Tuesday, 17 January 2017

Mandiri Bersama Koperasi



 Mandiri Bersama Koperasi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha


mandiri bersama koperasi
Latar Belakang
Kehidupan manusia saat ini semakin dihadapkan dengan permasalahan yang kompleks. Keadaan ini menuntut setiap individu untuk mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi tanpa harus tergantung dengan orang lain. Salah satu aspek penting yang diperlukan adalah memiliki sikap mandiri.
Menurut Masrun (1986:8), “mandiri adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri, dan untuk kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari orang lain, maupun berfikir serta bertindak original atau kreatif, penuh inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri, dan memperoleh kepuasaan dari usahanya”. Sedangkan menurut Syahrul Basri (1995) “dalam arti psikologi, mandiri mempunyai pengertian sebagai kedaan seseorang dalam kehidupannya yang mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemampuan tersebut hanya akan diperoleh jika seseorang mampu untuk memikirkan secara seksama tentang sesuatu yang dikerjakan dan diputuskannya, baik dari segi manfaat atau kerugian yang akan dialaminya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, perkembangan sikap mandiri adalah satu hal yang penting dalam perkembangan anak remaja khususnya bagi mahasiswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Diding Nurdin (2009) bahwa, “mahasiswa memiliki peran sebagai pelopor yang unggul dan sebagai generasi penerus bangsa dimasa yang akan datang.” Karena itu mahasiswa harus memiliki sikap yang mandiri.
Koperasi adalah salah satu wadah yang dapat dimanfaatkan untuk melatih sikap mandiri. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoprasian Pasal 5 ayat 1 bagian e yang berisi bahwa, salah satu prinsip koperasi adalah kemandirian.
Karena itu penulis menyusun karya tulis dengan judul “Mandiri Bersama Koperasi”. Dalam karya tulis ini, penulis membahas tentang peran koperasi dalam menumbuhkan sikap mandiri khususnya dari sudut pandang penulis sebagai pengurus Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya.
Masalah yang Dihadapi
Sikap mandiri sudah selayaknya dimiliki oleh mahasiswa yang sebentar lagi menginjak usia dewasa. Namun kenyataannya, banyak sekali kendala dan hambatan yang dirasakan mahasiswa dalam membiasakan sikap mandiri, baik secara psikologi maupun ekonomi.
Penulis melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya dan dapat ditarik kesimpulan bahwa beberapa kendala dan hambatan yang dialami mahasiswa dalam membiasakan sikap mandiri, antara lain:
1.      Kurangnya pendidikan untuk menanamkan sikap mandiri.
2.      Terlalu nyaman berada di zona nyaman (comfort zone), sehingga kurangnya motivasi untuk menjadi mandiri.
3.      Kebingungan yang dialami kalangan mahasiswa karena belum memiliki tujuan dan rencana hidup yang jelas.
4.      Keterbatasan wadah untuk belajar dan memulai wirausaha.
Koperasi Sebagai Solusi
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Fungsi dan peran koperasi adalah sebagai berikut.
1.      Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2.      Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat dan manusia.
3.      Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.
4.      Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Keberhasilan koperasi mahasiswa adalah harapan bagi bangsa dalam kancah perkoperasian Indonesia. Hal ini disebabkan oleh sifat mahasiswa sebagai kaum muda yang berpendidikan, memiliki kreatifitas dinamis, dan diharapkan akan mampu memberi peranan aktif dalam membangun sumber daya koperasi.
