Monday, 16 January 2017

Tahapan Umum Pembelajaran



 Tahapan Umum Pembelajaran
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
tahapan umum pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kemajuan negara di bidang pendidikan sangat ditunjang oleh banyak hal. Mulai dari birokrasi dan sistem yang diberlakukan, tujuan pendidikan yang menjadi tuntutan, hingga guru sebagai ujung tombak pendidikan yang secara langsung berhadapan atau berinteraksi dengan objek pendidikan yaitu anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Untuk mengikuti perkembangan jaman yang menuntut kemajuan diperlukan berbagai inovasi dalam pelaksanaan pendidikan yang ditunjang oleh teori sebagai acuannya. Untuk dapat melaksanakan inovasi tersebut diperlukan pemahaman yang baik dari guru mengenai hakikat dari apa yang akan dipraktikannya sebelum dapat mempraktikkan hal tersebut kepada siswa. Pembelajaran mikro atau micro teaching sebagai salah satu komponen yang harus dikuasai guru sangat mengutamakan keseimbangan pemahaman guru secara teoritis dan praktis. Dalam komponen ini dipelajari cara untuk melakukan tahapan-tahapan atau prosedur pelaksanaan pembelajaran mikro. Penguasaan prosedur pembelajaran mikro nyatanya tidak hanya dibutuhkan oleh guru saja, tetapi juga dibutuhkan oleh mahasiswa yang belajar di institusi keguruan sebagai persiapan sebelum menjadi seorang guru yang mengajar di kelas. Maka dari itu, disusunlah makalah ini untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman mahasiswa khususnya dalam hal prosedur pembelajaran mikro.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini sebagai berikut:
1.    Bagaimana tahap pembukaan dalam pembelajaran?
2.    Bagaimana tahap inti dalam pembelajaran?
3.    Bagaimana tahap penutup dalam pembelajaran?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pembelajaran Mikro. Selain itu juga bertujuan agar dapat mengetahui mengenai :
1. Tahap pembukaan dalam pembelajaran.
2. Tahap inti dalam pembelajaran.
3. Tahap penutup dalam pembelajaran.

D.    Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis, belajar menyusun makalah dan lebih mengetahui tentang tahapan umum pembelajaran.
2. Bagi kalangan akademik, diharapkan penyusunan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan studi perbandingan serta sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
3. Bagi kalangan umum, diharapkan penyusunan makalah ini nantinya dapat bermanfaat dan dapat dipertimbangkan pengembangannya.

E.     Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah studi pustaka dengan menggunakan beberapa sumber buku dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kegiatan Pembukaan Pembelajaran
1.   Pengertian
Kegiatan pembukaan atau disebut juga dengan kegiatan pendahuluan, adalah suatu upaya untuk menciptakan suasana atau kondisi siap belajar sebelum memasuki tahap kegiatan inti pembelajaran. Kegiatan pembukaan dalam pembelajaran diklasifikasikan kedalam tahap pra-instructional. Akan tetapi walaupun digolongkan kedalam pra-instructional, sebenarnya sudah merupakan bagian integral dari pembelajaran itu sendiri. Fungsi utama kegiatan awal (pra-instructional), adalah untuk menciptakan kondisi siap belajar baik secara fisik , mental, emosional dan bahkan sosial siswa. Dengan telah memiliki kesiapan yang baik sejak awal, maka akan menjadi modal dasar yang sangat berharga bagi siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran pada tahap berikutnya, yaitu pada kegiatan inti pembelajaran.
