Tuesday, 19 February 2019

Kerajaan Sriwijaya


Kerajaan Sriwijaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah suatu kerajaan maritim yang kuat di wilayah pulau Sumatera dan memberi pengaruh banyak di Nusantara dengan daerah kekuasaan yang membentang sampai Thailand, Kamboja, Semenanjung Malaya, Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pada bahasa Sansekerta, sri berarti bercahaya dan wijaya berarti kemenangan. Bukti awal mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya berawal dari abad ke-7. I-Tsing, seorang pendeta Tiongkok menuliskan bahwa ia tinggal selama enam bulan saat mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671.
Nama Sriwijaya terkenal dalam perdagangan internasional kala itu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sumber yang menerangkan mengenai keberadaan Sriwijaya, antara lain:
1. Menurut berita Arab
Dikabarkan bahwa pedagang Arab melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya, bahkan di sekitar Sriwijaya ada peninggalan yang besar kemungkinan bekas perkampungan orang Arab.
2. Menurut berita India
Dikabarkan bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah mengadakan hubungan kerjasama dengan beberapa kerajaan India, seperti Colamandala dan Nalanda, bahkan Kerajaan Nalanda membangun sebuah prasasti yang menceritakan mengenai Sriwijaya.
3. Menurut berita Cina
Dikabarkan bahwa para pedagang yang berasal dari Cina sering singgah di wilayah Kerajaan Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke India dan Arab.
Agama yang dianut oleh Kerajaan Sriwijaya adalah agama Budha. Sriwijaya juga sebagai pusat pengajaran agama Budha Vajrayana. Kerajaan Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarana dari berbagai negara di Asia. Salah satunya I-Tsing, seorang pendeta dari Tiongkok yang melakukan ekspedisi ke Sumatera dalam perjalanan belajarnya di Universitas Nalanda, India pada tahun 671 sampai 695.
Budaya India banyak yang mempengaruhi Kerajaan Sriwijaya, diawali oleh Budaya Hindu kemudian diikuti oleh agama Budha. Raja-raja Sriwijaya berhasil menguasai Kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukan dari abad ke-7 sampai abad ke-9, sehingga secara langsung ikut serta mengembangkan kebudayaan Melayu beserta bahasanya di Nusantara.
Raja-raja yang pernah menjabat menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya, di antaranya:
1. Raja Daputra Hayang
Cerita mengenai Raja Daputra Hayang ditemukan melalui Prasasti Kedukan Bukit (683 Masehi). Pada masa kekuasaannya, Raja Daputra Hayang telah sukses memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Jambi. Dari awal pemerintahannya Raja Daputra Hayang bercita-cita agar Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.
2. Raja Dharmasetu
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya meluas sampai ke wilayah Semenanjung Malaya. Bahkan Kerajaan Sriwijaya di sana membangun sebuah pangkalan di wilayah Ligor. Selain itu, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan negeri India dan Cina. Setiap kapal yang berlayar dari India dan Cina selalu berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.
3. Raja Balaputradewa
Berita mengenai Raja Balaputradewa diketahui dari catatan Prasasti Nalanda. Raja Balaputradewa menjabat sekitar abad ke-9. Pada masa kekuasaannya Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat menjadi sebuah pusat agama Budha di Asia Tenggara. Ia menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di India, seperti Colamandala dan Nalanda.
4. Raja Sri Sudamaniwarmadewa
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya pernah mengalami serangan dari Raja Darmawangsa dari timur. Tetapi, serangan tersebut berhasil digagalkan.
5. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya mengalami sebuah serangan dari Kerajaan Chola, yang dipimpin oleh Raja Rajendra Chola. Kerajaan Chola sukses merebut Kerajaan Sriwijaya, sekaligus menjadi akhir bagi Kerajaan Sriwijaya.
Adapun peninggalan Kerajaan Sriwijaya, antara lain:

1. Prasasti Ligor

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Ligor dijumpai di daerah Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan. Tulisan tersebut dipahat di kedua sisi. Pada sisi pertama menjelaskan mengenai kegagahan, kewibawaan raja Sriwijaya. Pada bagian sisi lainnya mengisahkan mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana kepada Sri Maharaja.

