Sunday, 20 January 2019

Perbandingan


Perbandingan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Persoalan perbandingan banyak muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, Budi adalah siswa paling tinggi di kelasnya. Artinya, Budi adalah siswa paling tinggi dibanding dengan teman-temannya di kelas. Contoh lain, harga beras saat ini dua kali harga beras satu bulan lalu. Artinya, harga beras saat ini dibanding harga beras satu bulan lalu adalah dua banding satu.
Untuk menjelaskan perbandingan kepada siswa, kita dapat menggunakan alat-alat peraga sederhana, seperti benang atau kancing. Sebagai ilustrasi, perhatikan dua gambar benang berikut:

Perbandingan

Panjang kedua benang pada gambar tersebut dapat dinyatakan dalam perbandingan sebagai berikut:
1. Panjang benang B adalah 1 cm lebih panjang dari benang A.
2. Panjang benang A adalah 1 cm lebih pendek dari benang B.
3. Panjang benang B dibanding panjang benang A adalah 3 banding 2.
4. Panjang benang A dibanding panjang benang B adalah 2 banding 3.
Selanjutnya, perhatikan gambar kancing-kancing berikut:

Perbandingan

Kancing-kancing tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk perbandingan berikut:
1. Perbandingan banyak kancing hitam dibanding kancing putih adalah 2 banding 3.
2. Perbandingan banyak kancing putih dibanding kancing hitam adalah 3 banding 2.
3. Perbandingan banyak kancing warna abu-abu dengan semua kancing adalah 2 banding 5.
4. Perbandingan banyak kancing putih dengan semua kancing adalah 3 banding 5.
Kata perbandingan mungkin sudah cukup akrab di telinga siswa. Mintalah siswa memperhatikan kalimat berikut “perbandingan banyaknya pria dan wanita adalah 1 banding 2”. Mungkin beberapa siswa akan mengatakan bahwa maksud kalimat tersebut adalah jika banyaknya pria ada satu orang, maka banyaknya wanita ada dua orang, atau jika banyaknya pria ada 10 orang maka banyaknya wanita ada 20 orang, atau mungkin juga ada yang mengatakan bahwa jika banyaknya pria 6 orang, maka banyaknya wanita ada 12 orang, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Berdasar kalimat tersebut, jelas bahwa banyaknya pria adalah setengah dari banyaknya wanita. Meskipun mereka sudah mulai mengerti maksud perbandingan, tetapi bagaimana penulisan perbandingan tersebut? Untuk itu, perlu disampaikan kepada siswa cara menuliskan sebuah perbandingan. Misalkan, banyaknya pria dilambangkan dengan P dan banyaknya wanita dilambangkan dengan W. Jika perbandingan banyaknya pria dan banyaknya wanita dilambangkan dengan W. Jika perbandingan banyaknya pria dan wanita adalah 1 dan 2, maka perbandingan banyaknya pria dan banyaknya wanita tersebut dapat ditulis P : W = 1 : 2 atau P/W = 1/2
Sampaikan pada siswa bahwa “dua buah perbandingan yang ekuivalen membentuk sebuah proporsi”. Sebagai contoh, 14 : 24 = 7 : 12 adalah sebuah proporsi, karena 14 x 12 = 24 x 7.
Seringkali, satu suku di dalam sebuah proporsi tidak diketahui dan harus dicari nilainya seperti contoh berikut:
3 : 8 = y  : 16
Penyelesainnya sebagai berikut:
3 x 16 = 8 x y
48 = 8y
y = 48/8 = 6
Hal lain yang penting untuk diperhatikan adalah satuan-satuan ukuran, jika kita bekerja dengan proporsi. Sebagai contoh, seekor kura-kura bejalan 5 cm tiap detik, berapa meter kura-kura tersebut berjalan selama 50 detik?
Penyelesainnya sebagai berikut:

Perbandingan

Hal ini memberikan nilai n = 25 cm.
Karena 25 cm = 0,25 m, jadi kura-kura tersebut berjalan sejauh 0,25 m.
Untuk itu, ingatkan pada siswa untuk berhati-hati dalam penggunaan satuan-satuan pengukuran dalam perbandingan.
Read More

