Sunday, 17 February 2019

Program Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi


Program Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi

Guru sekolah dasar adalah pendidik profesional bersertifikat dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Adapun guru sekolah dasar berprestasi adalah guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, yang mampu memenuhi Standar Nasional Pendidikan, memiliki kinerja yang melebihi guru lain, berkarakter mulia, dan menjadi suri tauladan bagi siswa, sesama guru, serta masyarakat.
Prinsip penyelenggaraan pemilihan guru sekolah dasar berprestasi, antara lain:
1. Kompetitif
Pelaksanaan pemilihan guru berprestasi berdasarkan persaingan yang sehat di semua jenjang, bukan berdasarkan penunjukan atau pemerataan.
2. Obyektif
Mengacu kepada proses penilaian dan penetapan predikat guru sekolah dasar berprestasi pada semua tingkatan, baik di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, maupun tingkat nasional dilaksanakan secara adil, tidak diskriminatif, dan memenuhi standar penilaian yang ditetapkan.
3. Transparan
Mengacu kepada proses yang memberikan peluang kepada semua pemangku kepentingan untuk memperoleh akses informasi tentang penilaian dan penetapan predikat guru sekolah dasar berprestasi pada semua tingkatan, sebagai suatu sistem yang meliputi masukan, proses, dan hasil penilaian.
4. Akuntabel
Merupakan proses penilaian dan penetapan predikat guru sekolah dasar berprestasi pada semua tingkatan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pemangku kepentingan pendidikan, baik secara akademik maupun administratif.
Persyaratan peserta pemilihan guru sekolah dasar berprestasi mulai dari tingkat satuan pendidikan sampai dengan tingkat nasional, terdiri atas:
1. Persyaratan akademik:
a. Memiliki kualifikasi pendidikan minimal Sarjana (S1) atau Diploma Empat (D-IV) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
b. Memiliki sertifikat pendidik.
2. Persyaratan administratif:
a. Guru Sekolah Dasar yang sedang mengajar di sekolah negeri atau swasta serta tidak sedang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah atau sedang dalam proses pengangkatan sebagai kepala sekolah atau sedang dalam transisi alih tugas ke unit kerja lainnya.
b. Aktif melaksanakan proses pembelajaran yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah.
c. Mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya delapan (8) tahun sebagai guru secara terus-menerus sampai saat diajukan sebagai calon peserta, yang dibuktikan dengan SK calon pegawai negeri sipil (CPNS) atau SK pengangkatan dari yayasan/pengelola bagi guru bukan pegawai negeri sipil (PNS) dan belum pernah mengikuti pemilihan guru sekolah dasar berprestasi tingkat nasional dalam tiga tahun terakhir.
d. Melaksanakan beban mengajar sekurang-kurangnya 24 jam per minggu yang dibuktikan dengan fotokopi SK kepala sekolah.
e. Tidak pernah dikenai hukuman selama tiga (3) tahun terakhir yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah yang diketahui oleh kepala dinas pendidikan kabupaten/kota.
f. Melampirkan surat rekomendasi dari kepala sekolah bahwa yang bersangkutan merupakan hasil seleksi dari satuan pendidikan.
g. Melampirkan penilaian pelaksanaan pembelajaran dan kinerja guru yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah tahun terakhir.
h. Melampirkan bukti partisipasi sebagai pengurus dalam kemasyarakatan berupa surat keterangan atau bukti fisik berupa rekomendasi dari penanggung jawab organisasi kemasyarakatan yang disahkan oleh kepala sekolah selama dua (2) tahun terakhir.
i. Melampirkan portofolio, bagi:
1) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat sekolah akan mengikuti pemilihan di tingkat kecamatan/UPTD.
2) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat kecamatan/UPTD akan mengikuti pemilihan di tingkat kabupaten/kota.
3) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat kabupaten/kota akan mengikuti pemilihan di tingkat provinsi.
4) Guru berprestasi yang meraih peringkat 1 tingkat provinsi akan mengikuti pemilihan di tingkat nasional.
j. Melampirkan Surat Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tentang hasil seleksi guru SD berprestasi tingkat kabupaten/kota untuk seleksi guru berprestasi tingkat provinsi.
k. Melampirkan Surat Keputusan Gubernur atau Kepala Dinas Pendidikan Provinsi tentang hasil seleksi guru SD berprestasi tingkat provinsi untuk seleksi guru berprestasi tingkat nasional.
l. Melampirkan surat keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum pernah menjadi finalis seleksi guru SD berprestasi tingkat nasional dalam tiga (3) tahun terakhir.
m. Melampirkan surat pernyataan tidak sedang mengkitui lomba tingkat nasional lainnya yang diselenggarakan oleh Kemendikbud pada tahun yang sama dan diketahui oleh kepala sekolah.
n. Apabila terjadi penggantian finalis tingkat nasional, maka penggantinya (peringkat II atau III tingkat provinsi) harus menyertakan rekomendasi dari Gubernur/Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
3. Persyaratan khusus:
Peserta pemilihan guru sekolah dasar berprestasi wajib:
a. Membuat portofolio tiga (3) tahun terakhir.
b. Membuat dan menyerahkan karya tulis ilmiah dalam bentuk laporan hasil penelitian atau laporan best practices beserta artikelnya. Karya tulis ilmiah yang disusun akan dipresentasikan pada pemilihan guru sekolah dasar  berprestasi mulai dari tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional. Karya ilmiah tersebut merupakan karya sendiri yang dibuktikan dengan peryataan orisinalitas di atas kertas bermaterai Rp 6000,- dan diketahui oleh kepala sekolah.
c. Memiliki kinerja dan kompetensi minimal baik dengan melampirkan hasil Penilaian Kinerja Guru (PKG).
d. Setiap calon guru berprestasi tingkat nasional wajib menyampaikan video pelaksanaan pembelajaran berupa:
1) Video pelaksanaan pembelajaran dengan durasi satu jam pelajaran.
2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus untuk materi pelajaran yang divideokan.
3) Penjelasan tentang rekaman proses pembelajaran yang disajikan.

