Wednesday, 17 April 2019

Karakteristik Anak Kleptomania


Karakteristik Anak Kleptomania
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kleptomania

Kleptomania dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata kleptiein, yang artinya “mencuri” (Sugiono, 2008, hlm. 206). Menurut Supratikna (1995, hlm. 107) kleptomania adalah “penyakit jiwa yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencari”. Benda-benda yang dicuri oleh penderita kleptomania umumnya adalah barang-barang yang tidak berharga, misalnya mencuri gula, permen, atau barang-barang lainnya. Penderita kleptomania biasanya merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan tindakan mencuri tersebut.
Kleptomania juga merupakan gangguan berupa tingkah laku yang dilakukan secara berulang dan secara kompulsif, merasa tersiksa karena ketidakmampuan untuk mengontrol diri. Gangguan tingkah laku secara potensial berbahaya, yang tidak dapat ditolaknya, terkadang memiliki efek sakit atau beberapa lainnya mengandung resiko.
Kleptomania merupakan sebuah gangguan kejiwaan di mana seorang penderita mengalami dorongan dan ketegangan yang sangat kuat untuk melakukan tindakan mengambil barang milik orang lain dan mencapai kepuasannya apabila tindakan mengambil barang tersebut berhasil. Seolah menjadi sebuah kebutuhan, di mana barang yang diambil bukan merupakan barang yang dibutuhkan atau bernilai ekonomis tinggi, melainkan semata untuk pemenuhan hasrat dalam melakukan tindakan pengambilan barang tersebut. “Penderita kleptomania mencuri bukan karena kebutuhan ekonomi, tetapi mereka didorong untuk mencuri yang terus menerus” (Nassa, 2010, hlm. 1).
Penderita kleptomania didorong oleh rasa keinginan untuk mencuri, bukan keinginan untuk memiliki. Motivasi utamanya adalah menghilangkan rasa ketegangan. Bagi penderita kleptomania, mencuri menghilangkan ketegangan dan memberikan sensasi, meskipun orang merasa dorongan tersebut tidak menyenangkan, tidak dikehendaki, dan mengganggu. Pencurian ini dapat dilakukan di toko, tetapi ada juga yang hanya pada target orang tertentu. Setelah berhasil mencuri, biasanya barang curian tersebut dibuang atau diberikan pada orang lain.
Kleptomania dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah sebagai wadah pemenuhan kepuasan. Dilihat dari segi ilmu psikologi, kleptomania merupakan sebuah impuls abnormal untuk mencuri. Ini merupakan penyakit mental patologis. Seperti gangguan pengendalian impuls lainnya, kleptomania ditandai oleh ketengan yang memuncak sebelum tindakan, diikuti oleh pemuasan dan peredaan ketegangan dengan atau tanpa rasa bersalah, penyeselan, atau depresi selama tindakan. Proses pencurian ini tidak direncanakan dan tidak melibatkan orang lain.
Walaupun pencurian tidak terjadi jika kemungkinan akan ditangkap, penderita kleptomania tidak selalu mempertimbangkan kemungkinan penangkapan mereka, kendati penahanan yang berulang menyebabkan penderitaan dan rasa malu. Penderita kleptomania mungkin merasa bersalah dan cemas setelah mencuri, tetapi mereka tidak marah atau memiliki rasa ingin balas dendam.
Sebagian masyarakat ada yang tidak mengetahui bahwa kleptomania merupakan suatu gangguan mental. Mereka berpikir penderita kleptomania merupakan seorang pencuri, sehingga penderita pun dikucilkan dan dicemooh. Sebagian masyarakat lain pun bisa jadi mengetahui gangguan mental kleptomania ini, namun karena berbagai faktor, seperti sulitnya mencari seorang psikolog, tidak adanya fasilitas-fasilitas yang memadai, kekurangan biaya, sehingga pengobatan dan perawatan tidak dilakukan. Dengan adanya pendeskriminasian pada masyarakat, maka akan timbul perilaku menarik diri, merasa diri paling bersalah, malu untuk bersosialisasi, dan masih banyak hal lain yang mengekang perilaku sosial penderita.
Penderita akan menjadi pribadi yang cenderung pendiam, menyendiri, tidak mau berkomunikasi dan mengenal orang lain, merasa masyarakat sekitar memandang hina pada dirinya sehingga tidak ada keinginan untuk membina sosialisasi. Namun faktor eksternal pun dapat memperburuk keadaan tersebut, seperti menjauhnya masyarakat dari penderita kleptomania, timbulnya judgement masyarakat pada penderita yang terkadang hal tersebut justru memicu penderita untuk tetap melakukan tindakan klepto-nya, penderita merasa tidak ada lagi yang percaya dengan dirinya, maka timbullah stress bahkan depresi berat.
Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui berbagai gangguan mental termasuk kleptomania dan cara pengobatannya, sehingga baik masyarakat maupun penderita dapat terbebas dari perasaan bersalah dan tindakan yang salah terhadap penderita.

