Sunday, 8 May 2016

Pendidikan Wiraswasta



Pendidikan Wiraswasta
Karya: Rizki Siddiq Nugraha 

pendidikan wiraswasta
 
A. Pendidikan Wiraswasta untuk Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan
Suatu fakta dalam masyarakat menunjukkan bahwa lapangan kerja semakin sempit sedangkan tenaga kerja tamatan pendidikan formal dari berbagai jenjang pendidikan semakin melimpah dan memperebutkan tempat di lapangan kerja, baik sebagai pegawai negeri sipil atau ABRI, pegawai swasta, buruh musiman, buruh harian, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan negara untuk menciptakan kesempatan kerja tidak sebanding dengan kenaikan jumlah tenaga kerja yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk. Tenaga baru yang tidak memperoleh pekerjaan akan memperbesar jumlah pengangguran. Masalah pengangguran ini banyak dihadapi oleh negara berkembang dan semakin lama semakin serius (Candra Wibowo Mukti, 2013).
Nais Stanaul Athiyah (2014) memaparkan masalah pengangguran dalam Bahasa Belanda memiliki tiga arti, yaitu:
1. Werkeloos
Bagi pensiunan pegawai negeri meskipun tanpa bekerja setiap bulannya dapat menerima uang pension bahkan juga mendapat kenaikan uang pension sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Werkloos
Bagi penduduk di daerah dingin, pada musim dingin mereka tidak perlu bekerja dan kebutuhan hidup sehari-hari telah mereka persiapkan pada hari-hari menjelang musim dingin datang.
3. Werklooze
Bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan, tetapi belum memperoleh pekerjaan.
Permasalahan pokoknya adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat dari mental “pencari kerja” menjadi “pencipta lapangan kerja”. Sesungguhnya, dari pengalaman sejarah dapat diketahui bahwa mental pencari kerja ini pun termasuk strategi kolonial Belanda untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa “pemohon kerja” yang selanjutnya menjadi bangsa yang senantiasa hidup dalam ketergantungan kepada sang penjajah. Selanjutnya para pekerja juga dilarang melakukan “kerja sambilan” (wiraswasta) di luar tugas pokoknya, termasuk istri dan keluarganya, dengan dalih bahwa perbuatan tersebut merendahkan citra pegawai negeri atau priyai yang sudah digaji cukup.
Untuk mengantisipasi semakin banyaknya penganggur yang tidak atau belum menemukan lapangan pekerjaan, perlu semakin dini memberikan pendidikan wiraswasta serta bekal-bekal keterampilan kepada para peserta didik, agar bila mereka tidak mampu melanjutkan studi atau belum/tidak menemukan lapangan pekerjaan mereka dapat mengatasinya dengan merintis lapangan kerja sesuai bidang keterampilannya yang disertai sikap mental wiraswasta yang berani/perkasa, ulet, tekun, aktif, kreatif, bermoral tinggi (religius), memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan, sehingga dapat mengurangi pengangguran serta mengentaskan kemiskinan anggota-anggota masyarakat lainnya.

B. Definisi Pendidikan Wiraswasta
“Istilah wiraswasta sering dipakai tumpang tindih dengan istilah wirausaha. Di dalam berbagau literatur dapat dilihat bahwa pengertian wiraswasta sama dengan wirausaha, demikian pula penggunaan istilah wiraswasta sama dengan wirausaha” (Asih Kurnia Dewi, 2013).
Wasty Soemanto (1984) dalam Rohadi Wicaksono (2007) membahas wiraswasta secara etimologis, “istilah wiraswasta berasal dari dua kata, yakni ‘wira’ yang berarti berani, utama, atau perkasa dan ‘swasta’ yang berarti berdiri sendiri”.
Intan Etika Dewi (2012) berpendapat bahwa “…wiraswasta adalah seseorang yang dapat mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan bentuk organisasi baku baru”.
