Friday, 22 June 2018

Sikap Nasionalisme


Sikap Nasionalisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

nasionalisme

Nasionalisme berasal dari kata nation atau bangsa. Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi harus diserahkan pada negara kebangsaan. Taniredja (2013, hlm. 185) mengemukakan bahwa nasionalisme adalah “perasaan mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya”. Hertz (dalam Taniredja, 2013, hlm. 199) menyebutkan bahwa “nasionalisme adalah suatu ideologi yang meletakan bangsa dipusat masalahnya dan berupaya mempertinggi keberadaannya untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bangsa”. Sebagai ideologi, nasionalisme dapat memainkan tiga fungsi yaitu mengikat semua kelas, menyatukan mentalitas, dan membangun atau memperkokoh pengaruh terhadap kebijakan yang ada dalam kursi utama ideologi nasional.
Nasionalisme adalah keinginan untuk hidup bersama demi mempertahankan kesatuan, persatuan, dan identitas bangsa. Hayes (dalam Taniredja, 2013, hlm. 187) membedakan empat arti nasionalisme, sebagai berikut:
1. Sebagai suatu proses sejarah aktual, yaitu proses sejarah pembentukan nasionalitas sebagai unit-unit politik, pembentukan suku, dan imperium kelembagaan negara nasional modern.
2. Sebagai suatu teori, prinsip, atau implikasi ideal dalam proses sejarah aktual.
3. Nasionalisme menaruh kepedulian terhadap kegiatan-kegiatan politik, seperti kegiatan partai politik tertentu, penggabungan proses historis, dan suatu teori politik.
4. Sebagai suatu sentimen, yaitu menunjukkan keadaan pikiran di antara satu nasionalitas.
Nasionalisme memiliki dua dimensi yang saling terkait, yaitu dimensi internal dan eksternal. Dimensi internal merujuk pada kemampuan domestik untuk menciptakan iklim kondusif bagi pembangunan nasional, terutama konsesus nasional untuk memperkecil, bahkan meniadakan konflik-konflik internal. Adapun dimensi eksternal mencerminkan kemampuan nasional suatu bangsa dalam menjalankan hubungan luar negerinya dengan berbagai faktor negara lainnya. Nasionalisme menjadi salah satu determinan penting dalam politik luar negeri suatu negara. Bahkan banyak teoritisi politik luar negeri menyatakan bahwa nasionalisme akan mempengaruhi efektivitas politik luar negeri suatu negara.
Nasionalisme terdiri atas dua aspek, yaitu risorgimento nasionalism dan integral nasionalism. Risorgimento nasionalism mengacu pada upaya pembebasan dari tekanan sosial dan politik yang dihadapi oleh suatu kelompok masyarakat dalam upaya membentuk dan membangun rasa kebangsaan. Sedangkan integral nasionalism mengacu pada pembentukan dan pembangunan paham kebangsaan yang terus berkelanjutan dalam suatu negara.
Pada sejarahnya, nasionalisme Indonesia melalui beberapa tahap perkembangan yang terbagi menjadi empat tahap, yaitu:
1. Tahap pertama ditandai dengan tumbuhnya perasaan kebangsaan dan persamaan nasib yang diikuti dengan perlawanan terhadap penjajahan baik sebelum maupun sesudah proklamasi kemerdekaan. Nasionalisme religius dan nasionalisme sekuler muncul bersamaan dengan munculnya gagasan Indonesia merdeka.
2. Tahap kedua adalah nasionalisme Indonesia yang merupakan kelanjutan dari semangat revolusioner pada masa perjuangan kemerdekaan, dengan peran pemimpin nasional yang lebih besar. Nasionalisme pada era ini mengandaikan adanya ancaman musuh dari luar terus-menerus terhadap kemerdekaan Indonesia.
3. Tahap ketiga adalah nasionalisme persatuan dan kesatuan. Kelompok oposisi atau mereka yang tidak sejalan dengan pemerintah disingkirkan karena akan mengancam persatuan dan stabilitas nasional. Perbedaan diredam bukan dengan menyelesaikan pokok persoalan, tetapi ditindas dan disembunyikan. Tekanan agar ada penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan perlindungan terhadap lingkungan hidup dianggap sebagai campur tangan asing terhadap kedaulatan Republik Indonesia. Nilai-nilai universal oleh penguasa Orde Baru dianggap bertentangan dengan nilai-nilai bangsa atau demokrasi Pancasila.
4. Tahap keempat adalah nasionalisme kosmopolitan. Dengan bergabungnya Indonesia dalam sistem global internasional, nasionalisme Indonesia yang dibangun adalah nasionalisme kosmopolitan yang melandaskan bahwa Indonesia sebagai bangsa tidak dapat menghindari keberadaan bangsa lain. Pada konteks dan kecenderungan global ini, semakin banyak orang membayangkan menjadi warga dunia dan terikat pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Nilai-nilai semangat dan patriotisme diletakan dalam semangat pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Menurut Ghani (dalam Putri, 2012, hlm. 16) nasionalisme dalam arti luas mengandung prinsip-prinsip, sebagai berikut:
1. Prinsip kebersamaan
Nilai kebersamaan menurut setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2. Prinsip persatuan dan kesatuan
Setiap warga negara harus mampu mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan yang dapat menimbulkan perpecahan. Untuk menegakan prinsip persatuan dan kesatuan setiap warga negara harus mampu mengedepankan sikap kesetiakawanan sosial, peduli terhadap sesama, solidaritas, dan berkeadilan sosial.
3. Prinsip demokrasi/demokratis
Prinsip demokrasi/demokratis memandang bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama karena hakikat kebangsaan adalah tekad untuk hidup bersama yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang tumbuh dan berkembang dari bawah untuk bersedia hidup sebagai bangsa yang bebas, merdeka, berkedaulatan, adil, dan makmur.
Menurut Nurhayati (2013, hlm. 7) nasionalisme adalah “perasaan cinta atau bangga terhadap tanah air dan bangsanya dengan tetap menghormati bangsa lain karena merasa sebagai bagian dari bangsa lain di dunia”. Indikator dari sikap nasionalisme menurut Agustarini (dalam Nurhayati, 2013, hlm. 7), antara lain:
1. Menjaga dan melindungi negara.
2. Sikap rela berkorban/patriotisme.
3. Indonesia bersatu.
4. Melestarikan budaya Indonesia.
5. Cinta tanah air.
6. Bangga berbangsa Indonesia.
7. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Nasionalisme menandakan sikap kebangsaan yang positif, yakni mempertahankan kemerdekaan dan harga diri bangsa, sekaligus menghormati bangsa lain. Nasionalisme sangat berguna untuk membina rasa bersatu antar penduduk negara yang heterogen dan berfungsi untuk membina rasa identitas serta kebersamaan dalam negara, bermanfaat untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperoleh.