Referensi
Nassa, A. K. (2010). Kleptomania. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.
Sugiono, D. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia.
Supratikna (1995). Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius.
Read More

Tuesday, 16 April 2019

Sumber Belajar


Sumber Belajar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

klasifikasi Sumber Belajar

Pembelajaran sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak lepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi. Salah satu komponen tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar adalah satu set bahan atau situasi belajar yang dengan sengaja diciptakan agar siswa secara individual dapat belajar. Menurut Sudjana (2007, hlm. 76) sumber belajar adalah “segala daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan”.
Pada dasarnya, sumber belajar dipakai dalam pendidikan, yakni suatu sistem yang terdiri atas sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. Sumber belajar tersebut harus memenuhi ketiga persyaratan menurut Sujarwo (1988, hlm. 125), yaitu “(1) harus dapat tersedia dengan cepat, (2) harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri, dan (3) harus bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan siswa dalam kemandirian belajar”.
Menurut Rohani (1995, hlm. 156) pada pengembangan sumber belajar terdiri atas dua macam, yakni:
1. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yaitu sumber belajar yang secara sengaja dibuat atau dipergunakan untuk membantu belajar-mengajar.
2. Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu segala macam sumber belajar yang ada di sekeliling kita, dimanfaatkan guna memudahkan peserta didik yang sedang belajar. Jadi, sifatnya insidental atau seketika.
Association of Education Communication Technology (1997) (dalam, Rohani, 1995, hlm. 155) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi enam macam, antara lain:
1. Message (pesan), yaitu informasi atau ajaran yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk gagasan, fakta, arti, dan data. Termasuk dalam kelompok pesan adalah semua bahan pengajaran yang diajarkan kepada peserta didik.
2. People (orang), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan.
3. Materials (bahan), yaitu perangkat yang mengandung pesan untuk disajikan. Berbagai media termasuk kategori materials, seperti slide, film, audio, video, modul, majalah, buku, dan sebagainya.
4. Device (alat), yaitu sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, overhead projecktor, tape recorder, radio, televisi, dan sebagainya.
5. Technique (teknik), yaitu prosedur atau acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang, lingkungan untuk menyampaikan pesan. Misalnya, pengajaran berprogram atau modul, simulasi, demonstrasi, tanya-jawab, dan sebagainya.
6. Setting (lingkungan), yaitu situasi atau suasana sekitar di mana pesan disampaikan. Baik lingkungan fisik, seperti ruang kelas, gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, taman, lapangan, dan sebagainya, atau lingkungan non fisik, seperti suasana belajar itu sendiri.

Referensi
Rohani, A. H. M. (1995). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, N. (2007). Teknologi Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sudjarwo, S. (1988). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga.
Read More

Sunday, 14 April 2019

Payung Geulis Khas Tasikmalaya


Payung Geulis Khas Tasikmalaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

