Sunday, 27 May 2018

Model Pembelajaran Snowball Throwing


Model Pembelajaran Snowball Throwing
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Snowball throwing

Snowball throwing berasal dari dua kata bahasa Inggris, yakni snowball dan throwing. “Kata snowball berarti bola salju, sedangkan throwing berarti melempar” (Ismail, 2008, hlm. 27). Jadi, snowball throwing merupakan salah satu model pembelajaran yang membagi siswa di dalam sejumlah kelompok, di mana masing-masing kelompok siswa membuat bola pertanyaan. Menurut Suprijono (2011, hlm. 8) snowball throwing adalah “suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana siswa dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen kemudian masing-masing kelompok dipilih ketua kelompoknya untuk mendapat tugas dari guru lalu masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola kemudian dilempar ke siswa lain, masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh”. Menurut Dewi (2011, hlm. 12) model pembelajaran snowball throwing “melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya”. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat atau alat bantu lain, tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran snowball throwing merupakan suatu model pembelajaran yang membagi siswa dalam sejumlah kelompok, nantinya masing-masing anggota kelompok membuat sebuah pertanyaan pada selembar kertas dan membentuknya seperti bola, kemudian bola tersebut dilempar ke siswa lain selama durasi yang ditentukan, selanjutnya masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperolehnya.
Tujuan penggunaan model pembelajaran snowball throwing adalah melatih siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain, melatih kreatifitas dan imajinasi siswa dalam membuat pertanyaan, dan memacu siswa untuk bekerja sama, saling membantu, serta aktif dalam pembelajaran. Adapun menurut Asrori (2010, hlm. 3) model pembelajaran snowball throwing memiliki sejumlah manfaat, sebagai berikut:
1. Meningkatkan keaktifan belajar siswa.
2. Menumbuh kembangkan potensi intelektual sosial dan emosional yang ada di dalam diri siswa.
3. Melatih siswa mengemukakan gagasan dan perasaan.
Langkah-langkah model pembelajaran snowball throwing menurut Suprijono (dalam Hizbullah, 2011, hlm. 10), yakni:
1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2. Guru membagi siswa ke dalam sejumlah kelompok.
3. Guru memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran.
4. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru.
5. Masing-masing siswa diberi satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
6. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain pada waktu yang ditentukan.
7. Setelah tiap siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan, diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
8. Guru bersama dengan siswa memberikan kesimpulan atas materi pembelajaran yang diberikan.
9. Guru memberikan evaluasi sebagai bahan penilaian pemahaman siswa atas materi pembelajaran.
10. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan pesan-pesan moral dan tugas di rumah.
Menurut Safitri (2011, hlm. 19) kelebihan penggunaan model pembelajaran snowball throwing, antara lain:
1. Melatih kesiapan siswa dalam merumuskan pertanyaan dengan bersumber pada materi yang dipelajari.
2. Siswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam tentang materi pelajaran yang dipelajari.
3. Membangkitkan keberanian siswa dalam mengemukakan pertanyaan kepada siswa lain maupun guru.
4. Melatih siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya.
5. Merangsang siswa mengemukakan pertanyaan sesuai dengan topik.
6. Mengurangi rasa takut siswa dalam bertanya kepada teman maupun guru.
7. Siswa akan lebih mengerti makna kerja sama dalam menemukan pemecahan suatu masalah.
8. Siswa akan lebih memahami makna tanggung jawab.
9. Siswa akan lebih menerima keragaman.
10. Siswa akan lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya.
Di sisi lain, model pembelajaran snowball throwing memiliki kelemahan yang dikemukakan oleh Suprijono (dalam Hizbullah, 2011, hlm. 9), yakni:
1. Pengetahuan yang dipelajari tidak begitu luas, hanya berkutat pada apa yang telah diketahui oleh siswa.
2. Kurang efektif digunakan untuk materi pelajaran tertentu.

