Tuesday, 5 July 2016

Cara Negara Jepang Menjaga Anak-Anak



Cara Negara Jepang Menjaga Anak-Anak
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh orang tua maupun anak-anak lain seolah lumrah kita dengar terjadi di tanah air. Bahkan hal tersebut terjadi di lingkungan sekolah anak. Hal ini membuat kita berpikir dimana tempat yang aman buat anak kita. Di rumah, di sekolah, maupun di tempat bermain selalu ada bahaya yang dapat mengancam anak.
Semakin lama maka dapat membuat kita sebagai orang tua menjadi paranoid tentang keselamatan anak. Homeshooling kemudian seolah menjadi jalan alternatif mencari rasa aman tersebut. Cara ini memang dapat menjadi solusi jika orientasinya hanya sebatas peningkatan Intelligence Quotient (IQ). Namun bagaimana dengan aspek lain, yakni Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) anak jika tidak diberi kesempatan bergaul dengan dunia luar. Tentunya permasalahan ini perlu campur tangan pemerintah dan masyarakat harus lebih diperbesar lagi, tidak hanya dengan cara merubah kurikulum tetapi perlu terobosan lain.
Sepintas membanding dengan negara Jepang, meski tidak secara detail, tetapi minimal akan dapat terlihat menunjukan banyak perbedaan yang sebagian dapat kita adopsi dan terapkan di tanah air. Bukan hanya karena di Jepang tingkat natalitas atau angka kelahiran yang sangat rendah sehingga jumlah anak kecil sangat sedikit dan menjadikan sangat protektif terhadap keberadaan anak, tetapi lebih dari itu karena bagi orang Jepang semua nyawa sangat berharga, bahkan tidak hanya manusia. Ketika orang Jepang akan makan, doanya dengan mengucapkan itadakumasu yang terkadang diartikan mari kita makan, padahal makna yang sebenarnya adalah “terima kasih telah memberikan kehidupan untuk kami”. Sebuah ucapan terima kasih kepada semua yang kita makan, termasuk tumbuhan dan hewan.
Di Jepang semua anak usia sekolah dan pra sekolah mendapat tunjangan anak (kodomo teate) yang besarnya tergantung dari kemampuan pemerintah kota tempat tingal. Beberapa kebijakan sekolah dan pemerintah juga sangat memperhatikan keamanan dan keselamatan anak.
Anak usia di bawah 9 tahun tidak boleh ditinggal sendirian di rumah. Orang tuanya harus selalu menjaga atau minimal ada orang lain di rumah atau jika perlu dititipkan di sekolah sampai sore atau malam dengan biaya tambahan. Jika anak ditinggal sendirian di rumah dan diketahui pemerintah, maka orang tua akan berurusan dengan pihak kepolisian karena hal tersebut membahayakan keselamatan anak. Orang tua dianggap tidak bertanggung jawab terhadap anaknya.
Setiap anak yang baru masuk Sekolah Dasar (SD) kelas satu, maka di tas mereka akan dilengkapi cover berwarna kuning bergambar seorang anak bersama seorang dewasa. Gambar tersebut diartikan anak tersebut memerlukan pertolongan orang lain, sehingga orang yang melihat wajib menolong jika ada sesuatu terjadi pada anak tersebut, misalnya bahaya atau bahkan sekedar menyebrang jalan.
cara negara Jepang menjaga anak-anak