Saturday, 19 January 2019

Masak-Masakan


Masak-Masakan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

permainan tradisional Masak-masakan

Masak-masakan termasuk permainan tradisional yang kini sulit dijumpai. Permainan tradisional ini biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Masak-masakan menggunakan bahan alami, seperti tanah, dedaunan, dan remukan batu bata.
Masak-masakan sebenarnya tidak mempunyai catatan yang jelas akan asal-usul dan sejarahnya, tetapi dapat dipastikan bahwa keberadaan permainan ini telah ada sejak dahulu. Permainan ini biasanya dimainkan saat mengisi waktu luang, terlebih dahulu kegiatan perempuan yang belum bebas membuat kaum wanita hanya berada di rumah. Untuk mengisi kegiatan di rumah, anak-anak perempuan bermain masak-masakan, yang juga mempersiapkan diri sebagai ibu rumah tangga.
Semua bahan yang digunakan alami dan tidak dapat dimakan. Permainan ini sifatnya hanya menghibur dan mengisi waktu luang. Terkadang juga menggunakan peralatan masak asli atau peralatan masak mainan yang terbuat dari plastik dan berukuran lebih kecil.
Barang-barang bekas juga dapat dimanfaatkan sebagai peralatan masak-masakan. Barang-barang bekas seperti botol, batok kelapa, kaleng susu, tutup kaleng roti, atau wadah lainnya yang sudah tidak terpakai. Hal ini juga sebagai perwujudan sikap sederhana, hemat, dan mendaur ulang sampah atau barang-barang yang sudah tidak terpakai.
Sementara untuk bahan-bahan masak-masakan menggunakan bahan alami yang diperoleh dari sekeliling tempat tinggal. Bahan makanan dapat diperoleh di kebun, belakang rumah, kali, sawah, atau di dalam rumah. Lebih lanjut, bahan-bahan tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Tempe

Masak-masakan

Untuk membuat tempe-tempean dapat menggunakan buah nangka yang kecil. Kira-kira besarnya seukuran ibu jari. Buah nangka ini dapat diperoleh di bawah pohon nangka. Buah ini selanjutnya dikupas, dipotong kecil-kecil, dan dibungkus daun pisang serta ditali dengan tali, yang berasal dari batang pohon pisang kering. Beberapa hari kemudian, potongan buah nangka tadi akan berfermentasi, bentuknya mirip seperti tempe.

2. Minyak goreng

Masak-masakan

Minyak goreng tiruan dapat dibuat dari daun bunga sepatu. Daun ditumbuk, lalu diperas. Tumbukan daun dibuang dan air perasan disaring serta dimasukkan ke dalam botol. Jadilah minyak goreng tiruan, yang warna dan kentalnya mirip minyak goreng sungguhan.

3. Sirup

Masak-masakan

Sirup tiruan didapat dari tumbukan daun jati yang diperas, lalu dimasukkan ke dalam botol. Jadilah sirup tiruan dengan warna mirip sirup stroberi.

4. Es batu

Masak-masakan

Batu padas bahan pembuat es batu tiruan. Cari batu padas yang kecil, batu padas tersebut dimasukkan ke dalam air, maka akan menimbulkan bunyi mendesis seperti es sungguhan.

5. Kerupuk

Masak-masakan

Untuk pengganti kerupuk menggunakan daun nangka yang kekuning-kuningan dipotong kotak-kotak, lalu digoreng dengan minyak goreng tiruan tadi.

6. Ikan

Masak-masakan

Ikan tiruan dapat dibuat dari pelepah pisang. Pelepah pisang dipotong-potong secara miring dan tipis sehingga menghasilkan potongan yang mirip ikan, lebih tepatnya kepala ikan.

7. Bakso

Masak-masakan

Bakso tiruan didapat dengan menggunakan biji atau buah dari pohon jati, yang bentuknya bulat atau dapat juga menggunakan tanah lempung yang telah dibentuk bulat-bulat.

8. Mie

Masak-masakan

Tali putri, bahan pembuat mie tiruan. Tali putri merupakan tanaman penganggu yang memiliki bentuk dan warna seperti mie kuning, tumbuh di antara tanaman lainnya.

9. Gula merah

Masak-masakan

Bahan gula merah tiruan didapat dari tumbukan batu bata merah atau genting.

10. Sayuran

Masak-masakan

Untuk sayuran dapat memanfaatkan berbagai macam sayur sungguhan, seperti bayam, singkong, pepaya, dan kangkung.