Juwaini (2013) berpendapat bahwa wiraswasta adalah “…suatu proses dalam inovasi dan nilai-nilai yang diperlukan dalam dunia usaha atau bisnis untuk mencari, menciptakan, serta menerapkan cara kerja”.
Mochammad Taufiq (2013) berpendapat bahwa wiraswasta adalah “…pribadi seorang individu yang memiliki kemampuan sendiri berani mengambil keputusan untuk diri sendiri, menetapkan sasaran usaha, dan mempertimbangkan sendiri, mengambil risiko, serta mampu memanfaatkan peluang yang ada.
Intan Lestari (2013) berpendapat bahwa kewiraswastaan “ialah kemampuan dan kemauan dari seseorang untuk menginvestasikan dan mempertaruhka  waktu, uang, dan usaha untuk memulai suatu perusahaandan menjadikannya berhasil.
Hendro dalam Ary Gunawan (2000, hlm.29) menyatakan bahwa wiraswasta adalah pelaku utama dalam pembangunan ekonomi dan fungsinya adalah melakukan inovasi atau kombinasi-kombinasi yang baru untuk sebuah inovasi”.
Dengan demikian pengertian wiraswasta bukan hanya sekedar usaha swasta atau kerja sambilan diluar dinas/tugas negara, melainkan sikap hidup yang berani atau perkasa penuh tanggung jawab dan menghadapi resiko atas perbuatan yang dilakukannya secara ulet, tabah, dan tekun serta disiplin dalam usaha memajukan prestasi kekaryaan negara/swasta dengan bertumpu pada kekuatan diri sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa manusia wiraswsta selalu berkarya sendirian tanpa keikutsertaan orang atau pihak lain, ia tetap terbuka untuk bekerjasama dengan orang/pihak lain sebagai makhluk sosial.
Pengertian pendidikan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 Ayat 1 menyebutkan: “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. Jadi pendidikan wiraswasta merupakan usaha sadar menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespon setiap tantangan hidup dengan mengutamakan pada kekuatan sendiri, melalui kegiatan-kegiatan akademis, nonakademis, latihan, dan bimbingan.
Pengertian penganggur serta pengangguran telah dibicarakan di muka, dan yang perlu mendapat perhatian adalah penganggur atau mereka yang belum atau tidak mendapatkan pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhan kehidupannya sehari-hari (dengan keluarga). Jadi pengangguran adalah mereka atau warga masyarakat yang masih menganggur atau tidak bekerja.
Kemiskinan secara material berarti suatu status kehidupan dimana pemilikan materi konsumsi untuk kehidupan sehari-hari (beserta keluarganya) tidak memenuhi untuk taraf minimal kebutuhan pangan, sandang, dan papan.
Miskin non material atau spiritual adalah mereka yang memerlukam bantuan atau tuntunan rohani demi ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta stabilitas jiwanya dalam menatap kehidupan selanjutnya.
Dengan demikian makna keseluruhan wiraswasta adalah mengupayakan salah satu jalan keluar untuk mengurangi pengangguran, khususnya pengangguran jenis ketiga (werkloozen), dan anggota masyarakat bertaraf kehidupan dengan pemilikan yang serba minim/kekurangan secara material dan atau secara spiritual, dengan pemberian bekal pendidikan.
C. Tujuan Pendidikan Wiraswasta
1. Meningkatkatkan jumlah para wiraswasta yang berkualitas.
2. Mewujudkan kemampuan dan kemantapan para wiraswasta untuk menghasilkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
3. Memdudayakan semangat sikap, perilaku, dan kemampuan kewiraswastaan dikalangan pelajar dan masyarakat yang mampu, handal, dan unggul.
4. Menumbuh kembangkan kesadaran dan orientasi kewiraswastaan yang tangguh dan kuat terhadap para siswa dan masyarakat.
D. Sistem Operasional Pendidikan Wiraswasta
Entrepreneurship dianggap sebagai salah satu fungsi ekonomi karena dari semangat untuk berwiraswasta hingga menjadi wiraswasta baru kemudian menjadi wiraswasta yang sesungguhnya sangat terkait dengan kontribusinya terhadap pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat.