payung cantik tasikmalaya

Masyarakat Sunda merupakan masyarakat yang terbuka terhadap perubahan, akan tetapi bagi masyarakat Sunda, kebudayaan dapat diterima atau ditolak tergantung dengan tradisi dan kebudayaannya. Pada awalnya industri kerajinan payung ini merupakan milik etnis Cina yang bermukim di Kota Tasikmalaya. Kemudian masyarakat Tasikmalaya mengembangkannya menjadi kerajinan khas Tasikmalaya, yang kita kenal dengan payung geulis khas Tasikmalaya. Ketika industri ini mulai menguntungkan secara ekonomis, maka mulai banyak warga sekitar yang beralih pekerjaan. Salah satunya H. Syahrod, yang pada awalnya bekerja sebagai petani kemudian beralih bekerja pada industri payung, dan akhirnya mendirikan kerajinan payung geulis di Desa Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Diperkirakan industri payung geulis khas Tasikmalaya ini telah ada di wilayah Kecamatan Indihiang pada sekitar abad ke-19. Usaha kerajinan merupakan suatu kegiatan yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga akhirnya kegiatan ini menjadi ciri khas masyarakat di Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Perkembangan awal industri kerajinan payung geulis di Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya tidak dapat dilepaskan dari peranan H. Syahrod yang kini telah tiada, namun masih dilanjutkan oleh generasi ke-empat dari keturunan beliau. Setelah memiliki modal sendiri dan menguasai bidang usaha ini, beliau mendirikan industri kerajinan payung geulis di Kecamatan Indihiang, tepatnya di Desa Panyingkiran. Pada masa itu, keterampilan membuat payung merupakan usaha sampingan di luar sektor pertanian, ketika menunggu hasil panen, warga sekitar bekerja sebagai pengrajin di H. Syahrod, sehingga pekerjaan ini dapat memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya, usaha kerajinan payung menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, hal ini dapat dilihat dari ketertarikan warga sekitar untuk menekuni usaha payung geulis. Maka para wanita pun mulai menekuni bidang usaha ini.
Keberadaan industri kerajinan payung geulis di Kecamatan Indihiang telah menarik minat wanita, khususnya yang sudah berkeluarga untuk terlibat dalam industri ini. Karena hal tersebut merupakan proses yang cukup panjang. Hal ini terjadi karena keadaan sosial budaya yang berkembang di masyarakat masih berorientasi bahwa lelaki bertanggung jawab untuk mencari nafkah, sedangkan wanita bertanggung jawab pada rumah tangga.
Pada umumnya payung berfungsi hanya sebagai pelindung diri dari hujan atau sengatan terik matahari. Namun payung geulis ini mempunyai nilai lebih dan fungsi yang berbeda, yakni sebagai penghias para mojang Tasik yang sedang memakai kebaya pada acara tertentu, misalnya acara perkawinan, upacara adat, atau dapat dipakai untuk penghias hotel, restoran, atau tempat pariwisata lainnya guna menambah keunikan tersendiri untuk menarik perhatian wisatawan.
Payung geulis dibuat secara handmade (menggunakan tangan). Namun, biasanya hanya pembuatan gagang saja yang memakai mesin (bor). Gagang payung geulis terbuat dari bambu atau kayu albasi. Di dalam proses pembuatan payung geulis diperlukan sejumlah tahap berikut:
1. Pada rangka payung yang sudah tersedia, pengrajin memasang kertas berbentuk bulat yang besar-kecilnya tergantung ukuran payung yang dibuat.
2. Tahapan kedua disebut ngararawat, yakni memasang benang pada bagian dalam payung. Proses ini merupakan tahapan yang cukup rumit dan memerlukan kesabaran, ketelitian, ketekunan, dan keuletan.
3. Kertas dan benang sudah terpasang pada rangka payung, lalu dilakukan proses pemolesan kanji tapioka atau lem agar menjadi kaku, setelah itu dilakukan pengecatan. Warna yang digunakan sesuai keinginan pemesan. Setelah dicat, payung dijemur di bawah terik matahari.
4. Tahapan keempat adalah melukis di atas payung. Motif lukisan yang dibuat biasanya berupa bunga, batik, dan hewan seperti kupu-kupu, tergantung pemesanan.
5. Tahapan terakhir adalah dipernis agar payung yang dihasilkan lebih menarik dan motif lukisannya lebih terlihat hidup. Untuk selanjutnya dipasang gagang payung. Tahapan ini disebut dengan istilah nyetel.
Read More