2. Prasasti Palas Pasemah

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Palas Pasemah merupakan salah satu prasasti yang ditemukan di pinggiran desa, di daerah Palas Pasemah, Lampung Selatan. Tulisan prasasti ini memakai bahasa Melayu Kuno yang beraksara Pallawa tersusun rapi dengan 13 baris perkataan. Isi dari Prasasti Ligor menerangkan mengenai kutukan-kutukan terhadap orang-orang yang tidak patuh terhadap kekuasaan Sriwijaya. Diprediksikan prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi.

3. Prasasti Hujung Langit

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Hujung Langit merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, yang keberadaannya ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan memakai tulisan Pallawa. Pada prasasti ini terdapat beberapa kata susunan pesan-pesan, akan tetapi susunan pesan di dalam prasasti ini tidak cukup jelas keterangannya. Namun, setelah diidentifikasi prasasti ini diprediksikan berasal dari tahun 997 Masehi dan isi prasastinya menerangkan mengenai pemberian tanah sirna.

4. Prasasti Kota Kapur

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Kota Kapur ini dijumpai di sebelah barat Pulau Bangka. Prasasti ini menerangkan tentang kutukan-kutukan untuk siapa saja yang berani membantah perintah dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

5. Prasasti Telaga Batu

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Telaga Batu menjelaskan tentang kutukan-kutukan untuk mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat di Kerajaan Sriwijaya.
Read More

