Friday, 14 December 2018

Studi Pendahuluan


Studi Pendahuluan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Studi Pendahuluan dalam penelitian

Keberadaan ilmu pengetahuan merupakan hasil dari penelitian. Tanpa adanya penelitian, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang. Melalui penelitian, dapat ditemukan suatu hal yang baru, atau untuk mengembangkan sesuatu agar lebih maju. Sesuatu tersebut dapat berupa ide, konsep, maupun produk.
Penelitian dilaksanakan melalui suatu prosedur dan alur tertentu. Apapun jenis penelitiannya, selalu dimulai dengan adanya permasalahan, yakni suatu kesenjangan yang dirasakan oleh peneliti. Kesenjangan tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab. Dengan kondisi demikian, peneliti berusaha mencari jalan keluar dengan mengadakan penelitian berdasarkan teori yang tepat.
“Untuk mengadakan penelitian diperlukan sejumlah langkah atau prosedur yang harus dilalui” (Arikunto, 2010, hlm. 3). Salah satunya, yakni studi pendahuluan. Langkah ini merupakan langkah kedua setelah memilih masalah. Studi pendahuluan merupakan langkah yang penting dan harus dilalui peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitiannya.
Studi pendahuluan merupakan studi yang dilakukan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalahnya menjadi jelas kedudukannya. Studi pendahuluan juga dilakukan untuk menjajagi kemungkinan diteruskannya suatu penelitian.
Studi pendahuluan memiliki manfaat besar dalam bidang penelitian. Di dalam melakukan studi pendahuluan dapat ditemukan bahwa orang lain telah berhasil memecahkan masalah yang ia ajukan, sehingga tidak perlu bersusah payah menyelidiki. Kemungkinan peneliti telah mengetahui hal-hal yang relevan dengan masalahnya sehingga memperkuat keinginannya untuk meneliti. Hal tersebut didukung dengan adanya orang lain yang masih mempermasalahkan.
Apabila terdapat orang lain yang menyelediki masalah yang hampir sama atau belum terjawab persoalannya, peneliti dapat mengetahui metode apa yang digunakan, hasil-hasil apa saja yang telah dicapai, bagaimana dari penelitian tersebut yang belum terselesaikan, faktor-faktor apa saja yang mendukung, dan hambatan apa saja yang telah dilalui untuk  mengatasi masalah dalam penelitian. Dengan melakukan studi pendahuluan, peneliti dapat menghemat banyak tenaga dan biaya. Di sisi lain, mereka menjadi lebih terbuka, menjadi lebih jelas terhadap masalah penelitiannya.
Maka, pelaksanaan studi pendahuluan ini bermanfaat untuk:
1. Mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti.
2. Tahu di mana atau kepada siapa informasi dapat diperoleh.
3. Tahu bagaimana cara memperoleh data atau informasi.
4. Dapat menentukan cara yang tepat untuk menganalisis data.
5. Tahu bagaimana harus mengambil kesimpulan serta kebermanfaatan hasil penelitian.
Sebagai pedoman perlu tidaknya atau dapat tidaknya penelitian dilaksanakan, peneliti harus mengingat sejumlah hal berikut:
1. Apakah judul penelitian yang akan dilakukan benar-benar sesuai dengan minatnya? Apakah peneliti memang akan senang melaksanakan karena menguasai permasalahannya? Kedua pertanyaan ini perlu dijawab karena minat, perhatian, dan penguasaan pemecahan masalah merupakan modal utama dalam penelitian.
2. Apakah penelitian ini dapat dilaksanakan? Banyak faktor yang menyebabkan seorang peneliti tidak dapat melaksanakan rencananya. Faktor-faktor tersebut seperti kemampuan, waktu, tenaga, dan dana.
3. Apakah tersedia faktor pendukung untuk penelitian yang akan dilakukan? Data yang akan dikumpulkan untuk kebutuhan penelitian harus ada. Oleh karena itu, sebagai tambahan peneliti harus sudah merumuskan judul penelitian, sudah terdapat dana, dan sudah mengurus izin.
4. Apakah hasil penelitian cukup bermanfaat? Hasil penelitian perlu memiliki manfaat yang jelas, terutama untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan dapat dilakukan pada tiga objek. Objek disini adalah apa yang harus dihubungi, dilihat, dikunjungi yang kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga objek tersebut, antara lain:
1. Paper, meliputi dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya. Studi ini disebut juga sebagai studi kepustakaan atau literature study.
2. Person, dapat dilakukan dengan cara bertemu, bertanya, dan berkonsultasi dengan ahli atau narasumber.
3. Place, dapat berupa tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat dalam tempat penelitian.