Referensi
Asrori (2010). Penggunaan Model Belajar Snowball Throwing dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Devi, R. (2011). Metode Analisis Kualitatif. Bandung: Pustaka Utama.
Hizbullah (2011). Prinsip dan Kriteria dalam Pemilihan Media Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ismail, A. (2008). Model-Model Pembelaran Mutakhir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Safitri, D. (2011). Model Pembelajaran Snowball Throwing. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suprijono (2011). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Surabaya: Pustaka Pelajar.
Read More

Thursday, 24 May 2018

Demokrasi dalam Pendidikan Indonesia


Demokrasi dalam Pendidikan Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

demokrasi pendidikan

Pada masa lampau, pendekatan yang sentralistik dan cenderung kepada totaliterisme bukan merupakan hal yang tabu. Berbagai bentuk penyelenggaraan sentralistik yang menghilangkan inisiatif pribadi dan masyarakat sangat akrab dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kurikulum yang terpusat, penyelenggaraan serta manajemen yang dikendalikan dari atas telah menghasilkan lulusan pendidikan tanpa inisiatif. “Pendidikan kita nyaris tanpa adanya perubahan metodologi dari bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi akan berjalan secara indoktiner” (Tilaar, 2000, hlm. 87). Kebebasan berpikir, kebebasan merumuskan, dan menyatakan pendapat yang berbeda tidak mendapat tempat.
Gelombang demokratisasi mempunyai konsekuensi lebih lanjut dalam desentralisasi penyelenggaraan pendidikan. Sejalan dengan arus demokratisasi dalam kehidupan manusia, maka desentralisasi pendidikan akan memberikan efek terhadap kurikulum, efisiensi administrasi, pendapatan, pemerataan, dan biaya pendidikan. Meskipun demikian, desentralisasi pendidikan tidak dengan sendirinya meningkatkan mutu pendidikan dalam arti peningkatan mutu pembelajaran.
Demokratisasi pendidikan ternyata belum sepenuhnya terlaksana di Indonesia. Pendidikan negeri menjadi favorit karena seakan-akan tidak memerlukan biaya. Pendidikan swasta yang benar-benar dilaksanakan oleh masyarakat ternyata harus berdiri sendiri. Di sisi lain, perlunya kurikulum yang memiliki spektrum luas sehingga semua anak dengan kemampuan intelegensi yang bermacam-macam dapat dikembangkan secara optimal.
Demokratisasi proses pendidikan bermakna menjamin dan mengembangkan kebebasan akademik. Terutama pendidikan tinggi merupakan benteng pengembangan moral masyarakat dan menjadi lembaga pengontrol dari pelaksanaan nilai-nilai kebenaran, keindahan, moral, dan agama. Sejalan dengan itu, proses pendidikan bukan merupakan suatu indoktrinasi tetapi proses pengembangan kesadaran akan kebenaran. Demokrasi tidak dapat dikembangkan dengan menghilangkan pemikiran kritis atau pemikiran alternatif, tetapi hanya dapat berkembang di dalam kebebasan berpikir kritis dan tanggung jawab atas alternatif yang dipilih.
Gagasan demokratisasi didasari oleh pertimbangan sederhana, yakni memperbesar partisipasi masyarakat dalam pendidikan, tidak sekedar dalam konteks retribusi uang sumbangan pendidikan, tetapi dalam pembahasan dan kajian untuk mengidentifikasi berbagai permintaan stakeholder dan user sekolah tentang kompetensi siswa yang akan dihasilkan. Gagasan demokratisasi juga dikembangkan dengan sebuah paradigma tentang pelibatan siswa dalam proses pembelajaran. Pembahasan tentang bagaimana  permintaan stakeholder terhadap sekolah memperkaya substansi kurikulum serta menuntut kreativitas dan dinamika pengelolaan sekolah agar dapat melayani permintaan-permintaan tersebut, dengan tetap berpijak pada perkembangan psikologi siswa serta kemampuan sekolah dalam memberikan layanan kepada client-nya. Pelibatan siswa dalam membahas perencanaan operasional pengembangan proses pembelajaran akan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, dinamis, dan penuh keceriaan karena aspiratif dan sesuai dengan permintaan siswa.
Terkait dengan demokratisasi penyelenggaraan sekolah, setidaknya terdapat tiga aspek yang menjadi pusat perhatian, yakni demokratisasi dalam penyusunan, pengembangan, dan impelementasi kurikulum di sekolah. Demokratisasi dalam proses pembelajaran sejak penyiapan program pembelajaran sampai implementasi proses pembelajaran dalam kelas memberi perhatian pada aspirasi siswa, tidak mengabaikan mereka yang lamban dalam proses pemahaman, dan tidak merugikan mereka yang cepat dalam pemahaman bahan ajar. Semua memperoleh pelayanan yang proporsional, dan semua harus berakhir dengan batas minimal pencapaian kompetensi sesuai angka yang ditetapkan.
Proses penyusunan, evaluasi, dan pengembangan kurikulum yang dilaksanakan dalam prinsip-prinsip demokratisasi pendidikan dicoba untuk diurai secara detail. Demikian pula penyusunan kurikulum operasional yang harus dikembangkan oleh guru dengan mempertimbangkan stakeholder, user serta perkembangan kemampuan siswa sendiri, semuanya dicoba dijelaskan tidak saja  secara konsep dan teori, tetapi juga instrumen praktisnya, sehingga ilmu ini dapat diuji kebenaran implementatifnya dengan pengalaman-pengalaman empirik di lapangan.
Demokratisasi dalam kurikulum dan proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik bila pola pengelolaan sekolahnya otokratis, sentralistik, dan kurang aspiratif serta kurang pelibatan mitra horizontal sekolah. Usulan-usulan kreatif guru akan selalu tersandung oleh aturan-aturan birokrasi dan kekuasaan vertikal. Oleh sebab itu, demokratisasi kurikulum dan pembelajaran harus diimbangi dengan demokratisasi dalam pengelolaan sekolah.
Praktik sekolah demokratis tentu memerlukan pelibatan. Pada konteks assessment kurikulum, pelibatan aspiratif untuk menjaring berbagai gagasan pengembangan, dapat diajukan pada semua pihak dalam penyelenggara pendidikan.