Wiraswasta adalah pelaku utama dalam pembangunan ekonomi dan fungsinya adalah melakukan inovasi atau kombinasi-kombinasi yang baru untuk sebuah inovasi”. (Hendro, 2011, hlm. 29).
Kalau kewiraswastaan itu merupakan sesuatu yang berproses, tentunya ada langkah-langkah strategis yang harus dimulai dari awal hingga menciptakan keberhasilan dalam bisnis. Lalu siapa yang akan menumbuhkan semangat berwiraswasta itu, apakah pemerintah, atau iklim usaha atau pun peluang-peluang yang menarik dibandingkan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan perusahaan dan sebagainya.
Hal inilah sepatutnya menjadi pemikiran kita bersama karena kita sangat menyadari bahwa lowongan untuk menjadi PNS, karyawan perusahaan BUMN, swasta sangatlah terbatas. Tiada jalan hidup mandiri dan berusaha sesuai kemampuan akan lebih realistik dari pada mengharapkan hujan di langit, air di tempayan ditumpahkan. “…memang penting untuk untuk meninggalkan pemikiran bahwa menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah segalanya dan pemikiran mereka berubah bahwa wiraswasta dapat mensukseskan dengan waktu lebih cepat” (Ika Wulandari, 2013).
Angka kemiskinan dan pengangguran semakin membengkak akibat krisis ekonomi yang membawa bangsa ini dalam keterpurukan dalam derajat hidup. Kita sadar betul bahwa bangsa ini sudah miskin. Riau memiliki angka yang fantastis 43,8 persen penduduknya miskin. Apapun yang kita lakukan untuk menyerap angkatan kerja yang demikian besar selalu sulit direalisir.
Terlepas dari apakah wiraswasta itu bawaan lahir atau bisa dipelajari, maka ada beberapa catatan penting yang menurut penulis perlu kita perhatikan, yakni memberikan pemahaman yang jelas tentang bagaimana pentingnya berwiraswasta itu, disamping menolong diri sendiri dapat membantu orang lain dalam menciptakan lapangan kerja baru dalam berbagai sektor.
Pendidikan wiraswasta pada dasarnya dilaksanakan guna menumbuhkan jiwa berwirauasaha pada para siswa dan para staf pengajar. Tumbuhnya pendidikan ini karena didorong oleh keinginan dan semangat untuk menghadapi persaingan global. Dimana setiap orang dituntut untuk mampu menampilkan keahlian-keahlian serta inovasi baru agar tidak kalah bersaing dengan negara lain.
Program Pengembangan kewiraswastaan diharapkan menjadi wahana yang sinergis antara penguasaan sains dan teknologi dengan jiwa kewiraswastaan. Serta dengan berkembangan pendidikan kewiraswastaan diharapkan seorang siswa tidak hanya akan berkembang nilai akademisnya saja. Akan tetapi juga akan memberikan kemandirian perekonomian dalam kewiraswastaan. Sebagai akibatnya akan memberikan kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan (peluang) dalam bisnis serta kemampuan mengoptimalisasikan sumber daya dan mengambil tindakan serta memiliki motivasi tinggi dalam mengambil resiko dalam rangka menyukseskan bisnisnya.
Minat siswa terhadap kewiraswastaan perlu diketahui oleh guru maupun siswa itu sendiri mengingat minat ini dapat mengarahkan siswa untuk melakukan pilihan dalam menentukan cita-citanya. Cita-cita merupakan perwujudan dari minat dalam hubungan dengan proses atau jangkauan masa depan bagi siswa untuk merencanakan dan menentukan pilihan terhadap pendidikan, jabatan atau pekerjaan yang diinginkan. Siswa yang berminat dalam berwirswasta cenderung memilih karir ke sektor swasta dan berwiraswasta. Dalam kaitan ilmu pengetahuan, siswa yang berminat dalam wiraswasta akan tertarik dengan pengetahuan atau ilmu yang berhubungan dengan minatnya tersebut.
