Sunday, 18 November 2018

Penalaran Moral


Penalaran Moral
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

tahap perkembangan Penalaran Moral

Penalaran adalah bagaimana seorang berpikir secara logis tentang suatu hal, sedangkan moral adalah sesuatu hal baik dan buruk yang diterima oleh masyarakat mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, dan budi pekerti. Kolberg (dalam Sarwono, 2006, hlm. 96) mengartikan “moral adalah bagian dari penalaran”, sehingga Kolberg menyebutnya sebagai penalaran moral (moral reasoning). “Penalaran moral lebih menekankan pada alasan suatu tindakan dilakukan, bukan hanya pada arti dari suatu tindakan, sehingga dapat dinilai baik dan buruk tindakan tersebut” (Setiono, dalam Istaji, 2001, hlm. 31). Menurut Maskuriah (2000, hlm. 22) penalaran moral adalah “suatu pertimbangan pemikiran yang berkenaan dengan obyek moral yang berupa tingkah laku, perbuatan, dan tindakan yang berlandaskan ukuran norma dan nilai moral, baik yang berkembang dan dianut di dalam kehidupan sosial maupun yang berlandaskan agama, adat istiadat, dan ketentuan hukum yang berlaku secara umum”.
Berdasar sejumlah pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa penalaran moral adalah kemampuan kognitif yang dimiliki seseorang untuk mempertimbangkan, menilai, dan memutuskan suatu perilaku yang berdasarkan asas moral seperti baik dan buruk, etis dan tidak etis, boleh dan tidak boleh untuk dilakukan dan mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan.
Hurlock (1980, hlm. 225) menyebutkan bahwa “salah satu tugas perkembangan penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa harus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami saat kanak-kanak”. Remaja diharapkan mampu mengganti konsep-konsep moral yang berlaku khusus di masa kanak-kanak dengan prinsip moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Tidak kalah penting, sekarang remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru.
Penentuan perilaku moral seseorang antara satu dengan yang lain tidak selalu sama. Hal ini mengindikasikan adanya perkembangan moral. Perkembangan moral adalah perubahan dari standar tersebut dari waktu ke waktu. Perkembangan moral menentukan bagaimana seorang individu menilai dunia luar. Perkembangan moral ini membedakan antara anak kecil dan orang dewasa dalam hal penilaian baik buruk sebuah perilaku.
Pada perkembangannya penalaran moral dibagi berdasarkan tahapan yang harus dilalui oleh individu, salah satunya menurut Kohlberg (dalam Santrock, 2003, hlm. 441-442), sebagai berikut:

1. Tingkat pra-konvensional
Penalaran pra-konvensional adalah tingkatan terendah dalam perkembangan penalaran moral Kohlberg. Pada tingkatan ini individu tidak menunjukkan adanya internalisasi, nilai-nilai moral penalaran moral dikendalikan oleh hadiah atau reward dan hukuman eksternal. Tingkat ini dibagi atas dua tahap, yakni:
a. Tahap 1. Orientasi hukuman dan kepatuhan (punishment and obedience orientation) (sekitar usia 0-7 tahun)
Tahap ini adalah tahap pertama pada teori perkembangan moral Kohlberg. Akibat fisik dari suatu perubahan yang dilakukan menentukan baik buruknya perbuatan tersebut tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat perbuatan tersebut. Anak pada tahap ini menghindari hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. Baik buruknya perbuatan dinilai sebagai hal yang berharga dalam dirinya sendiri dan bukan karena rasa hormat terhadap tataran moral yang melandasi dan yang didukung oleh hukuman dan otoritas.
b. Tahap 2. Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) (sekitar usia 10 tahun)
Pada tahap ini anak beranggapan bahwa perbuatan yang benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri. Anak sudah lebih menyadari tentang kebutuhannya sendiri. Anak sudah lebih menyadari tentang kebutuhan-kebutuhan pribadi dan keinginan-keinginan, serta bertindak demi orang lain tetapi dengan mengharapkan suatu balasan.