11. Nasi

Masak-masakan

Nasi tiruan didapat dari ampas kelapa. Tekstur dan warna ampas kelapa cukup mirip dengan nasi sungguhan.
Read More

Friday, 18 January 2019

Model Pembelajaran Meaningful Instructional Design (MID)


Model Pembelajaran Meaningful Instructional Design (MID)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

meaningful learning

Model pembelajaran meaningful instructional design (MID) berlandas pada meaningful learning (pembelajaran bermakna), yakni bahwa manusia ingin mengetahui keadaan sekelilingnya, berupa lingkungan alam dan lingkungan sosial. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif adalah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat peserta didik. Sejalan dengan itu, Shoimin (2014, hlm. 100) mengemukakan bahwa model pembelajaran meaningful instructional design adalah “pembelajaran yang mengutamakan kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktif”.
Biasanya yang terlihat (sight) belum tentu sama dengan apa yang diterima (precived), pembentukan pengetahuan melibatkan interpretasi manusia atas peristiwa tersebut. Sebelum peristiwa tersebut menjadi pengetahuan, ia harus melewati lapisan yang disebut interpretasi. Hal ini yang disebut meaningful learning dalam proses belajar, yang mengutamakan kebermaknaan agar peserta didik mudah mengingat kembali materi-materi yang telah maupun baru disampaikan oleh guru.
Menurut Ausubel dan Novak (dalam Dahar, 2011, hlm. 98) terdapat tiga keutamaan belajar bermakna, yakni:
1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat.
2. Informasi baru yang telah dikaitkan dengan konsep-konsep relevan sebelumnya dapat meningkatkan konsep yang telah dikuasai sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk memberikan pelajaran yang mirip.
3. Informasi yang pernah dilupakan setelah pernah dikuasai sebelumnya, meninggalkan bekas sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk materi yang mirip walaupun telah lupa.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran meaningful instructional design menurut Shoimin (2014, hlm. 101), sebagai berikut:
1. Lead in
Secara umum konsep lead in adalah mencoba mengkaitkan skema siswa pada awal pembelajaran dengan konsep-konsep, fakta, dan informasi yang akan dipelajari. Kegiatan ini dilakukan guru melalui (1) membagi siswa secara heterogen menjadi sejumlah kelompok dengan menciptakan situasi dalam bentuk kegiatan yang terkait dengan pengalaman siswa, (2) pertanyaan atau tugas-tugas agar siswa merefleksi dan menganalisis pengalaman-pengalaman masa lalu, (3) pertanyaan mengenai konsep-konsep, ide, dan informasi tertentu walaupun hal-hal tersebut belum diketahui siswa.
2. Reconstruction
Reconstruction merupakan proses memfasilitasi dan memediasi pengalaman belajar yang relevan, misalnya menyajikan input berupa konsep atau informasi melalui kegiatan menyimak dan membaca teks untuk dielaborasi, didiskusikan, dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Konsep pembelajaran ini menekankan pada siswa untuk menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap dunia informasi. Siswa membandingkan pengalaman belajar dengan pengalamannya sendiri.
3. Production
Pada tahap ini, konsep materi pembelajaran yang telah disampaikan kemudian diapresiasi atau diaplikasikan ke dalam bentuk nyata. Hal ini membawa alur pembelajaran produktif sehingga siswa tidak hanya memahami secara konseptual, melainkan dapat menciptakan hal baru dari konsep yang dipahami.
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki sejumlah kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran meaningful instructional design menurut Shoimin (2014, hlm. 102), antara lain:
Kelebihan:
1. Sebagai jembatan penghubung tentang apa yang sedang dipelajari siswa.
2. Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.
3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
4. Membantu siswa membentuk, mengubah diri, atau mentransformasikan informasi baru..
Kelemahan:
1. Terkadang sulit menemukan contoh-contoh konkrit dan realistik.
2. Sulit membentuk kelompok yang heterogen.
3. Timbulnya dominasi dari siswa yang pintar.