Secara umum tahapan kegiatan pembelajaran itu digolongkan kedalam tiga bagian utama, yaitu pembukaan (pendahuluan), kegiatan inti dan kegiatan penutup. Untuk lebih jelasnya tahapan pembelajaran tersebut coba perhatikan bagan berikut ini:
Tahapan Umum Kegiatan Pembelajaran


 




Bagan diatas menggambarkan bahwa tahap pertama dari kegiatan pembelajaran adalah “Pembukaan”. Menurut Soli Abimanyu (1984, hlm. 12), yang dimaksud dengan pembukaan pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan membuka dalam pembelajaran, pada hakikatnya merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana atau kondisi awal sebelum memasuki tahap kegiatan inti pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran yang dilakukan pada kegiatan selanjutnya (inti), sangat ditentukan oleh kondisi awal yang dilakukan sebelumnya. Motivasi, perhatian, dan aktivitas siswa pada kegiatan inti, banyak dipengaruhi oleh sejauhmana siswa sejak awal atau melalui kegiatan pembukaan yang dilakukan telah memiliki kejelasan tujuan yang harus dicapai , manfaat materi yang akan dipelajari, proses yang harus dilakukan , dan informasi lain yang diterima diawal pembelajaran.
Waktu pembelajaran sangat singkat, satu jam pembelajaran berkisar antara 40 s.d 45 menit. Oleh karena itu, efisiensi waktu dalam kegiatan pembukaan harus diperhatikan, untuk pembukaan biasanya hanya sekitar 5 menit. Bagaimana dengan waktu yang relatif singkat itu dapat dimanfaatkan secara optimal, yaitu siswa telah memiliki kejelasan tujuan yang harus dicapai, manfaat dari materi atau aktivitas yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran tersebut, dan informasi-informasi penting lainnya yang diharapkan akan menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan inti pembelajaran dengan baik.
Sekilas nampaknya kegiatan membuka pembelajaran dianggap cukup sederhana, guru masuk ke kelas, menyampaikan salam dan terus dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran. Padahal jika memperhatikan kembali hakikat membuka pembelajaran seperti yang telah diuraikan sebelumnya, ternyata kegiatan membuka tidak sesederhana yang diperkirakan. Oleh karena itu, kegiatan membuka dalam pembelajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pembelajaran secara keseluruhan, dan oleh karena itu keterampilan membuka pembelajaran perlu dilatihkan, sehingga diperoleh kemampuan yang profesional.
Bagi calon guru maupun para guru yang berlatih meningkatkan keterampilan mengajar melalui pembelajaran mikro, walaupun yang dilatihkan hanya unsur-unsur tertentu sesuai dengan karakteristik pembelajaran mikro, dalam prosesnya tetap menempuh ketiga tahapan umum pembelajaran diatas, yaitu dimulai dari pembukaan, kegiatan inti, dan dilanjutkan dengan kegiatan penutup.
2.   Unsur-unsur Kegiatan Membuka Pembelajaran
Diawal sudah dijelaskan bahwa kegiatan “Pembukaan Pembelajaran” merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran itu sendiri. Kegiatan pembukaan pada intinya yaitu untuk “menciptakan kondisi siap” bagi siswa (fisik, mental, emosional maupun sosial) untuk mengikuti pembelajaran.
Berikut merupakan jenis-jenis kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan kondisi siap itu (pembukaan) dalam pembelajaran.
a.    Mengkondisikan pembelajaran (conditioning)
1)   Menumbuhkan perhatian dan motivasi
Perhatian dan motivasi memiliki ikatan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Pada intinya perhatian adalah kemampuan untuk memusatkan energi psikis (pikiran dan perasaan) kepada suatu objek yang akan dipelajari. Makin terpusat perhatian seorang siswa pada materi pembelajaran, akan semakin baik proses dan hasil pembelajaran dicapai.
Motivasi merupakan suatu energi atau kekuatan penggerak (motor) pada diri setiap individu yang memprakarsai aktivitas, mengatur arah aktivitas dan memelihara kesungguhan beraktivitas.
Tinggi dan rendahnya motivasi seorang siswa memiliki hubungan yang erat dengan tingkat perhatiannya. Contoh: Bila seorang siswa menaruh perhatian yang tinggi kepada materi pecahan dalam matematika, karena merasa dibutuhkan dan terkait dengan kehidupan nyata dalam sehari-hari, maka ia akan berusaha melakukan berbagai aktivitas belajar (motivasi) untuk menguasai materi pecahan itu.