2. Tingkat konvensional
Penalaran konvensional (convensional reasioning) adalah tingkatan kedua, atau menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkatan ini, individu mematuhi sejumlah stantar tertentu, tetapi standar tersebut merupakan standar orang lain, misalnya  orang tua atau hukum yang berlaku di masyarakat.
Pada tahap ini terdapat dua sub tingkat, pertama dikenal dengan the good boy/nice girl orientation, di mana moralitasnya berdasarkan pada mendapatkan pujian dan menghindari celaan orang lain dari kelompoknya. Pada subtingkat yang kedua disebut law and order orientation, yaitu perilaku moral merupakan bentuk dari kepatuhan pada figur otoritas dan keberadaan tatanan sosial. Tatanan sosial mengacu pada fungsi budaya dan masyarakat, aturan dan standar yang dipegang oleh anggota masyarakat. Hukum biasanya dipatuhi tanpa sanggahan dan mengabaikan situasi serta dianggap sebagai mekanisme untuk menjaga tatanan sosial.
Penalaran konvensional memiliki dua tahap, yakni:
a. Tahap 3. Norma interpersonal (sekitar usia 13 tahun)
Pada tahap ini individu menganggap rasa percaya, rasa sayang, dan kesetiaan terhadap orang lain sebagai dasar untuk melakukan penilaian moral. Anak-anak dan remaja pada tahap ini seringkali mengambil standar moral orang tua mereka, hal ini dilakukan karena mereka ingin orang tua mereka menganggap mereka sebagai anak yang baik.
b. Tahap 4. Moralitas sistem sosial (sekitar usia 16 tahun)
Pada tahap ini penilaian moral didasarkan pada pemahaman terhadap aturan, hukum, keadilan, dan tugas sosial. Sebagai contoh, remaja dapat mengatakan supaya suatu komunitas berkerja secara efektif, maka komunitas tersebut perlu dilindungi oleh aturan yang ditaati seluruh anggota komunitas.

3. Tingkat pasca konvensional
Penalaran pasca konvensional (post-conventional reasoning) adalah tingkatan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkatan ini seseorang lebih memperhatikan komitmen pada prinsip yang lebih tinggi dari perilaku yang dituntut oleh aturan sosial. Dengan kata lain, seseorang menentukan perilakunya tidak atas dasar pamrih tetapi lebih pada prinsip moral interaksi individu. Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk mengartikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki keabsahan serta dapat diterapkan terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegangan pada prinsip moral yang universal, yang tidak terkait dengan aturan-aturan setempat atau seluruh masyrakat.
Tahap ini terdiri atas dua tahap, yaitu:
a. Tahap 5. Hak komunitas vs hak individu (sekitar usia dewasa awal)
Pada tahap ini seseorang memiliki pemahaman bahwa nilai dan hukum adalah relatif dan standar yang dimiliki satu orang akan berbeda dengan orang lain. Individu menyadari bahwa hukum memang penting bagi suatu masyarakat, namun hukum sendiri dapat diubah. Individu percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan lebih penting dari hukum.
b. Tahap 6. Prinsip etis universial (usia dewasa)
Pada tahap ini seseorang sudah membentuk standar moral yang didasarkan pada hak manusia secara universal. Ketika dihadapkan pada suatu konflik antara hukum dan kata hati, ia akan mengikuti kata hati, walaupun ini dapat memunculkan resiko pada dirinya sendiri.

“Suatu faktor penting dalam perkembangan penalaran moral adalah faktor kognitif, terutama kemampuan berpikir abstrak dan luas” (Budiningsih, 2001, hlm. 32). Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan moral seorang anak juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungan, terutama dari orang tua. Ia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai tersebut.

Referensi
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Istaji, E. (2001). Perbedaan Tingkat Kematangan Moral antara Anak yang Orang Tuanya Penggemar Wayang Kulit dengan Anak yang Orang Tuanya Bukan Penggemar Wayang Kulit. (Skripsi). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Maskuriah, H. (2000). Hubungan antara Penalaran Moral dengan Intensi Pro-Sosial Remaja. (Skripsi). Jombang: UNDAR.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, S. W. (2006). Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Read More