Adapun prosedur pelaksanaan pemilihan guru sekolah dasar berprestasi dijabarkan sebagai berikut:

1. Tingkat sekolah
a. Kepala sekolah dan komite sekolah memilih guru yang berpotensi dan memenuhi syarat untuk mengikuti pemilihan guru berprestasi dengan mempertimbangkan portofolio dan karya tulis yang dimiliki oleh guru.
b. Kepala sekolah mengusulkan calon peserta ke tingkat kecamatan.

2. Tingkat kecamatan/UPTD
a. Prosedur penilaian
Tim penilai melaksanakan penialain administrasi dan akademik dengan perincian sebagai berikut:
1) Pemeriksaan kelengkapan dokumen dari sekolah pengusul.
2) Penilaian dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b. Prosedur pengajuan
1) Guru berprestasi peringkat I tingkat kecamatan ditetapkan dengan Surat Keputasan Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan.
2) Panitia pemilihan guru berprestasi tingkat kecamatan mengirimkan nama guru berprestasi peringkat I dengan berita acara penilaian dan dokumen portofolionya kepada panitia pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten/kota beserta berita acara.
3) Berita acara berisikan hasil penilaian administrasi dan akademik.
c. Pelaporan
Panitia tingkat kecamatan membuat laporan dengan mengisi berita acara hasil penilaian guru sekolah dasar berprestasi tingkat kecamatan dan disampaikan kepada panitia tingkat kabupaten/kota.

