Monday, 16 January 2017

Puisi



Puisi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
puisi

Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia secara imajinatif. Puisi mengutamakan bunyi, bentuk, dan makna yang ingin disampaikan. Makna mendalam, menjadi bukti bahwa puisi tersebut baik dengan memadatkan segala unsur bahasa. Puisi juga berkenaan dengan pengucapan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan estetika keindahan. Dengan demikian, puisi dapat didefinisikan sebagai bentuk karya sastra dengan bahasa yang dipersingkat, dipadatkan, dan diberi irama dengan bunyi yang padu, penggunaan pilihan kata-kata kias, serta makna yang mendalam.
Unsur puisi terdiri dari dua unsur yakni:
1. Struktur fisik puisi
Berikut merupakan bagian yang termasuk struktur fisik puisi, diantaranya:
a. Perwajahan puisi (tipografi)
Perwajahan puisi atau tipografi adalah bentuk puisi. Bentuk puisi, antara lain halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan baris, baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri tanda titik, dan lain sebagainya. Hal ini menentukan pemaknaan terhadap puisi.
b. Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata. Puisi adalah bentuk karya sastra yang memuat sedikit kata-kata, maka kata-kata tersebut harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
c. Imaji
Imaji merupakan kata atau susunan kata yang mengungkapkan pengalaman indera manusia, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji terbagi menjadi tiga, yakni imaji penglihatan (visual), imaji suara (auditif), dan imaji raba atau sentuh (taklil). Penggunaan imaji mengakibatkan penyimak atau pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dialami penyair.
d. Kata konkret
Kata konkret merupakan kata yang memungkinkan pemunculan imaji karena kata tersebut dapat ditangkap indera. Kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Seperti kata “api” dimana melambangkan panas, semangat membara, dan lain-lain. Sedangkan kata “langit” melambangkan keagungan, cita-cita yang tinggi, dan sebagainya.
e. Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa kiasan dengan menghidupkan atau meningkatkan efek, sehingga menimbulkan konotasi tertentu dan menyebabkan puisi menjadi prismatis. Prismatis berarti kaya makna atau memancarkan banyak makna.
f. Rima
Rima adalah persamaan bunyi puisi baik pada bagian awal, tengah, maupun akhir baris puisi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
g. Irama
Irama adalah tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lemahnya bunyi puisi. Irama berkaitan dengan penyampaian puisi secara lisan. Irama dapat menunjang ekspresi penyair dalam penyampaian suatu puisi.
2. Struktur batin puisi
Berikut merupakan bagian yang termasuk pada struktur batin puisi, diantarnya:
a. Tema atau makna (sense)
Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan antara tanda dengan makna. Maka, puisi harus memiliki makna pada tiap kata, baris, bait, dan makna keseluruhan.
b. Rasa (feeling)
Rasa merupakan sikap penyair mengenai pokok permasalahan yang terdapat dalam puisi. Pengungkapan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, seperti latar belakang pendidikan, jenis kelamin, agama, kelas sosial, usia, kedudukan di masyarakat, dan pengalaman sosiologis serta psikologis.
c. Nada (note)
Nada merupakan sikap penyair terhadap penyimak atau pembaca. Nada berkaitan erat dengan tema maupun rasa. Penyair dapat menyampaikan puisi baik dengan nada menggurui, mendikte, nada sombong, bekerja sama dengan penyimak atau pembaca, menyerahkan masalah kepada penyimak atau pembaca, menganggap bodoh dan rendah penyimak atau pembaca, dan sebagainya.
d. Amanat (intention)
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisi tersebut.
Secara umum, puisi dapat dikategorikan menjadi dua, yakni:
1. Puisi lama
Puisi lama adalah puisi yang masih terikat dengan aturan-aturan, seperti jumlah kata dalam 1 baris, jumlah baris dalam 1 bait, persajakan (rima), banyak suku kata di tiap baris, dan irama. Ciri-ciri puisi lama, yakni tak diketahui nama pengarangnya (anonim), penyampaiannya dari mulut ke mulut sehingga merupakan sastra lisan, dan sangat terikat dengan aturan-aturan.
Terdapat berbagai jenis puisi lama, diantaranya:
a. Mantra
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Contoh mantra pengobat sakit perut:
Gelang-gelang si gali-gali
malukut kepada padi
Air susu keruh asalmu jadi
aku sapa tidak berbunyi
b. Pantun
Pantun adalah puisi yang memiliki ciri bersajak a-b-a-b. Setiap bait pantun terdiri dari 4 baris, pada tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, dan 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya, terdiri atas pantun anak, remaja, nasihat, teka-teki, dan jenaka. Berikut contoh pantun nasihat:
Dari apa kue lemang
Dari ketan yang dipanggang
Waktu kecil kita ditimang
Ayah ibu harus disayang
c. Seloka
Seloka adalah pantun yang berkait. Seloka terdiri dari 2 atau lebih bait. Antar bait pada seloka memiliki keterkaitan satu sama lain. Berikut contoh seloka:
Merah-merah buah rambutan
Rambutan matang di keranjang
Setitik cinta aku layangkan
Berbunga-bunga untukmu sayang