Saturday, 17 November 2018

Poly Bridge


Poly Bridge
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Poly Bridge

Poly Bridge adalah permainan simulasi teka-teki pembangunan jembatan yang dikembangkan oleh Dry Cactus, studio indie asal New Zealand, di mana pemain membangun jembatan untuk kendaraan menyebrang. Poly Bridge dirilis untuk Microsoft Windows pada 12 Juli 2016 dan iOS pada 13 Juni 2017.
Tujuan dari permainan ini adalah agar serangkaian kendaraan dapat melintasi sungai dengan membangun jembatan. Setiap kendaraan memiliki bentuk dan berat yang berbeda, yang berarti mobil dengan bentuk panjang mungkin tidak akan bisa melewati lereng yang curam dan struktur jembatan mungkin perlu beradaptasi dengan situasi. Permainan ini juga memiliki rintangan seperti lompatan dan perahu yang lewat, memaksa pemain untuk mendesain jembatan mereka secara kreatif. Jembatan yang dibangun dengan buruk akan runtuh dan tidak kuat untuk menopang beban kendaraan yang menyebrang. Pemain juga diberi anggaran untuk bahan yang dapat mereka gunakan sesuai dengan desain yang dibuat.
Ide permainan ini nampak sederhana, tetapi memerlukan imajinasi dan solusi terbuka. Permainan ini mendorong kreativitas dengan masing-masing bangunan jembatan berbeda dan mampu menyesuaikan desain dengan cepat dan tepat. Terdapat lebih dari 100 jenis level, yang pada perjalanannya memperkenalkan sejumlah materi dan situasi yang beragam, yang akan menentukan cara untuk membuat suatu desain jembatan.
Pada awalnya kita hanya perlu berurusan dengan membangun jembatan dan membangun dukungan kayu untuk memastikan satu kendaraan dapat menyebrang, dengan tetap mempertimbangkan anggaran yang tersedia untuk membangun jembatan. Tetapi ketika kita sampai pada level tertentu, teka-teki akan menjadi lebih rumit, memperkenalkan kendaraan baru dan material baru seperti hidrolik, yang digunakan untuk membuat jembatan tetap seimbang, dan memungkinkan perahu untuk melintasi jembatan.
Sejumlah hal positif yang mendidik bagi anak dari permainan Poly Bridge, antara lain:

1. Mengenalkan konstruksi pembangunan jembatan

Poly Bridge

Dasar dari permainan Poly Bridge adalah membangun suatu jembatan agar kendaraan dapat menyebrangi sungai dengan aman. Di dalam bermain permainan ini, anak akan mengenal bagaimana suatu jembatan dibangun, dan pada akhirnya dapat memahami bagaimana konstruksi pembangunan jembatan yang bagus.

2. Mengenalkan dasar-dasar aplikasi ilmu fisika

Poly Bridge

Pembangunan jembatan merupakan aplikasi dari ilmu fisika. Untuk itu, pada Poly Bridge juga memperhatikan hal tersebut sebagai bagian dari permainan. Misalnya, jika jembatan dibuat tidak seimbang maka akan roboh pada saat dilewati kendaraan. Contoh lain, apabila konstruksi jembatan dibuat terlalu curam juga akan mengakibatkan kendaraan tidak dapat melewati jembatan dengan aman.

3. Menggali imajinasi anak

Poly Bridge

Untuk menyelesaikan suatu level pada permainan Poly Bridge diperlukan imajinasi untuk mendesain sebuah jembatan yang cocok dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada, serta budget pembangunan yang tersedia.

4. Menumbuhkan kreativitas berpikir anak

Poly Bridge

Penyelesaian suatu level pada permainan Poly Bridge memiliki cara beragam dan solusi yang sangat terbuka. Karena kita bebas untuk mendesain jembatan yang akan dibangun, asalkan kendaraan yang akan melewati jembatan tersebut selamat dan pembangunan jembatan dilakukan sesuai budget yang tersedia.
Read More

Friday, 16 November 2018

Alat Musik Tradisional Angklung


Alat Musik Tradisional Angklung
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

angklung

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berkembang terutama di daerah Jawa Barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan, sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada. Angklung terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi.
Pada awalnya alat musik bambu digunakan masyarakat Sunda untuk melakukan upacara ritual. Masyarakat Sunda yang agraris mempercayai keberadaan nyai Sri Pohaci (Dewi Sri) sebagai Dewi Padi pemberi kehidupan. Untuk memikat Dewi Sri agar turun ke bumi memberkati tanaman padi mereka agar terhindar dari bencana alam dan kegagalan panen, masyarakat tersebut mempersembahkan lagu-lagu pujian yang disertai bunyi-bunyian pengiring bernada ritmis dengan melodi yang berulang dan tebuat dari batang-batang bambu yang ditabuh maupun digoyangkan. Dari sinilah alat musik bambu seperti angklung dibuat. Angklung yang digunakan pada umumnya hanya terdiri atas lima nada (pentatonis) seperti salendro, pelog, dan madenda.
Angklung yang telah menjadi alat musik khas Sunda telah menyebar ke pelosok daerah Jawa Barat. Sehingga angklung memiliki banyak jenis dilihat dari daerah yang mengembangkan angklung tersebut. Di antara daerah Jawa Barat  yang memiliki angklung khas daerah, yakni angklung buncis dari Kabupaten Bandung, anklung kanekes dari Baduy, angklung dogdog jolor dari Banten, angklung gubrag dari Bogor, dan angklung badeng dari Garut.