Referensi
Nurhayati, Y. (2013). Pengaruh Upacara Bendara terhadap Sikap Nasionalisme di SMPN 14 Bandung. (Skripsi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Putri, M. A. (2012). Pengaruh Pentingnya Pemahaman Budaya Daerah terhadap Sikap Nasionalisme Siswa SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/2012. (Skripsi). Bandar Lampung: FKIP Unila.
Taniredja, T. (2013). Konsep Dasar Pendidikan Kewarganegaraani. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Read More

Thursday, 21 June 2018

Ludo King


Ludo King
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

permainan Ludo King

Ludo King merupakan salah satu mobile game populer pada tahun 2017. Ludo King sempat masuk top 10 game Android terpopuler di Google Play Store pada akhir tahun 2017. Permainan ini dikembangkan oleh developer Gamotronix dan dapat dimainkan pada platform Android dan IOS.
Ludo King sebenarnya merupakan permainan papan tradisional asal India. Permainan ini umumnya dimainkan anak-anak dan keluarga. Ludo juga sangat mirip dengan permainan papan dari Spanyol, bernama Parchis. Kini permainan Ludo King dapat dinikmati bagi para pengguna Android dan IOS secara online.
Ludo King dapat dimainkan antara dua hingga enam pemain. Kita memiliki opsi untuk memainkan game melawan komputer, melawan teman, atau bahkan melawan pemain secara online. Tujuan dari game ini cukup sederhana. Setiap pemain mendapatkan empat (4) token. Token ini harus memutari papan sepenuhnya lalu berhasil tiba di garis akhir. Setiap langkah hanya dapat dilakukan berdasarkan angka yang muncul dari lemparan dadu secara bergiliran. Untuk mengeluarkan token dari tempat asal, pemain harus mendapat angka dadu enam (6). Jika pemain mendapat angka dadu enam (6), pemain mendapat kesempatan untuk melempar dadu kembali. Jika token pemain lain mendarat di kotak yang sama seperti token kita (kecuali pada area aman), maka token kita akan dikembalikan ke tempat asal secara otomatis dan pemain tersebut mendapat giliran melempar dadu tambahan.
Adapun sejumlah hal yang mendidik dari Ludo King, antara lain:

1. Dapat dimainkan oleh segala usia

Ludo King

Pada dasarnya Ludo King merupakan permainan yang dapat dimainkan oleh seluruh anggota keluarga tanpa memandang usia. Hal ini disebabkan karena cara dan pola bermain yang sederhana, namun tetap menarik baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.