Referensi
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Read More

Thursday, 13 December 2018

Outbound


Outbound
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kegiatan kokurikuler Outbound

Outbound atau out of boundary, diartikan sebagai keluar dari lingkup, batas, atau kebiasaan. Menurut Susanta (2010, hlm. 18-19) outbound adalah “metode pengembangan diri melalui kombinasi rangkaian kegiatan beraspek psikomotor, kognitif, dan afektif dalam pendekatan pembelajaran melalui pengalaman”. Sedangkan Asti (2009, hlm. 11) mengemukakan outbound adalah “kegiatan pelatihan di luar ruangan atau di alam terbuka yang menyenangkan dan penuh tantangan”. Bentuk kegiatan outbound dapat berupa simulasi kehidupan melalui permainan-permainan yang kreatif, rekreatif, dan edukatif, baik secara individual maupun kelompok.
Berdasar sejumlah pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa outbound adalah kegiatan yang dilakukan di luar ruangan yang menyenangkan dan penuh tantangan.
Tujuan dilakukan outbound menurut Indriana (2011, hlm. 178-179), antara lain:
1. Outbound dapat menggambarkan atau mengidentifikasi berbagai kekuatan dan kelemahan peserta didik.
2. Peserta didik yang mengikuti kegiatan outbound dapat mengeluarkan segala ekspresi dan potensi diri berdasarkan caranya sendiri. Oleh karena itu, outbound dapat mengantarkan peserta didik untuk bebas berkreasi, namun tetap taat aturan permainan yang berlaku.
3. Dapat menjadikan peserta didik menghargai dan menghormati diri sendiri dan orang lain.
4. Peserta didik dapat belajar secara menyenangkan. Dengan demikian, peserta didik akan termotivasi dan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran.
5. Dapat memupuk jiwa kemandirian peserta didik sehingga potensi yang dimiliki akan tergali untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
6. Dapat memupuk sikap empati dan sensitif kepada orang lain karena dalam kegiatan outbound terdapat bentuk kerjasama yang membutuhkan interaksi antara satu sama lain, sehingga dapat melahirkan pembelajaran untuk dapat memahami perasaan dan sikap empati pada orang lain.
7. Dapat melatih keterampilan bersosialisasi peserta didik karena pembelajaran outbound mengajarkan peserta didik untuk dapat berkomunikasi dengan baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.
8. Membuat peserta didik dapat mengetahui cara belajar yang efektif dan kreatif. Hal ini karena dalam kegiatannya peserta didik langsung menerapkan cara belajar yang efektif dan kreatif untuk mencapai tujuan dan hasil optimal.
9. Sebagai sarana yang tepat untuk mengembangkan karakter atau kepribadian peserta didik.
10. Peserta didik dapat memahami berbagai nilai positif melalui berbagai contoh nyata dalam kegiatan yang diselenggarakan.
Menurut Indriana (2011, hlm. 182-183) manfaat outbound, di antaranya:
1. Dapat menjalin komunikasi yang efektif (effective communication).
2. Dapat melakukan pengembangan tim (team building).
3. Belajar untuk memecahkan masalah (problem solving).
4. Dapat memupuk rasa percaya diri (self confidence).
5. Belajar kepemimpinan (leadership).
6. Dapat menjalin kerjasama dengan tim (sinergi).
7. Melakukan permainan yang menghibur (fun games).
8. Belajar untuk berkonsentrasi atau memfokuskan perhatian.
9. Melatih kejujuran dan sportivitas.
Dengan demikian, melalui kegiatan outbound diharapkan peserta didik dapat memiliki kepribadian yang baik, cerdas, berdaya tahan, dapat menjalin hubungan sosial, dan berkarakter.
Adapun jenis-jenis permainan outbound yang cocok untuk anak, antara lain:

1. Balap ulat buku

Outbound

Balap ulat buku adalah jenis permainan yang dilakukan secara berkelompok. Anak dan teman-temannya akan diajak membentuk tiga hingga empat tim, yang masing-masing terdiri atas tujuh sampai 10 orang. Setiap tim akan diminta berbaris lurus ke belakang, dan setiap orang di dalam barisan harus berpegangan pada bahu teman yang ada di depannya.
Cara bermainnya, anak dan teman satu kelompoknya harus adu cepat dengan tim lawan untuk sampai ke garis finish yang sudah ditentukan. Barisan yang dibentuk tidak boleh putus. Biasanya, agar permainan lebih seru, rute ke garis finish dibuat bervariasi dan berkelok-kelok. Permainan ini melatih kerjasama anak dengan teman-teman satu timnya.

2. Menyampaikan pesan lewat isyarat

Outbound

Permainan ini, yakni menyampaikan pesan tanpa bersuara. Di dalam permainan ini, anak perlu menyampaikan pesan melalui gerakan, tidak boleh diucapkan. Hal ini tentu mengasah kemampuan motorik anak. Selain itu, aktivitas ini sekaligus mengasah imajinasi anak. Anak harus membuat isyarat-isyarat tertentu, agar pesan yang hendak disampaikannya dapat dimengerti dengan baik oleh teman satu timnya. Secara tidak langsung, hal ini akan membantu mengasah kreativitas anak.

3. Berjalan di atas tali

Outbound

Berjalan di atas tali adalah salah satu jenis permainan outbound yang menantang bagi anak. Melalui permainan ini, anak dapat melatih kemampuannya dalam mengoordinasikan anggota tubuh, seperti mata, tangan, dan kaki. Tidak hanya itu, anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam menjaga keseimbangan serta melatih keberanian.

4. Mini flying fox

Outbound

Permainan ini sangat populer dalam kegiatan outbound. Meski cukup mendebarkan, flying fox termasuk jenis permainan outbound yang cukup aman bagi anak, jika menggunakan peralatan yang tepat dan diawasi oleh tim profesional.
Flying fox melatih kemampuan motorik anak sekaligus keberaniannya. Sebab, sebelum meluncur, anak harus menaiki anak-anak tangga hingga mencapai ketinggian tertentu sebagai titik awal meluncur. Begitu berhasil meluncur dengan lancar, anak akan merasa puas sekaligus percaya diri, karena ia membuktikan keberaniannya melewati tantangan dalam permainan ini.

5. Merayap di atas tanah becek

Outbound

Permainan ini mengharuskan anak merayap di atas tanah yang becek. Permainan ini merupakan permainan adu ketangkasan dan kecepatan yang mengharuskan anak bergerak aktif secara fisik, sehingga motorik kasar anak terlatih.
Melalui permainan ini, anak juga belajar untuk lebih berani. Permainan ini melatih anak untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan dan menyelesaikan tantangan yang ada. Karena bersifat kompetitif, permainan ini juga membentuk mental anak, agar ia tidak takut bersaing sehat dengan orang lain.

Referensi
Asti, B. M. (2009). Fun Outbound Merancang Kegiatan Outbound yang Efektif. Yogyakarta: Diva Press.
Indriana, D. (2011). Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Yogyakarta: Diva Press.
Susanta, A. (2010). Outbound Profesional Pengertian, Prinsip Perancangan, dan Panduan Pelaksanaan. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Read More