Sunday, 17 February 2019

Program Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi


Program Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi

Guru sekolah dasar adalah pendidik profesional bersertifikat dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Adapun guru sekolah dasar berprestasi adalah guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, yang mampu memenuhi Standar Nasional Pendidikan, memiliki kinerja yang melebihi guru lain, berkarakter mulia, dan menjadi suri tauladan bagi siswa, sesama guru, serta masyarakat.
Prinsip penyelenggaraan pemilihan guru sekolah dasar berprestasi, antara lain:
1. Kompetitif
Pelaksanaan pemilihan guru berprestasi berdasarkan persaingan yang sehat di semua jenjang, bukan berdasarkan penunjukan atau pemerataan.
2. Obyektif
Mengacu kepada proses penilaian dan penetapan predikat guru sekolah dasar berprestasi pada semua tingkatan, baik di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, maupun tingkat nasional dilaksanakan secara adil, tidak diskriminatif, dan memenuhi standar penilaian yang ditetapkan.
3. Transparan
Mengacu kepada proses yang memberikan peluang kepada semua pemangku kepentingan untuk memperoleh akses informasi tentang penilaian dan penetapan predikat guru sekolah dasar berprestasi pada semua tingkatan, sebagai suatu sistem yang meliputi masukan, proses, dan hasil penilaian.
4. Akuntabel
Merupakan proses penilaian dan penetapan predikat guru sekolah dasar berprestasi pada semua tingkatan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pemangku kepentingan pendidikan, baik secara akademik maupun administratif.
Persyaratan peserta pemilihan guru sekolah dasar berprestasi mulai dari tingkat satuan pendidikan sampai dengan tingkat nasional, terdiri atas:
1. Persyaratan akademik:
a. Memiliki kualifikasi pendidikan minimal Sarjana (S1) atau Diploma Empat (D-IV) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
b. Memiliki sertifikat pendidik.
2. Persyaratan administratif:
a. Guru Sekolah Dasar yang sedang mengajar di sekolah negeri atau swasta serta tidak sedang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah atau sedang dalam proses pengangkatan sebagai kepala sekolah atau sedang dalam transisi alih tugas ke unit kerja lainnya.
b. Aktif melaksanakan proses pembelajaran yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah.
c. Mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya delapan (8) tahun sebagai guru secara terus-menerus sampai saat diajukan sebagai calon peserta, yang dibuktikan dengan SK calon pegawai negeri sipil (CPNS) atau SK pengangkatan dari yayasan/pengelola bagi guru bukan pegawai negeri sipil (PNS) dan belum pernah mengikuti pemilihan guru sekolah dasar berprestasi tingkat nasional dalam tiga tahun terakhir.
d. Melaksanakan beban mengajar sekurang-kurangnya 24 jam per minggu yang dibuktikan dengan fotokopi SK kepala sekolah.
e. Tidak pernah dikenai hukuman selama tiga (3) tahun terakhir yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah yang diketahui oleh kepala dinas pendidikan kabupaten/kota.
f. Melampirkan surat rekomendasi dari kepala sekolah bahwa yang bersangkutan merupakan hasil seleksi dari satuan pendidikan.
g. Melampirkan penilaian pelaksanaan pembelajaran dan kinerja guru yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah tahun terakhir.
h. Melampirkan bukti partisipasi sebagai pengurus dalam kemasyarakatan berupa surat keterangan atau bukti fisik berupa rekomendasi dari penanggung jawab organisasi kemasyarakatan yang disahkan oleh kepala sekolah selama dua (2) tahun terakhir.
i. Melampirkan portofolio, bagi:
1) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat sekolah akan mengikuti pemilihan di tingkat kecamatan/UPTD.
2) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat kecamatan/UPTD akan mengikuti pemilihan di tingkat kabupaten/kota.
3) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat kabupaten/kota akan mengikuti pemilihan di tingkat provinsi.
4) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat provinsi akan mengikuti pemilihan di tingkat nasional.
j. Melampirkan Surat Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tentang hasil seleksi guru SD berprestasi tingkat kabupaten/kota untuk seleksi guru berprestasi tingkat provinsi.
k. Melampirkan Surat Keputusan Gubernur atau Kepala Dinas Pendidikan Provinsi tentang hasil seleksi guru SD berprestasi tingkat provinsi untuk seleksi guru berprestasi tingkat nasional.
l. Melampirkan surat keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum pernah menjadi finalis seleksi guru SD berprestasi tingkat nasional dalam tiga (3) tahun terakhir.
m. Melampirkan surat pernyataan tidak sedang mengkitui lomba tingkat nasional lainnya yang diselenggarakan oleh Kemendikbud pada tahun yang sama dan diketahui oleh kepala sekolah.
n. Apabila terjadi penggantian finalis tingkat nasional, maka penggantinya (peringkat II atau III tingkat provinsi) harus menyertakan rekomendasi dari Gubernur/Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
3. Persyaratan khusus:
Peserta pemilihan guru sekolah dasar berprestasi wajib:
a. Membuat portofolio tiga (3) tahun terakhir.
b. Membuat dan menyerahkan karya tulis ilmiah dalam bentuk laporan hasil penelitian atau laporan best practices beserta artikelnya. Karya tulis ilmiah yang disusun akan dipresentasikan pada pemilihan guru sekolah dasar  berprestasi mulai dari tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional. Karya ilmiah tersebut merupakan karya sendiri yang dibuktikan dengan peryataan orisinalitas di atas kertas bermaterai Rp 6000,- dan diketahui oleh kepala sekolah.
c. Memiliki kinerja dan kompetensi minimal baik dengan melampirkan hasil Penilaian Kinerja Guru (PKG).
d. Setiap calon guru berprestasi tingkat nasional wajib menyampaikan video pelaksanaan pembelajaran berupa:
1) Video pelaksanaan pembelajaran dengan durasi satu jam pelajaran.
2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus untuk materi pelajaran yang divideokan.
3) Penjelasan tentang rekaman proses pembelajaran yang disajikan.