3. Tingkat kabupaten/kota
a. Prosedur penilaian
1) Panitia menerima, mengagendakan, dan memeriksa kelengkapan permohonan guru yang akan mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat kabupaten/kota, serta mengatur waktu dan agenda pelaksanaan penilaian.
2) Tim penilai melaksanakan penilaian dengan agenda sebagai berikut:
a) Penilaian dokomen portofolio (bobot 20%) dengan menilai dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir yang terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b) Penilaian Kinerja Guru (PKG) (bobot 10%), berupa laporan hasil penilaian kinerja guru dan penilaian menggunakan instrumen yang telah disediakan.
c) Tes tertulis (bobot 20%), berupa tes penguasaan kompetensi profesional, tes pemahaman wawasan kependidikan, dan tes kepribadian.
d) Penilaian karya tulis ilimah dan artikelnya (bobot 20%).
e) Presentasi artikel ilmiah dan tanya jawab (bobot 20%).
f) Penilaian keteladanan dan akhlak mulia (bobot 10%).
b. Berita acara
Panitia membuat berita acara pelaksanaan guru SD berprestasi tingkat kabupaten/kota, ditandatangani oleh ketua panitia dan tim penilai.
c. Laporan hasil penilaian
Panitia melaporkan hasil penilaian guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III kepada Bupati/Walikota.
d. Pemberian hadiah
Memberikan hadiah dan/atau piagam penghargaan yang ditandatangani oleh Bupati/Walikota kepada pemenang peringkat I, II, dan III.
e. Penetapan pemenang dan prosedur pengusulan ke tingkat provinsi
1) Bupati/Walikota menetapkan pemenang peringkat I, II, dan III guru SD berprestasi tingkat kabupaten/kota dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
2) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota mengirimkan kepada panitia tingkat provinsi:
a) Berita acara penilaian.
b) Dokumen portofolio, video pembelajaran, dan hasil penilaian kinerja guru SD berprestasi peringkat I kabupaten/kota.
c) Karya tulis ilmiah dan artikelnya, serta bahan tayang untuk karya tulis ilmiah.

4. Tingkat provinsi
a. Prosedur penilaian
1) Panitia menerima, mengagendakan, dan memeriksa kelengkapan permohonan guru yang akan mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat provinsi, serta mengatur waktu dan agenda pelaksanaan penilaian.
2) Tim penilai melaksanakan penilaian dengan agenda sebagai berikut:
a) Penilaian dokomen portofolio (bobot 20%) dengan menilai dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir yang terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b) Penilaian Kinerja Guru (PKG) (bobot 10%), berupa laporan hasil penilaian kinerja guru dan penilaian menggunakan instrumen yang telah disediakan dan video pembelajaran.
c) Tes tertulis (bobot 20%), berupa tes penguasaan kompetensi profesional, tes pemahaman wawasan kependidikan, dan tes kepribadian.
d) Penilaian karya tulis ilimah dan artikelnya (bobot 20%).
e) Presentasi artikel ilmiah dan tanya jawab (bobot 20%).
f) Penilaian keteladanan dan akhlak mulia (bobot 10%).
b. Berita acara
Panitia membuat berita acara pelaksanaan guru SD berprestasi tingkat provinsi, ditandatangani oleh ketua panitia dan tim penilai.
c. Laporan hasil penilaian
Panitia melaporkan hasil penilaian guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III kepada Gubernur.
d. Pemberian hadiah
Memberikan hadiah dan/atau piagam penghargaan yang ditandatangani oleh Gubernur kepada pemenang peringkat I, II, dan III.
e. Penetapan pemenang dan prosedur pengusulan ke tingkat nasional
1) Bupati/Walikota menetapkan pemenang peringkat I, II, dan III guru SD berprestasi tingkat provinsi dengan Surat Keputusan Gubernur atau Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
2) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi mengirimkan kepada panitia tingkat nasional:
a) Softcopy dokumen portofolio dalam flash disk dari guru SD berprestasi peringkat I provinsi.
b) Karya tulis ilmiah dan artikelnya, serta bahan tayang untuk karya tulis ilmiah dalam bentuk softcopy dalam flash disk.
c) Penilaian kinerja guru dan video pembelajaran.

