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, maka yang bersangkutan menggunakan teknik observasi terlibat langsung dengan hal yang diteliti.

8. Hubungan peneliti dengan sumber data
Pada penelitian yang menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan tersebut, seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat obyektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitian yang dilakukan berjangka waktu pendek.
Pada pendekatan penelitian kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun antara peneliti dengan sumber data didasarkan pada saling kepercayaan. Pada praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sampelnya manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner, bukan obyek penelitian.

9. Analisis data
Analisis data penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris terhadap teori yang digunakan dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik.
Analisis data pada penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan, yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep untuk membangun teori baru.
Read More

Sunday, 19 August 2018

Penugasan Kepala Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah


Penugasan Kepala Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 
tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Penugasan Kepala Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah

Kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan yang meliputi taman kanak-kanak (TK), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), atau sekolah Indonesia di luar negeri.
Guru dapat menjadi bakal calon kepala sekolah apabila memenuhi syarat berikut:
1. Memiliki kualifikasi akademik paling rendah sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari perguruan tinggi dan program studi yang terakreditasi paling rendah B.
2. Memiliki sertifikat pendidik.
3. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) memiliki pangkat paling rendah Penata, golongan ruang III/c.
4. Pengalaman mengajar paling singkat enam (6) tahun menurut jenis dan jenjang sekolah masing-masing, kecuali di TK/TKLB memiliki pengalaman mengajar paling singkat tiga (3) tahun.
5. Memiliki hasil penilaian prestasi kerja guru dengan sebutan paling rendah “baik” selama dua (2) tahun terakhir.
6. Memiliki pengalaman manajerial dengan tugas yang relevan dengan fungsi sekolah paling singkat dua (2) tahun.
7. Sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA berdasarkan surat keterangan dari rumah sakit pemerintah.
8. Tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
9. Tidak sedang menjadi tersangka atau tidak pernah menjadi terpidana.
10. Berusia paling tinggi 56 tahun pada waktu pengangkatan pertama sebagai kepala sekolah.
Dinas provinsi, kabupaten/kota sesuai kewenagannya menyusun proyeksi kebutuhan kepala sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah untuk jangka waktu lima (5) tahun yang diperinci per satu (1) tahun. Dinas provinsi, kabupaten/kota juga melakukan koordinasi dengan penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk menyusun proyeksi kebutuhan kepala sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk jangka waktu lima (5) tahun yang diperinci per satu (1) tahun. Dinas provinsi, kabupaten/kota atau penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat perlu menyiapkan calon kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan calon kepala sekolah berdasarkan proyeksi kebutuhan.
Penyiapan calon kepala sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan masyarakat dilakukan melalui tiga tahap berikut:
1. Pengusulan bakal calon kepala sekolah.
2. Seleksi bakal calon kepala sekolah.
3. Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah.
Pengusulan bakal calon kepala sekolah pada satuan pendidikan dilakukan oleh:
1. Kepala sekolah dapat mengusulkan guru pada satuan pendidikannya untuk menjadi bakal calon kepala sekolah kepada kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
2. Guru pada satuan pendidikan yang memenuhi persyaratan dapat mengajukan permohonan untuk mengikuti seleksi bakal calon kepala sekolah kepada kepala dinas provinsi, kabupaten/kota setelah mendapat rekomendasi dari kepala sekolah satuan administrasi pangkal tempat guru bersangkutan bertugas.
Seleksi bakal calon kepala sekolah dilakukan dalam dua (2) tahap:
1. Seleksi administrasi
Seleksi administrasi merupakan penilaian dokumen, meliputi:
a. Fotokopi ijazah kualifikasi akademik.
b. Fotokopi sertifikat pendidik.
c. Fotokopi surat keputusan pangkat dan jabatan terakhir bagi guru yang diangkat oleh pemerintah daerah.