Adapun prosedur pelaksanaan pemilihan guru sekolah dasar berprestasi dijabarkan sebagai berikut:

1. Tingkat sekolah
a. Kepala sekolah dan komite sekolah memilih guru yang berpotensi dan memenuhi syarat untuk mengikuti pemilihan guru berprestasi dengan mempertimbangkan portofolio dan karya tulis yang dimiliki oleh guru.
b. Kepala sekolah mengusulkan calon peserta ke tingkat kecamatan.

2. Tingkat kecamatan/UPTD
a. Prosedur penilaian
Tim penilai melaksanakan penialain administrasi dan akademik dengan perincian sebagai berikut:
1) Pemeriksaan kelengkapan dokumen dari sekolah pengusul.
2) Penilaian dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b. Prosedur pengajuan
1) Guru berprestasi peringkat I tingkat kecamatan ditetapkan dengan Surat Keputasan Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan.
2) Panitia pemilihan guru berprestasi tingkat kecamatan mengirimkan nama guru berprestasi peringkat I dengan berita acara penilaian dan dokumen portofolionya kepada panitia pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten/kota beserta berita acara.
3) Berita acara berisikan hasil penilaian administrasi dan akademik.
c. Pelaporan
Panitia tingkat kecamatan membuat laporan dengan mengisi berita acara hasil penilaian guru sekolah dasar berprestasi tingkat kecamatan dan disampaikan kepada panitia tingkat kabupaten/kota.

3. Tingkat kabupaten/kota
a. Prosedur penilaian
1) Panitia menerima, mengagendakan, dan memeriksa kelengkapan permohonan guru yang akan mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat kabupaten/kota, serta mengatur waktu dan agenda pelaksanaan penilaian.
2) Tim penilai melaksanakan penilaian dengan agenda sebagai berikut:
a) Penilaian dokomen portofolio (bobot 20%) dengan menilai dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir yang terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b) Penilaian Kinerja Guru (PKG) (bobot 10%), berupa laporan hasil penilaian kinerja guru dan penilaian menggunakan instrumen yang telah disediakan.
c) Tes tertulis (bobot 20%), berupa tes penguasaan kompetensi profesional, tes pemahaman wawasan kependidikan, dan tes kepribadian.
d) Penilaian karya tulis ilimah dan artikelnya (bobot 20%).
e) Presentasi artikel ilmiah dan tanya jawab (bobot 20%).
f) Penilaian keteladanan dan akhlak mulia (bobot 10%).
b. Berita acara
Panitia membuat berita acara pelaksanaan guru SD berprestasi tingkat kabupaten/kota, ditandatangani oleh ketua panitia dan tim penilai.
c. Laporan hasil penilaian
Panitia melaporkan hasil penilaian guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III kepada Bupati/Walikota.
d. Pemberian hadiah
Memberikan hadiah dan/atau piagam penghargaan yang ditandatangani oleh Bupati/Walikota kepada pemenang peringkat I, II, dan III.
e. Penetapan pemenang dan prosedur pengusulan ke tingkat provinsi
1) Bupati/Walikota menetapkan pemenang peringkat I, II, dan III guru SD berprestasi tingkat kabupaten/kota dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
2) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota mengirimkan kepada panitia tingkat provinsi:
a) Berita acara penilaian.
b) Dokumen portofolio, video pembelajaran, dan hasil penilaian kinerja guru SD berprestasi peringkat I kabupaten/kota.
c) Karya tulis ilmiah dan artikelnya, serta bahan tayang untuk karya tulis ilmiah.

