Monday, 16 January 2017

Paskibra



Paskibra
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Paskibra adalah pasukan pengibar bendera. Paskibra merupakan salah satu ekstrakurikuler yang biasa di kembangkan di sekolah-sekolah. Selain paskibra ada juga paskibraka. Paskibraka adalah pasukan pengibar bendera pusaka. Paskibraka memiliki tugas utama mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di 3 tempat, yakni tingkat kabupaten atau kota (kantor bupati atau wali kota), provinsi (kantor gubernur), dan nasional (istana negara). Anggota paskibraka berasal dari anggota paskibra yang berasal dari SMA sederajat kelas 1 atau 2. Penyeleksiannya dilakukan tiap tahun sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus.
Gagasan paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdakaan Republik Indonesia yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (angkatan laut) Husein Mutahar untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas. Tetapi karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah. Lima orang tersebut kebetulan sedang bertugas di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendara di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.
Ketika ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1960, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta. Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soekarno untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yakni: (1) kelompok 17 atau pengiring pemandu, (2) kelompok 8 atau pembawa inti, dan (3) kelompok 45 atau pengawal. Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi dan kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.
Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.
Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.
Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih "Pasukan Pengerek Bendera Pusaka". Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.
Berikut motto paskibra:
Disiplin adalah nafsuku
Paskibra tidak takut kalah
Paskibra tidak takut salah
Paskibra tidak takut jatuh
Paskibra tidak takut mati
Takut mati jangan hidup
Takut hidup mati sekalian
Kalau ada 1000 kami adalah 1
Kalau ada 100 kami tetap 1
Kalau ada 10 kami yakin tetap 1
Kalau ada 1 ya itulah kami Paskibra
Paskibra dilambangkan dengan bunga teratai dan mata rantai. Teratai adalah tanaman yang dapat tumbuh di dua tempat, yaitu darat dan air. Maksudnya bahwa anggota Paskibra itu harus siap dalam melaksanakan tugas dimana saja. Mata rantai Terdiri dari lingkaran dan belah ketupat yang berarti persatuan, kebersamaan dan kekeluargaan. Belah ketupat bermakna anggota Paskibraka putra yang berjumlah 16 dan lingkaran bermakna anggota Paskibraka putri yang berjumlah 16 juga, serta membentuk lingkaran yang menandakan arah mata angin. Maksudnya adalah bahwa anggota Paskibra terdiri dari putra dan putri yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan saling bersatu. Bagian bunga teratai
3 (tiga) buah kelopak bunga yang menjulang keatas dari kiri ke kanan, bermakna anggota Paskibra itu disiplin, aktif dan gembira. 3 (tiga) buah kelopak bunga yang mendatar dari kiri kekanan, bermakna anggota Paskibra itu belajar berbakti dan bekerja. Tangkai bunga bermakna bahwa anggota Paskibra itu muncul dari ketidaktahuan menjadi tahu. Warna hijau melambangkan perintis pemuda.
VISI Paskibra yakni, “Memberikan pengetahuan tentang unsur dasar PBB dan memberikan pengarahan kepada setiap anggota Paskibra untuk berdisiplin”
MISI Paskibra, antara lain:
1.Membentuk pribadi yang disiplin.
2.Mempererat tali persaudaraan antar anggota Paskibra.
3.Membekali pengetahuan tentang PBB kepada setiap anggota Paskibra.
4.Membentuk mental yang kuat.
Paskibra merupakan wadah pembinaan siswa sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang memiliki tugas utama sebagai pasukan pengibar bendera pada saat upacara bendera. Maka, kegiatan pembinaan ekstrakurikuler paskibra, meliputi:
1. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS)
2. Latihan Peraturan Baris-berbaris (PBB) dasar
3. Latihan Peraturan Baris-bebaris (PBB) lanjutan
4. Latihan formasi dan variasi barisan
5. Pengukuhan dan pelantikan anggota Paskibra
6. Pemberian materi teori dan praktik keorganisasian serta kepemimpinan
7. Latihan pengibaran bendera
Diharapkan dengan adanya ekstrakurikuler Paskibra di sekolah dapat mencetak generasi muda yang berkarakter rajin belajar, rajin bekerja, rajin berbakti, selalu aktif, menegakkan disiplin, dan selalu gembira dalam setiap mengemban tugas.
paskibra

Logo Paskibra


EmoticonEmoticon