Dari contoh diatas, bagaimana terlebih dahulu siswa menaruh perhatian kepada suatu objek, karena objek itu menarik dan dibutuhkan oleh dirinya, sehingga akhirnya muncul dorongan (motivasi) untuk beraktivitas belajar. Oleh karena itu implikasi bagi guru, untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi tersebut, antara lain bagaimana meyakinkan kepada siswa bahwa materi yang akan dipelajari memiliki kegunaan dan akan sangat dibutuhkan oleh siswa, baik pada saat ini maupun dimasa yang akan datang.
2)   Menciptakan sikap yang mendidik
Pembelajaran merupakan bagian dari proses pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan proses pendewasaan manusia. Oleh karena itu melalui kegiatan pembelajaran, selain upaya untuk merubah perilaku siswa baik pengetahuan, sikap maupun keterampilan, juga harus dimaksudkan dalam kerangka mencapai tujuan yang lebih luas yaitu tujuan pendidikan itu sendiri. Dengan demikian sejak awal pembelajaran dimulai, unsur-unsur pendidikan harus ditanamkan kepada siswa, dalam hal ini menanamkan nilai-nilai yang perlu dimiliki oleh siswa. Misalnya bagaimana sebelum belajar dimulai terlebih dahulu siswa dibiasakan untuk berdo’a, mentaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh pihak sekolah, disiplin, jujur, dan nilai-nilai lain yang perlu dimiliki oleh siswa.
3)   Menciptakan kesiapan belajar siswa
Efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan siswa belajar. Kesiapan (readiness) pada dasarnya adalah gambaran kondisi individu siswa yang memungkinkan siswa tersebut dapat belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesiapan seseorang individu antara lain: kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi atau kecerdesan, pengalaman yang dimiliki, hasil belajar yang telah diraih dan faktor-faktor lainnya.
Pada saat mengawali pembelajaran guru harus memiliki keyakinan bahwa siswanya telah memiliki kesiapan untuk belajar. Untuk mengetahui tingkat kesiapan siswa, idealnya memang terlebih dahulu harus dilakukan pengetesan kesiapannya, sebab adakalanya individu yang memiliki tingkat kecerdesan realtif sama, mungkin memiliki pola kemampuan mental yang berbeda, sehingga memiliki tingkat kesiapan yang berbeda pula. Tapi itu rumit dan tidak akan cukup dengan waktu pembukaan yang realtif singkat. Paling tidak guru dapat memahaminya dari reaksi secara spontan yang ditunjukkan siswa pada saat mengawali pembelajaran.
4)   Menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis
Suasana kelas yang tegang, menakutkan, takut serba salah dan situasi-situasi yang mencengkram, tidak kondusif untuk pembelajaran bahkan tidak mendidik bagi siswa. Oleh karena itu sejak awal pembelajaran suasana kelas harus diciptakan yang dapat memungkinkan siswa merasa senang, aman, bebas, merasa dihargai, dan kondisi pembelajaran yang positif lainnya. Itulah salah satu inti dari pembelajaran demokratis.
Dengan kata lain pembelajaran demokratis adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan kesamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman peserta didik (siswa).
b.    Melaksanakan kegiatan apersepsi
1)   Mengecek kehadiran siswa
Salah satu kegiatan apersepsi yaitu dengan mengecek kehadiran siswa, yang dilakukan pada saat akan memulai pembelajaran. Fungsi kegiatan mengecek kehadiran siswa, selain sebagai salah satu bentuk untuk mengkondisikan awal pembelajaran, juga untuk menegakkan disiplin. Belajar adalah proses aktivitas, siswa akan efektif belajar jika secara langsung (fisik) mengikuti pembelajaran. Proses belajar siswa dilakukan melalui alat indera yang dimilikinya antara lain yaitu melalui pendengaran (auditif), penglihatan (visual), taktil (perabaan) dan kinestetik yang bersifat keterampilan.
