Tuesday, 17 January 2017

Filsafat Pendidikan Esensialisme


Filsafat Pendidikan Esensialisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
filsafat pendidikan essensialisme

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memeliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan serta nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata jelas.
Madjid Noor (1987) berpendapat bahwa, “Manusia memiliki intelegensi, ia mampu berpikir dan karenanya dapat menyesuaikan diri terhadap dunia eksternalnya, sehingga tetap bertahan dalam perjuangannya menghadapi dunia eksternalnya”. Nasib baik manusia akan dapat tetap bertahan karena intelegensinya harmoni dengan tatanan kehidupan, harmoni dengan tatanan realitas eksternalnya.
Kesimpulannya bahwa manusia dan masyarakat adalah bagian dari alam semesta yang bersifat objektif dan eksternal, karena manusia dan masyarakat berada dalam kesatuan mekanis dan tunduk pada hukum alam, maka hukum-hukum dalam kehidupan masyarakat pun sama dengan hukum-hukum alam. Di samping itu, karena intelegensi berfungsi sebagai alat adaptasi dalam evolusi kehidupan, maka untuk tetap bertahan, tugas dan tujuan manusia adalah beradaptasi terhadap hukum-hukum masyarakat atau kebudayaan dan alam lingkungannya.
Hakikat realitas esensialisme merupakan suatu konsepsi bahwa dunia atau realitas ini dikuasai oleh tata tertentu yang mengatur dunia  beserta isinya. Hal ini berarti bahwa bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak, cita-cita, dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan tata tersebut. Sesuai dengan pendapat Tatang Syaripudin Kurniasih (2008) bahwa, aliran pendukung esensialisme adalah aliran idealisme obyektif dan realisme obyektif.
1. Ontologi idealisme
Pendukung esensialisme adalah idealisme obyektif atau idealisme absolut. Aliran ini meyakini adanya dunia ideal yang abadi dan dunia material yang temporal serta fana. Realitas ideal yang abadi itulah hakikat akhir dari segala realitas, sedangkan realitas material yang temporal dan fana hanyalah penampakan saja atau hanya tiruan dari realitas ideal.
Kesimpulannya bahwa menurut Idealisme absolut, realitas adalah idea, jiwa, pikiran atau kesadaran. Ide adalah Yang Absolut, yang esa, yaitu Tuhan. Segala sesuatu yang ada dan yang akan terjadi di dunia ini adalah menurut tata tertentu yang bersumber dari Yang Absolut.
2. Ontologi realisme
Realisme pendukung esensialisme adalah realisme obyektif. Menurut aliran ini hakikat realitas bersifat eksternal atau objektif, artinya berada di luar subjek atau manusia dan independen dari pikiran manusia. Selain itu, realitas bersifat teratur berdasarkan hukum-hukum yang tidak tunduk kepada kehendak manusia. Alam semesta merupakan kesatuan yang mekanis menurut hukum alam objektif. Manusia begitu juga masyarakat merupakan bagian dari alam semesta, maka semuanya berada dalam antar hubungan, tunduk pada hukum alam objektif, dan berada dalam proses evolusi, yaitu perubahan menuju kesempurnaan.
Mohammad Noor Syam (1984) berpendapat bahwa, “Kesadaran manusia adalah bagian dari kesadaran Yang Absolut”. Karena itu, dalam diri manusia tercermin suatu harmoni dengan alam semesta, khususnya pikiran manusia. Kemampuan pikiran manusia untuk berpikir logis, dalam mengambil kesimpulan yang valid adalah suatu perwujudan proses yang sistematis.
Dengan kata lain, sumber pengetahuan adalah dari dalam diri, karena manusia memiliki ide-ide bawaan. Manusia memperoleh pengetahuan melalui berpikir, intuisi, atau intropeksi.
Suatu pengetahuan dikatakan benar bukan karena berguna untuk memecahkan masalah atau kehidupan praktis, tetapi suatu pengetahuan dikatakan benar karena ia memang benar, jadi kebenaran bersifat intrinsik, bukan instrumental. Jadi, kebenaran merupakan perwujudan dari realitas tertinggi.
Menurut realisme obyektif sumber pengetahuan adalah dunia luar subjek, pengetahuan diperoleh melalui pengalaman pengindraan, atau pengamatan. Kita mengetahui sesuatu jika kita mengamati atau mengalami sesuatu melalui kontak langsung melalui pancaindra. Pengetahuan sudah ada di dalam realitas, manusia tinggal menemukannya melalui pengamatan dan pengalaman. Suatu pengetahuan diakui benar jika pengetahuan itu sesuai dengan realitas eksternal dan independen.