Rambutan matang di keranjang
Warnanya merah layaknya bata
Berbunga-bunga untukmu sayang
Tersenyum manis kuterima cinta
d. Talibun
Talibun merupakan pantun genap yang di setiap bait nya terdiri dari 6,8, atau 10 baris. Talibun 6 baris terdiri dari 3 baris pertama sampiran dan selanjutnya 3 baris isi, talibun 8 baris terdiri dari 4 baris pertama sampiran dan selanjutnya 4 baris isi, dan talibun 10 baris terdiri dari 5 baris pertama sampiran dan selanjutnya 5 baris isi. Berikut contoh talibun 8 baris:
Duduk berpangku di bulan purnama
Anak tertawa bulan berjudi
Tak ada yang berkuasa
Menangkap senja yang terjerat
Anak dididik ilmu agama
Agar menjadi orang berbudi
Tak pernah berbuat dosa
Orang tua pun selamat di akhirat
e. Syair
Syair adalah puisi yang berasal dari Arab. Ciri syair, yakni tiap bait 4 baris bersajak a-a-a-a dengan berisi nasihat atau cerita. Berikut contoh syair:
Berpikirlah secara sehat
Berucap tentang shalawat dan taubat
Berkarya dalam hidup dan manfaat
Berprasangka baik dan tepat
f. Karmina
Karmina merupakan pantun kilat atau pantun pendek. Karmina terdiri dari 1 bait dan 2 baris dengan 1 baris pertama sampiran dan 1 baris selanjutnya isi. Berikut contoh karmina:
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula
g. Gurindam
Gurindam adalah puisi yang mana tiap baris bersajak a-a, b-b, c-c, dan seterusnya. Gurindam berisi nasihat atau petuah hidup. Berikut contoh gurindam:
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya faedah.
2. Puisi baru
Puisi baru adalah puisi yang tidak terikat lagi dengan aturan. Puisi baru memiliki bentuk yang bebas dalam segi jumlah bait, baris, suku kata, dan rima. Ciri-ciri puisi baru, antara lain memiliki bentuk yang rapi (simetris), persajakan akhir teratur, menggunakan pola sajak pantun atau syair walaupun dengan pola yang lain, umumnya puisi empat seuntai, di setiap baris atasnya terdapat sebuah gatra (kesatuan sintaksis), dan tiap gatranya terdiri dari 2 kata (pada umumnya) atau 4-5 suku kata.
Jenis-jenis puisi baru dapat dikategorikan menjadi dua macam, yakni jenis puisi baru berdasarkan isinya dan jenis puisi baru berdasarkan bentuknya. Berikut jenis puisi baru berdasarkan isinya, antara lain:
a. Balada
Balada adalah puisi yang berisi kisah atau cerita. Puisi jenis ini terdiri dari 3 bait, yang setiap 8 larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Lalu skema berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren pada bait-bait berikutnya.
b. Himne
Pada awalnya himne adalah puisi pujaan kepada Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Semakin berkembangnya zaman, arti himne berubah menjadi sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap yang dihormati, seperti pahlawan, guru, almamater, dan sebagainya.
c. Romansa
Romansa berasal dari kata bahasa Perancis romantique yang berarti keindahan perasaan, persoalan kasih sayang, rinda dendam, dan kasih mesra. Oleh sebab itu, romansa merupakan puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
d. Ode
Ode adalah puisi yang berisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gaya ode sangat resmi, bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, dan bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu maupun peristiwa umum.
e. Epigram
Epigram berarti unsur pengajaran, didaktik, keteladanan, ikhtibar, dan nasihat yang membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan sebagai pedoman. Oleh karena itu, epigram merupakan puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
f. Elegi
Elegi adalah puisi yang berisi kesedihan atau rasa tangis. Elegi berbentuk sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama akibat kematian atau kepergian seseorang.
g. Satire
Satire merupakan puisi yang berisi sindiran atau kritik. Istilah satire berasal dari bahasa latin sature yang berarti sindiran dan kejaman tajam terhadap suatu fenomena.
Berikut jenis puisi baru berdasarkan bentuknya, antara lain:
1. Distikon (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari dua baris atau puisi dua seuntai).
2. Terzina (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari tiga baris atau puisi tiga seuntai).
3. Kuatrain (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari empat baris atau puisi empat seuntai).
4. Kuint (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari lima baris atau puisi lima seuntai).
5. Sektet (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari enam baris atau puisi enam seuntai).
6. Septime (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari tujuh baris atau puisi tujuh seuntai).
7. Oktaf (puisi yang di tiap baitnya terdiri dari delapan baris atau puisi delapan seuntai).
8. Soneta (puisi yang terdiri dari empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dimana dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris).




EmoticonEmoticon