Tuesday, 17 September 2019

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

BUMN

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi yang penting di dalam perekonomian nasional, yang bersama-sama dengan pelaku ekonomi lain, seperti swasta dan koperasi. BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
Berdasar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dijelaskan melalui pasal 2 bahwa BUMN memiliki maksud dan tujuan berupa (1) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya, (2) mengejar keuntungan, (3) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyedia barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak, (4) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi, serta (5) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.
BUMN yang merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi dalam perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan perekonomian nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945, bahwa fungsi dan peranan BUMN, sebagai berikut:
1. Sebagai penyedia barang ekonomis dan jasa yang tidak disediakan oleh swasta.
2. Merupakan alat pemerintah dalam menata kebijakan perekonomian.
3. Sebagai pengelola dari cabang-cabang produksi sumber daya alam untuk masyarakat banyak.
4. Sebagai penyedia layanan dalam kebutuhan masyarakat.
5. Sebagai penghasil barang dan jasa demi pemenuhan orang banyak.
6. Sebagai pelopor terhadap sektor-sektor usaha yang belum diminati oleh pihak swasta.
7. Pembuka lapangan pekerjaan.
8. Penghasil devisa negara.
9. Pembantu dalam pengembangan usaha kecil koperasi.
10. Pendorong dalam aktivitas masyarakat di berbagai lapangan usaha.
BUMN berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara terdiri atas dua bentuk, yakni Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). Kedua bentuk BUMN tersebut lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:

1. Perusahaan Perseroan (Persero)
Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas, yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51% (lima puluh persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Maksud dan tujuan Persero, yakni (1) menyediakan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, dan (2) mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai badan usaha.
Ciri-ciri badan usaha berbentuk Persero, antara lain:
a. Di dalam pendirian Persero diusulkan oleh menteri kepada presiden.
b. Pelaksanaan pendirian yang dilakukan oleh menteri berdasarkan perundang-undangan.
c. Modal berbentuk saham.
d. Status perseroan terbatas diatur berdasarkan perundang-undangan.
e. Sebagian atau kesuluruhan modal merupakan milik negara dari kekayaan negara yang dipisahkan.
f. Tidak mendapatkan fasilitas dari negara.
g. Pegawai Persero berstatus pegawai negeri.
h. Pemimpin berupa direksi.
i. Hubungan-hubungan usaha diatur dalam hukum perdata.
j. Tujuan utamanya adalah mendapat keuntungan.
Adapun contoh-contoh Perusahaan Perseroan (Persero), di antaranya:
a. PT Pertamina.
b. PT Kimia Farma Tbk.
c. PT Kereta Api Indonesia.
d. PT Bank BNI Tbk.
e. PT Jamsostek.
f. PT Garuda Indonesia.
g. PT Perubahan Pembangunan.
h. PT Telekomunikasi Indonesia.
I. PT Tambang Timah.

2. Perusahaan Umum (Perum)
Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham. Perum memiliki maksud dan tujuan, yakni menyelenggarakan usaha yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyedia barang dan jasa berkualitas dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat menurut prinsip pengelolaan badan usaha yang sehat.
Ciri-ciri badan usaha berbentuk Perum, antara lain:
a. Melayani kepentingan masyarakat yang umum.
b. Pemimpin berupa direksi atau direktur.
c. Pekerja merupakan pegawai perusahaan dari pihak swasta.
d. Dapat menghimpun dana dari pihak lain.
e. Pengelolaan dari modal pemerintah yang terpisah dari kekayaan negara.
f. Menambah keuntungan kas negara.
g. Modal berupa saham atau obligasi bagi perusahaan go public.
Adapun contoh-contoh Perusahaan Umum (Perum), di antaranya:
a. Perum Damri.
b. Perum Bulog.
c. Perum Pegadaian.
d. Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri).
e. Perum Balai Pustaka.
f. Perum Jasatirta.
g. Perum Antana.
h. Perum Perumnas.