4. Tingkat provinsi
a. Prosedur penilaian
1) Panitia menerima, mengagendakan, dan memeriksa kelengkapan permohonan guru yang akan mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat provinsi, serta mengatur waktu dan agenda pelaksanaan penilaian.
2) Tim penilai melaksanakan penilaian dengan agenda sebagai berikut:
a) Penilaian dokomen portofolio (bobot 20%) dengan menilai dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir yang terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b) Penilaian Kinerja Guru (PKG) (bobot 10%), berupa laporan hasil penilaian kinerja guru dan penilaian menggunakan instrumen yang telah disediakan dan video pembelajaran.
c) Tes tertulis (bobot 20%), berupa tes penguasaan kompetensi profesional, tes pemahaman wawasan kependidikan, dan tes kepribadian.
d) Penilaian karya tulis ilimah dan artikelnya (bobot 20%).
e) Presentasi artikel ilmiah dan tanya jawab (bobot 20%).
f) Penilaian keteladanan dan akhlak mulia (bobot 10%).
b. Berita acara
Panitia membuat berita acara pelaksanaan guru SD berprestasi tingkat provinsi, ditandatangani oleh ketua panitia dan tim penilai.
c. Laporan hasil penilaian
Panitia melaporkan hasil penilaian guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III kepada Gubernur.
d. Pemberian hadiah
Memberikan hadiah dan/atau piagam penghargaan yang ditandatangani oleh Gubernur kepada pemenang peringkat I, II, dan III.
e. Penetapan pemenang dan prosedur pengusulan ke tingkat nasional
1) Bupati/Walikota menetapkan pemenang peringkat I, II, dan III guru SD berprestasi tingkat provinsi dengan Surat Keputusan Gubernur atau Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
2) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi mengirimkan kepada panitia tingkat nasional:
a) Softcopy dokumen portofolio dalam flash disk dari guru SD berprestasi peringkat I provinsi.
b) Karya tulis ilmiah dan artikelnya, serta bahan tayang untuk karya tulis ilmiah dalam bentuk softcopy dalam flash disk.
c) Penilaian kinerja guru dan video pembelajaran.

4. Tingkat nasional
a. Prosedur penilaian
1) Panitia menerima, mengagendakan, dan memeriksa kelengkapan permohonan guru yang akan mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat nasional, serta mengatur waktu dan agenda pelaksanaan penilaian.
2) Panitia menguji tingkat plagiasi (similarity) laporan karya tulis ilmiah dan artikel yang dipresentasikan.
3) Tim seleksi melakukan penilaian dengan agenda sebagai berikut:
a) Penilaian dokomen portofolio (bobot 20%) dengan menilai dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir yang terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b) Penilaian Kinerja Guru (PKG) (bobot 10%), berupa laporan hasil penilaian kinerja guru dan penilaian menggunakan instrumen yang telah disediakan dan video pembelajaran.
c) Tes tertulis (bobot 20%), berupa tes penguasaan kompetensi profesional, tes pemahaman wawasan kependidikan, dan tes kepribadian.
d) Penilaian karya tulis ilimah dan artikelnya (bobot 20%).
e) Presentasi artikel ilmiah dan tanya jawab (bobot 20%).
f) Penilaian keteladanan dan akhlak mulia (bobot 10%).
b. Berita acara
Membuat berita acara pelaksanaan penilaian guru SD berprestasi tingkat nasional.
c. Laporan hasil penilaian
Panitia melaporkan hasil penilaian guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III nasional kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk ditetapkan dengan SK Menteri.
d. Pemberian penghargaan
Guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III tingkat nasional diberi hadiah dan piagam penghargaan yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Referensi
Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar (2018). Pedoman Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi Tingkat Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Read More