d. Fotokopi surat keputusan pengangkatan atau perjanjian kerja bagi guru bukan PNS pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
e. Surat keterangan pengalaman mengajar yang dikeluarkan oleh satuan pendidikan.
f. Fotokopi hasil penilaian prestasi kerja pegawai dalam dua (2) tahun terakhir.
g. Fotokopi surat keputusan atau surat keterangan terkait pengalaman manajerial dengan tugas yang relevan dengan fungsi sekolah.
h. Surat keterangan sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA yang dikeluarkan oleh rumah sakit pemerintah.
i. Surat keterangan tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat dari atasan atau pejabat yang berwenang.
j. Surat pernyataan tidak sedang menjadi tersangka atau tidak pernah menjadi terpidana.
k. Surat rekomendasi dari kepala sekolah atau pimpinan penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
2. Seleksi substansi
Seleksi substansi dilaksanakan setelah bakal calon kepala sekolah lolos seleksi administrasi. Seleksi substansi merupakan tes potensi kepemimpinan yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS). Hasil seleksi substansi disampaikan oleh LPPKS  kepada dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota atau penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan masyarakat yang mengajukan bakal calon kepala sekolah.
Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah diikuti oleh bakal calon kepala sekolah yang sudah dinyatakan lolos seleksi substansi. LPPKS dalam hal melaksanakan pendidikan dan pelatihan dapat berkerjasama dengan lembaga lain yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dengan persetujuan Direktur Jenderal. Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dibiayai oleh pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
Bakal calon kepala sekolah yang dinyatakan lulus pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah diberi Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal. Bakal calon kepala sekolah yang dinyatakan tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti kembali pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah paling banyak dua (2) kali.
Pengangkatan kepala sekolah dilaksanakan bagi calon kepala sekolah yang telah memiliki Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah. Proses pengangkatan calon kepala sekolah dilaksanakan oleh pejabat pembina kepegawaian atau pimpinan penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan kewenangannya setelah mendapat rekomendasi dari tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah.
Penugasan kepala sekolah pada satuan pendidikan dilaksanakan dengan periodisasi. Setiap masa periode dilaksanakan dalam kurun waktu empat (4) tahun. Setelah menyelesaikan tugas pada periode pertama, kepala sekolah dapat diperpanjang penugasannya paling banyak tiga (3) kali masa periode atau paling lama 12 tahun. Penugasan kepala sekolah periode pertama pada satuan administrasi pangkal yang sama paling sedikit dua (2) tahun dan paling lama dua (2) masa periode atau delapan (8) tahun. Apabila hasil penilaian prestasi kerja tidak mencapai dengan sebutan paling rendah “baik”, kepala sekolah yang bersangkutan tidak dapat diperpanjang masa tugasnya. Kepala sekolah yang tidak diperpanjang masa tugasnya dapat ditugaskan kembali sebagai guru. Setelah menyelesaikan tugas pada periode ketiga, kepala sekolah dapat diperpanjang penugasannya untuk periode keempat setelah melalui uji kompetensi.
Adapun beban kerja kepala sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan delapan (8) standar nasional pendidikan.
Penilaian prestasi kerja kepala sekolah dilakukan secara berkala setiap tahun. Penilaian prestasi kerja kepala sekolah, meliputi sasaran kerja pegawai (SKP) dan perilaku, serta kehadiran. Penilaian prestasi kerja kepala sekolah dilakukan berbasis bukti fisik peningkatan mutu delapan (8) standar nasional pendidikan. Pelaksanaan penilaian prestasi kerja kepala sekolah dilaksanakan oleh kepala dinas provinsi, kabupaten/kota atau penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dapat dibantu oleh pengawas sekolah.
Kepala sekolah dapat diberhentikan dari penugasan karena:
1. Mengundurkan diri.
2. Mencapai batas usia pensiun guru.
3. Diangkat pada jabatan lain.
4. Tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajibannya.
5. Dikenakan sanksi hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
6. Hasil penilaian prestasi kerja tidak mencapai dengan sebutan paling rendah “baik”.
7. Tugas belajar enam (6) bulan berturut-turut atau lebih.
8. Menjadi anggota partai politik.
9. Menduduki jabatan negara.
10. Meninggal dunia.