2. Dapat dimainkan bersama teman

Ludo King

Ludo King dapat dimainkan oleh dua sampai enam pemain. Semakin banyak pemain pastinya semakin seru permainan berlangsung. Maka dari itu, Ludo King ini sangat cocok dimainkan pada saat berkumpul dengan teman-teman.

3. Mengenalkan konsep bilangan

Ludo King

Pada permainan Ludo King terdapat dadu yang menjadi inti dari permainan. Angka pada dadu tersebut menentukan jumlah langkah yang dapat dilakukan oleh token milik kita. Untuk itu, pemain perlu membilang langkah agar dapat menjalankan token yang menguntungkan pemain.

4. Menyusun strategi

Ludo King

Bermain Ludo King mengharuskan pemain untuk menyusun strategi untuk menjalankan token yang paling menguntungkan bagi pemain sesuai dengan angka dadu yang muncul. Tentunya hal ini secara tidak langsung dapat melatih kita berpikir untuk menyusun strategi terbaik yang paling menguntungkan.
Read More

Wednesday, 20 June 2018

Buku Catatan Kegiatan Penelitian (Log Book)


Buku Catatan Kegiatan Penelitian (Log Book)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

log book penelitian

Mencatat setiap langkah dalam penelitian barangkali membuat seorang peneliti cukup repot. Akan tetapi, sebagai seorang peneliti hal tersebut harus dilakukan, sebab dari catatan kegiatan penelitian (log book)  akan banyak hal yang terungkap. Catatan kegiatan penelitian yang lengkap akan membantu peneliti dalam mendeskripsikan apa yang terjadi selama proses penelitian.
Bagi mahasiswa, catatan kegiatan penelitian sangat berguna, sebab dari catatan kegiatan penelitian mahasiswa dapat membahas dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing mengenai suatu hal. Berdasar catatan kegiatan penelitian tersebut, dosen pembimbing akan dapat memberikan solusi akurat bagi permasalahan yang terjadi di lapangan.
Catatan kegiatan penelitian juga akan berguna ketika terjadi penemuan yang sama, dan bermaksud mengetahui siapa yang lebih dahulu menemukan hal tersebut. Perihal itu dapat dilihat dari catatan kegiatan penelitian, sebab dalam catatan kegiatan penelitian pasti terdapat tanggal.
Ada sejumlah manfaat buku catatan kegiatan penelitian (log book), di antaranya:
1. Sebagai bukti untuk mengajukan permintaan hak paten.
2. Sebagai bahan pembuatan makalah ilmiah dan laporan kegiatan.
3. Sebagai alat untuk memudahkan pemantauan, baik oleh peneliti ataupun oleh tim monitoring dan evaluasi (monev).
4. Sebagai instrumen kendali untuk memperlancar kegiatan penelitian agar sesuai dengan jadwal yang telah disusun.
Adapun manfaat buku catatan kegiatan penelitian (log book) bagi mahasiswa, antara lain:
1. Sebagai alat untuk memudahkan pemantauan, baik oleh mahasiswa sendiri maupun dosen pembimbing.
2. Sebagai bahan pendukung penulisan artikel seminar hasil penelitian, seminar nasional, atau seminar internasional.
3. Sebagai dasar untuk penulisan naskah skripsi, tesis, atau disertasi.
4. Sebagai bahan penulisan artikel di jurnal ilmiah nasional atau internasional.
5. Sebagai bahan pertimbangan bagi tim pembimbing untuk menilai pelaksanaan penelitian mahasiswa.
6. Sebagai instrumen kendali untuk memperlancar kegiatan penelitian mahasiswa agar sesuai dengan jadwal yang telah disusun.
7. Sebagai bahan bukti bahwa mahasiswa benar-benar melaksanakan penelitian sesuai dengan yang tertuang dalam naskah proposal penelitian.
8. Sebagai bukti untuk mengajukan permintaan hak paten.
Hal yang dicatat dalam buku catatan kegiatan penelitian (log book), yakni:
1. Hari dan tanggal pencatatan.
2. Nama kegiatan/sub-kegiatan (sesuai proposal).
3. Tujuan dari kegiatan/sub-kegiatan (sesuai proposal).
4. Uraian kegiatan (harus dapat menggambarkan urutan kegiatan yang dilakukan harian atau mingguan, berupa desain eksperimen serta analisis yang dilakukan, berikut penggunaan-penggunaan waktu, orang, bahan, alat, dan lain-lain).
5. Hasil diperoleh harian atau mingguan (cantumkan hari/tanggal dan tempat/lokasi pengukuran/pencatatan/analisis).
6. Hambatan (jelaskan hambatan-hambatan yang dialami, jika ada).
7. Kesimpulan dan saran (kesimpulan dan saran dari masing-masing kegiatan).
8. Rencana kegiatan selanjutnya (sesuai kesimpulan dan proposal).
9. Dokumentasi berupa gambar atau foto dapat ditempelkan tepat di balik lembar kegiatan yang diisi.
10. Tanda tangan peneliti di dalam setiap halaman buku catatan kegiatan penelitian (log book) setelah selesai suatu aktivitas/kegiatan.
Read More

