Monday, 16 January 2017

Majas Bahasa Indonesia



Majas Bahasa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

majas bahasa indonesia

Majas adalah pemanfaatan ragam bahasa untuk memperindah susunan kalimat. Majas digunakan untuk menghasilkan efek tertentu berupa kesan imajinatif bagi penyimak atau pembaca. Majas terdapat dalam bahasa tulis maupun lisan. Majas disebut juga dengan istilah gaya bahasa. Majas dalam bahasa Indonesia terdapat pada puisi, pantun, karya sastra, maupun karya tulis lainnya. Gaya bahasa yang baik dan menarik akan membuat pembaca atau pendengar lebih tertarik untuk membaca atau menyimak. Untuk itu, pengunaan majas yang baik berpengaruh terhadap menarik atau tidaknya suatu karya sastra atau karya tulis. Oleh karena itu, kemampuan penggunaan majas mutlak diperlukan.
Secara garis besar majas terbagi ke dalam empat kelompok diantaranya:
1. Majas Perbandingan
Majas perbandingan ialah kata-kata kiasan yang menyatakan suatu perbandingan. Dilihat dari cara perbandingannya majas ini terbagi atas:
a. Asosiasi atau Perumpamaan
Majas ini membandingkan dua hal yang secara hakikatnya berbeda, namun sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai dengan penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana. Berikut contoh majas asosiasi: (1) tekadnya keras bagai baja, (2) semangatnya bagaikan api membara, matanya tajam seperti silet, dan (3) mukanya cerah laksana bulan purnama.
b. Metafora
Majas ini memberikan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Penggunaan kata atau kelompok kata bukan arti sebenarnya, melainkan gambaran yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Berikut contoh majas metafora: (1) Andi adalah bintang kelas (artinya juara kelas), (2) dia tangan kananku (artinya orang kepercayaan), dan (3) Sindi dianak emaskan oleh ibunya (artinya anak kesayangan).
c. Personifikasi
Majas ini membandingkan benda-benda tak hidup seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Berikut contoh majas personifikasi: (1) daun melambai-lambai, (2) petir membangunkan tidurku, dan (3) tiupan angin menggelitik.
d. Alegori
Majas ini menyatakan perbandingan kiasan atau gambaran yang bertautan antara satu dan yang lainnya dalam kesatuan utuh. Berikut contoh majas alegori: (1) hidup manusia seperti air yang mengalir, tak dapat ditebak alirannya, kadang menemui kedalaman, kadang dangkal, dan akhirnya bermuara di laut.
e. Simbolik
Majas ini menggambarkan sesuatu dengan menggunakan benda, hewan, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang. Berikut contoh majas simbolik: (1) padi dan kapas lambang kemakmuran, (2) merah melambangkan keberanian, dan (3) rumah itu habis oleh si jago merah.
f. Metonimia
Majas ini menggunakan pengungkapan ciri atau label suatu benda untuk menggantikan benda tersebut. Pengungkapan tersebut berupa penggunaan nama atau benda lain yang menjadi merk, ciri khas, atau atribut. Berikut contoh majas metonimia: (1) sikat gigi selalu diolesi odol (pasta gigi), (2) saya membeli aqua (air mineral), dan (3) ayah suka minum kapal api (kopi).
g. Sinekdok
Majas ini menyebutkan sebagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas sinekdok terbagi dua, yakni pars pro toto (menyebutkan sebagian untuk keseluruhan) dan totem pro parte (menyebutkan keseluruhan untuk sebagian). Berikut contoh majas sinekdok pars pro toto: (1) hingga detik ini seujung rambut pun belum terlihat dan (2) tidak tampak seekor pun hari ini. Berikut contoh majas sinekdok totem pro parte: (1) pertandingan sepak bola antara Indonesia dan Myanmar dan (2) Indonesia akan memilih pemimpinnya hari ini.
h. Simile
Majas ini menggunakan pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti bagaikan, layaknya, umpama, bagai, ibarat, dan bak. Berikut contoh majas simile: (1) kau umpama sinar matahari yang menyinari seluruh alam, (2) bagai air dan minyak tak dapat bersatu, dan (3) ibarat kebun kamu adalah bunga nya.
2. Majas Pertentangan
Majas ini adalah majas kiasan yang menyatakan pertentangan dengan yang dimaksud sebenanya. Majas ini bermaksud untuk meningkatkan kesan dan pengaruh kepada pembaca atau pendengar. Majas pertentangan terdiri atas:
a. Antitesis
