Monday, 12 November 2018

Lembar Kerja Siswa IPA SD Merawat Tanaman Mangga


Lembar Kerja Siswa IPA SD Merawat Tanaman Mangga
Karya: Siti Putri Indriani

pohon mangga

Mangga adalah buah yang mudah dijumpai di Indonesia. Bentuk buah mangga bermacammacam, ada yang berbentuk agak bulat, oval, lonjong, dan lain-lain. Buah mangga memiliki kulit yang berwarna hijau jika masih mentah. Warna kulit buah mangga ada yang berubah menjadi hijau kekuningan hingga oranye jika sudah masak.

Lembar Kerja Siswa IPA SD Merawat Tanaman Mangga

Pohon mangga sering ditanam di pekarangan rumah atau kebun. Pemeliharaannya cukup mudah sehingga banyak orang suka menanam pohon mangga. Pemeliharaan pohon mangga meliputi penyiangan, pembumbunan, pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut rumput atau tumbuhan liar di sekitar pohon mangga. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan pohon mangga tidak terganggu. Saat penyiraman tanaman, tanah di bawah pohon mangga akan merosot terbawa air. Pembumbunan dilakukan untuk menimbun kembali tanah yang merosot karena terbawa air.
Pemupukan dilakukan untuk membantu meningkatkan kesuburan tanaman. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemangkasan juga perlu dilakukan secara rutin. Hal ini bertujuan agar produksi buah mangga jauh lebih baik. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan pestisida dan insektisida pada tanaman. Penyemprotan pestisida dan insektisida hanya dilakukan saat hama dan serangga menyerang. Hama yang sering menyerang antara lain kepik buah, lalat buah, codot, dan tungau.

Lengkapilah teka-teki silang berikut berdasarkan teks bacaan!

Lembar Kerja Siswa IPA SD Merawat Tanaman Mangga

Mendatar
1. Warna mangga yang masih muda.
3. Hama yang sering menyerang pohon mangga.
4. Hewan yang makan buah mangga di pohon.
8. Salah satu bentuk buah mangga.
10. Pekerjaan mencabut rumput atau tumbuhan liar.

Menurun
2. Pupuk yang digunakan untuk pohon mangga.
5. Tempat menanam pohon mangga.
6. …… diberikan pada tanaman untuk
meningkatkan kesuburan tanah.
7. Rasa buah mangga yang masak.
9. Benda ini sangat dibutuhkan tanaman.
Read More

Saturday, 10 November 2018

Simbiosis


Simbiosis
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kehidupan semua makhluk hidup dapat berlangsung karena adanya dukungan dari lingkungan sekitarnya. Hubungan tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan khas antar makhluk hidup seperti ini disebut simbiosis. Hubungan tersebut tidak selamanya menguntungkan. Jika hubungan tersebut menimbulkan keuntungan bagi keduanya, dinamakan simbiosis mutualisme.  Jika hubungan tersebut hanya menguntungkan salah satunya dan tidak merugikan yang lain, disebut simbiosis komensalisme. Jika hubungan tersebut menuntungkan salah satunya dan merugikan yang lain, dinamakan simbiosis parasitisme. Lebih lanjut ketiga jenis simbiosis tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Simbiosis mutualisme

simbiosis

Simbiosis mutualisme adalah hubungan dua makhluk hidup berbeda jenis yang saling menguntungkan. Contohnya hubungan antara lebah dan bunga. Makanan lebah adalah nektar bunga. Oleh karena itu, lebah akan hinggap di bunga, jika sedang makan. Gerakan lebah ketika sedang mengisap madu bunga dapat merontokkan serbuk sari yang ada pada bunga. Serbuk sari tersebut dapat menempel pada tubuh lebah. Ketika lebah berpindah tempat, serbuk sari yang menempel di tubuhnya dapat jatuh pada putik bunga yang dihinggapi. Akibatnya, terjadilah proses penyerbukan. Hal yang sama juga terjadi pada hubungan kupu-kupu dan tumbuhan berbunga.

2. Simbiosis komensalisme

simbiosis

Simbiosis komensalisme adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang berbeda jenis yang satu mendapat keuntungan dan yang lain tidak dirugikan. Contoh simbiosis komensalisme adalah hubungan antara tanaman anggrek dan pohon. Tanaman anggrek menempel pada pohon, tetapi tidak menghisap makanan dari pohon yang ditempelinya karena anggrek dapat membuat makanan sendiri. Tanaman anggrek hanya membutuhkan tempat yang tinggi agar mendapat cahaya materi yang cukup. Jadi, tumbuhan yang ditempeli tidak dirugikan walaupun anggrek memperoleh keuntungan dari tumbuhan tersebut.