Referensi
Tilaar, H. (2000). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Read More

Wednesday, 23 May 2018

Media Pembelajaran Microsoft Power Point


Media Pembelajaran Microsoft Power Point
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

media pembelajaran presentasi

Microsoft power point merupakan software yang dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan Microsoft. Software ini merupakan salah satu program berbasis multimedia. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi dengan berbagai fitur menu yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi yang menarik. “Hal yang menjadikan media ini menarik untuk digunakan sebagai alat presentasi adalah berbagai kemampuan pengolah teks, warna, dan gambar, serta animasi-animasi yang dapat diolah sendiri sesuai kreativitas penggunanya” (Daryanto, 2010, hlm. 163).
Pada prinsipnya microsoft power point terdiri atas sejumlah unsur rupa dan pengontrolan operasionalnya. Unsur rupa yang dimaksud terdiri atas slide, teks, gambar, dan bidang-bidang warna yang dapat dikombinasikan dengan latar belakang yang telah tersedia. Unsur rupa tersebut dapat diubah tanpa gerak, atau dibuat dengan gerakan tertentu sesuai keinginan. Seluruh tampilan pada program ini dapat diatur sesuai keperluan, apakah akan berjalan sendiri sesuai timing yang diinginkan, atau berjalan secara manual, yaitu dengan mengklik tombol pada mouse. “Biasanya jika digunakan untuk penyampaian bahan ajar yang mementingkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan guru, maka kontrol operasinya menggunakan cara manual” (Daryanto, 2010, hlm. 163).
Pengembangan media presentasi harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran. Sejumlah prinsip berikut perlu dipertimbangkan ketika akan mengembangkan media presentasi menurut Daryanto (2010, hlm. 69), sebagai berikut:
1. Harus dikembangkan sesuai dengan prosedur pengembangan instruksional, karena pada dasarnya media presentasi ini  untuk keperluan pembelajaran.
2. Harus diingat bahwa media presentasi berfungsi sebagai alat bantu mengajar, bukan merupakan media pembelajaran yang akan dipelajari secara mandiri oleh siswa. Untuk itu, media presentasi tidak cocok jika digunakan sebagai bahan ajar yang bersifat pengayaan.
3. Unsur-unsur yang perlu didayagunakan pada media ini, yakni kemampuannya untuk menampilkan teks, grafis, warna, animasi, dan unsur audio visual. Sedapat mungkin unsur-unsur tersebut digunakan secara maksimal dalam presentasi yang dibuat.
4. Materi yang disajikan harus benar substansinya dan disajikan secara menarik.
Agar materi-materi pokok yang telah dirumuskan dapat dituangkan ke dalam media presentasi dengan baik, maka berikut Daryanto (2010, hlm. 70) mengemukakan sejumlah teknis rambu-rambu yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Tentukan topik sesuai materi yang akan disampaikan.
2. Siapkan materi yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
3. Identifikasi bahan-bahan materi tersebut untuk diseleksi mana yang sesuai dengan karakteristik media presentasi.
4. Tulis materi yang telah dipilih dalam kalimat yang singkat dan hanya memuat poin-poin penting saja.
5. Tuangkan pesan-pesan yang disajikan dalam berbagai format, seperti teks, gambar, animasi, dan audio visual.
6. Pastikan bahwa materi yang ditulis sudah cukup lengkap, jelas, dan mudah dipahami oleh siswa.
7. Sajikan isi materi secara urut dan sistematis agar mempermudah penyajian dan pesan mudah dipahami sasaran.
Penggunaan microsoft power point sebagai media pembelajaran memiliki sejumlah kelebihan, di antaranya:
1. Penyajian menarik karena terdapat permainan warna, huruf, dan animasi.
2. Menarik perhatian siswa untuk lebih jauh mengetahui tentang bahan ajar yang tersaji.
3. Guru tidak perlu banyak menerangkan bahan yang disajikan.
4. Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan dan dapat dipakai secara berulang-ulang.
5. Dapat disimpan dalam bentuk data optik (flashdisk, compact disk) sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana.
Adapun kelemahan penggunaan microsoft power point sebagai media pembelajaran, antara lain:
1. Pada pembuatan dan penggunaan media microsoft power point perlu keterampilan khusus dari guru.
2. Perlu kreativitas dari guru untuk membuat presentasi yang menarik.
3. Penggunaan media presentasi terbatas pada jarak pandang siswa.