Dari kedua aliran pendukung esensialisme dapat disimpulkan bahwa aliran esensialisme berpandangan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang tersirat dan bermakna. Perbedaannya adalah jika pada aliran idealisme pengetahuan tersirat dalam diri manusia itu sendiri, sedangkan pada aliran realisme pengetahuan tersirat dalam realitas eksternal.
Aliran idealisme berpendapat bahwa nilai hakikatnya diturunkan dari realitas absolut, karena itu nilai-nilai adalah abadi atau tidak berubah. Dalam kehidupan sosial, kualitas spiritual seperti kesadaran cinta bangsa dan patriotism merupakan nilai-nilai sosial yang perlu dijunjung tinggi.
Aliran realisme percaya bahwa standar nilai tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan, adat istiadat di dalam masyarakat. Nilai-nilai individual dapat diterima apabila sesuai dengan nilai-nilai umum masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa aliran esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata nilai yang tiada cela, yang mengatur isinya dengan tiada cela pula. Perbedaaannya adalah jika aliran idealisme berpendapat bahwa nilai yang absolut berasal dari Tuhan, sedangkan aliran realism berpendapat bahwa nilai yang absolut berasal dari hukum alam.
Peranan siswa adalah belajar, bukan untuk mengatur pelajaran. Menurut idealisme belajar yang menyesuaikan diri pada kebaikan dan kebeneran seperti yang telah ditetapkan oleh Yang Absolut. Sedangkan menurut realisme belajar berarti penyesuaian diri terhadap masyarakat dan alam.
Kesimpulannya bahwa esensialisme memandang belajar berarti menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh generasi baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Guru atau pendidik berperan sebagai mediator atau jembatan antara dunia masyarakat atau orang dewasa dengan dunia anak. Guru harus disiapkan sedemikian rupa agar secara teknis mampu melaksanakan peranannya sebagai pengarah proses belajar. Adapun secara moral guru haruslah orang terdidik yang dapat dipercaya. Dengan demikian inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
Kurikulum direncanakan dan diorganisasi oleh guru sebagai wakil masyarakat. Hal ini sesuai dengan dasar filsafat idealisme dan realisme yang menyatakan bahwa Yang Absolut (idealisme) atau masyarakat dan alam (realisme) mempunyai peranan menentukan bagaimana seharusnya individu hidup. Kurikulum terdiri atas berbagai mata pelajaran yang berisi ilmu pengetahuan, agama, dan seni yang dipandang essensial. Sifat kurikulum adalah berpusat pada mata pelajaran.
Dalam hal metode pendidikan, esensialisme menyarankan agar sekolah-sekolah mempertahankan metode-metode tradisional yang berhubungan dengan disiplin mental. Metode problem solving memang ada manfaatnya, tetapi bukan prosedur yang dapat diterapkan dalam seluruh kegiatan belajar. Alasannya, bahwa kebanyakan pengetahuan bersifat abstrak dan tidak dapat dipecahkan ke dalam masalah-masalah.
Berdasarkan uraian tersebut, maka esensialisme merupakan paduan ide-ide filsafat idealisme dan realisme. Dan praktek-praktek filsafat pendidikan Esensialisme dengan demikian menjadi lebih kaya dibandingkan jika ia hanya mengambil posisi yang sepihak dari salah satu aliran. Ide pokok idealisme berprinsip tentang semesta raya dan hakekat sesuatu. Ide pokok realisme berprinsip realita itu ada jika independen terlepas daripada kesadaran jiwa manusia.
Esensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Esensialisme lebih berorientasi pada masa lalu.
Pada prinsipnya, proses belajar menurut esensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses belajar sebagai proses menyerap apa yang berasal dari luar, yaitu dari warisan-warisan sosial yang disusun di dalam kurikulum tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara.

DAFTAR PUSTAKA

Kurniasih, T. S. (2008) Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu.
Noor, M. (1987). Filsafat dan Teori Pendidikan. Bandung: FIP IKIP Bandung.
Syam, M. N. (1984). Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional.


EmoticonEmoticon