3. Simbiosis parasitisme

Simbiosis

Simbiosis parasitisme adalah hubungan dua makhluk hidup yang berbeda jenis, yang satu mendapat keuntungan dan yang lain dirugikan. Contoh simbiosis parasitisme adalah hubungan antara tali putri dan pohon inang. Tali putri hidup menempel pada pohon inang. Tali putri menghisap zat-zat makanan dari pohon inang sehingga tali putri merugikan pohon inang. Pada hubungan ini, tali putri dinamakan tumbuhan parasit.
Read More

Friday, 9 November 2018

Perjanjian Roem-Royen


Perjanjian Roem-Royen
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

roem-royen

Perjanjian Roem-Royen adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Nama perjanjian ini diambil dari kedua pemimpin delegasi, yakni Muhammad Roem dan Herman van Royen.
Pasca Agresi Militer Belanda II, atas desakan Amerika Serikat selaku anggota Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa, akhirnya pada tanggal 14 April 1949 perundingan antara Indonesia dengan Belanda dapat dibuka kembali, delegasi Indonesia dipimpin oleh Muhammad Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Herman van Royen, yang merupakan perundingan pendahuluan sebelum diadakan perundingan puncak. Perundingan tersebut diketuai oleh Cochran, yang kemudian menyampaikan pidato tentang tujuan perundingan dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam perundingan tersebut.
Selanjutnya ketua delegasi Belanda, Herman van Royen menyampaikan pidato yang berisi:
1. Pemerintah Belanda telah menerima undangan untuk konferensi persiapan ini tanpa syarat.
2. Pemerintah Belanda bersedia menempatkan soal kembalinya pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta sebagai pasal yang akan dibicarakan dengan syarat bahwa hasil-hasil perundingan ini hanya akan mengikat seandainya tercapai kata sepakat mengenai kedua pokok acara, yakni soal penghentian permusuhan dan pemulihan ketertiban dan ketentraman, serta syarat-syarat dan tanggal untuk menandatangani Konferensi Meja Bundar di Den Haag.
3. Usul Belanda mengenai penyerahan kedaulatan yang dipercepat, Herman van Royen mengatakan bahwa ini akan bersifat tanpa syarat, nyata, dan lengkap, sedang Uni Indonesia-Belanda tidak akan menjadi super state, melainkan hanya merupakan suatu bentuk kerjasama antar negara-negara yang berdaulat, Indonesia dan Belanda atas dasar persamaan dan kesukarelaan sepenuhnya.
Selanjutnya ketua delegasi Indonesia, Muhammad Roem menyampaikan pidato tentang pandagannya sebagai berikut:
1. Pemerintah Republik Indonesia dengan menyesal harus menyatakan bahwa aksi militer Belanda yang kedua telah menggoyahkan kepercayaan pada itikad baik pemerintah Belanda, reaksi negatif ini tidak saja terlihat dalam Republik Indonesia, seperti telah diletakkan jabatan oleh pemerintah Indonesia Timur dan pemerintah Pasundan serta dari resolusi badan-badan yang menyalahkan tindak tanduk militer tersebut, dan resolusi dari luar negeri, seperti Konferensi New Delhi, yang dihadiri oleh negara-negara Asia Selatan dan Tenggara.
2. Pemerintah Republik tidak berpendapat bahwa pokok-pokok yang disebut intruksi Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa pada tanggal 23 Maret 1949 sebagai pokok-pokok yang harus dibicarakan pada konferensi ini. Harus dibicarakan terlebih dahulu tentang kembalinya pemerintahan Republik ke Yogyakarta, setelah tercapai kata sepakan tentang hal tersebut, maka mudahlah untuk membicarakan pokok-pokok hal yang lain untuk suatu pemecahan menyeluruh. Jalan akan terbuka untuk mengadakan perundingan-perundingan mendasar dan kepercayaan yang tergoyah akan dipulihkan.
Pada tanggal 16 April, dimulailah pembicaraan antara kedua delegasi yang berlangsung hingga 7 Mei 1949. Perundingan tersebut berhasil mencapai persutujuan, yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Roem-Royen. Perjanjian ini bukan merupakan suatu perjanjian yang sifatnya satu, akan tetapi merupakan suatu perjanjian yang terdiri atas dua keterangan yang berbeda. Pernyataan ini masing-masing disampaikan oleh kedua delegasi Indonesia dan Belanda.
Mohammad Roem, sebagai ketua delegasi Indonesia kemudian mengemukakan pernyataan yang berbunyi: sebagai ketua delegasi Republik Indonesia, saya diberi kuasa oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta untuk menyatakan kesanggupan mereka pribadi sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa tanggal 28 Januari 1949 dan petunjuk-petunjuknya pada tanggal 23 Maret 1949 untuk memudahkan tercapainya:
1. Pengeluaran perintah kepada pengikut Republik yang bersenjata untuk menghentikan perang gerilya.
2. Bekerjasama dalam hal pengembalian perdamaian dan menjaga ketertiban dan keamanan.
3. Turut serta pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag dengan maksud untuk mempercepat penyerahan kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada negara Indonesia Serikat dengan tanpa syarat.
Sementara itu, ketua delegasi Belanda, Herman van Royen menyampaikan pendapatnya, sebagai berikut:
1. Pemerintah Belanda menyetujui kembalinya pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta , dan dibawah pengawasan United Nations Commisions for Indonesia (UNCI) akan menghentikan perang gerilya, di samping menjaga perdamaian dan ketertiban serta keamanan.
2. Pemerintah Republik Indonesia menjalankan tugasnya dalam residensi Yogyakarta.
3. Pihak Belanda akan menghentikan segala operasi militer dan akan melepaskan semua tahanan politik.
4. Belanda tidak akan mendirikan daerah dan negara baru di wilayah Republik Indonesia.
5. Belanda akan menyokong Republik Indonesia masuk ke Indonesia Serikat dan mempunyai sepertiga anggota dari keseluruhan anggota Dewan Perwakilan Federal.
6. Belanda menyetujui, bahwa semua areal di luar residensi Yogyakarta, di mana pegawai-pegawai Republik masih bertugas menjalankan tugasnya.
Kedua pernyataan tersebut merupakan pokok-pokok pada Perjanjian Roem-Royen, yang sekaligus merupakan dasar menuju Konferensi Meja Bundar (KMB), dan peristiwa yang sangat menentukan bagi Republik Indonesia. Karena dengan dicapainya persetujuan tersebut, maka pemerintah Republik Indonesia akan dikembalikan dan dipulihkan ke Yogyakarta. Perjanjian Roem-Royen juga merupakan suatu kemjuan yang akan membawa ke dalam perundingan-perundingan selanjutnya.
Read More

