Tuesday, 14 June 2016

Inteligensi



Inteligensi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
inteligensi
Kecerdasan yang dimiliki manusia merupakan salah satu potensi besar menjadikannya sebagai kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berpikir dan belajar terus menerus.
Inteligensi merupakan konsep yang dipelajari dalam psikologi. Pada hakikatnya, semua orang sudah merasa memahami makna inteligensi. Sebagian orang berpendapat bahwa inteligensi merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Inteligensi erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Banyak problem-problem manusia yang berhubungan dengan inteligensi. Dalam dunia pendidikan pun, inteligensi merupakan hal yang sangat berkaitan. Seolah-olah inteligensi merupakan penentu keberhasilan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan, dan merupakan penentu keberhasilan dalam semua bidang kehidupan.
Individu dikatakan intelligent bila menunjukan cara bertindak cepat, tepat, dan mudah dalam mengatasi kesulitan atau persoalan yang dihadapinya. Sebaliknya individu tidak cakap adalah yang selalu mengalami kesulitan dalam memecahkan permasalahan atau persoalan yang sedang dihadapinya.
Intelegensi sering disebut juga dengan istilah kognitif. Kognitif adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Sementara itu yang dimaksud dengan intelek adalah berpikir, sedangkan yang dimaksud dengan intelegensi adalah kemampuan kecerdasan. Pada dasarnya ke dua istilah itu mempunyai arti yang sama, sebenarnya perbedaannya hanya terletak pada waktunya saja. Di dalam kata Intelegensi (kecerdasan) terkandung kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah dengan cepat. Dengan demikian letak perbedaannya antara intilegensi dengan kognitif yaitu, kalau intelegensi lebih bersifat aktif sedangkan kognitif lebih bersifat pasif (statis). Intelegensi dibawa secara hereditas atau keturunan dan dipengaruhi oleh lingkungan, intelegensi tidak mungkin akan berkembang dengan optimal tanpa lingkungan.
Intelegensi sebagai suatu kemampuan dasar yang bersifat umum telah berkembang berbagai teori intelegensi di antaranya:
`1. Teori Daya (Faculty Theories)
Teori ini dapat dipandang sebagai teori yang tertua. Teori ini mengungkapkan bahwa jika manusia terdiri dari berbagai daya misalnya seperti ingatan, fantasi, penalaran, deskriminasi dan sebagainya. Masing-masing daya pada jiwa manusia terpisah antara satu dengan yang lainnya. Daya- daya tersebut dapat dilatih dengan materi yang sulit. Berdasarkan teori ini maka timbullah teori disiplin mental dalam bidak pendidikan.
2. Teori Dwi Faktor (The Two-Faktor Theory)
Teori dwi faktor ini dikembangkan oleh Charles Spearman seorang ahli psikologi inggris. Charles Spearman mendasarkan teori pada analisis faktor intelegensi. Menurut pendapat Spearman bahwa kecakapan intelektual terdiri dari dua macam kemampuan mental yaitu inteligensi umum yang disebut dengan general faktor (faktor g) dan kemampuan khusus (spesial faktor atau faktor s). Kedua faktor ini baik faktor g maupun faktor s bekerja bersama-sama sebagai suatu kesatuan. Spearman berpendapat bahwa kemampuan seseorang bertindak dalam setiap situasi sangat bergantung pada kemampuan umum maupun kemampuan khusus. Jadi setiap faktor baik faktor g maupun faktor s memberi sumbangan pada setiap perilaku yang inteligen.
3. Teori Multi Faktor
Teori multi faktor ini dikembangkan oleh E. L. Thorndike. Menurut Thorndike inteligensi itu menyatakan pertalian aktual maupun potensial yang khusus antara stimulus respon. Dia mengemukakan empat atribut inteligensi yaitu: tingkatan, rentang, daerah dan kecepatan. Dengan demikian Thorndike adalah penentang utama dari teori inteligensi umum.
4. Teori Primary Mental Abilities
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone yang berpendapat bahwa kognitif merupakan penjelmaan dari kemampuan primer yaitu kemampuan:
a.    Berbahasa (verbal comprehension)
b.    Mengingat (memory)
c.    Berpikir logis (Reasoning)
d.   Pemahaman Ruang (Spatial Faktor)
e.    Bilangan (Numerical Ability)
f.     Menggunakan kata-kata (Wored Fluency)
g.    Mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed)
5.  Teori Triachic Of Intelligence
Teori ini dikemukakan oleh Robert Stan Berg. Dalam teori ini menjelaskan bahwa kemampuan berfikir individu terbagi dalam tiga kemampuan mental yakni:
a. Proses mental (berpikir) dalam proses mental ini juga terdiri dari tiga bagian yaitu:
1)        Meta component, adalah perencanaan, aturan dan pemantauan. Contohnya :mengidentifikasi masalah, alokasi perhatian, dan pemantauan bagaimana strategi dilakasanakan.