Referensi
Dahar, R. W. (2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Erlangga.
Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz.
Read More

Thursday, 17 January 2019

Pendidikan Multikultural


Pendidikan Multikultural
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

multikultural

Pendidikan multikultural didefinisikan sebagai “pendidikan tentang keberagaman kebudayaan dalam merespons perubahan-perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu, bahkan dunia secara keseluruhan” (Mahfud, 2011, hlm. 176).
Pendidikan multikultural berawal dari berkembangnya gagasan dan kesadaran tentang interkulturalisme setelah Perang Dunia II. Kemunculan gagasan ini terkait dengan perkembangan politik internasional berkenaan dengan hak asasi manusia, kemerdekaan dari kolonialisme, dan diskriminasi rasial.
Pada dasarnya program pendidikan multikultural difokuskan pada pengembangan nilai-nilai demokratis. Pendidikan multikultural melihat masalah-masalah masyarakat secara lebih luas. Tidak hanya memasukkan masalah-masalah struktural ras, tetapi lebih luas mempersoalkan masalah-masalah kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam ilmu pengetahuan.
Fokus pendidikan multikultural tidak hanya diarahkan pada kelompok rasial, agama, kultural dominan, dan mainstream. Fokus ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terhadap budaya mainstream dominan, yang pada akhirnya dapat membuat orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan interkultural semacam ini pada akhirnya memunculkan tidak hanya sikap tidak peduli terhadap nilai-nilai budaya minoritas, bahkan cenderung melestarikan prasangka-prasangka sosial kultural yang rasis dan diskriminatif.
Pendidikan multikultural membangun pemahaman yang kritis tentang makna etnis dan ras adalah penting karena hal ini dapat membangun dan menumbuhkan pemahaman positif terhadap kelompok etnis dan ras lainnya. Pendidikan multikultural juga “melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis dalam lingkungan mereka” (Yaqin, 2005, hlm. 25).
Pendidikan multikultural paling tidak menyangkut tiga hal, yakni:
1. Kesadaran nilai penting keberagaman budaya
Pendidikan multikultural berkaitan dengan ide bahwa semua peserta didik tanpa memandang karakteristik budayanya harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah. Perbedaan yang ada merupakan suatu kewajaran, bukan untuk dibeda-bedakan. Artinya, perlu sikap toleransi terhadap suatu perbedaan agar dapat hidup berdampingan secara damai, tanpa melihat unsur yang berbeda tersebut sebagai pembeda.
2. Gerakan pembaharuan pendidikan
Pendidikan multikultural seharusnya dapat muncul dalam bentuk bidang studi, program, dan praktik yang direncanakan lembaga pendidikan untuk merespons tuntutan, kebutuhan, dan aspirasi berbagai kelompok. Pendidikan multikultural bukan hanya sekedar praktik aktual atau bidang studi atau program pendidikan semata, melainkan mencakup seluruh aspek pendidikan.
3. Proses pendidikan
Pendidikan multikultural adalah proses menjadi, proses yang berlangsung terus menerus dan bukan sebagai sesuatu yang langsung terjadi. Tujuan dari pendidikan multikultural adalah untuk memperbaiki pribadi secara utuh.
Bentuk pengembangan pendidikan multikultural di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masing-masing negara. Setidaknya menurut Banks (1993, hlm. 14) terdapat empat pendekatan yang dapat mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum, sebagai berikut:
1. Pendekatan kontribusi
Ciri pendekatan ini adalah dengan memasukkan pahlawan-pahlawan dari suku bangsa dan benda-benda budaya ke dalam pelajaran yang sesuai.
2. Pendekatan aditif
Pada pendekatan ini dilakukan penambahan materi, konsep, tema, perspektif kurikulum, tanpa mengubah struktur, tujuan, dan karakteristik dasarnya. Pendekatan ini sering dilengkapi dengan buku, modul, atau bidang bahasan terhadap kurikulum tanpa mengubah substansi.
3. Pendekatan transformasi
Pendekatan transformasi mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi dasar siswa dalam melihat konsep, isu, tema, dan masalah dari sejumlah perspektif serta sudut pandang.
4. Pendekatan aksi sosial
Pendekatan ini mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi, namun menambah komponen yang mempersyaratkan siswa membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu, atau masalah yang dipelajari dalam unit. Tujuan utama dari pembelajaran dan pendekatan ini adalah mendidik siswa melakukan kritik sosial dan mengajarkan keterampilan membuat keputusan untuk memperkuat siswa dan membantu mereka memperoleh pendidikan politis. Siswa memperoleh pengetahuan, nilai, dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk berpartisipasi dalam perubahan sosial sehingga kelompok-kelompok etnis, ras, dan golongan-golongan yang terabaikan dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

Referensi
Banks, J. A. (1993). An Introduction to Multicultural Education. Boston: Allyn and Bacon.
Mahfud, C. (2011). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yaqin, A. (2005). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pilar Media.
Read More

Kategori