Monday, 16 July 2018

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pengembangan kurikulum

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum.
Menurut Sukmadinata (2000, hlm. 1) pengembangan kurikulum dapat berarti “penyusun kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), dapat juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement)”. Pada satu sisi pengembangan kurikulum berarti menyusun seluruh perangkat kurikulum mulai dari dasar-dasar kurikulum, struktur dan sebaran mata pelajaran, garis-garis besar program pengajaran, sampai dengan pedoman-pedoman pelaksanaan (macro curriculum). Pada sisi lain berkenaan dengan penjabaran kurikulum yang telah disusun oleh tim pusat menjadi rencana dan persiapan-persiapan mengajar yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru-guru di sekolah, seperti penyusunan rencana tahunan, semester, satuan pelajaran, dan lain-lain (micro curriculum).
Pendekatan lebih menekankan pada usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa metode yang tepat, yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah sistematik untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Kurikulum merupakan suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan, dan evaluasi kurikulum. Jadi, pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
Berdasar cakupan pengembangannya, terdapat dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum, yakni:

1. Pendekatan top down
Pendekatan top down adalah pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah. Pendekatan top down disebabkan pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan, seperti kementrian pendidikan, dirjen pendidikan atau para kepala kantor wilayah. Selanjutnya dengan menggunakan garis komando ke bawah. Oleh karena itu, pendekatan ini dinamakan juga line staff model. Biasanya pendekatan ini banyak dipakai di negara-negara yang memiliki sistem pendidikan sentralisasi.
Berdasar cakupan pengembangannya, pendekatan top down dapat dilakukan baik untuk menyusun kurikulum yang benar-benar baru (curriculum construction) maupun penyempurnaan kurikulum yang sudah ada (curriculum impovement).
Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum top down dijabarkan seperti gambar berikut:

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Berdasar gambar di atas, tampak jelas bahwa inisiatif perubahan dan penyempurnaan kurikulum dimulai oleh pemegang kebijakan kurikulum atau para pejabat yang berhubungan dengan pendidikan, sedangkan tugas guru hanya sebagai pelaksana kurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kebijakan.

2. Pendekatan grass roots
Pendekatan grass roots merupakan kebalikan dari pendekatan top down, yaitu inisiatif pengembangan yang dimulai dari lapangan atau dimulai dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas. Oleh karena sifatnya, maka pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan kurikulum, walaupun dalam skala yang terbatas mungkin juga digunakan dalam mengembangkan kurikulum baru.
Ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat dilakukan pada saat menggunakan pendekatan grass roots, yaitu:
a. Menyadari adanya masalah. Pendekatan grass roots biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya, didasarkan ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau kegiatan evaluasi seperti yang diharapkan, atau masalah kurangnya motivasi belajar siswa. Pemahaman dan kesadaran guru akan adanya suatu masalah merupakan kunci dalam grass roots.
b. Mengadakan refleksi. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan, misalnya dengan membaca buku, atau jurnal hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
c. Mengajukan hipotesis atau jawaban sementara berdasarkan hasil kajian refleksi serta menetapkan berbagai kemungkinan munculnya masalah dengan cara penanggulangannya.
d. Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan dengan situasi dan kondisi lapangan.
e. Mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus menerus hingga terpecahkan masalah yang dihadapi.
f. Membuat dan menyusun hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass roots. Langkah ini sangat penting dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga memungkinkan dapat diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar.
Peran guru sebagai implementator perubahan dan penyempurnaan kurikulum dengan pendekatan grass roots sangat menentukan. Tugas para administator dalam pengembangan dengan pendekatan ini, tidak lagi berperan sebagai pengendali pengembangan, tetapi sebagai motivator dan fasilitator.

