Tuesday, 17 January 2017

Filsafat Pendidikan Idealisme



Filsafat Pendidikan Idealisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
filsafat pendidikan idealisme
Idealisme berasal dari bahasa Latin yaitu idea atau kadang juga digunakan istilah mentalism yang berarti ide atau gagasan yang hadir dari dalam jiwa. Dengan kata lain, idealisme dapat diartikan sebagai suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Idealisme meyakini bahwa kenyataan terdiri dari substansi ide-ide atau gagasan-gagasan. Alam fisik tergantung dari jiwa universal atau Tuhan. Artinya alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut.
Inti dari idealisme merupakan suatu penekanan pada realitas ide-gagasan, pemikiran, akal-pikir, atau pendirian daripada sebagai suatu penekanan obyek-obyek dan daya-daya material. Untuk itu, paham ini menekankan akal-pikir sebagai hal dasar atau lebih dulu ada daripada materi dan menganggap bahwa akal-pikir adalah sesuatu yang nyata, sedangkan materi adalah akibat yang ditimbulkan oleh akal-pikir tersebut.
Idealisme terbagi menjadi tiga jenis, yakni (1) idealisme subyektif, (2) idealisme obyektif, dan (3) idealisme personal. Idealisme subyektif berpendirian bahwa akal, jiwa, dan persepsinya merupakan segala yang ada. Obyek pengalaman adalah suatu persepsi. Benda-benda ada, namun hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. Idealisme obyektif percaya bahwa alam terbagi menjadi dua bagian, yakni dunia persepsi atau dunia penglihatan yang kongkrit, temporal, dan rusak serta dunia konsep, ide, universal, atau esensi yang abadi. Paham ini meyakini bahwa ide-ide adalah contoh yang transenden dan asli, sedangkan persepsi dan benda-benda individual adalah bayangan dari ide-ide tersebut. Idealisme personal berpendirian bahwa realitas dasar bukan merupakan pemikiran yang abstrak, melainkan suatu jiwa yang merupakan satuan kehidupan yang tak dapat diperkecil lagi. Alam merupakan tata tertib yang obyektif, walaupun alam tersebut tidak berdiri sendiri. Manusia mengatasi alam jika ia mengadakan interpretasi terhadap alam tersebut.
Secara umum aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam berasal dari ruh, yakni sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau benda hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruh tersebut. Untuk itu, nilai ruh lebih tinggi daripada badan dan dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya.
Dalam pandangan idealisme, mengetahui realitas tidaklah melalui sebuah pengalaman melihat, mendengar, atau meraba, namun sebagai tindakan menguasai ide dan memeliharanya dalam akal pikiran. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dipahami bahwa pengetahuan tidak didasarkan pada sesuatu yang datang dari luar, melainkan pada sesuatu yang telah diolah dalam ide dan pikiran. Untuk itu, proses untuk mengetahui dapat dilakukan dengan mengenal atau mengenang kembali ide-ide tersembunyi yang telah terbentuk dan telah ada dalam pikiran.
Nilai kebaikan menurut aliran idealisme dipandang dari sudut Diri Absolut. Hal ini terjadi ketika manusia dapat menyelaraskan diri dengan Yang Absolut sebagai sumber moral etik. Dengan demikian, nilai tersebut merupakan sesuatu yang mutlak, abadi, tidak berubah, dan bersifat universal.
Aliran idealisme cukup berpengaruh dalam dunia pendidikan saat ini. Pendidikan idealisme bertujuan agar anak didik memiliki kehidupan bermakna, memiliki kepribadian harmonis, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lain untuk hidup lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa perlunya persaudaraan antar manusia. Dalam pandangan ini, guru merupakan personifikasi dari kenyataan anak didik. Artinya, guru merupakan fasilitator yang akan mengantarkan anak didik dalam mengenal dunianya lewat materi-materi dalam aktifitas pembelajaran. Untuk itu, guru harus memiliki pengetahuan yang lebih dan ahli daripada anak didik. Selain itu, guru haruslah memiliki pribadi yang baik, sehingga disegani oleh anak didik.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang obyektif. Pengalaman harus lebih dominan daripada pengajaran yang text book. Metode pembelajaran diutamakan menggunakan metode dialektik, yakni menggunakan dialog atau percakapan dua arah. Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuan dasarnya. Dengan demikian pendidikan idealisme berupaya agar seseorang dapat mencapai nilai-nilai dan ide-ide yang diperlukan oleh semua orang manusia secara universal.


EmoticonEmoticon