Cover tambahan untuk tas anak kelas 1 SD di Jepang

Proses berangkat dan pulang sekolah selalu dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan tempat tinggal anak. Satu kelompok memiliki satu orang ketua yang biasanya paling senior (hancho). Setiap kelompok beranggotakan sejumlah anak dengan tingkatan yang berbeda-beda. Anak memiliki tempat berkumpul tertentu (pool) dan dari pool tersebut anak berangkat bersama dibawah komando sang hancho tersebut sambil berbaris rapi. Semua anak berjalan kaki, tidak ada anak yang berangkat ke sekolah diantar orang tuanya menggunakan mobil.
Untuk proses pulang kadang berbeda kelompok karena antara kelas 1 sampai 6 sering kali mempunyai jadwal pulang berbeda. Jika tidak bersama kelompok, maka orang tua wajib menjemput ke sekolah. Beberapa siswa dibuat kelompok pulang dengan teman yang setingkat terutama kelas 1 dan orang tua yang bersangkutan bergantian diberi jadwal menjemput sampai sekolah, sedangkan orang tua yang lain bisa menunggu di tempat-tempat tertentu. Terkadang jika salah satu orang tua tidak menjemput, maka orang tua yang lain akan mengantarkan sampai ke rumah yang bersangkutan.
Pihak sekolah tidak akan mengijinkan orang lain menjemput tanpa tanda khusus yang meyakinkan sekolah bahwa yang bersangkutan berhak menjemput. Bahkan saat ada kegiatan tambahan seperti ekstrakurikuler sehingga pulang lebih sore, anak tidak akan dibiarkan keluar gerbang sekolah jika orang tuanya belum datang. Guru akan menunggu hingga yakin semua siswa sudah dijemput orang tuanya.
Semua tas anak dilengkapi dengan emergency alarm atau alarm tanda bahaya. Anak akan diberi tahu pihak sekolah tentang penggunaan alarm dan bahkan diberi simulasi serta pelatihan bahaya apa saja yang dapat mengancam anak sehingga anak harus membunyikan alarm tersebut, misalnya penculikan, kekerasan, pelecehan, kecelakaan, dan sejenisnya. Tidak hanya anak-anak yang diberi pengetahuan tentang alarm itu, orang dewasa pun baik itu orang tua maupun masyarakat juga diberi penjelasan tentang kewajiban mereka menolong joka ada anak yang membunyikan alarm tersebut. Jadi, keselamatan anak adalah tanggungjawab semua orang.

cara negara jepang menjaga anak-anak
  
Emergency alarm

Pemerintah Jepang juga meminta kesediaan beberapa rumah, toko, tempat praktik dokter, dan lain-lain sebagai tempat meminta pertolongan pertama jika ada sesuatu mengancam keselamatan anak. Rumah-rumah atau toko yang bersedia menjadi relawan dan siap menolong biasanya diberi stiker dengan gambar yang mirip dengan cover yang menempel di tas anak kelas satu, yakni gambar anak yang sedang dibantu orang dewasa. Dari pihak sekolah juga memberi tahu anak tentang tempat-tempat yang siap menolong anak ketika anak dalam keadaan bahaya, sehingga anak paham kemana mereka harus minta pertolongan atau menyelamatkan diri jika terjadi sesuatu.

cara negara jepang menjaga anak-anak

Rumah penolong dengan tanda khusus

Setiap awal tahun ajaran baru ketika berganti wali kelas, maka wali kelas tersebut akan mendatangi rumah siswa satu per satu. Wali kelas akan berkenalan dan berkomunikasi dengan orang tua secara langsung dan berdiskusi tentang kondisi anak di rumah serta di sekolah. Hal ini mungkin tidak pernah diterapkan di Indonesia meskipun sebenarnya mudah untuk dilakukan. Saat terima raport pun orang tua harus hadir ke sekolah bersama anak untuk berdiskusi dengan guru. Jadwal diatur dan direncanakan bersama agar orang tua dipastikan dapat hadir. Jadi, pembagian raport tidak bersama-sama satu kelas, namun memang pertemuan intesif antara guru, siswa, dan orang tua.
Layanan komunikasi juga mendukung terjaganya keselamatan anak. Sistem telepon paket keluarga seolah wajib dipunyai oleh orang tua. Dalam paket ini anak diberi HP yang harus selalu dibawa anak kemana pun pergi yang juga dilengkapi dengan alarm tanda bahaya seperti yang menempel pada tas sekolah mereka. HP ini hanya bisa digunakan untuk menelpon dan menerima telpon dari orang tuanya. Bahkan jika HP ini mati atau tidak aktif, pihak operator akan memberikan informasi tentang hal itu dan mungkin tujuannya agar orang tua mengecek keberadaan anak. HP khusus anak tersebut bebas pulsa dan gratis selamanya, hanya perlu beli pertama kali dengan harga yang relatif murah. Melalui perangkat HP tersebut kondisi anak akan selalu terpantau oleh orang tua.

cara negara Jepang menjaga anak-anak

HP khusus untuk anak

Itulah beberapa hal yang berbeda dari cara menjaga anak di Jepang. Terbukti angka kekerasan atau lebih spesifik kekerasan pada anak di Jepang sangat kecil. Hal yang bertolak belakang terjadi di Indonesia, semakin hari semakin mengerikan. Dalam beberapa hal, kita harus mengambil cara-cara yang baik tersebut untuk menjaga anak kita. Intinya, memang diperlukan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat, baik dari pihak pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat umum untuk menjaga anak-anak kita.


EmoticonEmoticon