Tuesday, 19 June 2018

Prinsip dan Kriteria Umum Pemilihan Media Pembelajaran


Prinsip dan Kriteria Umum Pemilihan Media Pembelajaran
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

prinsip pemilihan media

Pada pemilihan media pembelajaran, tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa alasan dan pertimbangan yang jelas. Pada pemilihan media pembelajaran, terdapat prinsip yang harus diperhatikan. Menurut Rumampuk (1988, hlm. 19) prinsip pemilihan media pembelajaran, sebagai berikut:
1. Tujuan pemilihan media pembelajaran harus jelas.
2. Pemilihan media pembelajaran harus secara obyektif.
3. Tidak ada satu pun media pembelajaran yang dipakai untuk semua tujuan. Tiap-tiap media pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan.
4. Pemilihan media pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar yang digunakan dan materi pelajaran.
5. Untuk dapat memilih media pembelajaran dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri media pembelajaran.
6. Pemilihan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.
7. Pemilihan media pembelajaran didasarkan pada kemampuan dan gaya belajar siswa.
Adapun menurut Rusman, dkk. (2012, hlm. 175) dalam memilih media pembelajaran, guru juga harus memerhatikan prinsip-prinsip media pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya:
1. Efektivitas
Pemilihan media pembelajaran harus memerhatikan ketepatgunaan media dalam mencapai tujuan pembelajaran. Media haruslah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pembentukan kompetensi.
2. Relevansi
Media pembelajaran yang dipilih merupakan media yang sesuai dengan karakteristik materi, alokasi waktu, fasilitas, potensi guru dan siswa.
3. Efisiensi
Pemilihan media pembelajaran haruslah memerhatikan aspek kesesuaian biaya pembuatan, waktu pembuatan, dan tenaga yang dikeluarkan, dengan manfaat dari media tersebut.
4. Dapat digunakan
Media pembelajaran tersebut diusahakan dapat digunakan dalam pembelajaran sehingga siswa lebih memahami isi materi.
5. Kontekstual
Sebisa mungkin media pembelajaran yang dibuat merupakan perwujudan materi dengan memerhatikan lingkungan sosial budaya siswa sebagai pendukung.
6. Fleksibel
Media pembelajaran harus memiliki fleksibilitas, dalam artian mudah dibawa atau dipindahkan untuk digunakan dalam pembelajaran di ruang dan waktu yang berbeda.
Menurut Walker dan Hess (dalam Kustandi dan Sutjipto, 2011, hlm. 143) kriteria pemilihan media pembelajaran berdasarkan pada sejumlah kualitas, sebagai berikut:
1. Kualitas isi dan tujuan, yang di dalamnya terdiri atas ketepatan, kepentingan, kelengkapan, keseimbangan, minat atau perhatian, keadilan, dan kesesuaian dengan situasi siswa.
2. Kualitas pembelajaran, yang di dalamnya terdiri atas kemampuan memberikan kesempatan dan bantuan belajar, memotivasi, fleksibel dalam penggunaan, dan dapat memberi dampak bagi siswa.
3. Kualitas teknis, yang meliputi keterbacaan, mudah digunakan, kualitas tampilan, penanganan jawaban, pengelolaan program, dan kualitas pendokumentasian.

Referensi
Kustandi, C., & Sutjipto, B. (2011). Media Pembelajaran: Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia.
Rumampuk, D. B. (1988). Media Intruksional IPS. Jakarta: Depdikbud.
Rusman, dkk. (2012). Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Press.
Read More

Kategori