Alat Musik Tradisional Angklung

Angklung buncis

Alat Musik Tradisional Angklung
Angklung kanekes

Alat Musik Tradisional Angklung
Angklung dogdog

Alat Musik Tradisional Angklung
Angklung gubrag

Alat Musik Tradisional Angklung
Angklung badeng

Angklung mengedepankan kemudahan bagi siapa pun yang ingin mempelajarinya. Karena itu, pada proses latihan angklung lebih sering digunakan partitur angka. Partitur ini melambangkan nada dengan angka. Partitur adalah media yang digunakan pelatih dalam menyampaikan notasi balok atau notasi angka yang berisi nada-nada yang harus dimainkan oleh pemain dengan menggunakan alat musik angklung dengan tujuan untuk memudahkan pemain dalam memainkan lagu yang dimainkan oleh angklung.
Cara memainkan angklung dengan memegang rangkanya pada salah satu tangan, sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya menggoyangkan hingga berbunyi. Di dalam hal ini, ada tiga teknik dasar menggoyangkan angklung sebagai berikut:
1. Kurulung (getar) merupakan teknik paling umum dipakai, di mana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada dimainkan.
2. Centok (sentak) adalah teknik di mana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja.
3. Tengkep, mirip seperti kurulung namun salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarkan nada murni. Sementara itu, pada angklung akompaminen mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab bila tidak di-tengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada).
Untuk memainkan satu unit angklung guna membawakan suatu lagu, akan diperlukan banyak pemusik yang dipimpin oleh satu konduktor. Pada setiap pemusik akan dibagikan satu hingga empat angklung dengan nada berbeda-beda. Kemudian sang konduktor akan menyiapkan partitur lagu, dengan tulisan untaian nada-nada yang harus dimainkan. Konduktor akan memberi aba-aba, dan masing-masing pemusik harus memainkan angklungnya dengan tepat sesuai nada dan lama ketukan yang diminat konduktor.
Read More

Thursday, 15 November 2018

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia


Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kedudukan bahasa indonesia

Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
Menurut Arifin, dkk. (2010, hlm. 12) “bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara, hal ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 tercantum pasal khusus, yakni pada Bab XV, pasal 36”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedudukan bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara.
Menurut Arifin, dkk. (2010, hlm. 12) kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki fungsi, antara lain:
1. Lambang kebanggaan kebangsaan
Di dalam fungsinya sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia harus terus dijaga, pelihara, dan kembangkan serta rasa kebanggaan pemakainya senantiasa kita bina.
2. Lambang identitas nasional
Bahasa Indonesia fungsinya sebagai identitas nasional, yang mengarah pada penghargaan terhadap bahasa Indonesia selain bendera dan lambang negara. Di dalam fungsinya bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri, sehingga serasi dengan lambang kebangsaan yang lain. Bahasa indonesia memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya terutama kaum muda dan pelajar membina dan mengembangkan sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain.
3. Alat perhubungan antarwarga, antardaerah, antarbudaya
Bahasa Indonesia memiliki peranan yang vital di masyarakat umum dan nasional. Berkat adanya bahasa Indonesia masyarakat dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan. Masyarakat dapat berpergian ke seluruh pelosok tanah air dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.
4. Alat pemersatu suku budaya dan bahasanya
Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu suku, budaya, dan bahasa maksudnya, bahasa Indonesia memungkinkan keserasian di antara suku-suku, budaya, dan bahasa di Nusantara, tanpa harus menghilangkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional tersebut masyarakat dapat meletakkan kepentingan nasional jauh di atas kepentingan daerah atau golongan.
Sedangkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara menurut Arifin, dkk. (2010, hlm. 12) memiliki fungsi, di antaranya:
1. Bahasa resmi kenegaraan
Maksud dari bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahwa bahasa Indonesia dipakai di dalam kegiatan-kegiatan resmi kenegaraan seperti upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik  dalam bentuk lisan maupun tulisan. Salah satu kegiatan tersebut adalah penulisan dokumen dan putusan-putusan serta surat-surat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya, serta pidato-pidato kenegaraan.
2. Bahasa pengantar dalam pendidikan
Bahasa Indonesia memiliki fungsi vital di dunia pendidikan Nusantara, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, kecuali pada daerah-daerah tertentu yang masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya, akan tetapi hanya sampai tahun ke tiga pendidikan Sekolah Dasar.
3. Alat perhubungan pada tingkat nasional
Di dalam hal ini bahasa Indonesia dipakai bukan saja sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antardaerah, dan antarsuku, melainkan juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya, dan bahasanya.
4. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi
Di dalam hubungan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri dan identitasnya, yang membedakannya dengan kebudayaan daerah.

Referensi
Arifin, dkk. (2010). Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: AKAPRESS.
Read More

Kategori