Sunday, 19 August 2018

Penugasan Kepala Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah


Penugasan Kepala Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 
tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Penugasan Kepala Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah

Kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan yang meliputi taman kanak-kanak (TK), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), atau sekolah Indonesia di luar negeri.
Guru dapat menjadi bakal calon kepala sekolah apabila memenuhi syarat berikut:
1. Memiliki kualifikasi akademik paling rendah sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari perguruan tinggi dan program studi yang terakreditasi paling rendah B.
2. Memiliki sertifikat pendidik.
3. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) memiliki pangkat paling rendah Penata, golongan ruang III/c.
4. Pengalaman mengajar paling singkat enam (6) tahun menurut jenis dan jenjang sekolah masing-masing, kecuali di TK/TKLB memiliki pengalaman mengajar paling singkat tiga (3) tahun.
5. Memiliki hasil penilaian prestasi kerja guru dengan sebutan paling rendah “baik” selama dua (2) tahun terakhir.
6. Memiliki pengalaman manajerial dengan tugas yang relevan dengan fungsi sekolah paling singkat dua (2) tahun.
7. Sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA berdasarkan surat keterangan dari rumah sakit pemerintah.
8. Tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
9. Tidak sedang menjadi tersangka atau tidak pernah menjadi terpidana.
10. Berusia paling tinggi 56 tahun pada waktu pengangkatan pertama sebagai kepala sekolah.
Dinas provinsi, kabupaten/kota sesuai kewenagannya menyusun proyeksi kebutuhan kepala sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah untuk jangka waktu lima (5) tahun yang diperinci per satu (1) tahun. Dinas provinsi, kabupaten/kota juga melakukan koordinasi dengan penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk menyusun proyeksi kebutuhan kepala sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk jangka waktu lima (5) tahun yang diperinci per satu (1) tahun. Dinas provinsi, kabupaten/kota atau penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat perlu menyiapkan calon kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan calon kepala sekolah berdasarkan proyeksi kebutuhan.
Penyiapan calon kepala sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan masyarakat dilakukan melalui tiga tahap berikut:
1. Pengusulan bakal calon kepala sekolah.
2. Seleksi bakal calon kepala sekolah.
3. Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah.
Pengusulan bakal calon kepala sekolah pada satuan pendidikan dilakukan oleh:
1. Kepala sekolah dapat mengusulkan guru pada satuan pendidikannya untuk menjadi bakal calon kepala sekolah kepada kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
2. Guru pada satuan pendidikan yang memenuhi persyaratan dapat mengajukan permohonan untuk mengikuti seleksi bakal calon kepala sekolah kepada kepala dinas provinsi, kabupaten/kota setelah mendapat rekomendasi dari kepala sekolah satuan administrasi pangkal tempat guru bersangkutan bertugas.
Seleksi bakal calon kepala sekolah dilakukan dalam dua (2) tahap:
1. Seleksi administrasi
Seleksi administrasi merupakan penilaian dokumen, meliputi:
a. Fotokopi ijazah kualifikasi akademik.
b. Fotokopi sertifikat pendidik.
c. Fotokopi surat keputusan pangkat dan jabatan terakhir bagi guru yang diangkat oleh pemerintah daerah.
d. Fotokopi surat keputusan pengangkatan atau perjanjian kerja bagi guru bukan PNS pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
e. Surat keterangan pengalaman mengajar yang dikeluarkan oleh satuan pendidikan.
f. Fotokopi hasil penilaian prestasi kerja pegawai dalam dua (2) tahun terakhir.
g. Fotokopi surat keputusan atau surat keterangan terkait pengalaman manajerial dengan tugas yang relevan dengan fungsi sekolah.
h. Surat keterangan sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA yang dikeluarkan oleh rumah sakit pemerintah.