Peranan sekolah atau peguruan tinggi adalah untuk memotivasi siswa agar setelah lulus mereka mampu menjadi seorang wiraswastawan muda yang berkualitas dan siap bersaing. ”Untuk memahami motivasi perlu untuk memahami berbagai jenis kebutuhan. Hal itu sejalan dengan teori hirarki kebutuhan (hierarchy of needs) dari Abraham Maslow, yang terdiri dari: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan terhadap harga diri, kebutuhan akan aktualisasi(Iskandar, 2009). Sehingga semakin banyak lulusan siswa atau mahasiswa dapat mengurangi pertambahan jumlah pengangguran bahkan menambah jumlah lapangan kerja. Akan tetapi sekarang pertanyaannya adalah apakah sekolah atau perguruan tinggi dapat melahirkan atau mencetak wiraswastawan muda? Oleh karena itu sekarang peranan sekolah dan perguruan tinggi memotivasi para lulusan sekolah atau sarjana menjadi seorang wiraswastawan muda untuk meningkatkan jumlah wiraswastawan serta diharapkan mampu membuka lowongan kerja baru.
Pendidikan kejuruan atau kewiraswastan khususnya yng berkenaan dengan bisnis, dapat dilakukan pada setiap jenjang pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai pada Perguruan Tinggi. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia masih kekurangan wiraswastawan. Hal ini masih dapat dipahami, karena kondisi pendidikan di Indonesia masih belum menunjang kebutuhan pembangunan pada sektor Ekonomi. Hal ini terbukti bahwa hampir seluruh sekolah masih didominasi oleh pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran yang konvensional. Semua terjadi karena institusi pendidikan dan masyarakat kurang mendukung pertumbuhan wiraswastawan.
Sekolah dan Perguruan Tinggi juga harus dapat memberikan motivasi bagi para lulusannya menjadi young entrepreneurs merupakan bagian salaah satu faktor pendorong pertumbuhan kewiraswastaan. Menurut Tomas Zimmeren dalam Kirschheimer, DW. (1989) ada delapan faktor pendorong pertumbuhan kewiraswastaan antara lain:
1.        Wiraswastawan Sebagai Pahlawan
       Faktor tersebut sangat mendorong setiap orang untuk mencoba mempunyai usaha sendiri karena adanya sikap masyarakat bahwa seorang wiraswastawan dianggap sebagai seorang pahlawan serta sebagai model untuk diikuti. Oleh kerena itu setatus ini akan mendorong seseorang untuk memulai usahanya sendiri.
2.        Pendidikan Kewiraswastaan
      Pendidikan wiraswastaan sangat diminati di Luar Negeri, karena masyarakat takut dengan berkurangnya berkurangnya kesempatan kerja yang tersedia sehingga mendorong mereka untuk belajar kewiraswastaan dengan tujuan setelah lulus mereka dapat membuka usaha sendiri.
3.        Faktor Ekonomi dan Kependudukan
      Sebagian besar orang memulai bisnis antara umur 25 tahun sampai dengan 39 tahun. Hal ini didukung oleh komposisi jumlah penduduk pada suatu negara. Terlebih lagi bahwa wiraswastawan tidak dibatasi oleh umur, jenis kelamin, ras, latar belakang ekonomi, atau apaun juga dalam pencapaian sukses dengan memiliki bisnis sendiri.
4.        Pergeseran ke Ekonomi Jasa
      Karena sektor jasa relatif rendah investasi awalnya sehinga menjadi populer dikalangan para usahawan dan mendorong mereka untuk mencoba memulai usaha sendiri pada bidang jasa.
5.        Kemajuan Teknologi
      Dengan bantuan mesin bisnis modern seperti komputer, laptop, notebook, mesin fax, mesin penjawab telepon, dll seseorang dapat bekerja dirumah layaknya bisnis besar. Apalagi sekarang semua mesin-mesin tersebut harganya berada jangkauan bisnis kecil.