Referensi
Daryanto (2010). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Read More

Tuesday, 22 May 2018

Katrol


Katrol
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Katrol merupakan pesawat sederhana yang terbuat dari roda dan dapat  berputar pada porosnya. Katrol biasanya digunakan untuk memudahkan mengangkat benda yang berat. Pada katrol terdapat tali atau rantai sebagai penghubung. Apabila dilihat dari cara kerjanya, katrol termasuk pada jenis pengungkit karena pada katrol terdapat titik tumpu, titik kuasa, dan titik beban.
Pada kehidupan sehari-hari, katrol sering ditemukan pada timba air sumur, tiang bendera, dan sebagainya.
Katrol digolongkan menjadi tiga, yaitu:

1. Katrol tetap

katrol tetap

Katrol tetap adalah jenis katrol yang posisinya tidak berpindah arah atau berubah arah pada saat digunakan. Posisi katrol tetap biasanya terikat pada tempat tertentu. Titik tumpu pada katrol tetap terletak di sumbu katrolnya. Keuntungan mekanis pada katrol tetap adalah satu, karena pada katrol tetap hanya mengubah gaya, dari gaya tarik ke atas menjadi gaya tarik ke bawah yang menjadikannya searah dengan gaya gravitasi, sehingga kegiatan mengangkat beban akan lebih ringan.

2. Katrol bebas

Katrol

Pada katrol bebas, posisi atau kedudukan katrol berubah dan tidak dipasang pada tempat tertentu. Katrol bebas digunakan untuk mendapatkan gaya tarik yang lebih ringan daripada katrol tetap. Katrol bebas biasanya ditempatkan di atas tali yang kedudukannya dapat berubah. Salah satu ujung tali diikat pada tempat tertentu. Jika ujung yang lainnya ditarik maka katrol akan bergerak. Katrol bebas melipatgandakan gaya yang kita keluarkan.

3. Katrol majemuk

Katrol

Katrol majemuk merupakan perpaduan dari katrol tetap dan katrol bebas. Kedua katrol ini dihubungkan dengan tali. Pada katrol majemuk, beban dikaitkan pada katrol bebas. Salah satu ujung tali dikaitkan pada penampang katrol tetap. Jika ujung tali yang lainnya ditarik maka beban akan terangkat beserta bergeraknya katrol bebas ke atas. Katrol majemuk melipatgandakan gaya kita. Keuntungan katrol majemuk bergantung pada jumlah katrol yang digabung, makin banyak katrol digabung keuntungan mekanisnya makin besar.
Read More

Kategori