Wednesday, 20 June 2018

Buku Catatan Kegiatan Penelitian (Log Book)


Buku Catatan Kegiatan Penelitian (Log Book)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

log book penelitian

Mencatat setiap langkah dalam penelitian barangkali membuat seorang peneliti cukup repot. Akan tetapi, sebagai seorang peneliti hal tersebut harus dilakukan, sebab dari catatan kegiatan penelitian (log book)  akan banyak hal yang terungkap. Catatan kegiatan penelitian yang lengkap akan membantu peneliti dalam mendeskripsikan apa yang terjadi selama proses penelitian.
Bagi mahasiswa, catatan kegiatan penelitian sangat berguna, sebab dari catatan kegiatan penelitian mahasiswa dapat membahas dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing mengenai suatu hal. Berdasar catatan kegiatan penelitian tersebut, dosen pembimbing akan dapat memberikan solusi akurat bagi permasalahan yang terjadi di lapangan.
Catatan kegiatan penelitian juga akan berguna ketika terjadi penemuan yang sama, dan bermaksud mengetahui siapa yang lebih dahulu menemukan hal tersebut. Perihal itu dapat dilihat dari catatan kegiatan penelitian, sebab dalam catatan kegiatan penelitian pasti terdapat tanggal.
Ada sejumlah manfaat buku catatan kegiatan penelitian (log book), di antaranya:
1. Sebagai bukti untuk mengajukan permintaan hak paten.
2. Sebagai bahan pembuatan makalah ilmiah dan laporan kegiatan.
3. Sebagai alat untuk memudahkan pemantauan, baik oleh peneliti ataupun oleh tim monitoring dan evaluasi (monev).
4. Sebagai instrumen kendali untuk memperlancar kegiatan penelitian agar sesuai dengan jadwal yang telah disusun.
Adapun manfaat buku catatan kegiatan penelitian (log book) bagi mahasiswa, antara lain:
1. Sebagai alat untuk memudahkan pemantauan, baik oleh mahasiswa sendiri maupun dosen pembimbing.
2. Sebagai bahan pendukung penulisan artikel seminar hasil penelitian, seminar nasional, atau seminar internasional.
3. Sebagai dasar untuk penulisan naskah skripsi, tesis, atau disertasi.
4. Sebagai bahan penulisan artikel di jurnal ilmiah nasional atau internasional.
5. Sebagai bahan pertimbangan bagi tim pembimbing untuk menilai pelaksanaan penelitian mahasiswa.
6. Sebagai instrumen kendali untuk memperlancar kegiatan penelitian mahasiswa agar sesuai dengan jadwal yang telah disusun.
7. Sebagai bahan bukti bahwa mahasiswa benar-benar melaksanakan penelitian sesuai dengan yang tertuang dalam naskah proposal penelitian.
8. Sebagai bukti untuk mengajukan permintaan hak paten.
Hal yang dicatat dalam buku catatan kegiatan penelitian (log book), yakni:
1. Hari dan tanggal pencatatan.
2. Nama kegiatan/sub-kegiatan (sesuai proposal).
3. Tujuan dari kegiatan/sub-kegiatan (sesuai proposal).
4. Uraian kegiatan (harus dapat menggambarkan urutan kegiatan yang dilakukan harian atau mingguan, berupa desain eksperimen serta analisis yang dilakukan, berikut penggunaan-penggunaan waktu, orang, bahan, alat, dan lain-lain).
5. Hasil diperoleh harian atau mingguan (cantumkan hari/tanggal dan tempat/lokasi pengukuran/pencatatan/analisis).
6. Hambatan (jelaskan hambatan-hambatan yang dialami, jika ada).
7. Kesimpulan dan saran (kesimpulan dan saran dari masing-masing kegiatan).
8. Rencana kegiatan selanjutnya (sesuai kesimpulan dan proposal).
9. Dokumentasi berupa gambar atau foto dapat ditempelkan tepat di balik lembar kegiatan yang diisi.
10. Tanda tangan peneliti di dalam setiap halaman buku catatan kegiatan penelitian (log book) setelah selesai suatu aktivitas/kegiatan.
Read More

