Friday, 27 May 2016

Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan



 Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sekolah sebagai pusat kebudayaan
A.    Makna Pendidikan dan Kebudayaan
1.  Makna Pendidikan
Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata pedagogi, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Sehingga istilah pedagogi dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak. Sedangkan pendidikan dalam bahasa Romawi berasal dari kata educare yaitu menuntun atau mengeluarkan.  Dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menuntun dan mengembangkan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia.
Pendidikan dalam arti luas dapat diartikan hidup (segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup). Pendidikan dalam arti sempit adalah proses interaksi antara pendidik dan peserta didik baik di keluarga, sekolah maupun di masyarakat. Dalam UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Adapun beberapa pengertian pendidikan menurut para ahli sebagai berikut:
a.       J.J.Rousseau, Pendidikan yaitu sebagai bekal atau pembekalan kita yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa. Dewasa dalam arti bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, pedagogis, dan sosiologi.
b.         John Dewey, Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
c.         Menurut Langeveld dalam Waini Rasyidin (2013, hlm. 26) “pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap pihak lain yang belum dewasa agar mencapai kedewasaan.” 
d.        Redja M. dalam Waini Rasyidin (2013 hlm. 28) bahwa “pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial.”
e.         Menurut H. Horne pendidikan adalah proses yang terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanisfestasi dalam alam intelektual, emosional, dan kemanusian dari manusia.
f.          Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, dengan tujuan supaya terbentuk kepribadian yang unggul.
g.         Afifuddin (2008, hlm. 241) berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha melestarikan, mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam berbagai aspek dan jenisnya kepada penerusnya.
Merujuk pada beberapa uraian tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap orang yang belum dewasa melalui berbagai upaya bimbingan dan pengajaran agar mencapai kedewasaan.

2.  Makna Kebudayaan
Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta  yaitu “buddhayah” bentuk jamak dari  kata buddhi yang artinya budi atau akal. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Dye tahun 1990 (Ruswandi H., 2006, hlm. 12) menjelaskan bahwa budaya adalah “cara-cara hidup yang biasa dilakukan oleh suatu masyarakat.”
Kebudayaan dalam arti luas adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Sedangkan kebudayaan dalam arti sempit dapat disebut dengan istilah budaya, yang mengandung pengertian keseluruhan sistem gagasan dan tindakan.
Adapun beberapa pengertian kebudayaan menurut para ahli sebagai berikut :
a.    E.B. Taylor (1871) mendefinisikan “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”(Ruswandi H., 2006, hlm. 11).
b.    Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagian yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. 
c.    Sultan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa kebudayaan merupakan manisfestasi dari cara berfikir.
d.   Menurut Selo Soemadjan dan soelaiman soemardi keduayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. 
e.    Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar serta keseluruhan dari hasil budi pekertinya. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan terdiri dari tujuh unsur universal, yaitu:
1)        Bahasa
2)        Sistem teknologi
3)        Sistem mata pencaharian
4)        Organisasi sosial
5)        Sistem pengetahuan
6)        Religi
7)        Kesenian
Merujuk pada uraian tersebut jadi kebudayaan adalah hasil karya, rasa, dan cipta manusia serta kebiasaan yang digunakan oleh manusia di dalam masyarakat.

