Friday, 13 May 2016

Pendekatan Matematika Realistik di Sekolah Dasar


Pendekatan Matematika Realistik di Sekolah Dasar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pendekatan matematika realistik di sekolah dasar

Pembelajaran matematika selama ini terlalu dianggap bahwa matematika merupakan alat yang siap pakai. Pandangan ini berpengaruh terhadap guru. Guru cenderung mengajarkan konsep, teori, dan cara menggunakan rumus saja. Hal ini mengakibatkan pada kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep matematika itu sendiri. Kadang kala siswa dapat menjawab soal dengan benar, namun tidak dapat mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. Siswa dapat menggunakan rumus, namun tidak mengatahui asal-usul darimana asal rumus tersebut dan mengapa rumus tersebut digunakan. Sejatinya rumus hanya sebuah cara untuk mempermudah penyelesaian suatu persoalan matematika. Dengan kata lain, siswa cenderung kurang memahami konsep dasar dibalik penggunaan rumus tersebut. Keadaan demikian terjadi karena pada proses pembelajaran, siswa kurang diberikan kesempatan untuk mencari, menggali, dan mengungkapkan gagasan-gagasan, sehingga siswa sulit memahami konsep dasar matematika yang sedang ia pelajari.
Paradigma pendidikan saat ini lebih menekankan pada siswa sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Melalui paradigma ini diharapkan siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat, dapat menerima pendapat dari orang lain, dan memiliki sikap percaya diri. Maka, pendekatan matematika realistik merupakan salah satu pendakatan dalam matematika yang sesuai dengan paradigma pendidikan saat ini. Pendekatan matematika realistik merubah paradigma dari mengajar menjadi belajar. Dengan demikian, siswa bukan diajarkan, tetapi difasilitasi untuk dapat belajar secara optimal.
Matematika realistik disajikan sebagai suatu proses bukan suatu produk. Artinya pada pendekatan ini siswa aktif berproses untuk mencari dan mengembangkan suatu konsep matematika. Bahan pelajaran disajikan melalui cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Untuk itu, pembelajaran dimulai dengan mengajukan masalah yang nyata bagi siswa sesuai dengan tingkat pengalaman dan pengetahuan siswa. Sehingga siswa terlibat dalam pembelajaran secara bermakna. Permasalahan yang diberikan bersesuaian dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Selanjutnya siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap permasalahan yang diajukan. Berdasarkan uraian tersebut, pendekatan matematika realistik berlangsung secara interaktif. Siswa mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengajukan gagasan, menyimak gagasan orang lain, dan mencari alternatif pemecahan masalah, serta melakukan refleksi terhadap setiap langkah proses yang ditempuh.
Terdapat dua macam tipe matematisasi dalam pendekatan matematika realistik, yakni: matematika horizontal dan matematika vertikal. Matematika horizontal merupakan proses pada tahap mengubah permasalahan sehari-hari menjadi persoalan matematika sehingga situasi nyata diubah ke dalam simbol-simbol matematika. Misal dalam pembelajaran bilangan bulat sebagai berikut:




        menjadi         3 Apel

   
                                                              



Matematika vertikal merupakan proses pada tahap penggunaan simbol, lambang, dan kaidah-kaidah matematika secara umum. Contohnya penggunaan angka 1,2,3,4,....  pada pembelajaran bilangan bulat.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan pemahaman konsep dasar matematika siswa. Keterkaitan pendekatan yang berkesinambungan membantu siswa untuk melatih kemampuan berpikir nyata dengan media yang digunakan dan tersedia di sekolah. Dengan, demikian siswa benar-benar memahami tentang apa yang diketahui, apa yang ditanya, bagaimana penyelesaian, dan bagaimana kesimpulan akhir dari persoalan matematika yang dipelajari.


EmoticonEmoticon