2)        Performance component, adalah melaksanakan strategi yang terseleksi melalui komponen ini memungkinkan kita untuk mempersepsi dan menyimpan informasi baru.
3) Knowledge-aequisition component, adalah memperoleh pengetahuan baru seperti memisahkan informasi yang relavan dengan yang tidak relavan dalam rangka memahami konsep-konsep baru.
4) Coping with New Experience, ialah tingkah laku kognitif yang dibentuk melalui dua karakteristik yaitu insight atau kemampuan untuk menghadapi situasi baru secara efektif. Dan Automaticity atau kemampuan untuk berfikir dan memecahkan masalah secara otomatis dan efesien.
5) Adapting To Environment, adalah kemampuan untuk memilih dan beradaptasi dengan tuntutan atau normal lingkungan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi, sehingga terdapat perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lain ialah:
1.    Pembawaan: Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. “Batas kesanggupan kita”, yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama- tama ditentukan oleh pembawan kita. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
2.    Kematangan: Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Anak-anak tak dapat memecahkan soal-soal tertentu, karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya. Organ-organ tubuhnya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk melakukan mengenai soal itu. Kematangan berhubungan erat dengan umur.
3.    Pembentukan: Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Dapat kota bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
4.    Minat: Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk  berinteraksi dengan dunia luar.
5.    Kebebasan: Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat  memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai denagn kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam perbuatan inteligensi.
Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.
Wecehsler salah seorang ahli yang memperkenalkan klasifikasi inteligensi manusia dala skala yang dimulai dari (0) sampai dengan 200 dimana bilangan 100 merupakan titik tengah dinyatakan untuk kelompok average (rata-rata). Menurutnya kalau semua orang di dunia di ukur inteleginsinya, maka akan terdapat orang-orang yang sangat pandai sama banyaknya dengan orang-orang yang sangat bodoh.
Perhatikan diagram berikut ini.
Di atas 140
Genius
130  – 140
Sangat Superior (gifted)
120 – 130
Superior (Rapid learning)
110 – 120
Cerdas (di atas rata-rata)
90 – 110
Normal (Average)
80  - 90
Dull Normal
(kurang cerdas)
70  - 80
Berderline (slow learning)
50 – 80
Debil (educable)
25 – 50
Imbesil (trainable)
Dibawah 25
Idiot (defendent)
Berdasarkan Klasifikasi inteligensi di atas tadi kita dapat mengetahui inteligensi (IQ) seseorang dengan melalui tes, yang disebut tes inteligensi. Tes inteligensi ini banyak jenisnya yang dikembangkan oleh para ahli psikologi. Diantaranya:
  Orang yang berjasa menemukan tes inteligensi pertama kali ialah seorang dokter bangsa perancis: Alfred Binet dan pembantunya Simon. Sehingga tesnya terkenal dengan nama Tes Binet Simon. Seri tes dari Binet Simon ini, pertama kali diumumkan antara 1908-1911 yang diberi nama:” Skala Pengukur Kecerdasan”. Tes Biner-Simon terdiri dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang telah di kelompok- kelompokkan menurut umur (untuk anak- anak umur 3-15 tahun). Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibuat mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Seperti:
1.    Mengulang kalimat-kalimat yang pendek atau panjang.
2.    Mengulang deretan angka-angka,
3.    Merperbandingan berat timbangan,
4.    Menceriterakan isi gambar-gambar,
5.    Menyebutkan nama bermacam-macam warna,
6.    Menyebut harga mata uang,
7.    Dan sebagainya.
Dengan tes semacam inilah usia kecerdasan seseorang diukur/ditentukan. Dari hasil tes itu ternyata tidak tentu bahwa usia kecerdasan itu sama dengan usia sebenarnya (usia kalender). Sehingga dengan demikian kita dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan IQ (Inteligentie Quotient) pada tiap-tiap orang/anak.
Wechsler mengembangkan tes inteligensi individual seperti:
a.    Wechsler Bellevue Intelligence Scale (WIBS)
b.    Wechsler Intelligence Scale For Children (WISC)
c.    Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)
d.   Wechsler Preschool And Primary Scale Of Intelligence (WPPSI)
Rumus untuk menentukan inteligensi (kecerdasan) seseorang sebagai berikut:
Keterangan:
IQ = Inteligensi (kecerdasan)
MA= Umur Mental
CA = Umur Kalender
100 = Bilangan Tetap
MA diperoleh dari skor tes inteligensi
CA ditentukan berdasarkan bulan dan tahun individu seseorang itu dilahirkan. Tes inteligensi ini biasanya dilakukan oleh para ahli psikologi yang disebut dengan psikolog tau oleh konselor yaitu guru yang bertugas di sekolah-sekolah dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada murid-murid atau siswa.