Referensi
Sukmadinata, N. S. (2000). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Read More

Sunday, 15 July 2018

Alat Musik Tradisional Saluang


Alat Musik Tradisional Saluang
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

saluang

Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatera Barat. Alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang. Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat Saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tetapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm.
Fungsi saluang di Minangkabau adalah sebagai ungkapan emosional dari pemainnya yang mengungkapkan perasaan yang sedang ada pada dirinya sehingga melalui paduan kesenian salaung ini, pemain saluang akan merasa puas dengan apa yang ia rasakan. Saluang juga berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat, yakni dengan cara memberi kesan kegembiraan dan kemeriahan dalam berbagai kegiatan yang ada di tengah masyarakat. Saluang juga sering dimainkan di berbagai acara adat Minangkabau, seperti acara perkawinan, batagak penghulu, batagak rumah gadang, dan sebagainya.
Alat musik tradisional saluang memiliki berbagai jenis, antara lain:

1. Saluang darek

Alat Musik Tradisional Saluang

Saluang darek merupakan jenis instrumen musik tiup yang sangat populer di Minangkabau. Dinamakan saluang darek, karena tempat tumbuh dan berkembangnya instrumen ini terutama di daerah darek Minangkabau yang lebih dikenal dengan sebutan Luhan Nan Tigo.
Saluang darek dibuat dari bambu talang yang mempunyai ruas panjang. Talang yang baik untuk dijadikan saluang adalah talang yang agak tebal. Besar dan panjang saluang darek tergantung pada keinginan orang yang membuat atau si peniup saluang itu sendiri. Pada umumnya orang membuat saluang darek dengan garis tengah sekitar 3-3,5 cm. Saluang darek mempunyai empat buah lobang nada dengan keadaan ujung dan pangkal saluang tetap bolong. Bunyi dihasilkan melalui tiupan pada salah satu sisi yang bolong tersebut.
Berdasar pada bentuknya, instrumen musik saluang darek termasuk jenis end blown flute (tidak mempunyai lidah). Fungsi utama saluang darek adalah sebagai alat untuk mengiringi dendang (musik vokal Minangkabau). Di sisi lain, saluang darek juga berfungsi sebagai hiburan pribadi bagi anggota masyakarat yang dimainkan secara tunggal, sebagai ungkapan perasaan yang tidak dapat disampaikan pada orang lain.

2. Saluang pauah

Alat Musik Tradisional Saluang


Saluang pauah termasuk jenis instrumen musik aerophone dan memiliki lidah (wistle flute) yang sangat dikenal di daerah Pauah. Saluang ini memiliki enam buah lobang nada dengan teknik meniup hampir sama dengan recorder. Saluang pauah biasanya digunakan untuk mengiringi dendang kaba dalam acara adat di daerah Pauah dan sekitarnya, yang dilaksanakan pada malam hari sampai menjelang subuh. Pertunjukan saluang pauah dalam konteks upacara adat lebih bersifat hiburan untuk memeriahkan upacara.

3. Saluang sirompak

Alat Musik Tradisional Saluang

Saluang sirompak termasuk jenis instrumen musik aerophone dan tidak memiliki lidah (end blown flute) yang berkembang terutama di daerah Taeh Barueh, Sumatera Barat. Saluang sirompak memiliki lima lobang nada dengan ketentuan empat lobang nada terdapat pada bagian atas dan satu lobang nada terdapat pada bagian belakang (sejajar atau tepat di bawah lobang nada keempat).
Dahulu, fungsi utama dari siluang sirompak adalah sebagai alat untuk mengiringi dendang yang lebih dikenal dengan dendang sirompak. Dendang dan siluang sirompak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan musik sirompak, suatu pertunjukan yang bersifat ritual magis.

4. Saluang panjang

Alat Musik Tradisional Saluang

Saluang panjang termasuk jenis instrumen musik aerophone dan tidak memiliki lidah (end blown flute) berkembang terutama di daerah Sungai Pagu, Sumatera Barat. Saluang jenis ini sering juga disebut dengan saluang sungai pagu. Instrumen saluang panjang mempunyai tiga lobang nada dengan ketentuan dua lobang nada terletak pada bagian atas dan satu lobang nada terletak pada bagian bawah. Saluang panjang biasanya difungsikan untuk mengiringi dendang, khusunya dendang-dendang yang berkembang di daerah Sungai Pagu.