Saat ini sedang digalakan pendidikan kewirausahaan baik di tingkat SMA sederajat maupun perguruan tinggi, hal ini sesuai dengan himbauan deputi menteri Negara Koperasi dan UKM dalam menjawab tantangan untuk menciptakan usaha barudi luar sektor pertanian. Hal ini menjadi keutuhan mutlak yang harus diwujudkan, dan diharapkan secara nasional dan global akan tercipta 20 juta unit usaha diluar sektor pertanian sesuai dengan konsep MDGs yang sudah disepakati bersama anggota APEC. Nantinya akan bermunculan para pengusaha muda yang akan berkiprah dengan perekonomian nasional dan intenasional.
Motivasi yang diberikan oleh Menteri Koperasi UKM RI Syarief Hasan kepada 2500 anggota koperasi mahasiswa (KOPMA) IAIN Walisongo Semarang dalam acara “Pendidikan 2500 Anggota Semangat Berkoperasi dan Wirausaha Dikalangan Mahasiswa Untuk Indonesia Mandiri”. Syarief Hasan mengajak mahasiswa agar berwirausaha. Menurutnya, kesadaran mahasiswa untuk berwirausaha sangat penting, sebab kesadaran itu akan berimbas baik terhadap kemajuan perekonomian Indonesia. “Saya senang bisa hadir di tengah-tengah mahasiswa yang memiliki jiwa muda untuk belajar berkoperasi dan mau berwirausaha,” tegasnya.
Ia menambahkan, kita harus mensosialisasikan bahwa salah satu usaha yang dapat mensejahterakan ialah dengan berkoperasi dan berwirausaha. Sehingga kesadaran mahasiswa dan masyarakat semakin tinggi tentang berwirausaha, maka Indonesia semakin maju dalam perekonomian.
Adanya motivasi tentang berwirausaha memunculkan keinginan bagi mahasiswa untuk berwirausaha dan mandiri. Kemudian akan muncul pembudayaan kewirausahaan untuk koperasi ditujukan kepada anggota dan para pengelola koperasi, dan diarahkan untuk meningkatkan wawasan bisnis, kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan, magang, studi banding, dan bimbingan konsultasi dan jika diperlukan dapat diberikan bantuan permodalan.
Menurut Jajah Koswara dalam Arry Rahmawan (2013) ada enam program atau wahana untuk menumbuhkan dan membina budaya kewirausahaan di kalangan mahasiswa, yaitu: (1) Kuliah Kewirausahaan secara Terstruktur; (2) Kuliah Kerja Nyata-Kuliah Kerja Usaha (KKN-KKU); (3) Klinik Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja; (4) Magang Kewirausahaan; (5) Karya Alternatif Mahasiswa; dan (6) Inkubator Wirausaha Baru.
Setelah adanya pendidikan kewirausahaan, motivasi dan keinginan serta program-program dalam koperasi, mahasiswa akan dapat mencari peluang untuk kemajuan bisnis yang akan dilaksanakannya. Sebagai akademisi, mahasiswa akan lebih kompeten dalam menangkap peluang. Contoh di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya banyak program-program kewirausahaan yang dapat di jadikan program untuk menjalankan usaha seperti PMW dan PKM-K, serta berbagai program bisnis plan lainnya. Dengan banyaknya ilmu dasar dan pengalaman di Koperasi, mahasiswa akan lebih siap dan berani dalam menagkap peluang.
Pengurus di dalam Koperasi bukan hanya sebagai organisatoris, namun mereka dapat merasakan bagaimana simulasi atau praktik langsung dalam berwirausaha, sehingga ketika mereka telah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya, mereka telah siap dan akan terbiasa serta mandiri karena banyak ilmu dasar baik itu dalam memangemen koperasi ataupun dalam berwirausaha.







DAFTAR PUSTAKA

Basri, S. (1995). Administrasi dan Efesiensi Kerja. Yogyakarta: PT Karyono.
Masrun. dkk. (1986). Studi Mengenai Kemandirian pada Penduduk dari Tiga Suku Bangsa (Jawa, Batak, Bugis). Yogyakarta: Laporan Penilitian Universitas Gajah Mada.
Nurdin, D. (2009). Mahasiswa Pemimpin Masa Depan. Bandung: Ilmu Cahaya Hati.
Rahmawan, A. (2013). Studentpreneur Guidebook. Jakarta: GagasMedia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoprasian.




EmoticonEmoticon