4. Tingkat nasional
a. Prosedur penilaian
1) Panitia menerima, mengagendakan, dan memeriksa kelengkapan permohonan guru yang akan mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat nasional, serta mengatur waktu dan agenda pelaksanaan penilaian.
2) Panitia menguji tingkat plagiasi (similarity) laporan karya tulis ilmiah dan artikel yang dipresentasikan.
3) Tim seleksi melakukan penilaian dengan agenda sebagai berikut:
a) Penilaian dokomen portofolio (bobot 20%) dengan menilai dokumen portofolio tiga (3) tahun terakhir yang terkait dengan kinerja guru, biodata, dan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
b) Penilaian Kinerja Guru (PKG) (bobot 10%), berupa laporan hasil penilaian kinerja guru dan penilaian menggunakan instrumen yang telah disediakan dan video pembelajaran.
c) Tes tertulis (bobot 20%), berupa tes penguasaan kompetensi profesional, tes pemahaman wawasan kependidikan, dan tes kepribadian.
d) Penilaian karya tulis ilimah dan artikelnya (bobot 20%).
e) Presentasi artikel ilmiah dan tanya jawab (bobot 20%).
f) Penilaian keteladanan dan akhlak mulia (bobot 10%).
b. Berita acara
Membuat berita acara pelaksanaan penilaian guru SD berprestasi tingkat nasional.
c. Laporan hasil penilaian
Panitia melaporkan hasil penilaian guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III nasional kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk ditetapkan dengan SK Menteri.
d. Pemberian penghargaan
Guru SD berprestasi peringkat I, II, dan III tingkat nasional diberi hadiah dan piagam penghargaan yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Referensi
Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar (2018). Pedoman Pemilihan Guru Sekolah Dasar Berprestasi Tingkat Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Read More

Friday, 15 February 2019

Sosiometri


Sosiometri
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

konsep dasar Sosiometri

Kata sosiometri berasal dari bahasa Latin socius, yang berarti sosial dan metrum, yang berarti pengukuran. Untuk itu, secara harfiah sosiometri bermakna pengukuran sosial. Sosiometri adalah suatu cara mengukur derajat hubungan antar-orang/manusia. Sosiometri mencari tahu siapa yang disukai atau tidak disukai orang-orang dan dengan siapa mereka akan atau tidak akan bersedia bekerja sama.
Jacob Levy Moreno menciptakan istilah sosiometri dan melakukan studi sosiometri sejak tahun 1932-1938 di New York State Training School for Girls di Hudson, New York. Kala itu, Moreno menggunakan teknik sosiometri untuk menentukan tempat tinggal penduduk pada berbagai variasi tempat tinggal. Moreno menemukan bahwa “penentuan yang berbasis pada sosiometri secara substansi mampu mereduksi jumlah penduduk yang meninggalkan fasilitas yang tersedia” (Moreno, 1953, hlm. 527).
Sosiometri didasarkan pada kenyataan bahwa orang membuat pilihan-pilihan dalam hubungan interpersonal. Ketika berkumpul, mereka akan memilih apakah mau duduk atau berdiri, memilih siapa yang bersahabat atau siapa yang tidak bersahabat, memilih siapa tokoh sentral atau siapa yang tidak disukai dalam suatu kelompok. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Moreno (1953, hlm. 720) bahwa “pilihan adalah fakta yang fundamental dalam semua hubungan sosial yang sedang berjalan, dalam memilih orang maupun benda”.
Adapun ruang lingkup sosiometri dijabarkan sebagai berikut:
1. Penentuan kriteria
Penentuan pilihan oleh individu selalu berdasarkan pada kriteria, baik kriteria subyektif seperti kesan pertama atau kesukaan seseorang, maupun kriteria obyektif, misalnya mengetahui bahwa seseorang memiliki atau tidak memiliki keterampilan tertentu.
2. Pembuatan instrumen
Instrumen atau alat ukur sosiometri berupa daftar pertanyaan dalam bentuk kuisioner/angket yang akan digunakan untuk mengetahui pemilihan seseorang termasuk alasan-alasan dalam pilihannya.
3. Pembuatan sosiomatriks
Data sosiometri yang dikumpulkan menggunakan instrumen kuosionser/angket ditampilkan dalam bentuk tabel atau matriks dari pilihan-pilihan setiap orang. Tabel/matriks semacam itu disebut sosiomatriks.
4. Pembuatan sosiogram
Selain sosiomatriks, data sosiometri juga disajikan dalam bentuk diagram atau gambar. Ketika anggota sebuah kelompok diminta untuk memilih satu sama lain didasarkan pada kriteria tertentu, setiap orang dalam kelompok dapat memilih dan menjelaskan mengapa dia memilih pilihannya tersebut. Hubungan-hubungan ini kemudian dipetakan dalam suatu gambar atau diagram. Gambar peta dari hubungan-hubungan tersebut disebut sosiogram.
5. Analisis indeks
Analisis indeks merupakan metode untuk mengukur distribusi maupun kecenderungan masalah hubungan-hubungan sosial dalam suatu kelompok. Indeks sosiometri memiliki range tertentu untuk menentukan posisi individu dalma kelompok dan untuk menggambarkan karakteristik kelompok. Aplikasi sosiometri memanfaatkan metode ini untuk mengarahkan orang dan kelompok memeriksa kembali serta mengembangkan jaringan hubungan psikososial yang ada.
Secara garis besar kegiatan sosiometri dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yakni:
1. Tahap persiapan
a. Menentukan kelompok siswa yang akan diseleksi.
b. Memberikan informasi atau keterangan tentang tujuan penyelenggaraan sosiometri.
c. Mempersiapkan angket sosiometri.
2. Tahap pelaksanaan
a. Membagikan angket sosiometri dan siswa diminta mengisi angket yang sudah diterima.
b. Mengumpulkan angket yang sudah diisi dan memeriksa apakah angket sudah diisi dengan benar dan lengkap.
3. Tahap pengelolaan
a. Memeriksa hasil isian angket.
b. Mengolah data sosiometri dengan cara menganalisis indeks, menyusun tabel tabulasi, dan membuat sosiogram.

