Tuesday, 17 January 2017

Laporan Observasi Penerapan Kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV Kota Tasikmalaya



Laporan Observasi Penerapan Kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV Kota Tasikmalaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Laporan Observasi Penerapan Kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV Kota Tasikmalaya
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah “mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik terhadap aktivitas jasmaniahnya, pikiran-pikirannya, maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nuraninya” (Salahudin, 2011, hlm 19-21).
Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas merupakan salah satu unsur atau subsistem dari sistem pendidikan nasional. Hal tersebut termaktub dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada beberapa unsur yang saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Unsur-unsur tersebut antara lain, guru, siswa, pengelolaan kelas, metode pengajaran, media pendidikan, kurikulum, sarana dan prasarana dsb. Interaksi yang terjadi antara unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan. Persoalan itu memang tidak akan pernah selesai, karena substansi yang ditransformasikan selama proses pendidikan dan pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang jaman.
 Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih menonjol saat ini adalah adanya kurikulum yang silih berganti dan terlalu membebani anak tanpa ada arah pengembangan yang betul-betul diimplementasikan sesuai dengan perubahan yang diinginkan pada kurikulum tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah pada perbaikan sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan karena dianggap belum sesuai dengan harapan yang diinginkan sehingga perlu adanya revitalisasi kurikulum. Usaha tersebut mesti dilakukan demi menciptakan generasi masa depan berkarakter, yang memahami jati diri bangsanya dan menciptakan anak yang unggul, mampu bersaing di dunia internasional.
Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Semakin maju peradaban suatu bangsa, maka semakin berat pula tantangan yang dihadapinya. Persaingan ilmu pengetahuan semakin gencar dilakukan oleh dunia internasional, sehingga Indonesia juga dituntut untuk dapat bersaing secara global demi mengangkat martabat bangsa. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan yang akan menimpa dunia pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya sangat dibutuhkan untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal dengan negara-negara maju di dunia.
Untuk itu, laporan ini menyajikan sedikit ulasan mengenai penerapan kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Ulasan ini diharapkan dapat berperan sebagai salah satu pendukung bagi para pendidik untuk menuju pemenuhan tuntutan profesionalisme.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah sebagai berikut :
1.    Sudah sejauh mana keberadaan kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV?
2.    Adakah kurikulum yang dibuat SDN Pengadilan IV?
3.    Adakah silabus kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV?
4.    Bagaimana kesesuaian RPP yang digunakan SDN Pengadilan IV?
5.    Bagaimana penerapan Kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran. Selain itu juga bertujuan agar dapat mengetahui mengenai :
1. Keberadaan kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV.
2. Kurikulum yang dibuat SDN Pengadilan IV.
3. Silabus kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV.
4. Kesesuaian RPP yang digunakan SDN Pengadilan IV.
5. Penerapan Kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV.