Referensi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.
Read More

Monday, 16 September 2019

Adaptasi Hewan Jenis Burung dan Tujuannya


Adaptasi Hewan Jenis Burung dan Tujuannya
Karya: Siti Putri Indriani

Beberapa hewan melakukan adaptasi morfologi (bentuk tubuh), fungsi tubuh, dan tingkah laku untuk dapat bertahan hidup. Makhluk hidup, seperti burung melakukan adaptasi bentuk paruh dan kaki. Jenis dan bentuk paruh burung dipengaruhi oleh makanannya. Sedangkan jenis dan bentuk kaki burung dipengaruhi oleh lingkungannya.
Macam-macam bentuk paruh burung, dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Paruh pemakan ikan

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya

Paruh burung pemakan ikan berbentuk panjang dan berkantong besar pada bagian bawahnya untuk menyimpan ikan. Contoh burung yang memiliki paruh jenis ini, antara lain burung pelikan dan burung bangau.

2. Paruh pemakan daging

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya

Paruh burung pemakan daging berbentuk tajam, kuat, runcing, dan sedikit membengkok untuk mengoyak makanan berupa daging. Contoh burung yang memiliki paruh jenis ini, antara lain Elang dan burung hantu.

3. Paruh pengisap madu

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya

Paruh burung pengisap madu berbentuk kecil, runcing, dan panjang untuk memudahkan burung mengisap madu yang ada di dasar bunga. Contoh burung yang memiliki paruh jenis ini, antara lain burung kolibri.

4. Paruh pemakan serangga


Paruh burung pemakan serangga berbentuk runcing dan panjang untuk mematuk kayu pohon dan menangkap serangga di dalamnya. Contoh burung yang memiliki paruh jenis ini, antara lain burung pelatuk.

5. Paruh pemakan biji

adaptasi hewan burung dan tujuannya

Paruh burung pemakan biji berbentuk pendek, tebal, dan runcing untuk memecah biji-bijian. Contoh burung yang memiliki paruh jenis ini, antara lain burung pipit.

6. Paruh pencari makan di lumpur

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya
Paruh burung pencari makan di lumpur berbentuk sudu (lebar) untuk mencari makanan di lumpur, tempat becek, dan air. Contoh burung yang memiliki paruh jenis ini, antara lain bebek.

Macam-macam kaki burung, dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Kaki perenang

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya
Kaki burung perenang memiliki selaput pada kaki yang berguna untuk berenang dan berjalan di lumpur. Contoh burung yang memiliki kaki jenis ini, antara lain bebek dan angsa.

2. Kaki pemanjat

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya
Kaki burung pemanjat terdiri atas empat jari, dua di depan dan dua di belakang yang berguna untuk memudahkan memanjat. Contoh burung yang memiliki kaki jenis ini, antara lain burung pelatuk.

3. Kaki pencengkram

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya
Kaki burung pencengkram memiliki jari kaki pendek, kuku melengkung tajam, dan cakar kuat untuk mencengkram mangsa. Contoh burung yang memiliki kaki jenis ini, antara lain elang dan burung hantu.

4. Kaki petengger

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya
Kaki burung petengger memiliki jari kaki panjang dan datar yang berfungsi untuk bertengger pada ranting-ranting pohon. Contoh burung yang memiliki kaki jenis ini, antara lain burung kakak tua dan burung nuri.

5. Kaki pengais

Adaptasi Hewan Burung dan Tujuannya
Kaki burung pengais memiliki tiga jari menghadap ke depan dan satu ke belakang tumbuh tidak sempurna, Fungsinya untuk mengais tanah saat mencari makanan. Contoh burung yang memiliki kaki jenis ini, antara lain ayam dan kalkun.
Read More

Sunday, 15 September 2019

Empat Pilar Pendidikan UNESCO


Empat Pilar Pendidikan UNESCO
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

UNESCO

Pada upaya peningkatan kualitas suatu bangsa dapat dilakukan melalui peningkatan mutu pendidikan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga United Nations, Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang bergerak di bidang pendidikan, pengetahuan, dan budaya mencanangkan empat pilar pendidikan, yakni (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live together.
Keempat pilar tersebut secara sinergi membentuk dan membangun pola pikir pendidikan di suatu bangsa. Adapun empat pilar tersebut lebih lanjut dijabarkan sebagai berikut:

1. Learning to know
Pilar ini memiliki arti bahwa para peserta didik dianjurkan untuk mencari dan mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melalui pengalaman-pengalaman. Hal ini akan memicu munculnya sikap kritis dan semangat belajar peserta didik meningkat. Learning to know mengajarkan tentang arti pentingnya sebuah pengetahuan, karena di dalam learning to know terdapat learning to learn, artinya peserta didik belajar untuk memahami apa yang ada di sekitarnya, karena itu merupakan proses belajar.
Learning to know juga mengajarkan tentang live long of education atau yang disebut dengan belajar sepanjang hayat. Arti pendidikan sepanjang hayat (long life education) adalah bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya.

2. Learning to do
Pilar ini menekankan pentingnya interaksi dan bertindak. Para peserta didik diajak untuk ikut serta dalam memecahkan permasalahan yang ada di sekitarnya melalui sebuah tindakan nyata. Belajar untuk menerapkan ilmu yang didapat, bekerja sama dalam sebuah tim guna untuk memecahkan masalah dalam berbagai situasi dan kondisi.
Learning to do berkaitan dengan kemampuan hard skill dan soft skill. Kedua skill ini sangat penting dan dibutuhkan dalam dunia pendidikan, karena sesungguhnya pendidikan merupakan bagian terpenting dari proses penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, tangguh, dan terampil serta siap untuk mengikuti tuntutan zaman.
Hard skill merupakan kemampuan yang harus menuntut fisik, artinya hard skill memfokuskan kepada penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan kemampuan peserta didik. Penguasaan kemampuan hard skill dapat dilakukan dengan menerapkan apa yang dia dapat atau apa yang telah dipelajarinya di kehidupan sehari-hari, misalnya anak di sekolah belajar tentang arti penting sikap disiplin, maka untuk memahami dan mengerti tentang disiplin tersebut, anak harus belajar untuk melakukan sikap disiplin, baik di rumah, di sekolah, atau di mana pun. Dengan begitu anak paham tentang pentingnya sikap disiplin.
Adapun soft skill, artinya keterampilan yang menuntut intelektual. Soft skill merupakan istilah yang mengacu pada ciri-ciri kepribadian, kemampuan sosial, kemampuan bahasa, dan pengoptimalan derajat seseorang. Untuk itu, kemampuan soft skill adalah kepribadian dari masing-masing individu. Soft skill tidak diajarkan, tetapi guru yang harus menjadi teladan. Dengan memberikan contoh tersebut, anak akan mencoba untuk menirukan apa yang dilihat. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kemampuan soft skill.

3. Learning to be
Pilar ini berarti bahwa pentingnya mendidik dan melatih peserta didik agar menjadi pribadi yang mandiri dan dapat mewujudkan apa yang peserta didik impikan serta dicita-citakan.
Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri dapat diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri.
Learning to be sangat erat kaidahnya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan anak, dan kondisi lingkungannya. Misalnya bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya, bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai fasilitator bertugas sebagai penunjuk arah sekaligus menjadi mediator bagi peserta didik. Hal ini sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri peserta didik secara utuh dan maksimal. Selain itu, pendidikan juga harus bermuara pada bagaimana peserta didik menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang berperikemanusiaan.

4. Learning to live together
Pilir ini berarti menanamkan kesadaran kepada para peserta didik bahwa mereka adalah bagian dari kelompok masyarakat. Jadi, mereka harus mampu hidup bersama.
Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi, dan menerima perlu dikembangkan di sekolah. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, sebagai hasil dari proses pembelajaran, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya.
Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live together). Untuk itu, pembelajaran di lembaga formal dan non formal harus diarahkan pada peningkatan kualitas serta kemampuan intelektual, profesional, dan sikap, dalam hal ini adalah kemampuan hard skill dan soft skill.
Read More