2)   Mengecek pemahaman siswa
Salah satu bentuk kegiatan apersepsi lainnya yaitu melalui pengecekan terhadap pemahaman siswa berkenaan dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya, dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari. Salah satu pengecekan terhadap pemahaman siswa ini, yaitu untuk mengetahui sejauhmana materi yang telah dipelajari dikuasai oleh siswa. Dari hasil pengecekan ini akan bermanfaat sebagai masukan bagi guru dalam kegiatan tindak lanjut pembelajaran. Andaikata dari hasil pengecekan itu hampir sebagian siswa belum menguasainya, maka kemungkinan dilakukan pengulangan terlebih dahulu terhadap materi yang belum dikuasainya sebelum melangkah pada materi baru.
Pengecekan terhadap tingkat pemahaman siswa bukan hanya terhadap materi yang sudah dipelajarinya, akan tetapi bisa dilakukan untuk mengecek terhadap materi yang akan diberikan. Dalam istilah pembelajaran tes yang diberikan terhadap materi yang akan diberikan disebut dengan pre-test, yaitu tes yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana siswa telah memiliki pemahaman terhadap materi yang akan diberikan.
Menurut teori konstruktivisme, siswa telah dibekali dengan berbagai pengalaman yang diperoleh dari berbagai aktivitas dan kegiatan belajar yang dilakukannya. Oleh karena itu menurut konstruktivisme, siswa datang ke sekolahtidak dalam keadaan hampa. Dengan demikian tugas guru adalah mengkonstruksi terhadap pengalaman yang dimilikinya itu, salah satu diantaranya yaitu dengan cara memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, merespon terhadap materi yang akan diberikan.
3)   Menyampaikan tujuan/kompetensi
Sejak awal atau pada saat akan memulai pembelajaran, terlebih dahulu siswa harus memiliki kejelasan terhadap tujuan atau kompetensi yang harus dicapai dari kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya. Kejelasan tujuan atau kompetensi yang disampaikan bukan hanya keterkaitan dengan materi pembelajaran saja, melainkan lebih luas lagi yaitu manfaat apa yang akan didapat siswa. Oleh karena itu yakinkan kepada siswa bahwa tujuan atau kompetensi tersebut diperlukan bagi siswa baik untuk masa kini maupun bagi masa yang akan datang terkait dengan tugas hidup dan kehidupan yang akan dihadapinya.
4)   Menjelaskan kegiatan-kegiatan (pengalaman) pembelajaran yang harus dilakukan
Setelah tujuan atau kompetensi pembelajaran yang akan dicapai jelas dipahami oleh siswa, dalam awal pembelajaran siswa pun harus diarahkan bagaimana kegiatan pembelajaran yang harus dilakukannya untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya apakah melalui diskusi, membaca secara analisis, melakukan percobaan, simulasi dan mendemonstrasikan, memecahkan masalah, observasi dilapangan, mengamati dan lain sebagainya.
Setiap jenis kegiatan atau pengalaman belajar yang akan dilakukan tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan, karakteristik materi maupun ketersediaan sarana dan fasilitas pendukung pembelajaran. Keuntungan memberitahukan jenis kegiatan yang akan dilakukan, sejak awal pembelajaran siswa sudah mempunyai bayangan dan mempersiapkan diri apa yang harus dilakukan dalam kegiatan pembelajaran tersebut.
Dalam membuka pembelajaran, tidak berarti setiap unsur dalam kegiatan membuka pembelajaran diatas itu mesti dilakukan secara bersamaan pada saat kegiatan membuka pembelajaran. Unsur-unsur yang tercakup dalam kegiatan membuka pembelajaran tersebut bersifat pilihan, dimana boleh memilih jenis kegiatan apa yang cocok dilakukan disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat pembelajaran akan berlangsung. Boleh jadi dan sangat diharapkan secara kreatif dan inovatif dapat memunculkan jenis kegiatan yang lain yang dianggap lebih efektif untuk menciptakan kondisi awal pembelajaran.