3. Hubungan Kebudayaan dengan Pendidikan
Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut tetap terpelihara, (Hasan Langgulung). Maka sudah jelas bahwa pendidikan dan kebudayaan sangat erat sekali hubungan karena keduanya berkesinambungan, keduanya saling mendukung satu sama lainnya.
Adapun gagasan dasar pendidikan kaitannya dengan budaya menurut Nursid Sumaatmadja (1996) sebagai berikut:
a.       Manusia sebagai makhluk budaya memiliki potensi dasar akan pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan (dididik)
b.      Sebagai makhluk budaya, manusia memiliki sejumlah kebutuhan mental yang meliputi kebutuhan spiritual, sosial, emosional, pemahaman dan keeramampilan. Hal ini dapat terpenuhi melalui pendidikan.
Transfer nilai-nilai budaya paling efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam masyarakat modern proses pendidikan tersebut didasarkan pada program pendidikan secara formal.
Dikatakan dengan pendapat Hasan Langgulung bahwa pendidikan dalam hubungan dengan individu dan masyarakat, akan tetapi dapat dilihat bagaimana garis hubung antara pendidikan dan sumber daya manusia. Dari sudut pandangan individu pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi individu, sebaliknya dari sudut pandang kemasyarakatan pendidikan adalah sebagai pewarisan nilai-nilai budaya.
Berkat pengetahuan manusia dibantu memahami dirinya sendiri hubungannya dengan manusia lain, hubungannya dengan alam lingkungan hidupnya dan kaitan dengan kegiatan masyarakat lainnya. Jadi jelaslah eratnya hubungan antara pendidikan dan kebudayaan(Nugroho, N., 1983).
B. Sekolah Sebagai Fasilitas Pemenuhan Kebutuhan  Peserta Didik
1.  Sekolah
a.    Definisi Sekolah
Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang berarti : waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak ditengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni).
Sekolah adalah tempat didikan bagi anak anak. tujuan dari sekolah adalah mengajar tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa . Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau  murid di bawah pengawasan guru.
b.    Fungsi Sekolah
1)        Sekolah mempersiapkan seseorang untuk mendapat suatu pekerjaan
2)        Sekolah sebagai alat-alat transmisi kebudayaan
3)        Sekolah mengajarkan peranan sosial
4)        Sekolah sebagai penyedia tenaga pembangunan
5)        Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib
6)        Sekolah sebagai alat  integrasi sosial