Saturday, 14 September 2019

Asas Kewarganegaraan


Asas Kewarganegaraan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

asas ius soli dan asas ius sanguinis

Kewarganegaraan adalah hak di mana manusia tinggal dan menetap di suatu kawasan negara, di mana warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum.
Keberadaan kewarganegaraan ganda (multipatride) adalah sebuah status yang disematkan kepada seseorang yang secara hukum merupakan warga negara sah di beberapa negara. Kewarganegaraan ganda ada karena sejumlah negara memiliki persyaratan kewarganegaraan yang berbeda dan tidak eksklusif. Karena itu, mungkin saja bagi seseorang menjadi warga negara di satu negara atau lebih atau bahkan tanpa kewarganegaraan.
Negara memiliki wewenang untuk menentukan warga negara sesuai dengan asas yang dianut negara tersebut. Asas kewarganegaraan yang dianut oleh suatu negara merupakan prinsip yang menjadi pedoman dalam menentukan kewarganegaraan pada negara tersebut. Perbedaan asas pada tiap-tiap negara disebabkan karena perbedaan latar belakang negara, cita-cita masa depan, letak negara, dan kondisi perkembangan yang ada.
Asas kewarganegaraan adalah dasar berpikir dalam menentukan masuk tidaknya seseorang dalam golongan warga negara tertentu. Pada umumnya asas dalam menentukan kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yakni:
1. Asas ius sanguinis (asas keturunan), yaitu kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan pada keturunan orang yang bersangkutan. Misalnya, seseorang dilahirkan di negara A, sedangkan orang tuanya berkewarganegaraan negara B, maka ia adalah warga negara B. Jadi berdasarkan asas ini, kewarganegaraan anak selalu mengikuti kewarganegaraan orang tuanya tanpa memperhatikan di mana anak itu lahir.
2. Asas ius soli (asas kedaerahan), yaitu kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan tempat kelahirannya. Misalnya, seseorang dilahirkan di negara A, sedangkan orang tuanya berkewarganegaraan negara B, maka ia adalah warga negara A. Jadi menurut asas ini kewarganegaraan seseorang tidak terpengaruh oleh kewarganegaraan orang tuanya, karena yang menjadi acuan adalah tempat kelahirannya.
Adanya perbedaan menentukan kewarganegaraan di beberapa negara, baik yang menerapkan ius sanguinis maupun ius soli, dapat menimbulkan dua kemungkinan status kewarganegaraan seorang penduduk, yaitu:
1. Apratide, yaitu adanya seseorang penduduk yang sama sekali tidak mempunyai kewarganegaraan. Misalnya, seorang keturunan bangsa A yang menganut asas ius soli lahir di negara B yang menganut asas ius sanguinis. Maka, orang tersebut tidaklah menjadi warga negara A dan juga tidak menjadi warga negara B. Dengan demikian, orang tersebut tidak mempunyai kewarganegaraan.
2. Bipatride, yaitu adanya seorang penduduk yang mempunyai dua macam kewarganegaraan sekaligus (kewarganegaraan ganda). Misalnya, seseorang keturunan bangsa B yang menganut asas ius sanguinis, lahir di negara A yang menganut asas ius soli. Oleh karena ia keturunan bangsa B, maka ia dianggap sebagai warga negara B, akan tetapi negara A juga menganggap ia sebagai warga negaranya karena berdasarkan tempat lahir.
Di dalam menentukan status kewarganegaraan seseorang, pemerintah suatu negara lazim menggunakan dua stelsel, sebagai berikut:
1. Stelsel aktif, yaitu seseorang harus melakukan tindakan hukum tertentu secara aktif untuk menjadi warga negara (naturalisasi biasa).
2. Stelsel pasif, yaitu seseorang dengan sendirinya dianggap menjadi warga negara tanpa melakukan suatu tindakan hukum tertentu (naturalisasi istimewa).
Berkaitan dengan kedua stelsel tersebut, seorang warga negara dalam suatu negara pada dasarnya mempunyai:
1. Hak opsi, yaitu hak untuk memiliki suatu kewarganegaraan (dalam stelsel aktif).
2. Hak repudiasi, yaitu hak untuk menolak suatu kewarganegaraan (dalam stelsel pasif).
Read More

Kategori