B.     Kegiatan Inti Pembelajaran
1.   Pengertian
Kegiatan inti pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan pokok siswa untuk mempelajari materi yang telah direncanakan. Pembelajaran adalah proses interaksi, yaitu interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran termasuk didalamnya materi pembelajaran. Dengan demikian kegiatan inti pembelajaran dengan kata lain adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi pembelajaran yang telah direncanakan.
Dalam aspek pembelajaran, guru merupakan bagian dari lingkungan pembelajaran. Oleh karena itu tugas guru dalam kegiatan inti pembelajaran terutama adalah bagaimana memfasilitasi kegiatan belajar siswa untuk terjadinya proses pembelajaran. Sebagai fasilitator pembelajaran, guru dalam melakukan kegiatan inti pembelajaran tidak mendominasi kegiatan pembelajaran, melainkan bagaimana guru memfungsikan dirinya sebagai motivator untuk membangun aktivitas belajar siswa.
2.   Unsur-unsur Kegiatan Inti Pembelajaran
Dalam peraturan pemerintah (PP No. 19 Tahun 2005) tentang standar nasional pendidikan dinyatakan “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif, serta memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik” (Bab IV Pasal 19 ayat 1).
Jika disimpulkan bunyi pernyataan pasal diatas, bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran harus mencerminkan delapan unsur pokok:
a.       Interaktif, yaitu proses komunikasi pembelajaran harus dijalin melalui hubungan secara interaktif. Dari guru ke siswa, siswa ke guru, siswa dengan siswa maupun siswa dengan sumber pembelajaran lain yang lebih luas.
b.        Inspiratif, yaitu melalui pembelajaran yang dilakukan harus mendorong siswa secara aktif, inovatif menemukan gagasan baru yang bisa diterapkan dalam memecahkan permasalahan dan bermanfaat bagi kehidupan siswa baik dimasa kini maupun dimasa yang akan datang.
c.         Menyenangkan, yaitu suasana pembelajaran harus diciptakan secara menyenangkan sehingga siswa merasa aman dan bebas untuk berkreasi melakukan  aktivitas pembelajaran untuk memperoleh hasil pembelajaran secara efektif dan efisien.

C.    Kegiatan Penutup Pembelajaran
1.   Pengertian
Kegiatan penutup pembelajaran merupakan tahap mengakhiri pembelajaran. Namun maksud dari menutup pembelajaran disini bukan hanya mengakhiri pembelajaran pada saat itu melainkan dengan menutup pembelajaran memberikan gambaran yang menyeluruh tentang apa yang di pelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa baik pengetahuan, sikap maupun ketrampilan terkait dengan materi pembelajaran yang telah di capai dengan kata lain kita harus mengevaluasi pembelajaran tersebut. Untuk dapat memperoleh informasi tersebut maka beberapa cara yang dapat dilakukan guru misalnya membuat kesimpulan, meriview, memberikan tugas dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis.

2.   Jenis-jenis Kegiatan Menutup Pembelajaran
Ada beberapa jenis kegiatan dam menutup pembelajaran, diantaranya:
a.       Merangkum
Yaitu saat menutup pembelajaran guru membuat rangkuman mengenai pokok-pokok materi yang telah di pelajari. Sehingga di harapkan siswa dapat memiliki pemahaman yang utuh baik mengenai konsep, teori, prinsip maupun gagasan utama dari materi pembelajaran yang telah di pelajari. Kegiatan merangkum ini bisa di lakukan siswa dengan bimbingan guru atau juga bisa di lakukan guru dengan menyampaikan pokok-pokok materi pembelajaran di hadapan siswa.