D. Landasan Teori
Hal mendasar dari Kurikulum 2013, menurut Mulyoto (2013, hlm. 114-115) adalah masalah pendekatan pembelajarannya. Selama ini, pendekatan yang digunakan adalah materi. Jadi materi diberikan pada anak didik sebanyak-banyaknya sehingga mereka menguasai materi itu secara maksimal. Bahkan demi penguasaan materi itu, drilling sudah diberikan sejak awal, jauh sebelum siswa menghadapi ujian nasioanl. Dalam pembelajaran seperti ini, tujuan pembelajaran yang dicapai lebih kepada aspek kognitif dengan mengesampingkan aspek psikomotrik dan afektif.
Ketiga aspek tersebut sebenarnya sudah mendapat penekanan pada kurikulum kita selama ini. Pada saat pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003, aspek kognitif, psikomotorik dan afektif (yang dikenal dengan taksonomi Bloom tentang tujuan pendidikan), telah juga menjadi kompetensi integral yang harus dicapai. Lalu pada saat pemberlakuan Kurikulum 2006, melalui pendidikan karakter, aspek afektif  yang seolah dilupakan para praktisi pendidikan, kembali digaungkan.
Tapi dalam dataran praksis, hanya aspek kognitif yang dikejar. Penyebabnya adalah kurikulum tidak dikawal dengan kebijakan yang sinergis, tetapi malah dijegal dengan kebijakan ujian nasional.
Soal-soal ujian nasional hanya menguji pencapaian aspek kognitif. Pencapaian aspek psikomotorik dan afektif tidak bisa diukur dengan menggunakan tes ini. Padahal tes ini adalah penentu kelulusan. Maka pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berbasis materi tanpa memedulikan penanaman keterampilan dan sikap.
Pada kenyataannya, sejak awal siswa-siswa telah dibiasakan menghadapi soal-soal model ujian nasional. Pembelajaran mengacu pada kompetensi dasar yang yang nanti akan diujikan dalam ujian nasional. Bahkan ada pula guru yang menggunakan soal-soal ujian nasional yang telah diujikan pada tahun sebelumnya sebagai acuan dalam pembelajaran. Menjelang menghadapi ujian nasional, guru memberikan pembelajaran ujian nasional pada siswanya. Apapun yang tidak ada kaitannya dengan ujian nasional ditiadakan.
Berdasarkaan pengalaman selama ini, hal tersebut harus didukung dengan kebijakan yang konsisten, yaitu sistem evaluasi yang mengukur pencapaian kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif secara berimbang. Tidak bisa dipungkiri bahwa ujian nasional harus dihapuskan, sehingga penentu kelulusan nantinya adalah transkrip nilai yang diperoleh dari nilai rapor tiap semester. Karena nilai-nilai rapor sebagai hasil evaluasi pembelajaran mengandung ketiga aspek secara menyeluruh, maka pembelajaran juga akan diberikan seccara benyeluruh dalam ketiga aspek itu.
Kesalahan fatal dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selama ini menurut kami adalah kemunculan kebijakan yang sejatinya tidak konsisten dengan kurikulum-kurikulum tersebut. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah pelaksanaan ujian nasional dengan standar kelulusannya. Dimana siswa dikatakan berhasil jika ia telah mampu menembus jaring ujian nasional. Sebuah sekolah dikatakan bermutu apabila kelulusan siswanya 100% dan banyak siswanya yang mendapatkan nilai 10. Bahkan untuk tujuan itu, kecurangan sistematis selalu terjadi. Penanaman nilai moral seolah tak diperhatikan.
Oleh karena itu,  jika nantinya Kurikulum 2013 diterapkan secara masive dan ditujukan agar guru memperoleh ruang yang lebih leluasa untuk mengembangkan potensi siswa secara seimbang dalam tiga aspek, yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Kurikulum ini harus dikawal dengan kebijakan yang sinergis. Dan akhirnya siswa dapat belajar dengan semangat, antusias, tidak bosan dan mampu menyerap nilai-nilai moral yang terkandung secara tersitat dalam setiap materi.

E. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis, belajar menyusun laporan dan lebih mengetahui tentang penerapan kurikulum 2013 di SDN Pengadilan IV.
2. Bagi kalangan akademik, diharapkan penyusunan laporan ini dapat dijadikan sebagai bahan studi perbandingan serta sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
3. Bagi kalangan umum, diharapkan penyusunan laporan ini nantinya dapat bermanfaat dan dapat dipertimbangkan pengembangannya.

F. Metode Penulisan
       Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah studi pustaka dengan menggunakan beberapa sumber buku dan internet, pengamatan secara langsung (observasi), dan wawancara dengan pihak yang terkait.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Identitas Sekolah
1. Nama sekolah     : Sekolah Dasar Negeri Pengadilan IV
2. Alamat                : Jalan Tarumanagara No. 16, Kecamatan Tawang, Kota
                                  Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
3. Lokasi                 : Kecamatan Tawang merupakan salah satu kecamatan yang
  terletak di pusat Kota Tasikmalaya. Sedangkan SDN Pengadilan IV berada di Jalan Tarumanegara No. 16, Kecamatan Tawang bagian Barat Laut. Terletak diantara pemukiman penduduk dekat dengan Rumah Sakit Jasa Kartini dan Alun-Alun Kota Tasikmalaya.

B. Identitas Narasumber
1. Narasumber I
a. Nama               : Marno Suwarno, S. Pd.
b. Bekerja di        : SDN Pengadilan IV, Kota Tasikmalaya
c. Jabatan             : Kepala SDN Pengadilan IV
2. Narasumber II
a. Nama               : Yeti Setiama, S. Pd.
b. Bekerja di        : SDN Pengadilan IV, Kota Tasikmalaya
c. Jabatan             : Guru kelas 1 SDN Pengadilan IV

C. Pelaksanaan Observasi atau Wawancara
1. Tempat                                       : SDN Pengadilan IV, Kecamatan Tawang,
                                                         Kota Tasikmalaya
2. Hari                                            : Jum’at
3. Tanggal                                       : 14 November 2014
4. Waktu                                         : 07.30 WBBI
5. Alat/media yang digunakan       : Instrumen pertanyaan, buku catatan, dan
                                                         bolpoin