Referensi
Moreno, J. L. (1953). Who Shall Survive? Foundation of Sociometry, Group Psychotherapy, and Sociodrama. New York: Beacon.
Read More

Thursday, 14 February 2019

Rela Berkorban


Rela Berkorban
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Rela berkorban berarti bersedia dengan ikhlas, senang hati, mau memberikan sebagian yang dimiliki untuk kepentingan orang lain atau orang banyak dengan tidak mengharapkan imbalan. Makna yang terkandung dalam pengertian ini adalah bahwa untuk mencapai suatu kemajuan dan keharmonisan dalam hidup bermsyarakat, diperlukan adanya keikhlasan hati untuk memberikan sesuatu yang kita miliki untuk orang lain atau masyarakat.
Rela berkorban sangatlah penting sebab jika semua orang mementingkan kepentingan pribadi, tidak akan terjalin kebersamaan untuk menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama. Rela berkorban juga merupakan wujud pengamalan Pancasila dan nilai-nilai agama yang dianut.
Sikap rela berkorban perlu dikembangkan di berbagai lingkungan sosial, antara lain:

1. Lingkungan keluarga

Rela Berkorban

Rela berkorban dalam lingkungan keluarga, misalnya dengan saling menolong secara ikhlas. Biasanya di rumah telah ditetapkan aturan dan tugas-tugas rumah, seperti ayah mencuci motor, ibu memasak, kakak mencuci piring, dan adik menyapu rumah. Jika suatu saat adik tidak dapat melaksanakan tugas karena sakit, sebagai kakak harus siap menggantikan tugas adik dengan rela dan tulus ikhlas.

2. Lingkungan sekolah

Rela Berkorban

Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah, misalnya jika ada teman yang tertimpa musibah, seluruh siswa di kelas dengan suka rela mengumpulkan bantuan dana dan barang. Selain itu, siswa-siswa sekolah juga dapat membantu orang lain yang tertimpa musibah, misalnya terkena banjir, gunung meletus, dan sebagainya.

3. Lingkungan masyarakat

Rela Berkorban

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan yang lebih luas. Sikap rela berkorban dapat diwujudkan, misalnya dengan ikut bekerja bakti membersihkan lingkungan.

4. Lingkungan bangsa dan negara

Rela Berkorban

Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya dengan membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, serta warga masyarakat mau merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi atau jalan dengan memperoleh penggantian yang layak.
Read More

Tuesday, 12 February 2019

Media Pembelajaran Pocketbook


Media Pembelajaran Pocketbook
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Media Pembelajaran buku saku