Wednesday, 12 December 2018

Penilaian Kinerja Guru


Penilaian Kinerja Guru
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

PK Guru

Penilaian kinerja guru adalah penilaian yang dilakukan terhadap setiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan dan penerapan kompetensi. Penguasaan dan penerapan kompetensi sangat menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran, pembimbingan peserta didik, dan pelaksanaan tugas tambahan yang relevan, sesuai dengan fungsi sekolah. Untuk itu, perlu dikembangkan sistem penilaian kinerja guru.
Sistem penilaian kinerja guru adalah sebuah sistem pengelolaan kinerja berbasis guru yang didesain untuk mengevaluasi tingkatan kinerja guru secara individu dalam rangka mencapai kinerja sekolah secara maksimal yang berdampak pada peningkatan prestasi peserta didik. Hal ini merupakan bentuk penilaian yang sangat penting untuk mengukur kinerja guru dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai bentuk akuntabilitas sekolah. Pada dasarnya sistem penilaian kinerja guru bertujuan:
1. Menentukan tingkat kompetensi seorang guru.
2. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja guru dan sekolah.
3. Menyajikan suatu landasan untuk pengambilan keputusan dalam mekanisme penetapan efektif atau kurang efektifnya kinerja guru.
4. Menyediakan landasan untuk program pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru.
5. Menjamin bahwa guru melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya serta mempertahankan sikap-sikap yang positif dalam mendukung pembelajaran peserta didik untuk mencapai prestasinya.
6. Menyediakan dasar dalam sistem peningkatan promosi dan karir guru serta bentuk penghargaan lainnya.
Penilaian kinerja guru memiliki dua fungsi utama, yaitu:
1. Menilai unjuk kinerja guru dalam menerapkan semua kompetensi yang diperlukan pada proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah. Dengan demikian, hasil penilaian kinerja menjadi profil kinerja guru yang dapat memberikan gambaran kekuatan dan kelemahan guru. Profil kinerja guru juga dapat dimaknai sebagai suatu analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru.
2. Menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah pada tahun penilaian kinerja guru dilaksanakan. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional.
Hasil penilaian kinerja guru diharapkan dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam menciptakan insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi. Penilaian kinerja guru merupakan acuan bagi sekolah untuk menetapkan pengembangan karir dan promosi guru. Bagi guru, penilaian kinerja guru merupakan pedoman untuk mengetahui unsur-unsur kinerja yang dinilai dan sebagai sarana untuk mengkaji kekuatan dan kelemahan individu dalam rangka memperbaiki kualitas kinerjanya.
Penilaian kinerja guru dilakukan terhadap kompetensi guru sesuai dengan tugas pembelajaran, pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah. Bagi guru kelas/mata pelajaran dan guru bimbingan dan konseling/konselor, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, sedangkan untuk tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah, penilaian kinerjanya dilakukan berdasarkan kompetensi tertentu sesuai dengan tugas tambahan yang dibebankan, misalnya sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pengelola perpustakaan, dan sebagainya.
Untuk memperoleh hasil penilaian yang benar dan tepat, penilaian kinerja guru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Valid
Sistem penilaian kinerja guru dikatakan valid bila aspek yang dinilai benar-benar mengukur komponen-komponen tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah.
2. Reliabel
Sistem penilaian kinerja guru dikatakan reliabel atau mempunyai tingkat kepercayaan tinggi bila proses yang dilakukan memberikan hasil yang sama untuk seorang guru yang dinilai kinerjanya oleh siapapun dan kapan pun.
3. Praktis
Sistem penilaian kinerja guru dikatakan praktis bila dapat dilakukan oleh siapapun dengan relatif mudah, dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang sama dalam semua kondisi tanpa memerlukan persyaratan tambahan.
Agar hasil pelaksanaan dan penilaian kinerja guru dapat dipertanggungjawabkan, penilaian kinerja guru harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Berdasarkan ketentuan
Penilaian kinerja guru harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan mengacu pada peraturan yang berlaku.
2. Berdasarkan kinerja
Aspek yang dinilai dalam penilaian kinerja guru adalah kinerja yang dapat diamati dan dipantau sesuai dengan tugas guru sehari-hari dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah.
3. Berlandaskan dokumen
Penilai, guru yang dinilai, dan unsur lain yang terlibat dalam proses penilaian kinerja guru harus memahami semua dokumen yang terkait dengan sistem penilaian kinerja guru, terutama yang berkaitan dengan pernyataan kompetensi dan indikator kinerja secara utuh, sehingga penilai, guru, dan unsur lain yang terlibat dalam proses penilaian kinerja guru mengetahui dan memahami tentang aspek yang dinilai serta dasar dan kriteria yang digunakan dalam penilaian.
4. Dilaksanakan secara konsisten
Penilaian kinerja guru dilaksanakan secara teratur setiap tahun yang diawali dengan evaluasi diri, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Obyektif
Penilaian kinerja guru dilaksanakan secara obyektif sesuai dengan kondisi nyata guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
b. Adil
Penilai kinerja guru memberlakukan syarat, ketentuan, dan prosedur standar kepada semua guru yang dinilai.
c. Akuntabel
Hasil pelaksanaan penilaian kinerja guru dapat dipertanggungjawabkan.
d. Bermanfaat
Penilaian kinerja guru bermanfaat bagi guru dalam rangka peningkatan kualitas kinerja secara berkelanjutan, sekaligus pengembangan karir profesi.
e. Transparan
Proses penilaian kinerja guru memungkinkan bagi penilai, guru yang dinilai dan pihak lain yang berkepentingan untuk memperoleh akses informasi atas penyelenggaraan penilaian tersebut.
f. Berorientasi pada tujuan
Penilaian berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan.
g. Berorientasi pada proses
Penilaian kinerja guru tidak hanya terfokus pada hasil, tetapi juga perlu memperhatikan proses, yakni bagaimana guru dapat mencapai hasil tersebut.
h. Berkelanjutan
Penilaian kinerja guru dilaksanakan secara periodik, teratur, dan berlangsung secara terus menerus selama seseorang menjadi guru.
i. Rahasia
Hasil penilaian kinerja guru hanya boleh diketahui oleh pihak-pihak terkait yang berkepentingan.
Penilaian kinerja guru kelas/mata pelajaran dan guru konseling dilakukan dengan mengacu pada dimensi tugas utama guru yang meliputi kegiatan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi dan menilai termasuk di dalamnya menganalisis hasil penilaian dan melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian. Dimensi tugas utama ini kemudian diturunkan menjadi indikator kinerja yang dapat terukur sebagai bentuk unjuk kerja guru dalam melaksanakan tugas utamanya tersebut akibat dari kompetensi yang dimiliki guru.
Pengembangan instrumen penilaian kinerja guru kelas/mata pelajaran dan guru konseling mencakup tiga dimensi utama dengan indikator kinerjanya masing-masing yang dinilai berdasarkan unjuk kerja akibat kompetensi yang dimiliki oleh guru. Untuk masing-masing indikator kinerja dari setiap dimensi tugas utama akan dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian yang lebih rinci untuk melihat apakah unjuk kerja dari kepemilikan kompetensi tersebut tergambarkan dalam hasil kajian dokumen perencanaan termasuk dokumen pendukung lainnya dan/atau hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh penilai pada saat melakukan pengamatan dalam pembelajaran selama proses penilaian kinerja.
Kisi-kisi instrumen yang menggambarkan hubungan antara dimensi tugas utama dan indikator kinerja dapat diperlihatkan pada tabel berikut:

No.
Dimensi Tugas Utama dan Indikator Kinerja
I
Perencanaan Pembelajaran
1.
Guru memformulasikan tujuan pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik peserta didik.
2.
Guru menyusun bahan ajar secara runtut, logis, kontekstual, dan mutakhir
3.
Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang efektif.
4.
Guru memilih sumber belajar/media pembelajaran sesuai dengan materi dan strategi pembelajaran
II
Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Aktif dan Efektif
A. Kegiatan Pendahuluan
5.
Guru memulai pembelajaran dengan efektif.
B. Kegiatan Inti
6.
Guru menguasai materi pelajaran.
7.
Guru menerapkan pendekatan/strategi pembelajaran yang efektif.
8.
Guru memanfaatkan sumber belajar/media dalam pembelajaran.
9.
Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
10.
Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran.
C. Kegiatan Penutup
11.
Guru mengakhiri pembelajaran yang efektif.
III
Penilaian Pembelajaran
12.
Guru merancang alat evaluasi untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan peserta didik.
13.
Guru mengguanakan berbagai strategi dan metode penilaian untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik dalam mencapai kompetensi tertentu sebagaimana yang tertulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
14.
Guru memanfaatkan berbagai hasil penilaian untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dengan kemajuan belajar dan bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya.

Referensi
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Read More

Kategori