i. Surat keterangan tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat dari atasan atau pejabat yang berwenang.
j. Surat pernyataan tidak sedang menjadi tersangka atau tidak pernah menjadi terpidana.
k. Surat rekomendasi dari kepala sekolah atau pimpinan penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
2. Seleksi substansi
Seleksi substansi dilaksanakan setelah bakal calon kepala sekolah lolos seleksi administrasi. Seleksi substansi merupakan tes potensi kepemimpinan yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS). Hasil seleksi substansi disampaikan oleh LPPKS  kepada dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota atau penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan masyarakat yang mengajukan bakal calon kepala sekolah.
Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah diikuti oleh bakal calon kepala sekolah yang sudah dinyatakan lolos seleksi substansi. LPPKS dalam hal melaksanakan pendidikan dan pelatihan dapat berkerjasama dengan lembaga lain yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dengan persetujuan Direktur Jenderal. Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dibiayai oleh pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
Bakal calon kepala sekolah yang dinyatakan lulus pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah diberi Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal. Bakal calon kepala sekolah yang dinyatakan tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti kembali pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah paling banyak dua (2) kali.
Pengangkatan kepala sekolah dilaksanakan bagi calon kepala sekolah yang telah memiliki Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah. Proses pengangkatan calon kepala sekolah dilaksanakan oleh pejabat pembina kepegawaian atau pimpinan penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan kewenangannya setelah mendapat rekomendasi dari tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah.
Penugasan kepala sekolah pada satuan pendidikan dilaksanakan dengan periodisasi. Setiap masa periode dilaksanakan dalam kurun waktu empat (4) tahun. Setelah menyelesaikan tugas pada periode pertama, kepala sekolah dapat diperpanjang penugasannya paling banyak tiga (3) kali masa periode atau paling lama 12 tahun. Penugasan kepala sekolah periode pertama pada satuan administrasi pangkal yang sama paling sedikit dua (2) tahun dan paling lama dua (2) masa periode atau delapan (8) tahun. Apabila hasil penilaian prestasi kerja tidak mencapai dengan sebutan paling rendah “baik”, kepala sekolah yang bersangkutan tidak dapat diperpanjang masa tugasnya. Kepala sekolah yang tidak diperpanjang masa tugasnya dapat ditugaskan kembali sebagai guru. Setelah menyelesaikan tugas pada periode ketiga, kepala sekolah dapat diperpanjang penugasannya untuk periode keempat setelah melalui uji kompetensi.
Adapun beban kerja kepala sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan delapan (8) standar nasional pendidikan.
Penilaian prestasi kerja kepala sekolah dilakukan secara berkala setiap tahun. Penilaian prestasi kerja kepala sekolah, meliputi sasaran kerja pegawai (SKP) dan perilaku, serta kehadiran. Penilaian prestasi kerja kepala sekolah dilakukan berbasis bukti fisik peningkatan mutu delapan (8) standar nasional pendidikan. Pelaksanaan penilaian prestasi kerja kepala sekolah dilaksanakan oleh kepala dinas provinsi, kabupaten/kota atau penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dapat dibantu oleh pengawas sekolah.
Kepala sekolah dapat diberhentikan dari penugasan karena:
1. Mengundurkan diri.
2. Mencapai batas usia pensiun guru.
3. Diangkat pada jabatan lain.
4. Tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajibannya.
5. Dikenakan sanksi hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
6. Hasil penilaian prestasi kerja tidak mencapai dengan sebutan paling rendah “baik”.
7. Tugas belajar enam (6) bulan berturut-turut atau lebih.
8. Menjadi anggota partai politik.
9. Menduduki jabatan negara.
10. Meninggal dunia.