b.      Mengajukan pertanyaan
Dengan mengajukan pertanyaan akan membuat siswa terdorong untuk berpikir kembali dengan cara menyampaikan pemahamanya mengenai materi yang telah di pelajari. Dari pertanyaan yang di ajukan guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang sudah di sampaikan dan dapat mengetahui materi-materi mana yang belum di pahami siswa.
c.       Menyimpulkan
Yaitu membuat kesimpulan yang menggambarkan pokok isi materi pembelajaran yang telah di pelajari. Membuat kesimpulan tidak bisa di lakukan oleh guru saja, melainkan juga bisa di buat oleh siswa dengan bimbingan guru sehingga guru dapat memperoleh informasi mengenai tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang di berikan.
d.      Memberikan tugas
Saat menutup pembelajaran guru memberikan tugas kepada siswa sehubungan dengan materi yang sudah di berikan. Tugas yang di berikan di buat untuk dapat membuat siswa mengaplikasikan pemahamnaya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga melalui tugas tersebut siswa di rangsang untuk berpikir kembali materi yang di telah di pelajari dan guru memperoleh masukan sejauh mana pemahaman siswa berkaitan dengan penguasaan materi tersebut.
e.       Refleksi
Ketika  menutup pembelajaran, guru mengajak siswa dengan cara yang jujur, terbuka untuk merenungkan kembali terhadap aktivitas pembelajaran yang telah di lakukan, mengecek kembali materi yang sudah dikuasai dan materi yang mana yang masih belum di pahami atau sama sekali belum mengerti. Selain memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengecekan terhadap hasil belajar yang di peroleh siswa juga di ajak untuk merenung kaitan, manfaat maupun penerapan dari materi yang telah di pelajari dalam hubungan  dengan tugas-tugas kehidupan yang nyata.
f.       Memberikan tes
Salah satu alternatif lain dalam menutup pembelajaran adalah dengann cara memberikan tes yaitu dengan memberikan pertanyaan baik secara lisan, tulisan maupun tindakan. Dengan  tes ini dapat membuat siswa berpikir kembali materi yang telah di pelajari maupun pengalaman dan pemahaman setiap siswa terkait dengan aktivitas maupun materi siswa yang telah di pelajari. Melalui jawaban siswa guru akan memperoleh gambaran tingkat pemahaman siswa.
Keenam kegiatan tersebut merupakan alternatif dalam menutup pembelajaran. Guru tentu saja dapat mencari atau mengembangkan bentuk maupun jenis kegatan lainnya yang dapat dilakukan untuk menutup pembelajaran. Intinya dari setiap jenis kegiatan menutup pembelajaran  adalah untuk mengakhiri pembelajaran dengan maksud untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada siswa sekaligus untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang di pelajari.
3.   Hasil Belajar
Menurut W. Winkel (1989, hlm. 82) “hasil belajar adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujud dalam bentuk angka”. Menutur Winarno Surakhmad (1980, hlm. 25) “hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian, atau tes. Maksud ujian tersebut ialah untuk memperoleh suatu indeks dalam menentukan keberhasilan belajar siswa”. Sedangkan menurut Nana Sudjana (2010, hlm. 22) “hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Selanjutnya Warsito dalam Depdiknas (2006, hlm. 125) mengemukakan bahwa “hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Sehubungan dengan pendapat itu, Wahidmurni, Alifin Mustikawan & Ali Ridho (2010, hlm. 18) menjelaskan bahwa “seseorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukan adanya perubahan dalam dirinya”.