Pocketbook atau buku saku merupakan buku berukuran kecil yang dapat dimasukkan ke dalam saku dan mudah dibawa ke mana-mana. Menurut Sulistyani, Jamzuri, dan Rahardjo (2013, hlm. 166) “pocketbook merupakan buku dengan ukuran kecil, ringan, bisa disimpan di saku, dan praktis untuk dibawa serta dibaca, yang menyampaikan informasi tentang materi pelajaran untuk digunakan secara mandiri”. Sedangkan Setyono, Sukarmin, dan Wahyuningsih (2013, hlm. 121) menyatakan bahwa “buku saku adalah suatu buku berukuran kecil yang berisi informasi, yang dapat disimpan di saku sehingga mudah dibawa ke mana-mana”.
Format buku saku terdiri atas:
1. Cover buku saku, meliputi sampul depan dan sampul belakang.
2. Bagian depan buku saku, meliputii kata pengantar, petunjuk belajar, KI dan KD, indikator pembelajaran, dan daftar isi.
3. Bagian teks buku saku, berisi materi buku saku.
4. Bagian belakang buku saku, meliputi soal latihan, permainan teka-teki silang, dan daftar pustaka.
Sebagai bahan ajar cetak, maka pocketbook menurut Depdiknas (2009, hlm. 15) pocketbook mencakup empat komponen sebagai berikut:
1. Komponen kelayakan isi, mencakup:
a. Kesesuaian dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
b. Kesesuaian dengan perkembangan anak.
c. Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar.
d. Kebenaran substansi materi pembelajaran.
e. Manfaat untuk penambahan wawasan.
f. Kesesuaian dengan nilai moral dan nilai-nilai sosial.
2. Komponen kebahasaan, mencakup:
a. Keterbacaan.
b. Kejelasan informasi.
c. Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
d. Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien.
3. Komponen penyajian, mencakup:
a. Kejelasan indikator yang ingin dicapai.
b. Urutan sajian.
c. Pemberian motivasi atau daya tarik.
d. Pemberian stimulus.
e. Kelengkapan informasi.
4. Komponen kegrafikan, mencakup:
a. Penggunaan font, jenis dan ukuran huruf.
b. Lay out atau tata letak.
c. Penggunaan ilustrasi, gambar, atau foto.
d. Desain tampilan.
Adapun pocketbook memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Self instructional, yakni mampu dibelajarkan secara mandiri tanpa tergantung dengan pihak lain.
2. Self contained, yakni seluruh materi pembelajaran dari satu kompetensi atau subkompetensi yang dipelajari terdapat dalam bahan ajar secara utuh.
3. Stand alone, yakni tidak bergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama dengan bahan ajar lain.
4. Adaptif, yakni memiliki daya adaptasi tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.
5. User friendly, yakni setiap instruksi dan informasi membantu pemakai termasuk dalam kemudahan pemakai dalam merespons, mengakses sesuai dengan keinginan dengan bahasa dan istilah yang mudah dimengerti.
Husain dan Durinda (2015, hlm. 5) mengungkapkan terdapat sejumlah kelebihan dan kelemahan pocketbook. Kelebihan pocketbook, antara lain:
1. Ukuran bukunya kecil, sehingga dapat dibawa ke mana pun.
2. Isi buku lebih ringkas.
3. Isi mudah dipahami karena bacaannya relatif sedikit.
4. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan lebih murah.
5. Dapat dijadikan media hafalan.
Sedangkan kelemahan pocketbook, di antaranya:
1. Tulisan yang ada di dalam buku saku berukuran kecil.
2. Isi buku relatif terbatas.
3. Mudah hilang karena berukuran kecil.

Referensi
Depdiknas (2009). Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Husain, M., & Durinda, P. (2015). Pengembangan Bahan Ajar Buku Saku pada Kompetensi Dasar Mengidentifikasi Definisi dan Ruang Lingkup Sarana dan Prasarana Kantor pada Siswa Kelas XI APK 1 SMKN 1 Surabaya. Jurnal Administrasi Perkantoran. 3 (3), hlm. 1-12.
Setyono, Y. A., Sukarmin, & Wahyuningsih, D. (2013). Pengembangan Media Pembelajaran Fisika Berupa Buletin dalam Bentuk Buku Saku untuk Pembelajaran Fisikal Kelas VIII Materi Gaya Ditinjau dari Minat Baca Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika, 1 (1), hlm. 118-126.
Sulistyani, N. H. D., Jamzuri, & Rahardjo, D. T. (2013). Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara Menggunakan Media Pocketbook dan Tanpa Pocketbook pada Materi Kinematika Gerak Melingkar Kelas X. Jurnal Pendidikan Fisika. 1 (1), hlm. 164-172.
Read More

Kategori