Wednesday, 22 June 2016

Model Pembelajaran Brainstorming



Model Pembelajaran Brainstorming
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
model pembelajaran brainstorming
Brainstorming dapat diartikan sebagai curah pendapat. Brainstorming bekerja dengan cara fokus pada masalah, kemudian dengan bebas sebanyak mungkin bermunculan alternatif solusi dan mengembangkannya sejauh mungkin. Untuk itu, model pembelajaran brainstorming adalah suatu model dalam pembelajaran untuk menghasilkan banyak gagasan dari seluruh siswa dalam kelompok diskusi yang mencoba mengatasi segala kritik dan hambatan. Alasan mengapa model pembelajaran ini efektif karena siswa memberikan ide, tidak hanya ide-ide baru, namun juga penggabungan ide-ide dengan siswa lain dengan mengembangkan dan memperbaiki ide-ide tersebut. Kegiatan ini mendorong siswa memunculkan banyak gagasan, termasuk gagasan sembarangan, kurang masuk akal, liar, unik, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat dikembangkan, sehingga menghasilkan suatu gagasan kreatif.
Model pembelajaran brainstorming biasa diterapkan dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan masalah bersama. Di samping itu, model ini juga bisa digunakan secara individual. Sentral dari model pembelajaran brainstorming ialah konsep menunda suatu keputusan. Dalam model ini siswa dituntut untuk memunculkan berbagai gagasan dengan menggunakan kemampuan berpikir kreatif.
Terdapat empat aturan dasar dalam model pembelajaran brainstorming, sebagai berikut:
1. Focus on quantity (fokus pada kuantitas)
Asumsi yang berlaku disini yakni semakin banyak ide yang dihasilkan, semakin besar pula kesempatan untuk menghasilkan solusi yang radikal, efektif, dan kreatif.
2. Withhold critism (penundaan kritik)
Dalam model pembelajaran brainstorming kritikan atas ide yang muncul akan ditunda. Penilaian dilakukan di akhir sesi, hal ini untuk membuat para siswa merasa bebas memunculkan berbagai macam ide selama pembelajaran berlangsung.
3. Welcome unusual ideas (sambutan terhadap ide yang tidak biasa)
Ide yang tak biasa muncul disambut dengan hangat. Ide yang tak biasa ini dianggap merupakan solusi masalah yang akan memberikan perspektif yang bagus setelah dikembangkan.
4. Combine and improve ideas (kombinasikan dan perbaiki ide-ide)
Ide-ide yang bagus dapat dikombinasikan menjadi satu ide yang lebih baik.
Langkah-langkah model pembelajaran brainstorming, sebagai berikut:
1. Tahap pemberian informasi dan motivasi
Pada awal pembelajaran, guru menjelaskan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya dan mengajak siswa aktif untuk menyumbangkan ide dan gagasannya.
2. Tahap identifikasi
Pada tahap ini, siswa dituntut untuk memunculkan ide dan gagasan sebanyak-banyaknya. Semua gagasan yang masuk ditampung, ditulis, dan tidak dikritik. Siswa lain hanya boleh bertanya untuk meminta penjelasan. Hal ini agar kreatifitas tidak terhambat.
3. Tahap klasifikasi
Semua ide dan gagasan siswa ditulis. Kemudian mengklasifikasikan berdasarkan kriteria yang disepakati dan dibuat. Klasifikasi dapat berdasarkan struktur atau indikator-indikator lain.
4. Tahap verifikasi
Semua siswa secara bersama melihat kembali ide dan gagasan yang telah diklasifikasikan. Setiap ide dan gagasan diuji relevansi dengan permasalahannya. Apabila terdapat ide dan gagasan yang hampir sejenis diambil salah satunya atau digabung. Ide dan gagasan yang tidak relevan dicoret. Setiap penggagas ide dapat diminta argumentasinya.
5. Tahap konklusi
Siswa bersama guru mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemacahan yang disetujui. Setelah dirasa cukup, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
Kelebihan model pembelajaran brainstorming, antara lain:
1. Ide dan gagasan yang muncul lebih banyak serta beragam karena siswa dengan bebas menyalurkan ide tersebut tanpa adanya kritik.
2. Siswa dalam menyatakan pendapat tidak dibatasi, sehingga menuntut kemampuan berpikir kreatif siswa.
3. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
4. Melatih siswa berpikir dengan cepat dan logis dalam batas waktu yang sempit.
5. Siswa yang kurang aktif dapat terbantu oleh siswa lain maupun guru.
Adapun kekurangan model pembelajaran brainstorming, yakni:
1. Memerlukan waktu yang relatif lama dalam pelaksanaanya.
2. Ada kecenderungan akan didominasi oleh siswa yang pandai dan aktif.
3. Guru tidak merumuskan suatu kesimpulan karena siswa yang bertugas untuk menyimpulkan pembelajaran sesuai dengan ide dan gagasan yang muncul.
4. Siswa tidak mengetahui kebenaran pendapat yang ia ajukan, sehingga tidak terjamin terpecahnya suatu masalah.
Berdasarkan uraian tersebut, maka model pembelajaran brainstorming adalah suatu model dalam mengajar yang dilaksanakan dengan melontarkan suatu masalah oleh guru, lalu siswa menjawab atau menyatakan pendapat atau komentar, sehingga terdapat kemungkinan masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru. Model ini dapat diartikan juga sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok siswa dalam kegiatan diskusi. Ide dan gagasan yang dapat dimunculkan tidak dibatasi, sehingga siswa dengan bebas mengemukakan ide dan gagasan apapun yang terlintas dalam pikirannya, untuk kemudian dipilih, digabungkan, atau diperbaiki, sehingga mendapatkan suatu pemacahan masalah yang dianggap paling tepat.


EmoticonEmoticon