Saturday, 13 April 2019

Teori Belajar Gagne


Teori Belajar Gagne
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

robert m. gagne

Robert Mills Gagne lahir di Andover Utara, Massachusetts. Ia mendapatkan gelar Ph.D. dari Universitas Brown pada tahun 1940. Gagne adalah seorang Professor dalam bidang psikologi pendidikan di Connecticut College (1940-1949), Universitas Negara Bagian Pensylvania (1945-1946), dan Professor di Departemen Penelitian Pendidikan di Universitas Negara Bagian Florida di Tallahasse (1969). Gagne juga menjabat sebagai direktur riset untuk Angkatan Udara di Lanckland, Texas, dan Colorado (1949-1958) dan Institut Penelitian Amerika di Pittsburgh (1962-1965). Gagne pernah bekerja sebagai konsultan dari Departemen Pertahanan (1958-1961) dan untuk Dinas Pendidikan Amerika Serikat (1964-1966).
Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Hal ini sejalan dengan pendapat Mariana (dalam Trianto, 2009, hlm. 27) yang menyatakan bahwa “terjadinya belajar pada diri siswa memerlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun eksternal”. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Sedangkan kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran.
Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar bersifat kompleks. Di dalam pernyataannya tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, sikap, minat, atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.
Menurut Gagne (dalam Djamarah, 2006, hlm. 14) terdapat delapan tipe belajar, yakni:
1. Belajar isyarat (signal learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respon bersyarat. Misalnya menutup mulut dengan telunjuk, sebagai isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, sebagai isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan tersebut bersifat umum, kabur, dan emosional. Belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.
2. Belajar stimulus-respons (stimulus respons learning)
Tipe belajar stimulus-respons bersifat spesifik. Misalnya mencium bau masakan sedap akan keluar air liur, 3 x 3 = 9, dan lain sebagainya. Setiap respons dapat diperkuat  dengan reinforcement.
3. Belajar rangkaian (chaining)
Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antara stimulus-respons yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan, dan minum.
4. Asosiasi verbal (verbal assosiation)
Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terhadap dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain. Misalnya ada suatu kalimat “benda tersebut berbentuk limas”. Seseorang dapat menyatakan bahwa suatu benda berbentuk limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut.
5. Belajar diskriminasi (discrimination learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
6. Belajar konsep (concept learning)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta. Melalui suatu konsep dapat digolongkan binatang bertulang belakang menurut ciri-ciri khusus, seperti mamalia, reptilia, amphibia, burung, serangga, dan ikan. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat melakukan diskriminasi.
7. Belajar aturan (rule learning)
Hukum, dalil atau rumus adalah suatu aturan (rule). Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut dalam lingkaran sama dengan 360 derajat. Setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.
8. Belajar pemecahan masalah (problem solving learning)
Memecahkan masalah adalah hal yang biasa dalam kehidupan. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai hal yang relevan dengan masalah tersebut. Di dalam pemecahan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat atau lama. Seringkali juga harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal setiap unsur dari masalah tersebut, mencari hubungan dengan aturan tertentu. Di dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Kesanggupan pemecahan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.

Referensi
Djamarah, S. B. (2006). Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Trianto (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana.
Read More

Thursday, 11 April 2019

Sistem Peradilan Pidana Anak di Bawah Umur


Sistem Peradilan Pidana Anak di Bawah Umur
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pidana anak