Friday, 15 February 2019

Sosiometri


Sosiometri
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

konsep dasar Sosiometri

Kata sosiometri berasal dari bahasa Latin socius, yang berarti sosial dan metrum, yang berarti pengukuran. Untuk itu, secara harfiah sosiometri bermakna pengukuran sosial. Sosiometri adalah suatu cara mengukur derajat hubungan antar-orang/manusia. Sosiometri mencari tahu siapa yang disukai atau tidak disukai orang-orang dan dengan siapa mereka akan atau tidak akan bersedia bekerja sama.
Jacob Levy Moreno menciptakan istilah sosiometri dan melakukan studi sosiometri sejak tahun 1932-1938 di New York State Training School for Girls di Hudson, New York. Kala itu, Moreno menggunakan teknik sosiometri untuk menentukan tempat tinggal penduduk pada berbagai variasi tempat tinggal. Moreno menemukan bahwa “penentuan yang berbasis pada sosiometri secara substansi mampu mereduksi jumlah penduduk yang meninggalkan fasilitas yang tersedia” (Moreno, 1953, hlm. 527).
Sosiometri didasarkan pada kenyataan bahwa orang membuat pilihan-pilihan dalam hubungan interpersonal. Ketika berkumpul, mereka akan memilih apakah mau duduk atau berdiri, memilih siapa yang bersahabat atau siapa yang tidak bersahabat, memilih siapa tokoh sentral atau siapa yang tidak disukai dalam suatu kelompok. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Moreno (1953, hlm. 720) bahwa “pilihan adalah fakta yang fundamental dalam semua hubungan sosial yang sedang berjalan, dalam memilih orang maupun benda”.
Adapun ruang lingkup sosiometri dijabarkan sebagai berikut:
1. Penentuan kriteria
Penentuan pilihan oleh individu selalu berdasarkan pada kriteria, baik kriteria subyektif seperti kesan pertama atau kesukaan seseorang, maupun kriteria obyektif, misalnya mengetahui bahwa seseorang memiliki atau tidak memiliki keterampilan tertentu.
2. Pembuatan instrumen
Instrumen atau alat ukur sosiometri berupa daftar pertanyaan dalam bentuk kuisioner/angket yang akan digunakan untuk mengetahui pemilihan seseorang termasuk alasan-alasan dalam pilihannya.
3. Pembuatan sosiomatriks
Data sosiometri yang dikumpulkan menggunakan instrumen kuosionser/angket ditampilkan dalam bentuk tabel atau matriks dari pilihan-pilihan setiap orang. Tabel/matriks semacam itu disebut sosiomatriks.
4. Pembuatan sosiogram
Selain sosiomatriks, data sosiometri juga disajikan dalam bentuk diagram atau gambar. Ketika anggota sebuah kelompok diminta untuk memilih satu sama lain didasarkan pada kriteria tertentu, setiap orang dalam kelompok dapat memilih dan menjelaskan mengapa dia memilih pilihannya tersebut. Hubungan-hubungan ini kemudian dipetakan dalam suatu gambar atau diagram. Gambar peta dari hubungan-hubungan tersebut disebut sosiogram.
5. Analisis indeks
Analisis indeks merupakan metode untuk mengukur distribusi maupun kecenderungan masalah hubungan-hubungan sosial dalam suatu kelompok. Indeks sosiometri memiliki range tertentu untuk menentukan posisi individu dalma kelompok dan untuk menggambarkan karakteristik kelompok. Aplikasi sosiometri memanfaatkan metode ini untuk mengarahkan orang dan kelompok memeriksa kembali serta mengembangkan jaringan hubungan psikososial yang ada.
Secara garis besar kegiatan sosiometri dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yakni:
1. Tahap persiapan
a. Menentukan kelompok siswa yang akan diseleksi.
b. Memberikan informasi atau keterangan tentang tujuan penyelenggaraan sosiometri.
c. Mempersiapkan angket sosiometri.
2. Tahap pelaksanaan
a. Membagikan angket sosiometri dan siswa diminta mengisi angket yang sudah diterima.
b. Mengumpulkan angket yang sudah diisi dan memeriksa apakah angket sudah diisi dengan benar dan lengkap.
3. Tahap pengelolaan
a. Memeriksa hasil isian angket.
b. Mengolah data sosiometri dengan cara menganalisis indeks, menyusun tabel tabulasi, dan membuat sosiogram.

Referensi
Moreno, J. L. (1953). Who Shall Survive? Foundation of Sociometry, Group Psychotherapy, and Sociodrama. New York: Beacon.
Read More

Kategori