Adapun cara memainkan alat musik tradisional saluang secara umum dijabarkan sebagai berikut:
1. Posisi mulut
Posisi bibir sangat erak kaitannya dengan arah kemiringan saluang yang dimainkan oleh seseorang. Jika saluang tersebut arah miringnya ke sebelah kiri, maka saluang diletakkan pada tepi bibir sebelah kanan, sebaliknya jika saluang tersebut arahnya miring ke sebelah kanan, maka saluang diletakkan pada tepi bibir sebelah kiri. Jika diperhatikan dengan seksama, posisi saluang pada mulut dan teknik memegang saluang, maka akan terbentuk sudut kurang lebih 45 derajat sehingga arah kepala agak berlawanan dengan kemiringan saluang.
2. Posisi jari
Jika posisi saluang agak miring ke kanan-bawah, maka posisi jarinya sebagai berikut:
a. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kanan ditempatkan pada dua lubang sebelah bawah dari saluang.
b. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kiri ditempatkan pada dua buah lubang sebelah atas saluang.
c. Posisi tangan tidak tegak lurus, tetapi sedikit serong.
Adapun untuk pemain saluang yang kidal, posisi jari harus berlawanan sebagai berikut:
a. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kiri ditempatkan pada dua lubang sebelah bawah dari saluang.
b. Jari telunjuk dan jari manis dari tangan kanan ditempatkan pada dua buah lubang sebelah atas saluang.
3. Posisi duduk
Posisi duduk umumnya bagi si peniup saluang adalah dengan sikap duduk bersila di atas tikar bersama-sama dengan tukang dendang dan para penonton. Hal tersebut melambangkan kesederhanaan dan dapat menimbulkan suatu keakraban satu sama lain.
Terdapat dua teknik cara meniup saluang, sebagai berikut:
1. Tiupan yang berasal dari rahang dalam kerongkongan, yakni berasal dari bagian dalam mulut.
2. Tiupan dari mulut, yaitu tiupan udara yang dilahirkan dari rongga mulut di mana seolah-olah terdapat gelembung udara di dalam rongga mulut tersebut yang siap untuk ditiupkan ke lubang saluang.
Read More

Saturday, 14 July 2018

Rayman Legends


Rayman Legends
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

rekomendasi game mendidik bagi anak Rayman Legends

Rayman Legends adalah sebuah video game yang dikembangkan oleh Ubisoft Montpellier. Game ini merupakan seri kelima dari Rayman series dan sequel lanjutan dari game Rayman Origins. Rayman Legends dirilis untuk platform Microsoft Windows, Xbox 360, PlayStation 3, Nintendo Wii U, dan PlayStation Vita pada Agustus 2013. Kemudian pada Februari 2014, Rayman Legends rilis untuk versi PlayStasion 4 dan Xbox One.
Alur cerita pada game Rayman Legends berfokus pada ketiga karakter utama, yakni Rayman, Globox, dan Teensy. Dikisahkan mereka bertiga telah tertidur satu abad lamanya. Di dalam tidurnya, mereka mengalami mimpi buruk yang sama bahwa penyihir yang selamat dari ledakan pada petualangan sebelumnya telah menjadi lima Teensies jahat yang telah menangkap 10 putri kerajaan dan para Teensies lainnya. Rayman, Globox, dan Teensy kemudian terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa mimpi yang mereka alami adalah suatu kenyataan. Mereka bertiga kemudian memiliki misi untuk menyelamatkan 10 putri kerajaan dan para Teensies yang ditangkap tersebut.
Permainan ini dimulai dengan berlari mengumpulkan benda bernama Item Lums dengan cara menyentuhnya, sambil mengalahkan musuh, maupun membebaskan para Teensies yang ditangkap. Dengan menyelamatkan dan membebaskan para Teensies akan membuka map baru. Map pada game ini sangat banyak, sampai lebih dari 120 variasi level.
Rayman Legends merupakan permainan dua dimensi (2D), akan tetapi memiliki kualitas gambar serta tampilan karakter dan lingkungan yang berwarna-warni. Selain itu, game ini juga terkenal memiliki background suara yang sangat baik. Ada banyak rintangan yang variatif di berbagai map pada game ini. Sejalan dengan itu, Rayman Legends banyak mendapat respons positif dari kritikus game. Hal tersebut terbukti dengan rater-rater game ternama, seperti IGN memberi skor 9,5/10, Gamespot memberi skor 9,0/10, dan GameTrailers memberi skor 9,1/10.
Game Rayman Legends dapat dimainkan secara local multiplayer sampai dengan empat pemain sekaligus. Untuk itu, game ini sangat seru dimainkan oleh anak bersama teman-teman ataupun bersama keluarga. Fitur local multiplayer ini didukung dengan banyaknya karakter yang tersedia untuk dimainkan. Terdapat puluhan karakter yang dapat dimainkan jika kita sudah mencapai poin tertentu dalam game.
Sejumlah tokoh yang terdapat pada game Raymand Legends, antara lain:

1. Rayman

Rayman Legends

2. Globox

Rayman Legends

3. Teensy

Rayman Legends

4. Barbara

Rayman Legends

Adapun hal-hal yang mendidik dari game Rayman Legends, di antaranya:

1. Mempererat keakraban sambil bermain

Rayman Legends

Rayman Legends dapat dimainkan secara local multiplayer sampai dengan maksimal empat pemain. Maka dari itu, game ini sangat cocok untuk dimainkan oleh anak bersama dengan teman-temannya atau bersama keluarga. Hal ini dapat menambah keakraban anak dengan teman seusianya maupun dengan keluarga.

2. Melatih psikomotor halus anak

Rayman Legends

Pada game Rayman Legends, anak diharuskan untuk mengontrol suatu karakter dengan berbagai gerakan, seperti berjalan, melompat, mengalahkan musuh, menghindari halang rintang, dan sebagainya. Hal tersebut dapat melatih psikomotor halus anak. Anak diharuskan untuk menggerakkan karakter yang ia mainkan secara tepat dengan menekan tombol-tombol tertentu pada controler yang ia genggam.

3. Mengembangkan imajinasi anak

Rayman Legends

Rayman Legends menyuguhkan kualitas gambar yang luar biasa. Adegan-adegan pada game ini sangat menyenangkan untuk dilihat. Animasi-animasi sederhana yang terdapat pada background dari sepanjang permainan dikemas sangat menarik dan berwarna. Kesemuaan hal tersebut secara tidak langsung mengembangkan imajinasi anak melalui animasi dan warna-warna yang terdapat pada game Rayman Legends.

4. Melatih kesabaran

Rayman Legends

Secara umum, game Rayman Legends memang memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu sulit. Game ini memang betul-betul didesain dan ditujukan untuk dapat dimainkan oleh berbagai jenjang usia, baik anak maupun orang dewasa sekalipun. Meski begitu, beberapa poin pada game ini tetap memiliki kesulitan tersendiri dan perlu kesabaran untuk dapat melewati rintangan tersebut.
Read More