Majas ini menggunakan pasangan kata yang berlawanan arti. Berikut contoh majas antitesis: (1) susah senang tetap bersama, (2) miskin kaya semuanya perlu makan, dan (3) tua muda mengikuti acara tersebut.
b. Paradoks
Majas ini mengandung pertentangan antara peryataan dan fakta yang sebenarnya. Berikut contoh majas paradoks: (1) aku merasa sepi di tengah ramainya pasar ini, (2) aku kedinginan di bawah teriknya matahari, dan (3) hatiku sakit ketika menerima hadiah itu.
c. Hiperbola
Majas ini berupa pernyataan berlebihan dari kenyataan dengan maksud menambahkan kesan mendalam atau meminta perhatian. Berikut contoh majas hiperbola (1) ayah bekerja banting tulang, (2) ia berusaha sampai berkeringat darah, dan (3) Ika berlari sehingga kaki nya seperti mau lepas.
d. Litotes
Majas ini menyatakan sesuatu dengan cara berlawanan dari kenyataan dengan cara mengecilkan atau mengurai. Tujuan majas ini untuk merendahkan diri. Berikut contoh majas litotes: (1) usaha saya hanya bermodalkan kaki dan tangan saja, (2) saya berhasil karena semangat, dan (3) harga motorku hanya senilai dengan sekeping uang.
3. Majas Penegasan
Majas ini ialah kata-kata kiasan yang menyatakan penegasan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca. Majas penegasan terdiri atas:
a. Pleonasme
Majas ini menggunakan kata secara berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata. Berikut contoh majas pleonasme: (1) Buah itu jatuh terjun bebas dari atas pohon, (2) sampah itu terus hanyut terombang-ambing terbawa arus sungai, dan (3) mobil balap melesat maju dengan cepat.
b. Repetisi
Majas ini merupakan pengulangan kata sebagai bentuk penegasan. Berikut contoh majas repetisi: (1) kaulah hatiku, kaulah jiwaku, kau belahan hidupku, (2) dia berlari tanpa lelah, tanpa letih, terus melaju, dan (3) dia sosok yang rupawan, berwajah tenang, cantik jelita.
c. Paralelisme
Majas ini merupakan pengulangan yang biasanya terdapat pada puisi. Berikut contoh majas paralelisme:
rumah tempatku berpijak
rumah tempatku berlindung
rumah tempatku tuk berpulang
d. Tautologi
Majas ini mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Terkadang pengulangan itu menggunakan sinonim kata. Berikut contoh majas tautologi: (1) semoga jadi keluarga yang rukun, akur, dan sejahtera, (2) hidup harus hemat, cermat, dan bersahaja, dan (3) maaf, maaf, maafku bukan untukmu.
e. Klimaks
Majas ini menyatakan beberapa hal secara berturut-turut dan makin lama makin meningkat. Berikut contoh majas klimaks: (1) semua jenjang mulai SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dapat ikut serta dalam kegiatan ini, (2) baik anggota, pengurus, sampai ketua harus bekerja sama, dan (3) anak-anak, remaja, dan dewasa berhak mendapatkan pelayanan yang layak.
f. Antiklimaks
Majas ini menyatakan beberapa hal secara berturut-turut yang makin lama semakin menurun. Berikut contoh majas antiklimaks: (1) kota, kecamatan, hingga kelurahan seluruhnya merayakan kemerdekaan RI, (2) Ketua, sekretaris, dan bendahara menghadiri rapat di balai desa, dan (3) direktur, wakil direkur, beserta staff nya akan berlibur di Bali.
g. Retorik
Majas ini berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan sindiran, menggugah, dan penegasan. Berikut contoh majas retorik: (1) apakah kamu pantas menjadi seorang pemimpin? (2) kata siapa kamu boleh pulang? dan (3) apakah seperti ini orang yang selama ini kamu hormati?
4. Majas Sindiran
Majas ini adalah kata kiasan yang menyatakan sindiran untuk meningkatkan kesan dan pengaruh terhadap pendengar dan pembaca. Majas sindiran terdiri dari:
a. Ironi
Majas ini menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir. Berikut contoh majas ironi: (1) bagus sekali kamu datang terlambat, (2) hebat nilaimu lumayan buruk, dan (3) tulisanmu sungguh bagus, sampai-sampai tidak dapat terbaca.
b. Sinisme
Majas ini menyatakan sindiran secara langsung. Berikut contoh majas sinisme: (1) Ucapanmu itu tidak pantas, seperti orang yang kurang terpelajar, (2) aku kesal melihat sikapmu, dan (3) itu perilaku yang buruk, aku tak ingin dekat denganmu.
c. Sarkasme
Majas ini menggunakan sindiran yang paling kasar. Berikut contoh majas sarkasme: (1) telingaku pecah mendengar suaramu, (2) aku langsung mual setelah melihat mukamu, dan (3) tingkahmu tidak beda dengan kera.


EmoticonEmoticon