Tuesday, 16 October 2018

Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia


Makna Proklamasi Bagi Bangsa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

makna proklamasi kemerdekaan indonesia

Melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia berarti bangsa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya secara formal, baik kepada dunia internasional maupun kepada bangsa Indonesia sendiri, bahwa mulai saat itu bangsa Indonesia telah merdeka. “Merdeka berarti bahwa mulai saat itu bangsa Indonesia mengambil sikap menentukan nasibnya dan nasib tanah airnya dalam segala bidang” (Joeniarto, 1996, hlm. 4). Pada sisi lain, proklamasi kemerdekaan sekaligus juga pernyataan bahwa Indonesia telah cakap untuk mengurus rumah tangganya sendiri dan memberitahukan sudah menegakkan suatu negara nasional yang merdeka dan berdaulat.
Keterangan kemerdekaan tersebut menandai revolusi Indonesia telah mulai berjalan. “Revolusi ini memusnahkan dan meruntuhkan keadaan yang lama dan memunculkan keadaan yang lama dan memunculkan pembentukan negara dan masyarakat baru, negara, dan masyarakat Indonesia” (Yamin, 1982, hlm. 24). Dengan adanya proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, maka mulai saat itu hanya berlaku tata hukum Indonesia, menggantikan tata hukum kolonial.
“Dengan kondisi itu berarti bangsa Indonesia telah memutuskan ikatan dengan tata hukum yang sebelumnya, baik tatanan hukum Hindia Belanda maupun tatanan hukum pendudukan Jepang” (Joeniarto, 1996, hlm. 6). Hal itulah yang sesungguhnya menjadi tujuan dari proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Proklamasi menjadi dasar hukum bagi pelaksanaan tatanan hukum yang baru. Proklamasi menjadi dasar hukum bagi berlakunya hukum nasional. Dengan demikian, segala macam peraturan, hukum, dan ketentuan yang berlaku dan akan berlaku di Indonesia, dasar hukumnya adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Menurut Joeniarto (1996, hlm. 6) Proklamasi kemerdekaan indonesia dianggap sebagai “norma pertama daripada tata-hukum Indonesia”.
Norma pertama atau ada pula yang menyebut sebagai norma dasar adalah norma/aturan/ketentuan hukum yang pertama adanya pada tata-hukum yang bersangkutan. Oleh karena itu, norma/aturan/ketentuan ini menjadi dasar bagi berlakunya segala macam norma/aturan/ketentuan hukum yang lainnya. Dengan dasar pemikiran itu, maka dapat dikatakan bahwa norma pertama menjadi dasar bagi segala sumber hukum, atau ketentuan/peraturan hukum lainnya. Segala macam ketentuan atau peraturan hukum yang terdapat dalam tata-hukum yang bersangkutan harus dapat dikembalikan kepada norma pertamanya.
Timbulnya norma pertama ini dapat dipelajari dengan pendekatan bidang ilmu, seperti filsafat, sosiologis, politis, sejarah, dan sebagainya. Dengan dasar pemikiran tersebut, maka Proklamasi Kemerdekaan merupakan norma pertama bagai tata-hukum Indonesia dasarnya tidak akan dapat dicari dalam tata-hukum Jepang maupun Belanda. Hal ini mudah dimengerti sebab “pada tata-hukum kolonial tentu saja tidak akan mungkin terdapat suatu ketentuan ataupun aturan yang memungkinkan bagi bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya” (Joeniarto, 1996, hlm. 8).
Pada kenyataannya proklamasi kemerdekaan adalah tingkatan penutup perjuangan kemerdekaan yang bergolak di Indonesia. Pada sisi lain, proklamasi kemerdekaan menjadi permulaan atau titik awal perjuangan bagi negara merdeka Republik Indonesia.

Referensi
Joeniarto (1996). Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, M. (1982). Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Read More