Sistem peradilan pidana anak di bawah umur di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang mulai berlaku pada tanggal 31 Juli 2014. Undang-undang ini merupakan pengganti dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang bertujuan agar dapat terwujud peradilan yang benar-benar menjamin perlindungan kepentingan terbaik terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.
Adapun substansi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengenai penempatan anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Selain itu, pengaturan secara tegas mengenai keadilan restoratif dan diversi yang dimaksudkan untuk menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar.
Keadilan restoratif berarti semua pihak yang terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu bersama-sama mengatasi masalah serta mencipatakan suatu kewajiban untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan melibatkan korban, anak, dan masyarakat dalam mencari solusi untuk memperbaiki, merekonsiliasi, dan menentramkan hati yang tidak berdasarkan keinginan untuk membalas. Adapun diversi memiliki arti sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mendefinisikan anak di bawah umur sebagai anak yang telah berumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun, dan membedakan anak yang terlibat dalam suatu tindak pidana dalam tiga kategori, yakni (1) anak yang menjadi pelaku tindak pidana, (2) anak yang menjadi korban tindak pidana, dan (3) anak yang menjadi saksi tindak pidana.
Seorang pelaku tindak pidana anak dapat dikenakan dua jenis sanksi, yaitu tindakan, bagi pelaku tindak pidana yang berumur di bawah 14 tahun dan pidana, bagi pelaku tindak pidana yang berumur 15 tahun ke atas. Sanksi tindakan yang dapat dikenakan kepada anak meliputi:
1. Pengembalian kepada orang tua/wali.
2. Penyerahan kepada seseorang.
3. Perawatan di rumah sakit jiwa.
4. Perawatan di LPKA
5. Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta.
6. Pencabutan surat izin mengemudi.
7. Perbaikan akibat tindak pidana.
Sedangkan sanksi pidana yang dapat dikenakan pada anak meliputi:
1. Pidana peringatan.
2. Pidana dengan syarat, yang terdiri atas pembinaan di luar lembaga, pelayanan masyarakat, atau pengawasan.
3. Pelatihan kerja.
4. Pembinaan dalam lembaga.
5. Penjara.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juga mengatur dalam hal anak belum berumur 12 tahun melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, penyidik, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosial profesional mengambil keputusan untuk:
1. Menyerahkan kembali kepada orang tua/wali.
2. Mengikutsertakan dalam program pendidikan, pembinaan, dan pembimbingan di instansi pemerintah atau LPKA di instansi yang menangani bidang kesejahteraan sosial, baik pusat maupun daerah, paling lama 6 bulan.
Setiap anak dalam proses peradilan pidana berhak:
1. Diperlakukan secara manusiawi dengan memperhatikan kebutuhan sesuai dengan umurnya.
2. Dipisahkan dari orang dewasa.
3. Memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain secara efektif.
4. Melakukan kegiatan rekreasional.
5. Bebas dari penyiksaan, penghukuman, atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi, serta merendahkan derajat dan martabat.
6. Tidak dijatuhi pidana mati atau pidana seumur hidup.
7. Tidak ditangkap, ditahan, atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam waktu yang paling singkat.
8. Memperoleh keadilan di muka pengadilan anak yang obyektif, tidak memihak, dan dalam sidang yang tertutup untuk umum.
9. Tidak dipublikasikan identitasnya.
10. Memperoleh pendampingan orang tua/wali dan orang yang dipercaya oleh anak.
11. Memperoleh advokasi sosial.
12. Memperoleh kehidupan pribadi.
13. Memperoleh aksesibilitas, terutama bagi anak disabilitas.
14. Memperoleh pendidikan.
15. Memperoleh pelayanan kesehatan.
16. Memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Anak yang sedang menjalani masa pidana berkah atas:
1. Remisi atau pengurangan masa pidana.
2. Asimilasi atau proses pembinaan dengan membaurkan anak dalam kehidupan masyarakat.
3. Cuti mengunjungi keluarga.
4. Pembebasan bersyarat.
5. Cuti menjelang bebas.
6. Cuti bersyarat.
7. Hak-hak lain sesuai dengan perundang-undangan.
Penahanan terhadap anak hanya dapat dilakukan dengan syarat anak telah berumur 14 tahun atau diduga melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara minimal tujuh tahun atau lebih.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini memberikan kemudahan bagi anak saksi atau anak korban dalam memberikan keterangan di pengadilan. Saksi/korban yang tidak dapat hadir untuk memberikan keterangan di depan sidang pengadilan dengan alasan apapun dapat memberikan keterangan di luar sidang pengadilan melalui perekaman elektronik yang dilakukan oleh pembimbing kemasyarakatan, dengan dihadiri oleh penyidik atau penuntut umum, dan advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya yang terlibat dalam perkara tersebut. Anak saksi/korban juga diperbolehkan menggunakan keterangan melalui pemeriksaan jarak jauh dengan menggunakan alat komunikasi audiovisual. Pada saat memberikan keterangan dengan cara ini, anak harus didampingi oleh orang tua/wali, pembimbing kemasyarakatan atau pendamping lainnya.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak memperbolehkan anak yang terlibat dalam tindakan untuk mendapatkan bantuan hukum tanpa mempermasalahkan jenis tindak pidana yang telah dilakukan. Anak berhak mendapat bantuan hukum di setiap tahapan pemeriksaan, baik dalam tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, maupun tahap pemeriksaan di pengadilan. Anak saksi/korban wajib didampingi oleh orang tua/wali, orang yang dipercaya oleh anak, atau pekerja sosial dalam setiap tahapan pemeriksaan. Akan tetapi, jika orang tua dari anak tersebut adalah pelaku tindak pidana, maka orang tua/walinya tidak wajib mendampingi.
Anak yang belum selesai menjalani pidana di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dan telah mencapai umur 18 tahun dipindahkan ke lembaga permasyarakatan pemuda.

Referensi
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Read More

Kategori