Monday, 2 May 2016

Bank Sampah



Bank Sampah
Karya : Rizki Siddiq Nugraha
bank sampah
A. Pendahuluan
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Menurut Agung Suprihatin, Dwi Prihanto & Michel Gelbert (1996), “sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses”. Seiring peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan ekonomi saat ini pengelolaan sampah sebagian besar kota masih menimbulkan permasalahan yang sulit dikendalikan.
Timbunan sampah yang tidak terkendali terjadi sebagai konsekuensi logis dari aktivitas manusia dan industrialisasi, yang kemudian berdampak pada permasalahan lingkungan perkotaan seperti keindahan kota, kesehatan masyarakat, dan lebih jauh lagi terjadinya bencana (ledakan gas metan, tanah longsor, pencemaran udara akibat pembakaran terbuka dan lain-lain).
Di sisi lain, pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh dinas terkait hanya berfokus pada pengumpulan dan pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa melalui pengolahan tertentu.
Bicara soal sampah kecenderungannya adalah kita tidak terlalu memikirkan apakah sampah yang kita hasilkan itu organik atau non-organik. Kita mungkin juga tidak terlalu peduli ke mana larinya sampah itu. Sementara kenyataannya di Indonesia, khususnya di sekolah dasar begitu banyak sampah yang dihasilkan setiap harinya (plastik bungkus makanan kecil, botol air mineral, kertas, daun yang berserakan, dan lain-lain), hingga terbentuklah gunung-gunung sampah yang tak semestinya di TPA.
Maka dari itu kami menyusun makalah ini yang berjudul “Pengembangan Bank Sampah di Sekolah Dasar Laboratorium dalam Rangka Mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup” dengan harapan akan menjadi gagasan yang dapat direalisasikan sebagai solusi dari permasalahan pengelolaan sampah khususnya di lingkungan sekolah dasar.




B. Pembahasan
Bank sampah
Sampah identik dengan anggapan negatif, Didirikannya Bank Sampah adalah  bagaimana membalikan sampah yang identik dengan image negatif menjadi image positif. Sampah yang selalu kita kenal adalah benda yang kotor, berpotensi membawa penyakit atau virus, tempat bersarang nyamuk, dan hal buruk lain. serta sampah juga menjadi barang yang harus ditekan produksinya.
Tentunya akan sangat berbeda begitu mendengar akan Bank Sampah. Hal ini akan membuat persepsi tentang sampah akan berbeda. Sistem pengelolaan sampah dengan Tabungan sampah di bank sampah. Dengan sistem ini, siswa akan mendapatkan banyak keuntungan. Hal lain yang membedakan sistem ini dengan sistem lainnya adalah adanya mekanisme pengelolaan sampah dengan menabung.  Menabung di Bank Sampah dengan menyetor sampah merupakan salah satu upaya merubah Pola pikir atau mindset tentang sampah. Sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis. Sistem pengelolaan sampah di bank sampah ini sesuai dengan peraturan Undang-Undang No 18 Tahun 2008, bahwa dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah dan sejenisnya dengan cara pengurangan sampah, penanganan sampah, dan sistem pengelolaan sampah.
Adapun mekanisme bank sampah, antara lain:
a. Pemilahan sampah (organik dan anorganik);
b. penyerahan sampah ke bank sampah;
c. penimbangan sampah;
d. pencatatan;
e. hasil penyetoran sampah yang diserahkan, dimasukan ke buku tabungan;
f. pengolahan sampah.
Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti cara-cara yang baik dan benar.
Pemanfaatan sampah organik, seperti komposting (pengomposan) sampah yang mudah membusuk dapat diubah manjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan melakukan kegiatan komposting sampah organik yang komposisinya mencapai 70 % dapat direduksi hingga mencapai 25 % (Apriadji & Wied Harry, 1994).
Langkah-langkah pembuatan pupuk organik anaerob:
1) Siapkan daun kering yang akan dikompos.
2) Siapkan dekomposer (EM4) sebagai pereaksi, caranya campurkan 1 cc EM4 dengan 1 liter air dan 1 gram gula, kemudian diamkan selama 24 jam.
3) Ambil terpal plastik sebagai alas, simpan daun kering yang sudah dirajang halus di atas terpal.
4) Campurkan serbuk gergaji pada bahan tersebut.
5) Kemudian semprotkan larutan EM4 yang telah diencerkan tadi.
6) Aduk sampai merata, jaga kelembaban pada kisaran 30-40%, apabila kurang lembab bisa disemprotkan air.
7) Siapkan tong plastik yang kedap udara, masukan bahan organik yang sudah dicampur tadi.
8) Kemudian tutup rapat-rapat dan diamkan hingga 3-4 hari untuk menjalani proses fermentasi. Suhu pengomposan pada saat fermentasi akan berkisar 35-45oC. (Suhadi, 1995)
Sedangkan pemanfaatan sampah anorganik dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.
Dengan adanya bank sampah yang dikelola oleh siswa, dari siswa, serta untuk siswa ini diharapkan sampah di lingkungan sekolah berkurang dan berubah menjadi sesuatu yang bernilai jual. Selain lingkungan menjadi bersih, siswa pun mendapat keuntungan dari tabungan yang dihasilkan melalui penyetoran sampah masing-masing siswa ke bank sampah. Melalui program bank sampah, siswa dibekali kemampuan untuk mengolah sampah (komposting dan membuat kerajinan) yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi dirinya maupun masyarakat.

C. Penutup
Salah satu bukti bahwa kita warga yang baik adalah dengan ikut serta menjalankan kebijakan pemerintah yang sedang digulirkan. Serta demi mensukseskan apa yang dicita-citakan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah bahwa “prinsip dalam mengelola sampah adalah reduce, reuse, dan recycle”, yang artinya mengurangi, menggunakan kembali, dan mengolah. Kita perlu mengawal dan memupuk agar undang-undang tersebut menjadi tonggak awal kita menyambut kemajuan Indonesia. Dengan adanya “Bank Sampah” hal ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas masalah-masalah lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia khususnya pengelolaan sampah, sehingga terwujudnya generasi penerus bangsa yang memiliki sikap peduli terhadap lingkungan.

Daftar Pustaka
Apriadji., Harry, W. (1994). Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suhadi. (1995). Wiraswasta Sampah. Surabaya: Bina Ilmu.
Suprihatin, A., Prihanto, D. & Gelbert, M. (1996). Pengelolaan Sampah. Malang: PPPGT Malang.
Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.


EmoticonEmoticon