Tuesday, 19 June 2018

Prinsip dan Kriteria Umum Pemilihan Media Pembelajaran


Prinsip dan Kriteria Umum Pemilihan Media Pembelajaran
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

prinsip pemilihan media

Pada pemilihan media pembelajaran, tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa alasan dan pertimbangan yang jelas. Pada pemilihan media pembelajaran, terdapat prinsip yang harus diperhatikan. Menurut Rumampuk (1988, hlm. 19) prinsip pemilihan media pembelajaran, sebagai berikut:
1. Tujuan pemilihan media pembelajaran harus jelas.
2. Pemilihan media pembelajaran harus secara obyektif.
3. Tidak ada satu pun media pembelajaran yang dipakai untuk semua tujuan. Tiap-tiap media pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan.
4. Pemilihan media pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar yang digunakan dan materi pelajaran.
5. Untuk dapat memilih media pembelajaran dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri media pembelajaran.
6. Pemilihan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.
7. Pemilihan media pembelajaran didasarkan pada kemampuan dan gaya belajar siswa.
Adapun menurut Rusman, dkk. (2012, hlm. 175) dalam memilih media pembelajaran, guru juga harus memerhatikan prinsip-prinsip media pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya:
1. Efektivitas
Pemilihan media pembelajaran harus memerhatikan ketepatgunaan media dalam mencapai tujuan pembelajaran. Media haruslah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pembentukan kompetensi.
2. Relevansi
Media pembelajaran yang dipilih merupakan media yang sesuai dengan karakteristik materi, alokasi waktu, fasilitas, potensi guru dan siswa.
3. Efisiensi
Pemilihan media pembelajaran haruslah memerhatikan aspek kesesuaian biaya pembuatan, waktu pembuatan, dan tenaga yang dikeluarkan, dengan manfaat dari media tersebut.
4. Dapat digunakan
Media pembelajaran tersebut diusahakan dapat digunakan dalam pembelajaran sehingga siswa lebih memahami isi materi.
5. Kontekstual
Sebisa mungkin media pembelajaran yang dibuat merupakan perwujudan materi dengan memerhatikan lingkungan sosial budaya siswa sebagai pendukung.
6. Fleksibel
Media pembelajaran harus memiliki fleksibilitas, dalam artian mudah dibawa atau dipindahkan untuk digunakan dalam pembelajaran di ruang dan waktu yang berbeda.
Menurut Walker dan Hess (dalam Kustandi dan Sutjipto, 2011, hlm. 143) kriteria pemilihan media pembelajaran berdasarkan pada sejumlah kualitas, sebagai berikut:
1. Kualitas isi dan tujuan, yang di dalamnya terdiri atas ketepatan, kepentingan, kelengkapan, keseimbangan, minat atau perhatian, keadilan, dan kesesuaian dengan situasi siswa.
2. Kualitas pembelajaran, yang di dalamnya terdiri atas kemampuan memberikan kesempatan dan bantuan belajar, memotivasi, fleksibel dalam penggunaan, dan dapat memberi dampak bagi siswa.
3. Kualitas teknis, yang meliputi keterbacaan, mudah digunakan, kualitas tampilan, penanganan jawaban, pengelolaan program, dan kualitas pendokumentasian.

Referensi
Kustandi, C., & Sutjipto, B. (2011). Media Pembelajaran: Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia.
Rumampuk, D. B. (1988). Media Intruksional IPS. Jakarta: Depdikbud.
Rusman, dkk. (2012). Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Press.
Read More

Sunday, 17 June 2018

Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)


Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kerajaan gowa tallo

Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan saling berhubungan baik. Kedua kerajaan tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar. Makassar sebenarnya adalah ibu kota Gowa yang juga disebut sebagai Ujung Padang.
Secara geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan kondisi tersebut, Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
Penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Robandang dari Sumatera. Pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan raja Makassar kala itu juga memeluk agama Islam. Raja Makassar yang pertama memeluk agama Islam adalah Karaeng Ma’towaya Tumamenanga Ri Agamanna (Raja Gowa) yang bergelar Sultan Alaudin, memerintah Makassar pada tahun 1591-1638, dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) yang bergelar Sultan Abdullah. Sejak itu, Kerajaan Makassar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Muhammad Said (1639-1653).
Kerajaan Makassar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653-1669). Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Makassar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, yaitu dengan menguasai daerah-daerah subur serta daerah-daerah yang menunjang keperluan perdagangan Makassar. Kerajaan Makassar berhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Perluasan daerah Kerajaan Makassar tersebut bahkan sampai ke Nusa Tenggara Barat.
Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu, ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC, yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu, hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh Kerajaan Makassar. Dengan kondisi tersebut, maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut, Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Kerajaan Makassar, yakni dengan melakukan politik adu domba antara Kerajaan Makassar dan Kerajaan Bone. Raja Bone kala itu, yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Kerajaan Makassar mengadakan persetujuan dengan VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Makassar. Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota Kerajaan Makassar.
Secara terpaksa Kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangani perjanjian Bongaya pada tahun 1667 yang berisi:
1. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Kerajaan Makassar.
2. Belanda dapat mendirikan benteng di Makassar.
3. Kerajaan Makassar harus melepaskan daerah-daerah kekuasaannya, seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makassar.
4. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makassar terhadap Belanda tetap berlangsung. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makassar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makassar, dan Kerajaan Makassar mengalami kehancurannya.
Adapun hasil-hasil kebudayaan dari Kerajaan Gowa dan Tallo, antara lain:

1. Benteng Fort Rotterdam

Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Benteng Fort Rotterdam adalah sebuah bangunan benteng peninggalan masa kejayaan kerajaan Gowa dan Tallo yang terletak di pesisir barat pantai kota Makassar. Benteng ini dibangun oleh raja Gowa ke-9, yakni I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi Kallonna pada tahun 1545. Karena awalnya berbahan tanah liat, Raja Gowa ke-14, yakni Sultan Alaudin kemudian memugar bangunan benteng dengan bahan batu padas yang diperoleh dari Pegunungan Karts di Maros.

2. Batu Pallantikang

Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Batu Pallantikang atau batu pelantikan adalah sebuah batu andesit yang diapit batu kapur. Batu peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo ini dipercaya memiliki tuah karena dianggap sebagai batu dari kahyangan. Karena anggapan tersebut, sesuai namanya batu ini digunakan sebagai tempat pengambilan sumpah atas setiap raja atau penguasa baru di Kerajaan Gowa dan Tallo. Batu ini masih berada di tempat aslinya, yakni di Tenggara Kompleks Pemakaman Tamalate.

3. Masjid Katangka

Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Masjid Katangka atau dikenal dengan Masjid Al-Hilal adalah masjid peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo yang diperkirakan dibangun pada tahun 1603. Masjid ini secara administratif terletak di Desa Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Nama katangka diyakini berasal dari nama bahan pembuatnya, yaitu kayu katangka.

4. Kompleks Makam Katangka

Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Di areal Masjid Katangka, terdapat sebuah kompleks pemakaman dari mendiang keluarga dan keturunan raja-raja Gowa, termasuk makam Sultan Hasannudin. Makam  raja-raja dapat dikenali dengan mudah karena diatapi dengan kubah. Sementara makam pemuka agama, kerabat, serta keturunan raja hanya ditandai dengan batu nisan biasa.

5. Makam Syekh Yusuf

Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Syekh Yusuf adalah ulama besar yang hidup di zaman kolonial Belanda. Pengaruhnya sangat besar bagi perlawanan rakyat Gowa dan Tallo terhadap penjajah, membuat Belanda mengasingkannya ke Srilangka, kemudian ke Cape Town, Afrika Selatan. Jenazahnya setelah beberapa tahun kemudian dikembalikan ke Makassar dan dimakamkan di dataran rendah Lakiung, sebelah barat Masjid Katangka.
Read More