Dengan demikian kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu atau seseorang berbeda-beda tingkatannya, seperti yang tercantum dalam klasifikasi inteligensi diatas tadi. Setiap tingkatan inteligensi yang dimiliki individu itu menunjukan karakteristik atau ciri-ciri berbeda-beda, contohnya:
1)   Tingkatan Inteligensi di atas 120 yang disebut anak cerdas dan berbakat, ciri-cirinya sebagai berikut:
Ø       Membaca pada usia lebih muda
Ø       Membaca lebih cepat dan lebih banyak
Ø       Memiliki pembendaharaan kata yang luas
Ø       Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
Ø       Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah “dewasa’
Ø       Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri
Ø       Luwes dalam berfikir
Ø       Mempunyai pengamatan yang tajam
Ø       Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu yang panjang
Ø       Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri
Ø       Senang mencoba hal- hal baru
Ø       Cepat menangkap hubungan sebab akibat
Ø       Berperilaku terarah kepada tujuan
Ø       Mempunyai banyak kegemaran
Ø       Mempunyai daya ingat yang kuat
Ø       Tidak cepat puas dengan prestasinya
Ø       Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan
2)   Tingkat inteligensi dibawah rata-rata seperti yang disebut dengan slow leaner dan terbelakang mental. Ciri-ciri slow leaner dan tingkat kecerdasannya atau IQ nya antara 80-90 lambat merespon stimulus dari lingkungan dalam berbagai aspek, beraktivitas dalam berbagai kegiatan juga lambat. Sedangkan tingkat inteligensi di bawah 80 digolongkan kepada terbelakang mental atau disebut dengan tuna grahita. Tuna Grahita ini terdiri dari 3 jenis:
Ø  Tuna grahita ringan atau debil dengan ciri-ciri fisik tidak ada perbedaan dengan anak normal, masih bisa dididik sampai pelajaran kelas 5 s/d kelas 6 Sekolah Dasar. Bisa bergaul dengan anak-anak lainnya, mampu berkomunikasi dengan lingkungan. Pembelajarannya cenderung secara individual.
Ø  Tuna grahita sedang yang disebut inbesil drngan ciri-cirinya sebagai berikut: kemampuan untuk dilatih khususnya dilatih keterampilan yang sangat sederhanan atau keterampilan merawat dirinya sendiri. Keadaan fisiknya berbeda dengan keadaan fisik anak normal, terutama keadaan wajahnya, semua anak inbesil wajahnya seperti mirip yang disebut kembar dunia.
Ø  Idiot atau Tuna grahita berat. Anak idiot ini desebut juga dengan anak mampu rawat. Anak idiot mempunyai tingkat inteligensi yang sangat rendah sekali. Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu anak idiot itu mempunyai limit pengembangan mental tidak lebih dari anak umur 3 tahun. Walaupun anak idiot itu dimasukan kedalam klasifikasi anak kesulitan belajar. Sebenarnya golongan ini tidak pernah mungkin dilibatkan dalam suatu tes inteligensi hanya untuk kepentingan administratiflah kelompok kategori idiot itu diadakan. Dilihat dari sudut inteligensi anak idiot itu menunjukan tidak mempunyai kemampuan untuk menerima kesan-kesan. Pelajaran atau latihan-latihan bagaimanapun juga sederhananya, mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan oranglain kepadanya.
Beberapa Ciri Yang Berhubungan Dengan Tingkatan Inteligensi Serta Pengaruhnya Terhadap Proses Belajar:
Ø  Idiot IQ : 0-29. Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucap beberapa kata saja.
Ø  Imbecile IQ : 30-40. Kelompok Imbecile setingkat lebih tinggi dari anak idiot.
Ø  Moron atau debil IQ 50-69. Kelompok ini sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menulis, dan membuat perhitungan-perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan.
Ø  Kelompok bodoh IQ : 70-79, kelompok ini berada di atas kelompok terbelakang dan dibawah kelompok normal (sebagai batas)
Ø  Normal rendah IQ : 80-89, kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata, tetapi pada tingkatan terbawah.
Ø  Normal sedang IQ : 90-109, kelompok ini merupakan kelompok yang normal atau rata-rata.
Ø  Normal tinggi IQ 110-119, kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal tetapi berada tingkatan tinggi.
Ø  Cerdas (Superior) IQ : 120-129, kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik.
Ø  Sangat cerdas (Very superior/Gifted), IQ :130-139. Anak-anak gifted lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan tentang bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang luas dan cepat memahami pengertian yang abstrak.
Ø  Genius IQ : 140 ke atas. Kelopok ini kemampuannya sangat luar biasa. Mereka pada umumnya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah.





EmoticonEmoticon