Friday, 13 July 2018

Pendekatan Moving Class


Pendekatan Moving Class
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

moving class

Moving class berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu “moving artinya bergerak, dan class artinya kelas” (Echols dan Sadili, 1997, hlm. 387). Sejalan dengan itu, Rasyid (dalam Sagala, 2009, hlm. 183) mengemukakan bahwa moving class adalah “pembelajaran yang diciptakan untuk belajar aktif dan kreatif dengan sistem belajar mengajar bercirikan peserta didik yang mendatangi guru di kelas, bukan sebaliknya”. Untuk itu, moving class dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang berpindah-pindah kelas, dari kelas satu ke kelas yang lain, ketika jam pelajaran berganti yang kelasnya sesuai dengan masing-masing mata pelajaran.
Pendekatan moving class merupakan suatu sistem full activity, karena aktifitas belajar siswa yang dibutuhkan, di mana ketika sebelum adanya sistem ini, seorang guru yang harus aktif memasuki kelas ketika jam pelajaran berganti, tetapi dengan adanya sistem ini, seorang siswa dituntut untuk aktif, karena ketika pergantian jam pelajaran bukan lagi guru yang mencari kelas, melainkan siswa yang harus aktif mencari kelas, sedangkan guru menunggu  di ruang kelas. Jadi, pelaksanaan moving class sangat membutuhkan keaktifan  siswa untuk belajar, “keaktifan siswa akan terlihat secara intelektual dan emosional sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi dalam melakukan kegiatan belajar” (Sriyono, dkk., 1992, hlm. 8).
Pada pelaksanaan pendekatan moving class, selalu tetap berpijak pada aturan yang telah disepakati bersama dalam suatu lembaga pendidikan. Pelaksanaan moving class tidak hanya dilaksanakan di kelas saja, melainkan juga dapat dilaksanakan di masjid, perpustakaan, dan tempat-tempat lain selama masih berhubungan dengan sekolah dan sesuai bila digunakan untuk proses belajar mengajar.
Konsep moving class mengacu pada pembelajaran kelas yang berpusat pada siswa untuk memberikan lingkungan yang dinamis sesuai dengan bidang yang dipelajari. Melalui moving class, pada saat subjek mata pelajaran berganti, maka siswa akan meninggalkan kelas menuju kelas lain sesuai mata pelajaran yang dijadwalkan. Jadi, siswa yang mendatangi guru, bukan sebaliknya.
Adapun tujuan penerapan pendekatan moving class, antara lain:
1. Memfasilitasi siswa yang memiliki beraneka ragam gaya belajar, baik visual, auditori, dan kinestetik.
2. Menyediakan sumber belajar, alat peraga, dan sarana belajar yang sesuai dengan karakter mata pelajaran.
3. Melatih kemandirian, kerjasama, dan kepedulian sosial siswa. Karena dalam moving class mereka akan bertemu dengan siswa lain setiap ada perpindahan kelas atau pergantian mata pelajaran.
4. Merangsang seluruh aspek perkembangan dan kecerdasan siswa.
5. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
6. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu pembelajaran karena guru mata pelajaran tetap berada di ruangan, sehingga waktu guru mengajar tidak terganggu dengan berbagai hal.
7. Meningkatkan disiplin siswa dan guru.
8. Meningkatkan keterampilan guru dalam memvariasikan metode dan media pembelajaran yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa.
9. Meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat, dan bersikap terbuka pada setiap mata pelajaran.
10. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
Kelebihan pelaksanaan pendekatan moving class, di antaranya:
1. Siswa akan mendapat pendidikan yang antisipatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Siswa akan merasakan nuansa yang berbeda saat proses belajar mengajar, karena setiap kelas yang dimasuki memiliki suasana yang beragam.
3. Siswa akan selalu aktif dalam mengikuti setiap mata pelajaran.
4. Siswa akan mendapatkan pendidikan yang lebih proporsional.
5. Siswa akan lebih cepat mengenal kawannya, sehingga menunjang terhadap optimalnya proses pembelajaran.
6. Perkembangan bakat, minat, dan kecerdasan siswa terantisipasi sejak dini karena dapat dilihat dari keaktifannya setiap hari.
Sedangkan kelemahan penggunaan pendekatan moving class yang perlu diantisipasi, antara lain:
1. Memerlukan jumlah ruangan yang relatif banyak.
2. Memerlukan persiapan yang lebih matang, baik dari segi pengelolaan kurikulum, tata ruangan, maupun waktu.
3. Guru dituntut memiliki keterampilan dan kreatifitas agar dapat memanfaatkan ruangan, bahan ajar, alat peraga, dan alat penunjang lainnya secara optimal.

Referensi
Echols, J., & Sadili, H. (1997). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Sagala, S. (2009). Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.
Sriyono, dkk. (1992). Teknik Belajar dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.
Read More

Kategori