Saturday, 16 June 2018

Tari Seudati


Tari Seudati
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

tarian seudati

Tari seudati adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh. Tarian ini biasanya ditarikan oleh sekelompok penari pria. Gerakannya yang khas dan enerjik serta diiringi oleh lantunan syair dan suara hentakan para penari. Tari seudati merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal di Aceh dan sering ditampilkan di berbagai acara, seperti acara adat, acara pertunjukan, dan acara budaya.
Berdasar sejarahnya, tarian ini tumbuh dan berkembang di Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Tarian ini kemudian mulai berkembang di daerah lain, seperti di Desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Seiring berjalannya waktu, tarian ini kemudian mulai menyebar ke daerah Aceh lainnya, hingga kini tari seudati sudah menyebar ke seluruh daerah Aceh.
Dulunya tarian ini digunakan oleh para tokoh agama sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam. Namun, pada masa penjajahan Belanda, tarian ini sempat dilarang karena syair yang dibawakan dalam tari seudati dapat menumbuhkan semangat bagi para pemuda Aceh untuk bangkit. Hal ini dianggap dapat menimbulkan pemberontakan kepada Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, tarian ini kembali diperbolehkan, bahkan tidak hanya digunakan sebagai media dakwah, tetapi sering ditampilkan sebagai tarian pertunjukkan.
Nama tari seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti bersaksi atau dalam Islam diartikan sebagai pengakuan terhadap Tuhan dan Rosul. Hal tersebut juga berkaitan dengan syair-syair yang dilantunkan dalam mengiringi tarian ini. Syair tersebut biasanya berisi tentang kehidupan dan ajaran agama. Selain itu, setiap gerakan dalam tari seudati ini juga tentu memiliki nilai-nilai dan makna khusus di dalamnya.
Tari seudati biasanya ditarikan oleh para penari pria. Penari tersebut biasanya berjumlah delapan orang penari utama yang terdiri atas satu orang syeh, satu pembantu syeh, dua apeet wie, satu apeet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Di sisi lain, tarian ini juga terdapat dua orang lain yang bertugas sebagai pelantun syair yang disebut aneuk syahi.
Gerakan dalam tari seudati memiliki ciri khas yang enerjik dan lugas. Gerakan dalam tarian ini didominasi oleh gerakan tangan dan kaki serta didukung pola lantai yang bervariasi. Gerakan yang paling menonjol biasanya gerakan tepuk dada, ketipan jari, gerak tangan, dan hentakan kaki yang dilakukan dengan lincah, cepat, dan harmonis.
Pada pertunjukan tari seudati biasanya tanpa diiringi oleh alat musik, namun hanya diiringi oleh pelantun syair. Syair yang dibawakan biasanya bertemakan tentang kehidupan sehari-hari dan ajaran agama. Selain syair, tarian ini juga diiringi oleh suara tepukan, hentakan kaki, dan petikan jari dari gerakan para penari. Gerakan tersebut tentunya disesuaikan dengan irama dan tempo lagu/syair yang dilantunkan agar terlihat harmonis.
Kostum yang digunakan para penari dalam tari seudati biasanya menggunakan kostum khusus yang bertemakan adat. Kostum yang digunakan biasanya terdiri atas baju ketat berlengan panjang dan celana panjang. Baju dan celana tersebut biasanya berwarna putih sedangkan sebagai aksesoris biasanya terdiri atas kain songket yang dikenakan di pinggang hingga poho, rencong yang disisipkan  di pinggang dan tangkulok (ikat kepala) berwarna merah.
Pada perkembangannya, tari seudati masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga kini. Berbagai kreasi dan variasi dalam gerakan juga sering ditampilkan di setiap pertunjukan agar terlihat menarik, namun tidak menghilangkan keaslian dan ciri khasnya. Tari seudati sering ditampilkan di berbagai acara, seperti acara adat, acara perayaan, acara budaya, pertunjukan seni, festival budaya, dan promosi pariwisata. Selain ditampilkan sebagai tarian pertunjukan, tarian ini juga dipertandingkan antar tim. Hal ini yang membuat masyarakat antusias mengikuti tari seudati. Selain sebagai perlombaan, hal ini tentu dilakukan untuk melestarikan serta memperkenalkan tari seudati kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Read More

Kategori