2.      Kebutuhan Peserta Didik di Sekolah
Menurut Prof. Dr. Shafique Ali Khan, peserta didik adalah orang yang datang ke suatu lembaga untuk memperoleh atau mempelajari beberapa tipe pendidikan.
Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perku dikembangkan melalui pendidikan secara psikis dan fisik, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Kebutuhan peserta didik adalah sesuatu kebutuhan yang harus didapatkan oleh peserta didik untuk mencapai kedewasaan.
Menurut Abraham Maslow dalam U. Suherman (2000, hlm. 35), kebutuhan peserta didik di sekolah sebagai berikut :
a.       Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis  meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan ini wajib terpenuhi sebelum siswa dapat memenuhi yang lainnya. Dalam aspek ini yang harus diperhatikan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi para siswa, ketersediaan fasilitas sekolah dan pakaian yang layak.
b.      Keamanan Dan Keselamatan
Kebutuhan keamanan dan keselamatan tidak kalah penting dengan kebutuhan fisologis. Selain keamanan dan keselamatan jasmani, keamanan dan keselamatan mental siswa juga penting. Guru dapat berperan serta dalam hal ini dengan menunjukkan penerimaan terhadap siswanya dan bersikap adil terhadap semua murid.
c.       Keterlibatan Sosial
keterlibatan sosial yang sejatinya terpenuhi jika metode active learning diterapkan. Guru dapat mendukung hal ini dengan menampilkan kepribadian empatik, peduli, sabar dan terbuka pada setiap murid. Mulai langkah ini dengan menjadi pendengar sekaligus pengamat yang baik atas kondisi, potensi, dan minat murid.
d.      Penghargaan
Jika penghargaan diberikan secara tepat, pengahargaan dapat memacu murid untuk belajar lebih giat. Namun, penghargaan umumnya hanya diberikan pada masa pembagian rapor atau perlombaan. Penghargaan bisa dimaknai lebih luas dan sederhana seperti memberikan pujian kepada siswa yang melakukan achievement “kecil” dan rutin di kegiatan sehari-hari seperi menjawab pertanyaan atau menjaga kebersihan kelas. Kita juga bisa membuat terobosan dengan menerapkan “Student of the Month” sebagai penghargaan kepada murid-murid yang menunjukkan performa baik perbulannya. Kreativitas dan kebijaksanaan guru berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan ini.
e.       Aktualisasi Diri
Siswa perlu diberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan terbaiknya. Guru dapat beperan dengan menciptakan kondisi yang mendukung. Memberikan tantangan yang lebih besar, seperti menantang siswa untuk membuat suatu gagasan kontributif pada sekitar adalah salah satu contohnya.
Selain Kebutuhan yang dipaparkan oleh Abraham Maslow, adapun kebutuhan lain yang dibutuhkan peserta didik seperti:
a.    Membaca
b.    Menulis
c.    Menghitung
d.   Mendapat wawasan
e.    Menyalurkan Potensi dan lain-lain.
Untuk  memenuhi kebutuhan tersebut, Sekolah harus menyediakan sarana prasarana yang memadai. Sarana prasarana tersebut meliputi :
a.    Ruang Belajar
Ruang belajar adalah suatu ruangan tempat kegiatan belajar mengajar dilangsungkan. Ruang belajar terdiri dari beberapa jenis sesuai fungsinya yaitu:
1)      Ruang kelas atau ruang Tatap Muka, ruang ini berfungsi sebagai ruangan tempat siswa menerima pelajaran melalui proses interaktif antara peserta didik dengan pendidik, ruang belajar terdiri dari berbagai ukuran, dan fungsi.Sistem kelas terbagi 2 jenis yaitu kelas berpindah (moving class) dan kelas tetap.
2)      Ruang Praktik/Laboratorium ruang yang berfungsi sebagai ruang tempat peserta didik menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan keahlian melalui praktik, latihan, penelitian, percobaan. Ruang ini mempunyai kekhususan dan diberi nama sesuai kekhususannya tersebut, diantaranya:
Laboratorium Fisika/Kimia/Biologi,
Laboratorium bahasa,
Laboratorium komputer,
Ruang keterampilan, dll
b.      Ruang Kantor
Ruang kantor adalah suatu tempat dimana tenaga kependidikan melakukan proses administrasi sekolah tersebut, pada institusi yang lebih besar ruang kantor merupakan sebuah gedung yang terpisah.
c.       Perpustakaan
Sebagai satu institusi yang bergerak dalam bidang keilmuan, maka keberadaan perpustakaan sangat penting. Perpustakaan merupakan tempat peserta didik mencari sumber informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
d.      Halaman atau Lapangan
Lapangan merupakan area umum yang mempunyai berbagai fungsi diantaranya tempat upacara, tempat olahraga, tempat kegiatan luar ruangan, tempat latihan, dan tempat bermain/beristirahat.
e.       Lain-lain (Kantin, Ruang organisasi peserta didik (OSIS, Pramuka, dll), Ruang Komite, Ruang keamanan, serta Ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS)
Selain sarana prasarana, adapun kegiatan di Sekolah yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan peserta didik. Kegiatan tersebut antara lain:
a.       Kegiatan Intrakurikuler
Kegiatan Intrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah yang sudah teratur, jelas. dan terjadwal dengan sistematik yang merupakan program utama dalam proses mendidik siswa.
Contohnya: di tiap sekolah umum pasti ada kegiatan mendidik siswa dengan berbagai mata pelajaran seperti Matematika, PKN, Agama, dan lain sebagainya yang dilaksanakan misalkan pukul 07.00-13.00 dengan ada jeda waktu atau istirahat 2 kali.
b.      Kegiatan Kokurikuler
Kegiatan Kokurikuler adalah kegiatan yang sangat erat sekali dan menunjang serta membantu kegiatan intrakurikuler biasanya dilaksanakan diluar jadwal intrakurikuler dengan maksud agar siswa lebih memahami dan memperdalam materi yang ada di intrakurikuler, biasanya kegiatan ini berupa penugasan atau pekerjaan rumah ataupun tindakan lainnya yang berhubungan dengan materi intrakurikuler yang harus diselesaikan oleh siswa.
Dalam melaksanakan kegiatan kokurikuler, adal hal-hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
1)        Dalam memberikan tugas kokurikuler hendaknya jelas dan sesuai dengan pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang sedang diajarkan.
2)        Dalam memberikan tugas kokurikuler seorang guru hendaknya tahu mengenai tingkat kesulitannya bagi siswa sehingga tugas yang diberikan kepada siswa itu sesuai dengan kemampuannya dan tidak memberatkan baik pada fisiknya maupun psikisnya.
3)        Dalam penilaian tugas kokurikuler, hendaknya jelas dan adil sesuai dengan hasil masing-masing kemampuan siswanya.
4)        Dalam fungsi memberikan tugas kokurikuler, hendaknya selain untuk memperdalam pengetahuan siswa, guru juga hendaknya dengan tugas kokurikuler ini bisa membantu dalam penentuan nilai raport.
c.       Kegiatan Ekstrakurikuler
 Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan diluar jam pelajaran biasa (diluar intrakurikuler), dan kebanyakan materinya pun di luar materi intrakurikuler, yang berfungsi utamanya untuk menyalurkan /mengembangkan kemampuan siswa sesuai dengan minat dan bakatnya, memperluas pengetahuan, belajar bersosilisasi, menambah keterampilan, mengisi waktu luang, dan lain sebagainya, bisa dilaksanakan di sekolah ataupun kadang-kadang bisa di luar sekolah.
Dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler ini, ada hal-hal yang harus diperhatikan, supaya kegiatan ini berlangsung dengan baik, diantaranya:
1)        Dalam pelaksanaan kegiatannya, hendaknya bisa bermanfaat bagi siswa, baik buat masa kini maupun masa yang akan datang.
2)        Dalam pelaksanaan kegiatannya, hendaknya tidak membebani bagi siswa.
3)        Dalam jenis kegiatannya hendaknya bisa memanfaatkan lingkungan sekitar, alam, industri, dan dunia usaha,
4)        Dalam pelaksanaannya tidak mengganggu kegiatan yang utama, yakni kegiatan intrakurikuler.