Hasil pembelajaran yang harus dicapai dapat diklasifikasikan kedalam lima jenis yaitu:
a.       Informasi verbal, yaitu dari proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh siswa sebagai salah satu indikatornya adalah kemampuan untuk mengungkapkan kembali pengetahuan atau pengalaman belajar yang telah dilakukannya dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan. Misalnya bagaimana siswa dapat menjelaskan kembali pokok-pokok mater maupun membuat kesimpulan sebagai hasil belajar menggunakan bahasanya sendiri.
b.      Keterampilan intelektual yaitu kemampuan siswa untuk menghubungkan materi yang sudah di pelajari dengan masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain yang dimaksud ketrampilan intelek adalah hasil belajar siswa tidak hanya cukup dengan telah dikuasainya sejumlah konsep, melainkan yang lebih penting bagaimana siswa mampu menggunakan pengetahuan dari hasil belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang di hadapinya. Sehingga pembelajaran tersebut bermakna dan bermanfaat bagi siswa.
c.       Keterampilan motorik yaitu hasil pembelajaran yang telah dilakukan oleh siswa harus tercerminkan dalam kemampuan melaksanakan tugas-tugas gerak yang terkoordinasi dalam bentuk fisik atau jasmani. Misalnya saat siswa sudah mempelajari teknologi informasi dalam entuk komputer, mereka menjadi terampil bagaimana mengoprasikan komputer dari mulai menyalakan, mengoprasikan sampai pada mematikan komputer tersebut.
d.      Sikap yaitu melalui pengetahuan dan pemahaman yang telah dimiliki siswa dari hasil pembelajarannya, harus mampu menunjukan sikap atau menentukan pendapat seperti menerima atau menolak terhadap terhadap suatu objek berdasarkan hasil penilaian terhadap objek yang di hadapinya.kemampuan menentukan pendapat ya atau tidak, bagi yang tidak melakukan proses pembelajaran pada awalnya, tentu saja pendapatnya itu mungkin saja dikemukakan dengan asal-asalan. Lain lagi kalau pada awalnya telah melengkapi diri dengan wawasan, pemahaman terkait dengan objek yang di hadapinya, maka ketika menentukan pendapat atau sikapnya itu dilakukan melalui pemikiran analitis sehingga akhirnya sampai pada kesimpulan bersikap teguh pada pendirianya menerima atau menolak.
e.       Siasat kognitif yaitu kemampuan siswa menggunakan  pemikiranya secara tajam dan komprehensif berkenaan dengan konsep maupun prinsip yang telah dikuasai dari hasil penbelajaran dalam memecahkan permasalahan atau ketika merespon terhadap stimulus yang dihadapinya. Dari hasil belajar yang telah dilakukannya, melalui siasat kognitif ini menjadi terbiasa menggunakan pikiranya secara kreatif dan inovatif mencari berbagai stategi sehingga pada akhirnya menemukan pemecahan yang tepat.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara umum terdapat tiga tahapan umum dalam pembelajaran. Tahapan pertama yakni tahap pembukaan pembelajaran. Tahap ini merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana atau kondisi siap belajar sebelum memasuki tahap kegiatan inti pembelajaran. Tahapan kedua yakni tahap inti pembelajaran. Dalam tahap inti pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan pokok siswa untuk mempelajari materi yang telah direncanakan. Tahapan ketiga yakni tahap penutup pembelajaran. Tahap ini merupakan tahap dimana guru mengakhiri suatu pembelajaran.
B.     Saran
Seorang pendidik (guru) diharapkan mampu menguasai keseluruhan tahap pembelajaran, mulai dari tahap membua pembelajaran, tahap inti pembelajaran, sampai tahap menutup pembelajaran, baik secara teoritis maupun praktis.


DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, S. (1984). Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti.
Depdiknas. (2006). Bunga Rampat Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (SMA, SMK, dan SLB). Jakarta: Depdiknas.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Surakhmad, W. (1980). Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar Dasar-Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung: Tarsito.
Wahidmurni., Mustikawan, A. & Ridho, A. (2010). Evaluasi Pembelajaran: Kompetensi dan Praktik. Yogyakarta: Nuha Letera.
Winkel, W. (1989) Psikolog Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


EmoticonEmoticon