Referensi
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah.
Read More

Saturday, 18 August 2018

Crash Team Racing (CTR)


Crash Team Racing (CTR)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

CTR

Crash Team Racing (CTR) adalah video game yang dipublikasikan oleh Sony Computer Entertainment dan dikembangkan oleh Naughty Dog untuk platform PlayStation 1. Permainan ini dirilis pada tahun 1999.
Pada game ini kita akan mengendalikan semacam go-kart yang dikemudikan oleh berbagai karakter berbentuk hewan yang beragam. Variasi karakter ini bukan hanya sekedar tampilan saja. Pada saat kita akan memulai adventure mode (mode petualangan), kita bisa melihat bahwa masing-masing karakter memiliki kelebihan dan kekurangan. Terdapat tiga parameter yang membedakan, yakni speed (kecepatan), accel (akselerasi), dan turn (kemampuan berbelok).
Tidak hanya variasi karakter yang beragam, di setiap track yang kita mainkan akan tersebar dua jenis kotak. Kotak pertama yang tidak bermotif akan memberikan karakter kita buah yang jika dikumpulkan akan memberikan bonus tertentu. Kotak kedua bergambar tanda tanya yang secara acak akan memberikan kita berbagai jenis power-up, seperti tembakan listrik, rudal, bom, kotak perangkap, ramuan perangkap, turbo, dan sebagainya.
CTR sangat menyenangkan untuk dimainkan, baik sendiri maupun bersama-sama. Game ini akan menghibur sekaligus memberikan tantangan melalui desain level/track yang ada. Pada CTR, lawan kita bukan satu-satunya hal yang perlu kita khawatirkan, karena terkadang kita bisa saja kehilangan posisi pertama karena jebakan-jebakan yang tersebar di track.
Tidak terbatas di jebakan saja, jika kita teliti, kita akan menyadari bahwa track dalam CTR juga memiliki berbagai jalan rahasia yang bisa membantu kita selama balapan. Hal ini membuat track CTR jauh lebih menarik.

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam Crash Team Racing (CTR), di antaranya:

1. Crash Bandicoot

Crash Team Racing (CTR)

2. Doctor Neo Cortex

Crash Team Racing (CTR)


3. Tiny Tiger

Crash Team Racing (CTR)

4. Coco Bandicoot

Crash Team Racing (CTR)

5. N. Gin

Crash Team Racing (CTR)

6. Dingodile

Crash Team Racing (CTR)

7. Polar

Crash Team Racing (CTR)

8. Pura

Crash Team Racing (CTR)

9. Riper Roo

Crash Team Racing (CTR)

10. Papu Papu

Crash Team Racing (CTR)

11. Komodo Joe

Crash Team Racing (CTR)

12. Pinstripe

Crash Team Racing (CTR)

13. Fake Crash

Crash Team Racing (CTR)

14. Penta Penguin

Crash Team Racing (CTR)

15. N. Tropi

Crash Team Racing (CTR)

16. Nitros Oxide

Crash Team Racing (CTR)

Adapun sejumlah hal yang mendidik dari game Crash Team Racing (CTR), antara lain:

1. Bermain bersama keluarga/teman

Crash Team Racing (CTR)

Crash Team Racing (CTR) dapat dimainkan sendiri, namun lebih menyenangkan apabila dimainkan secara multiplayer atau bersama-sama. CTR dapat dimainkan segala usia, baik anak-anak, remaja, sampai dewasa. Untuk itu, anak dapat bermain CTR bersama keluarga/teman.

2. Mengenal dasar-dasar mengemudi

Crash Team Racing (CTR)

Crash Team Racing (CTR) merupakan game balapan go-kart. Cara mengemudi pada game ini cukup sederhana, yakni maju, belok kiri, belok kanan, dan rem. Maka, melalui permainan ini, anak secara tidak langsung mengenal bagaimana dasar-dasar mengemudi.

3. Melatih motorik halus

Crash Team Racing (CTR)

Tujuan utama dari permainan Crash Team Racing (CTR) adalah balapan untuk finish pada urutan pertama. Untuk hal tersebut, tentunya anak perlu memahami fungsi-fungsi tombol yang terdapat pada game CTR, seperti tombol gas, belok, rem, dan mengeluarkan power-up secara tepat. Dengan demikian, motorik halus anak secara tidak langsung terlatih.