Referensi
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah.
Read More

Saturday, 18 August 2018

Crash Team Racing (CTR)


Crash Team Racing (CTR)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

CTR

Crash Team Racing (CTR) adalah video game yang dipublikasikan oleh Sony Computer Entertainment dan dikembangkan oleh Naughty Dog untuk platform PlayStation 1. Permainan ini dirilis pada tahun 1999.
Pada game ini kita akan mengendalikan semacam go-kart yang dikemudikan oleh berbagai karakter berbentuk hewan yang beragam. Variasi karakter ini bukan hanya sekedar tampilan saja. Pada saat kita akan memulai adventure mode (mode petualangan), kita bisa melihat bahwa masing-masing karakter memiliki kelebihan dan kekurangan. Terdapat tiga parameter yang membedakan, yakni speed (kecepatan), accel (akselerasi), dan turn (kemampuan berbelok).
Tidak hanya variasi karakter yang beragam, di setiap track yang kita mainkan akan tersebar dua jenis kotak. Kotak pertama yang tidak bermotif akan memberikan karakter kita buah yang jika dikumpulkan akan memberikan bonus tertentu. Kotak kedua bergambar tanda tanya yang secara acak akan memberikan kita berbagai jenis power-up, seperti tembakan listrik, rudal, bom, kotak perangkap, ramuan perangkap, turbo, dan sebagainya.
CTR sangat menyenangkan untuk dimainkan, baik sendiri maupun bersama-sama. Game ini akan menghibur sekaligus memberikan tantangan melalui desain level/track yang ada. Pada CTR, lawan kita bukan satu-satunya hal yang perlu kita khawatirkan, karena terkadang kita bisa saja kehilangan posisi pertama karena jebakan-jebakan yang tersebar di track.
Tidak terbatas di jebakan saja, jika kita teliti, kita akan menyadari bahwa track dalam CTR juga memiliki berbagai jalan rahasia yang bisa membantu kita selama balapan. Hal ini membuat track CTR jauh lebih menarik.

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam Crash Team Racing (CTR), di antaranya:

1. Crash Bandicoot

Crash Team Racing (CTR)

2. Doctor Neo Cortex

Crash Team Racing (CTR)


3. Tiny Tiger

Crash Team Racing (CTR)

4. Coco Bandicoot

Crash Team Racing (CTR)

5. N. Gin

Crash Team Racing (CTR)

6. Dingodile

Crash Team Racing (CTR)

7. Polar

Crash Team Racing (CTR)

8. Pura

Crash Team Racing (CTR)

9. Riper Roo

Crash Team Racing (CTR)

10. Papu Papu

Crash Team Racing (CTR)

11. Komodo Joe

Crash Team Racing (CTR)

12. Pinstripe

Crash Team Racing (CTR)

13. Fake Crash

Crash Team Racing (CTR)

14. Penta Penguin

Crash Team Racing (CTR)

15. N. Tropi

Crash Team Racing (CTR)

16. Nitros Oxide

Crash Team Racing (CTR)

Adapun sejumlah hal yang mendidik dari game Crash Team Racing (CTR), antara lain:

1. Bermain bersama keluarga/teman

Crash Team Racing (CTR)

Crash Team Racing (CTR) dapat dimainkan sendiri, namun lebih menyenangkan apabila dimainkan secara multiplayer atau bersama-sama. CTR dapat dimainkan segala usia, baik anak-anak, remaja, sampai dewasa. Untuk itu, anak dapat bermain CTR bersama keluarga/teman.

2. Mengenal dasar-dasar mengemudi

Crash Team Racing (CTR)

Crash Team Racing (CTR) merupakan game balapan go-kart. Cara mengemudi pada game ini cukup sederhana, yakni maju, belok kiri, belok kanan, dan rem. Maka, melalui permainan ini, anak secara tidak langsung mengenal bagaimana dasar-dasar mengemudi.

3. Melatih motorik halus

Crash Team Racing (CTR)

Tujuan utama dari permainan Crash Team Racing (CTR) adalah balapan untuk finish pada urutan pertama. Untuk hal tersebut, tentunya anak perlu memahami fungsi-fungsi tombol yang terdapat pada game CTR, seperti tombol gas, belok, rem, dan mengeluarkan power-up secara tepat. Dengan demikian, motorik halus anak secara tidak langsung terlatih.

4. Melatih konsentrasi

Crash Team Racing (CTR)

Pada sepanjang track balapan yang harus anak lalui pada permainan Crash Team Racing (CTR) terdapat beragam halang rintang. Untuk melalui kesemuaan hal tersebut tentunya diperlukan konsentrasi, agar anak dapat mengemudikan karakter yang ia pilih, melewati segala halang rintang dan finish pada urutan pertama.
Read More

Kategori