D. Pembahasan
Sekolah Dasar Negeri Pengadilan IV terletak di Jalan Tarumanagara No. 16, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, merupakan salah satu sekolah dasar yang bertipe komplek atau serumpun. SDN Pengadilan IV keberadaannya satu komplek dengan SDN Pengadilan I, II, III, dan SDN Tawangsari. Dulunya SDN Pengadilan hanya ada satu, namun karena banyaknya anak usia sekolah dasar di daerah tersebut, maka terjadilah pemekaran. Hal ini berdampak positif terhadap optimalisasi pendidikan di daerah tersebut, namun di sisi lain pun terjadi beberapa kendala, salah satunya adalah penerapan kurikulum 2013 yang belum maksimal.
Kurikulum 2013 sudah diterapkan di SDN Pengadilan IV pada kelas 1, 2, 4, dan 5. Adapun kurikulum 2013 yang diterapkan tersebut adalah buatan pemerintah, alasannya karena pihak sekolah masih melakukan penyesuaian terhadap perubahan kurikulum, jadi belum merancang kurikulum sendiri. Begitu pun dengan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang digunakan adalah buatan pemerintah. SDN Pengadilan IV juga telah menerima buka siswa dan buku guru kurikulum 2013 semester 1 di kelas 1, 2 , 4, dan 5.
Marno Suwarno selaku kepala SDN Pengadilan IV menyambut baik perubahan kurikulum ini, beliau berpendapat bahwa kurikulum 2013 ini lebih memberikan kebermaknaan pembelajaran bagi siswa. Siswa mempelajari suatu hal yang memang ada dan terjadi pada kehidupannya sehari-hari, hal inilah yang membuat belajar lebih bermakna bagi siswa. Namun, masih terdapat beberapa kendala dalam penerapannya, seperti kurangnya media pembelajaran yang tersedia, persepsi bahwa kurikulum 2013 ini sulit, dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dari gurunya sendiri.
Hasil observasi yang kami lakukan terhadap aktivitas pembelajaran tematik di kelas 1 SDN Pengadilan IV, pembelajaran yang berlangsung memang sudah tematik, namun belum berkesinambungan, masih terdapat sekat pemisah yang terlihat jelas antara satu kegiatan pembelajaran dengan kegiatan pembelajaran yang lainnya. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung pun belum terlalu mengacu pada RPP yang digunakan. Beberapa kegiatan yang terdapat pada RPP tidak sesuai dengan apa yang dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran, seperti tidak berbaris di depan kelas dan menyebutkan nomor urut dalam barisan sebelum masuk ke kelas, tidak ada kegiatan siswa menyimak informasi bahwa setiap anggota keluarga mempunyai kesukaan bermain olahraga yang berbeda, siswa melakukan senam irama sederhana di kelas tanpa iringan lagu yang seharusnya dilakukan di lapang dan dengan iringan lagu, tidak ada kegiatan siswa diminta untuk menceritakan kembali apa yang telah dibacakan guru dengan menggunakan bahasa mereka sendiri, tidak ada kegiatan siswa menyimak cerita mengenai sebuah keluarga yang sedang berkumpul bersama, dan tidak ada kegiatan guru bersama siswa membuat kesimpulan hasil pembelajaran. Selain itu guru pun tidak menyiapkan format penilaian observasi pengamatan kegiatan senam irama dan bercerita kegiatan olahraga keluarga dan tidak menggunakan media boneka jari atau wayang kecil untuk alat peraga mendongeng.
Menurut Yeti Setiama selaku guru kelas 1 SDN Pengadilan IV, hambatan penerapan kurikulum 2013 ini adalah terbatasnya media pembelajaran yang tersedia di sekolah, kreatifitas guru yang berbeda-beda, dan SDM guru yang belum sepenuhnya siap. Khususnya tentang media pembelajaran, di SDN Pengadilan IV banyak sekali CD/DVD interaktif yang tersedia, namun fasilitas pendukungnya seperti LCD proyektor dan tape tidak tersedia.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kurikulum 2013 sudah diberlakukan di SDN Pengadilan IV, namun dalam penerapannya masih terdapat banyak kendala. Hambatan yang terjadi antara lain: SDM guru yang belum sepenuhnya siap dalam melaksanakan kurikulum 2013, keterbatasan media pembelajaran yang tersedia, pembelajaran yang belum mengacu pada RPP, dan kreatifitas guru yang berbeda-beda.

B. Saran
Salah satu bukti bahwa kita warga yang baik adalah dengan ikut serta menjalankan kebijakan pemerintah yang sedang digulirkan. Serta demi mensukseskan apa yang dicita-citakan Kurikulum 2013 yaitu untuk “mempersiapkan manusia Indonesia agak memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia”. Kita perlu mengawal dan memupuk agar Kurikulum 2013 menjadi tonggak awal kita menyambut kemajuan Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Mulyoto. (2013). Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya.
Salahudin. (2011). Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


EmoticonEmoticon