DAFTAR PUSTAKA

Adhi. (2014). Pengertian dan Fungsi Pendidikan Menurut Para Ahli.  [Online]. Diakses dari: http://dbagus.com/pengertian-dan-fungsi-pendidikan-menurut-para-ahli.
Afifudin, dkk. (2008). Spektrum Pendidikan Islam. Bandung: Azkia Pustaka Utama.
Amalia, Syifa. (2012). Definisi Budaya. [Online]. Diakses dari: https//syifaamalia22.wordpress.com/2012/04/15/definisi-budaya/.
Guraru. (2011). Pemenuhan Kebutuhan Murid untuk Optimalisasi Pendidikan. [Online]. Diakses dari: https://edukasimedia.wordpress.com/2011/07/15/  definisi-sekolah/.
Hadi, Syamsul. (2010). Hubungan Kebudayaan dengan Pendidikan. [Online]. Diakses dari: http://hadirukiyah.blogspot.com/2010/07/hubungan-kebudayaan-dengan-pendidikan.html.
Haryanto. (2012). Pengertian Menurut Para Ahli. [Online]. Diakses dari: http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-menurut-ahli/.
Hermawan, R., dan Ruskandi, K. (2006). Perspektif Sosial Budaya. Bandung: UPI PRESS.
Hudri, Said. (2013). Fungsi-Fungsi Sekolah. [Online]. Diakses dari: http://expresisastra.blogspot.com/2013/10/Fungsi-fungsi-Sekolah.html)
Nugroho, N. (1983). Analisis Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Purnomo. (2012). Makalah Peserta Didik. [Online]. Diakses dari: http:// maspurnomodrespector.blogspot.com/.
Prianto, Jimmy. 2014. Pengertian Kebudayaan. [Online]. Diakses dari: http://jimmyprianto.blogspot.com/2014/01/pengertian-kebudayaan.html.
Rasyidin, W., dkk. (2013). Landasan Pendidikan. Bandung: Sub Koordinator MKDP Landasan Pendidikan, Jurusan Pedagogik FIP UPI.
Saeful, Encep. (2012). Pengertian Kurikulum dan Jenis Kegiatan. [Online]. Diakses dari: http://sawfadise.blogspot.com/2012/07/pengertian-kurikulum-dan-jenis-kegiatan.html.
Sahaja, Irwan. (2014). Makalah Peserta Didik Sebagai Faktor Pendidikan. http://irwansahaja.blogspot.com./2014/08/makalah-peserta-didik-sebagai-faktor.html.
Sanseleaf. (2012). Pengertian Kebudayaan Menurut Para Ahli. [Online]. Diakses dari: http://senseleaf.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli.html.
Setiawan, Dadang. Murid dan Peserta Didik. [Online]. Diakses dari: https://dadangsetaone.wordpress.com/urid-siswa-dan-peserta-didik/.
Suherman, U. (2000). Memahami Karakteristik Individu. Bandung: Publikasi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Yulio, Agham. (2012). Pengertian Kebudayaan dan Wujud Kebudayaan. [Online]. Diakses dari: http:/aghamisme.blogspot.com/2012/10/pengertian-kebudayaan-dan-wujud.html.


EmoticonEmoticon