Monday, 15 October 2018

Metode Keteladanan


Metode Keteladanan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

metode teladan

Keteladanan berasal dari kata dasar teladan, yaitu “perbuatan yang patut ditiru dan dicontoh” (El Rais, 2012, hlm. 656). Oleh karena itu, keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Sejalan dengan itu, Munawwir (2007, hlm. 614) mengemukakan bahwa “yang dikehendaki dengan keteladanan di sini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan, yaitu keteladanan yang baik”. Dengan demikian, keteladanan adalah tindakan atau setiap sesuatu yang dapat ditiru oleh seseorang dari orang lain yang melakukan atau mewujudkannya, sehingga orang yang diikuti disebut dengan teladan.
Metode ini sangat tepat apabila digunakan untuk mendidik atau mengajar sikap, karena untuk pelajaran sikap dituntut adanya contoh teladan dari pihak pendidik atau guru itu sendiri. Terlebih bagi anak usia sekolah, khususnya Sekolah Dasar (SD), masih didominasi oleh sifat-sifat imitasinya terhadap apa yang didengar dan diperbuat oleh orang dewasa yang ada di sekitarnya.
Prosedur dalam pelaksanaan metode ini dilaksanakan dalam dua cara, yakni secara langsung (direct) dan secara tidak langsung (non-direct). Keteladanan yang dimaksud secara langsung di sini adalah bahwa pendidik/guru itu sendiri harus benar-benar menjadi dirinya sebagai contoh teladan yang baik kepada peserta didiknya. Adapun secara tidak langsung maksudnya adalah dengan menceritakan kisah-kisah atau riwayat-riwayat orang-orang besar, para pahlawan atau para nabi dan rosul. Dengan mengambil kisah-kisah atau riwayat-riwayat yang demikian itu diharapkan peserta didik akan menjadikan tokoh-tokoh tersebut sebagai teladan.
Hasil pengaplikasian keteladanan terbagi atas dua, yakni:
1. Pengaruh langsung yang tidak sengaja
Keberhasilan tipe peneladanan ini banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik yang diteladankan, seperti keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, dan lain sebagainya. Pada kondisi ini pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Ini berarti bahwa setiap pendidik yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara tingkah laku dalam proses pembelajaran.
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif yang palin meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk peserta didik dalam moral, spiritual, dan sosial. Hal ini karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan peserta didik, yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya, dan tata santunnya.
2. Pengaruh yang sengaja
Kadangkala peneladanan diupayakan secara sengaja. Misalnya, guru memberikan contoh membaca yang baik agar para pelajar menirunya.
Metode keteladanan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan pada penerapannya. Kelebihan metode keteladanan, antara lain:
1. Metode keteladanan dapat menciptakan hubungan harmonis antara pendidik dengan peserta didik.
2. Melalui metode keteladanan tujuan guru yang ingin dicapai menjadi lebih terarah dan tercapai dengan baik.
3. Melalui metode keteladanan guru secara tidak langsung dapat mengimplementasikan ilmu yang dipelajari.
4. Metode keteladanan juga mendorong guru untuk senantiasa berbuat baik karena menyadari dirinya akan dicontoh.
Adapun kekurangan metode keteladanan, di antaranya:
1. Jika dalam proses belajar mengajar figur yang diteladani dalam hal ini pendidik tidak baik, maka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik.
2. Sulit diterapkan pada materi yang bersifat abstrak atau teoritis.

Referensi
El Rais, H. (2012). Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Munawwir, A. W. (2007). Kamus Al-Munawwir Indonesia dan Arab. Surabaya: Pustaka Progressif.
Read More

Saturday, 13 October 2018

Seni Karikatur


Seni Karikatur
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

karikatur

Karikatur adalah gambar atau penggambaran suatu obyek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas obyek tersebut. Biasanya obyek tersebut adalah wajah manusia. Karikatur sendiri berasal dari kata bahasa Italia caricate, yang berarti memberi muatan atau melebih-lebihkan.
Karikatur menggambarkan subyek yang dikenal dan umumnya dimaksudkan untuk menimbulkan kelucuan bagi pihak yang mengenal subyek tersebut. Karikatur dibedakan dari kartun karena karikatur tidak membentuk cerita sebagaimana kartun, namun karikatur dapat menjadi unsur dalam kartun.
Orang yang membuat karikatur disebut sebagai karikaturis. Pada abad ke-18, karikatur telah menjangkau masyarakat luas melalui media cetak, terutama di Inggris, telah menjadi sarana kritis sosial dan politis. Selain sebagai bentuk seni dan hiburan, karikatur juga telah digunakan dalam bidang psikologi untuk meneliti bagaimana manusia mengenali wajah.
Untuk membuat karikatur, karikaturis melakukan observasi untuk menentukan ciri khas yang membuat subyeknya berbeda dari orang lain, dan melebih-lebihkan ciri tersebut. Untuk itu, karikaturis membandingkan wajah subyeknya dengan wajah orang rata-rata, dan melebih-lebihkan perbedaannya. Misalnya, jika subyek karikatur memiliki hidung yang lebih panjang dibandingkan orang rata-rata, gambaran hidung subyek tersebut di karikaturnya jauh lebih panjang. Namun demikian, bagaimana ciri khas tersebut dilebih-lebihkan sering bergantung pada gaya menggambar masing-masing karikaturis.
Sebelum menggambar, perlu dipersiapkan alat-alat, di antaranya:

1. Pensil dengan berbagai ukuran ketebalan

Seni Karikatur

2. Kertas sebagai media untuk menggambar

Seni Karikatur

3. Papan alas agar hasil gambar maksimal karena menggambar di area yang rata

Seni Karikatur

4. Penghapus

Seni Karikatur

5. Serutan

Seni Karikatur

6. Tisu untuk melembutkan arsiran

Seni Karikatur

Tahap-tahap pembuatan karikatur secara garis besar dijabarkan sebagai berikut:

1. Buat pola dasar tipis menggunakan pensil ukuran B atau 2B

Seni Karikatur

2. Buat pembentukan wajah (alis, mata, hidung, dan rahang)

Seni Karikatur

3. Koreksi bentuk pola dasar gambar, sesuaikan kembali gestur tubuh dengan mimik wajah yang akan ditampilkan

Seni Karikatur

4. Pembentukan elemen wajah (kuping, bibir, dan gigi)

Seni Karikatur

5. Mulai membuat pola rambut dan detailkan garis-garis

Seni Karikatur

6. Hapus pola awal, dan arsir sedikit lekukan wajah

Seni Karikatur

7. Gunakan tisu untuk memperhalus arsiran lekuk wajah

Seni Karikatur

8. Detail wajah menggunakan pensil 4B, seperti bagian alis, mata, gusi, dan bibir

Seni Karikatur

9. Lanjutkan pengarsiran tipis pada rambut

Seni Karikatur

10. Mulai membuat detail wajah dengan memainkan arsiran pada lekuk wajah dan memainkan seni pencahayaan

Seni Karikatur
Read More

Friday, 12 October 2018

Perjanjian Linggarjati


Perjanjian Linggarjati
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Linggarjati

Perjanjian Linggarjati merupakan suatu perjanjian bersejarah yang berisi kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang disepakati dalam sebuah perundingan. Perjanjian Linggarjati juga merupakan upaya diplomatik pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan wilayah kesatuan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda.
Para tokoh dari Indonesia dan Belanda duduk bersama untuk membuat kesepakatan yang dirangkum dalam beberapa poin persetujuan. Peristiwa ini kelak dikenal dengan nama Perjanjian Linggarjati. Perjanjian ini telah berhasil mengangkat permasalahan antara Indonesia dan Belanda ke ranah internasional dengan melibatkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Perjanjian ini disebut dengan Perjanjian Linggarjati karena lokasi terjadinya ialah di Desa Linggarjati yang terletak di sebelah selatan kota Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 10 November 1946.
Konflik yang terus terjadi antara Indonesia dan Belanda menjadi alasan terjadinya Perjanjian Linggarjati. Konflik ini terjadi karena Belanda belum mau mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru saja dideklarasikan. Para pemimpin negara menyadari bahwa untuk menyelesaikan konflik dengan peperangan hanya akan menimbulkan korban dari kedua belah pihak. Untuk itu, Inggris berusaha mempertemukan Indonesia dengan Belanda di meja perundingan guna membuat sebuah kesepakatan.
Perjanjian Linggarjati ini dihadiri oleh beberapa tokoh perwakilan dari tiga (3) negara, yaitu Indonesia, Belanda, dan Inggris. Tokoh-tokoh yang hadir, antara lain:
1. Pemerintah Indonesia diwakili oleh Dr. A. K. Gani, Mr. Susanto Tirtoprojo, Sultan Syahrir, dan Mohammad Roem.
2. Pemerintah Belanda diwakili oleh Van Pool, Prof. Schermerhorn, dan De Boer.
3. Pemerintah Inggris yang berperan sebagai mediator diwakili oleh Lord Killearn.
Karena terjadi ketidaksepahaman antara Indonesia dan Belanda, Perjanjian Linggarjati resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 25 Mei 1947 dalam upacara kenegaraan yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta.
Adapun isi dari Perjanjian Linggarjati, antara lain:
1. Belanda mau mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan daerah kekuasaan meliputi Madura, Sumatera, dan Jawa. Belanda sudah harus pergi meninggalkan daerah de facto tersebut paling lambat pada tanggal 1 Januari 1949.
2. Belanda dan Republik Indonesia telah sepakat untuk membentuk Negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Negera Indonesia Serikat akan terdiri atas Republik Indonesia, Timur Besar, dan Kalimantan. Pembentukan RIS akan dijadwalkan sebelum tanggal 1 Januari 1949.
3. Belanda dan RIS sepakan akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketua.
Terjadi pro dan kontra dalam penandatanganan Perjanjian Linggarjati, namun akhirnya Indonesia setuju untuk menandatangani perjanjian ini pada tanggal 25 Mei 1947, hal ini terjadi karena:
1. Cara damai merupakan cara terbaik demi menghindari jatuhnya korban jiwa, ini dikarenakan kemampuan militer Indonesia masih jauh di bawah militer Belanda.
2. Cara damai dapat mengundang simpati dari dunia internasional.
3. Perdamaian dengan gencatan senjata dapat memberi peluang bagi pasukan militer Indonesia untuk melakukan berbagai hal di antaranya adalah konsolidasi.
Pasca terjadinya perjanjian ini hubungan kedua negara tidaklah menjadi baik, ini dikarenakan adanya perbedaan dalam menafsirkan isi dari perjanjian. Belanda menganggap Republik Indonesia sebagai bagian dari Belanda, sehingga semua urusan eksternal diurus oleh Belanda. Belanda juga menuntut untuk dibuatnya pasukan keamanan gabungan. Karena hal ini Belanda melakukan aksi bersenjata yang disebut dengan Agresi Militer Belanda, aksi ini sekaligus membatalkan Perjanjian Linggarjati.
Read More

Kategori