6.        Gaya Hidup Bebas
    Seorang usahawan memiliki waktu luang dan kebebasan untuk keluarga dan teman. Memiliki banyak waktu senggang berarti memiliki waktu untuk mengendalikan stres yang berhubungan dengan masalah kerja.
7.        E-Commerce dan World-Wide-Web
    Perdagangan secara on-line tumbuh cepat sekali, sehingga menciptakan perdagangan dengan banyak kesempatan bagi para wirwusahawan berbasis internet atau website.
8.        Peluang Intenasional
     Dalam pencarian pelanggan, bisnis kecil kini tidak lagi dibatasi dalam ruang lingkup Negara sendiri. Pergeseran Ekonomi global yang dramatis telah membuka pintu peluang bisnis yang luar biasa bagi para usahawan yang bersedia menggapai seluruh dunia.
            Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa sekolah dan perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam memotivasi peserta didik agar mampu dan siap untuk berwira usaha sendiri. Oleh karena itu sekolah dan perguruan tinggi berperan menyediakan wadah yang memberikan kesempatan untuk memulai usaha yang dimulai sejak ia bersekolah hingga lulus. Serta memberikan wawasan serta gambaran secara jelas tentang manfaat berwiraswasta. Karena jika tidak, kemungkinan besar para siswa dan mahasiswa tidak termotivasi untuk memperdalam keterampilan berbisnisnya.
E. Sekolah Menengah Kejuruan Sebagai Pelopor Pendidikan Kewiraswastaan di Indonesia
            Pengembangan kewiraswastaan di SMK erat kaitannya dengan butir-butir reformasi pendidikan kejuruan. Salah satu butir reformasi tersebut adalah pergeseran dari penyiapan sektor formal menjadi sektor formal dan informal.  Pada masa lalu, pendidikan dan pelatihan yang berfokus pada sektor formal akan menuju ke pendidikan dan pelatihan untuk sektor formal dan informal. Kenyataan menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja pada sektor informal masih dominan, kurang tepat jika pendidikan kejuruan hanya mempersiapkan siswanya untuk bekerja pada sektor formal saja. Mulai saat ini pendidikan kejuruan harus menawarkan program dan layanan yang memberikan bekal bagi siswanya untuk dapat bekerja di sektor informal (Slamet,PH, 1999, hlm. 12-15). Oleh karena itu pendidikan kewiraswastaan perlu diberikan kepada sekolah kejuruan.
Pada era global sekarang, kewiraswastaan memiliki peranan yang sangat besar bagi setiap jenis dan jenjang sekolah, terutama sekolah yang meng-hasilkan tenaga kerja, seperti sekolah kejuruan. Kewiraswastaan bukan saja diperlukan untuk persiapan terjun dalam dunia usaha bisnis dan industri, namun jauh dari itu, kewiraswastaan diperlukan juga untuk membentuk jiwa/kepribadian yang tangguh, kreatif, inovatif, dan kecakapan yang diperlukan dalam kehidupan (life skills). Kecakapan hidup ini sangat  diperlukan oleh  siapa  saja  ditengah kompetisi hidup  yang  semakin  ketat  guna  memperoleh keunggulan kompetitif dalam rangka mem-pertahankan hidup.
Pentingnya kewiraswastaan dikuatkan dengan instruksi Presiden RI nomor 4 tahun 1995  yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat kepeloporan dikalangan generasi muda agar mampu menjadi wiraswastawan (Ating, 2000, hlm. 9).   Oleh karena itu, SMK yang tujuannya mencetak tenaga kerja harus benar-benar dapat menjadi pelopor dalam berwiraswasta dengan memberi bekal pengetahuan dan keterampilan berwiraswasta pada siswanya. Alasan lain pentingnya kewiraswastaan di SMK adalah mengingat keterbatasan   kebutuhan tenaga kerja di lapangan dan semakin banyaknya tamatan SMK, maka sangat perlu membekali jiwa kewiraswastaan sebelum siswa tamat  sehingga tamatan SMK dapat bekerja secara mandiri dengan berwiraswasta.