Thursday, 8 November 2018

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)


Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

KBK

Akibat adanya perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat, telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian yang serius. Hal ini sangat beralasan karena fenomena pada era global khususnya berkaitan dengan dunia kerja selalu ditandai oleh ketidakpastian, semakin cepat dan sering berubah, serta menuntut fleksibilitas. Perubahan ini secara mendasar tidak saja menuntut angkatan kerja yang mempunyai kemampuan bekerja pada bidangnya (hard competencies), namun juga penting untuk menguasai kemampuan menghadapi perubahan serta memanfaatkan perubahan tersebut (soft competencies).
Salah satu upaya untuk mengantisipasi perubahan dan perkembangan global tersebut adalah dengan mengembangkan kurikulum pendidikan yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian untuk dapat  bertahan hidup dan berkompetisi dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Salah satu langkah strategis untuk mengantisipasi permasalahan tersebut adalah dengan diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Lebih lanjut, terdapat dua pertimbangan perlunya menerapkan KBK, yakni persaingan yang terjadi di era global terletak pada kemampuan sumber daya manusia (SDM) hasil lembaga pendidikan, dan standar kompetensi yang jelas akan memudahkan lembaga pendidikan dalam mengembangkan sistem penilaian. Berdasar dua pertimbangan tersebut, sesungguhnya penerapan KBK bukan semata-mata sebagai upaya perbaikan terhadap kurikulum sebelumnya, melainkan lebih disebabkan oleh situasi dan kebutuhan masyarakat yang menuntut tersedianya SDM yang unggul dan kompeten.
Menurut Saylor (1981) kurikulum berbasis kompetensi sebagai “...a design based on specific competencies is characterized by specific, sequential, and demonstrable learning of the task, activities, or skill which constitute the acts to be learned and performed by student”. Untuk itu, kurikulum berbasis kompetensi merupakan “perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan  dalam pengembangan kurikulum sekolah” (Depdiknas, 2002, hlm. 3).
KBK berorientasi pada (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, secara umum KBK berorientasi pada pembelajaran tuntas (mastery learning).
KBK memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Standar kompetensi diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Adapun kompetensi dasar merupakan jabaran dari standar kompetensi, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa pada masing-masing standar kompetensi.
Ciri-ciri KBK dijabarkan sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukasi.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan dan pencapaian suatu kompetensi.
KBK merupakan kerangka inti yang memiliki empat komponen dasar, yakni:
1. Kurikulum hasil belajar
Memuat perencanaan pengembangan peserta didik yang perlu dicapai secara keseluruhan. Kurikulum dan hasil belajar ini memuat kompetensi, hasil belajar, dan indikator keberhasilan. Kurikulum hasil belajar memberikan suatu rentang kompetensi dan hasil belajar siswa yang bermanfaat bagi guru untuk menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa, bagaimana seharusnya mereka dievaluasi, dan bagaimana pembelajaran disusun.
2. Penilaian berbasis kelas
Memuat prinsip, sasaran, dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsisten sebagai akuntibilitas publik melalui penilaian terpadu melalui kegiatan belajar mengajar di kelas dengan mengumpulkan hasil kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis. Penilaian ini mengidentifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai, dan memuat pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai serta peta kemajuan belajar peserta didik dan pelaporan.
3. Kegiatan belajar mengajar
Memuat gagasan-gagasan pokok tentang pembelajaran dan pengajaran untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan serta gagasan-gagasan pedagogis dan andragogis yang mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik.
4. Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah
Memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar. Pola ini dilengkapi dengan gagasan pembentukan jaringan kurikulum, pengembangan perangkat kurikulum, pembinaan profesional tenaga kependidikan, dan pengembangan sistem informasi kurikulum.

Referensi
Depdiknas (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Saylor, J. G. (1981) Curriculum Development and Design. Sydney: Allen & Unwin.
Read More

Kategori