Saturday, 20 August 2016

Congklak



Congklak
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Congklak adalah salah satu permainan tradisional yang telah berkembang cukup lama di kawasan Melayu termasuk Indonesia. Congklak di berbagai daerah di Indonesia dikenal dengan nama atau sebutan yang berbeda-beda. Di Sumatera, permainan ini dikenal dengan nama congklak. Di Jawa, permainan ini dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan. Di Lampung permainan ini dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini dikenal dengan nama mokaotan, maggaleceng, aggalacang, atau nogarata. Congklak juga dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai negara. Congklak dalam bahasa Inggris disebut mancala, di Filipina disebut sungka, di Srilangka disebut cangka, dan di Thailand disebut tungkayon.
Dalam sejarahnya permainan tradisional congklak berasal dari Timur Tengah dan menyebar ke Afrika. Selanjutnya menyebar ke Asia melalui pedagang Arab sekitar tahun 1640. Menurut asal-usulnya pada kekaisaran Mesir kuno sekitar abad 15 sampai 11 sebelum masehi (SM) permainan sejenis congklak sudah ada pada zaman tersebut. Untuk itu, terdapat indikasi bahwa congklak merupakan papan permainan tertua yang pernah ada.
Congklak hanya bisa dimainkan oleh 2 orang. Permainan ini menggunakan papan permainan dengan ukuran panjang 80 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 10 cm yang memiliki 14 lubang dan 2 lubang besar atau disebut lubang induk yang berada di ujung kiri dan kanan. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di kanan pemain dianggap sebagai milik sang pemain. Papan tersebut dilengkapi dengan biji-bijian untuk pengisi lobang congklak, biasanya berupa biji asem, sawo, atau biji tanjung. Di beberapa daerah pesisir, biji-bijian tersebut diganti dengan kewuk atau kulit kerang.
 Papan Permainan Congklak
Berikut cara bermainan congklak :
1. Tiap lubang kecil diisi dengan 7 biji.
2. Lubang induk dibiarkan kosong.
3. Setiap pemain mengambil semua biji yang terdapat pada lubang kecil yang diinginkan untuk disebar satu biji per lubang berurutan searah jarum jam.
4. Langkah tersebut dilakukan berulang.
5. Apabila pada lubang terakhir meletakan biji masih ada isinya (lubang tersebut tidak kosong), maka pemain tersebut melanjutkan dengan mengambil semua biji yang terdapat pada lubang tersebut dan melanjutkan permainan.
6. Apabila peletakan biji terakhir berada pada lubang yang kosong maka pemain tidak dapat melanjutkan langkah dan giliran permainan berpindah kepada lawan. Keadaan ini disebut sebagai keadaan mati.
7. Setelah semua baris kosong, maka permainan dimulai lagi dengan mengisi 7 lubang milik kita, masing-masing dengan 7 biji dari biji yang ada di lubang induk kita. Dimulai dari lubang yang terdekat dengan lubang induk, bila tidak mencukupi maka lubang lainnya dibiarkan kosong dan selama permainan tidak boleh diisi.
8. Biji milik lawan dapat menjadi milik kita dengan cara nembak, yakni biji terakhir jatuh pada lubang yang kosong dan secara kebetulan lubang di depannya penuh dengan biji, maka biji itu dapat diambil dan mengisi lubang induk kita.
9. Permainan terus berlanjut dengan saling bergantian dan baru berakhir setelah seluruh biji sudah berada pada lubang tujuan masing-masing pemain, atau apabila salah satu pemain sudah tidak memiliki biji pada lubang-lubang kecilnya untuk dimainkan (disebut mati jalan). Pemenangnya adalah yang memiliki jumlah biji terbanyak pada lubangnya.
 Bermain Congklak
 Adapun manfaat atau nilai yang bisa diambil dari bermain congklak, diantaranya:
1. Sikap sportif
Bermain congklak melatih kita untuk bersikap sportif karena bisa saja kita memasukan beberapa biji ke dalam satu lubang induk, atau berpura-pura tidak berhenti pada lubang kosong, dan sikap curang lainnya. Untuk itu, bermain congklak memerlukan kejujuran yang akhirnya melatih sikap sportif.
2. Sikap jujur
Masih berhubungan dengan sikap sportif dalam bermainan congklak, permainan ini menjunjung tinggi kejujuran karena permainan congklak pada dasarnya memerlukan sikap jujur dari masing-masing pemainnya.
3. Strategi
Dalam bermainan congklak, kita dituntut untuk berpikir bagaimana caranya supaya kita bermain tidak cepat berhenti di lubang kosong. Untuk itu, pemain perlu mengatur strategi.
4. Kompetitif (daya saing)
Congklak merupakan permainan yang dimainkan oleh 2 orang. Pada akhir permainan congklak terdapat satu orang pemenang. Dengan kata lain, bermain congklak melatih sikap kompetitif kita agar dapat bersaing dengan sehat agar mencapai kemenangan. Meskipun pada dasarnya kemenangan bukan merupakan tujuan inti dari permainan ini, namun setiap pemain tetap harus berusaha untuk menang sambil menikmati permainan congklak yang menyenangkan.
Pada dasarnya congklak memiliki nilai budaya, yakni ketelitian, kecerdasan, dan kejujuran. Ketelitian dituntut agar ketika memasukan biji congklak tidak salah, seperti salah memasukan biji congklak ke lubang induk pemain lawan atau kesalahan lainnya. Kecerdasan dibutuhkan agar pemain bisa memenangkan permainan. Terakhir nilai kejujuran diharapkan agar masing-masing pemain bermain secara sportif.


EmoticonEmoticon