Direktorat Pembinaan SMK (DPSMK) menaruh perhatian besar terhadap penanaman kewiraswastaan di SMK. Hal ini tidak terlepas dari tujuan didirikannya SMK sebagai u paya menyiapkan lulusan yang siap memasuki pasar kerja (Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional)   termasuk menjadi wiraswastawan. Disamping itu besarnya potensi wiraswasta lulusan SMK belum sepenuhnya diakomodasi oleh sekolah dalam mendesain pembelajaran maupun iklim sekolah yang mampu memotivasi siswanya menjadi wiraswasta. Masih banyak SMK yang mengarahkan lulusannya hanya untuk bekerja sebagai karyawan di sektor formal.



DAFTAR PUSTAKA

Ating Tedjasutisna (2000). Kewiraswastaan SMK Tingkat 1, untuk Semua Bidang          Keahlian. Bandung : Armico.
Etika, I. A. (2012). Perbedaan Wirausaha dan Wiraswasta. [Online]. Diakses dari: inetika.blogspot.com/2012/09/perbedaan-wirausaha-dan-wiraswasta_26.html?m=1.
Gunawan, Ary.(2000).Sosiologi Pendidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta
Hendro. 2011. Dasar-Dasar Kewiraswastaan. Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Iskandar. (2012). Peran Motivasi Dalam Wiraswasta. [Online]. Diakses dari: http://blogpendidikan.com/2012/01/01/peran-motivasi-dalam-wiraswasta.
Kirshheimer, DW. (1989). Public Entrepreneurship and Sub-National Government, Polity, Nomor 22.
Juwaini (2013). Definisi Wiraswasta, Wirausaha, dan Kewirausahaan. [Online]. Diakses dari: masjuwaini1.blogspot.com/2013/10/defines-wiraswasta-wirausaha-dan.html?m=1.
Kurnia, A. D. (2013). Pengertian Wiraswasta dan Wiraswasta. [Online]. Diakses dari: asih-kd.blogspot.com/2013/10/pengertian-wiraswasta-dan-wiraswasta.html?m=1.
Lestari, I. (2013). Pengertian Kewiraswastaan, Wiraswasta, dan Wiraswastawan. [Online]. Diakses dari: intanlestari09.blogspot.com/2013/12/pengertian-kewiraswastaan-wiraswasta.html?m=1.
Slamet PH. (2002). Perencanaan dan Kebijakan  Pendidikan Teknologi dan           Kejuruan. Yogyakarta: PPs
Stanaul, N. A. (2014). Sosiologi Pendidikan. [Online]. Diakses dari: naisasyfie93.blogspot.com/2014/02/sosiologi-pendidikan.html?m=1.
Taufiq, M. (2013). Pengertian Wiraswasta dan Wirausaha. [Online]. Diakses dari: tambahinkam.blogspot.com/2013/08/pengertian-wiraswasta-dan-wirausaha.html?m=1.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional
Wibowo, C. M. (2013). Tingkat Pengangguran dan Lapangan Kerja yang Sempit. [Online]. Diakses dari: wmcandra.blogspot.com/2013/05/tingkat-pengangguran-dan-lapangan-kerja.html?m=1.
Wicaksono, R. (2007). Pengertian Wiraswasta. [Online]. Diakses dari: https://rohadieducation.wordpress.com/2007/09/01/pengertian-wiraswasta.
Wulandari, E. (2013). Mengatasi Pengangguran dengan Jiwa Wiraswasta. [Online]. Diakses dari: jurnalilmiahtp2013.blogspot.com/2013/12/mengatasi-pengangguran-dengan-jiwa.html?m=1.


EmoticonEmoticon