4. Melatih konsentrasi

Crash Team Racing (CTR)

Pada sepanjang track balapan yang harus anak lalui pada permainan Crash Team Racing (CTR) terdapat beragam halang rintang. Untuk melalui kesemuaan hal tersebut tentunya diperlukan konsentrasi, agar anak dapat mengemudikan karakter yang ia pilih, melewati segala halang rintang dan finish pada urutan pertama.
Read More

Friday, 17 August 2018

Kalimat dalam Bahasa Indonesia


Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kalimat bahasa indonesia

Kalimat adalah “bagian ujaran atau tulisan yang mempunyai struktur minimal subyek (S) dan predikat (P), serta intonasi finalnya menunjukkan bagian ujaran atau tulisan tersebut sudah lengkap dengan makna” (Finoza, 2009, hlm. 149). Menurut Ramlan (2001, hlm. 21) kalimat adalah “satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik”. Sedangkan Cook, dkk. (dalam Putrayasa, 2009, hlm. 1) mengemukakan kalimat merupakan “satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir, dan terdiri atas klausa”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut dapat ditarik garis besar bahwa kalimat adalah satuan gramatikal berupa ujaran atau tulisan, terdiri atas klausa, dan mempunyai pola intonasi akhir.
Finoza (2009, hlm. 150-155) mengemukakan terdapat lima unsur yang terdapat dalam kalimat, di antaranya:
1. Subyek
Subyek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar subyek diisi oleh frasa benda atau nominal, klausa, atau frasa verbal.
2. Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan perbuatan (action) dari subyek (S). Selain itu, predikat juga menyatakan sifat atau keadaan subyek. Predikat juga dapat sebagai pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh subyek. Predikat dapat berupa verba atau ajektiva, tetapi dapat juga berbentuk numeralia, nomania, atau frasa nominal.
3. Obyek
Obyek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Obyek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa, atau klausa. Letak obyek selalu di belakang predikat, yang berupa verba transitif, yakni verba yang wajib diikuti oleh obyek.
4. Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Letak pelengkap umumnya di belakang predikat, yang berupa verba. Jenis kata yang mengisi pelengkap, yaitu nomina dan frasa nominal.
5. Keterangan
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan predikat (P) dalam sebuah kalimat. Posisi keterangan boleh manasuka, di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi keterangan dapat berupa adverbia, frasa preposional, atau klausa.

Berdasar jumlah klausanya, kalimat terdiri atas:

1. Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa (satuan gramatikal yang terdiri dari subyek, predikat, baik disertai obyek, pelengkap, dan keterangan ataupun tidak). Pada kalimat tunggal setidaknya terdapat satu subyek dan satu predikat. Contohnya sebagai berikut:
a. Saya akan pergi.
b. Kami siswa sekolah dasar.
c. Andi pergi ke sekolah.

2. Kalimat majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. Artinya, pada kalimat majemuk terdapat lebih dari satu klausa. Kalimat majemuk terdiri atas:
a. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara memiliki ciri (1) dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal, dan (2) kedudukan tiap kalimat sederajat. Konjungtor yang menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk setara jumlahnya cukup beragam. Konjungtor tersebut merujuk pada beberapa jenis hubungan dan menjalankan sejumlah fungsi. Lebih lanjut, dipaparkan pada tabel berikut:

Jenis hubungan
Fungsi
Kata penghubung
Penjumlahan
Menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, dan proses.
Dan, serta, baik, maupun
Pertentangan
Menyatakan bahwa hal yang dinyatakan dalam klausa pertama bertentangan dengan klausa kedua.
Tetapi, sedangkan, bukannya, melainkan
Pemilihan
Menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan.
Atau
Urutan
Menyatakan kejadian yang berurutan.
Lalu, kemudian

b. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat, klausa pembentuknya tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Pada tabel berikut dijabarkan jenis hubungan antarklausa dan konjungtor dalam kalimat majemuk bertingkat:

Jenis hubungan
Kata penghubung
Waktu
Sejak, sedari, sewaktu, sementara, seraya, setelah, sambil, sehabis, sebelum, ketika, tatkala, hingga, sampai
Syarat
Jika, seandainya, andaikata, andaikan, asalkan, kalau, apabila, bilamana, manakala
Tujuan
Agar, supaya, untuk, biar
Konsesif
Walau, meski, sekali, biar, kendati, sungguh
Pembandingan
Seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, alih-alih, ibarat
Sebab/alasan
Sebab, karena
Akibat/hasil
Sehingga, sampai-sampai, maka
Cara/alat
Dengan, tanpa
Kemiripan
Seolah-olah, seakan-akan
Kenyataan
Padahal, nyatanya
Penjelas/kelengkapan
Bahwa

Berdasar fungsinya, kalimat terbagi atas:

1. Kalimat berita
Kalimat berita (deklaratif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk memberitakan sesuatu. Pada pemakaian bahasa, bentuk kalimat berita umumnya digunakan oleh pembicara/penulis jika pada suatu waktu mengetahui suatu peristiwa dan kemudian menyampaikan tentang peristiwa tersebut kepada orang lain.
Kalimat berita dapat berupa bentuk apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitaan. Pada bentuk tulisnya, kalimat berita diakhiri dengan tanda baca titik (.). Pada bentuk lisan, suara berakhir dengan nada turun. Contoh kalimat berita, sebagai berikut:
a. Kemarin ada pawai di depan sekolah.
b. Saya melihat ayah pergi tadi pagi.
c. Pada saat berangkat sekolah, saya melihat pejalan kaki ramai melintasi perempatan jalan utama.

2. Kalimat perintah
Kalimat perintah (imperatif) dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu. Pada bahasa lisan, kalimat ini berintonasi akhir menurun. Pada bahasa tulis, kalimat ini diakhiri dengan tanda baca seru (!) atau tanda baca titik (.).
Perintah atau suruhan dan permintaan, jika ditinjau dari isinya dapat diperinci, sebagai berikut:
a. Perintah atau suruhan biasa, jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu.
b. Perintah halus, jika pembicara tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilahkan lawan bicara sudi berbuat sesuatu.
c. Permohonan, jika pembicara demi kepentingannya, meminta lawan bicara berbuat sesuatu.
d. Ajakan dan harapan, jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu.
e. Larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu.
f. Pembiaran, jika pembicara minta agar jangan dilarang.
Kalimat perintah memiliki ciri formal, sebagai berikut:
a. Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan.
b. Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan.
c. Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subyek jika diperlukan.
d. Pelaku tindakan selalu terungkap.
Contoh kalimat perintah, sebagai berikut:
a. Ambilkan gelas tersebut!
b. Buka pintu!
c. Ingat, besok kamu harus datang!

3. Kalimat tanya
Kalimat tanya (interogatif) adalah kalimat yang digunakan oleh penutur atau penulis untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. Kalimat tanya secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, di mana, yang mana, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas.
Kalimat tanya digunakan untuk meminta (1) jawaban “ya” atau “tidak” dan (2) informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari lawan bicara. Pada bahasa lisan, kalimat ini diakhiri dengan intonasi naik. Pada bahasa tulis, kalimat diakhiri dengan tanda baca tanya (?).
Contoh kalimat tanya, sebagai berikut:
a. Di mana kamu menyimpan pulpen?
b. Siapa yang akan berbelanja?
c. Kapan kita berlibur?

4. Kalimat seru
Kalimat seru (ekslamatif) dipakai penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Kalimat seru secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektival. Kalimat seru digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.
Contoh kalimat seru, sebagai berikut:
a. Kamu hebat!
b. Betapa sulitnya ujian ini!
c. Alangkah indahnya dunia ini!

Referensi
Finoza, L. (2009). Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Non Jurusan Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Putrayasa, B. I. (2009). Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung: Aditama.
Ramlan (2001). Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.

Read More

Kategori