Sunday, 21 August 2016

Konsep Full Day School



Konsep Full Day School
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
konsep full day school
Sekolah diibaratkan suatu industri yang mencetak jasa berupa jasa pendidikan. Melalui pendidikan, diharapkan semua bakat, kemampuan, dan keterampilan yang dimiliki bisa dikembangkan secara maksimal agar dapat membangun pribadi yang mandiri. Kesuksesan pendidikan terletak pada kurikulum yang diterapkan. Kurikulum merupakan serangkaian kegiatan di bawah tanggung jawab sekolah yang diberikan kepada siswa. Untuk itu, kurikulum harus relevan dengan kebutuhan siswa dan tuntutan orang tua. Di samping itu, sekolah harus menampilkan ciri khas yang dapat dilirik masyarakat dan memastikan bahwa kualitas sekolah tersebut memiliki kelebihan dalam berbagai hal. Dalam mewujudkan tujuan tersebut banyak sekali upaya yang dilakukan pemerintah maupun swasta, salah satunya penerapan konsep full day school.
Secara bahasa, kata full day school berasal dari bahasa Inggris. Terdiri dari kata full yang berarti penuh, day yang berarti hari, dan school yang berarti sekolah. Dengan kata lain, full day school adalah sekolah sepanjang hari. Biasanya dilakukan mulai pukul 06.45-15.00. Dengan demikian, sekolah dapat mengatur jadwal secara leluasa dan menambah pendalaman materi tertentu atau kegiatan tertentu.
Full day school muncul pada awal 1980-an di Amerika Serikat. Pada saat itu, full day school dilaksanakan pada jenjang sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) dan selanjutnya meluas pada jenjang yang lebih tinggi mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan menengah atas. Munculnya konsep ini di Indonesia diawali dengan menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an yang banyak dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta.
Konsep full day school dapat menjadi jawaban bagi orangtua  dalam mencegah dan meminimalisir kemungkinan dari kegiatan-kegiatan anak yang menjurus pada kegiatan negatif. Ketertarikan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah full day school dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yakni semakin banyaknya kaum ibu yang bekerja di luar rumah dan mereka banyak yang memiliki anak usia sekolah. Selain itu, meningkatnya pengaruh televisi dan mobilitas para orang tua serta kemajuan dan modernisasi yang mulai berkembang di segala aspek kehidupan.
Secara utuh dapat dilihat bahwa pelaksanaan sistem pendidikan full day school mengarah pada beberapa tujuan, antara lain:
1. Memberikan pengayaan dan pendalaman materi pelajaran sesuai standar yang telah ditentukan dan kebutuhan siswa serta tuntutan orangtua.
2. Memberikan pengalaman melalui pembiasaan hidup yang baik untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Melakukan pembinaan kejiwaan, mental, dan moral siswa untuk mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani sehingga terbentuk pribadi yang utuh.
4. Pembinaan spiritual siswa melalui penambahan materi-materi keagamaan dan kegiatan keagamaan sebagai dasar dalam bersikap dan berperilaku.
Setiap sistem pendidikan tentunya memiliki faktor penunjang dan faktor penghambat. Adapun faktor penunjang pelaksanaan sistem full day school, di antaranya (1) kurikulum, (2) manajemen pendidikan, (3) sarana dan prasarana, serta (4) sumber daya manusia (SDM). Kurikulum full day school harus direncanakan dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan siswa dan tuntutan orangtua. Kurikulum full day school melakukan hal-hal berikut:
1. Memasukkan tujuan untuk dicapai dalam semua bidang, meliputi bidang sosial, kognitif, emosi, dan fisik agar siswa mampu mempersiapkan diri untuk berperan di masyarakat.
2. Menggarap perkembangan pengetahuan, pengertian, proses, dan keterampilan tidak sebagai fakta yang terpisah.
3. Kurikulum disusun berdasarkan sasaran nyata yang menantang, namun dapat dicapai.
4. Merefleksikan kebutuhan dan minat masing-masing siswa dan kelompok siswa.
5. Menghormati dan mendukung keragaman individu, budaya, dan bahasa.
6. Membangun pengetahuan dari dasar yang sudah diketahui siswa dan mampu menciptakan situasi belajar untuk memajukan pencapaian konsep dan keterampilan baru.
7. Memungkinkan integrasi seluruh isi kurikulum.
8. Memenuhi standar yang relevan dengan disiplin pelajaran.
9. Melibatkan siswa secara aktif, sosial, fisik, dan mental.
10. Fleksibel sehingga guru dapat menyesuaikan diri dengan keragaman siswa dan kelompok siswa.
Manajemen memiliki peran penting dalam suatu organisasi termasuk sekolah. Pada sekolah full day school, manajemen menjadi kunci utama dalam mengatur keberlangsungan proses pembelajaran sesuai kurikulum yang telah dirancang. Di samping itu, sarana dan prasarana mutlak sebagai daya dukung kegiatan pembelajaran dalam sistem full day school. Hal ini harus menunjang kebutuhan dan minat siswa. Daya dukung sarana dan prasarana berupa ketersediaan perpustakaan, lapangan, laboratorium, taman sekolah, ruang olahraga, ruang seni, dan fasilitas lain yang menunjang kebutuhan serta minat siswa. SDM dalam konteks pendidikan yakni pendidik atau guru itu sendiri. Guru dituntut untuk selalu memperkaya pengetahuan dan keterampilan yang sekiranya tidak membuat siswa bosan seharian di sekolah karena sistem full day school. Sebaliknya faktor penghambat dalam penerapan sistem full day school, di antaranya (1) keterbatasan sarana dan prasarana, serta (2) guru yang tidak profesional. Dengan demikian, kedua hal tersebut perlu diantisipasi dalam pelaksanaan sistem pendidikan full day school.
Adapun kelebihan penerapan sistem pendidikan full day school, antara lain:
1. Siswa akan mendapatkan pembelajaran yang bervariasi dan lain dengan sekolah reguler.
2. Orangtua tidak akan cemas anaknya terkena pengaruh negatif karena sistem full day school membiasakan siswa bersikap, bertindak, dan berperilaku baik yang selanjutnya diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Sekolah full day school memiliki kuantitas waktu lebih banyak, sehingga sekolah lebih leluasa dalam menyusun kegiatan pembelajaran.
4. Orangtua akan mempercayakan anaknya secara penuh kepada pihak sekolah dan terjalin kerja sama serta komunikasi yang baik antara orangtua dan pihak sekolah.
Adapun kelemahan penerapan sistem pendidikan full day school, diantaranya:
1. Siswa cenderung cepat bosan dengan lingkungan sekolah.
2. Sosialisasi siswa terhadap lingkungan di luar sekolah menjadi berkurang.
3. Kurangnya waktu bermain bagi siswa.
4. Siswa banyak kehilangan waktu bersama keluarga di rumah.
Berdasarkan uraian di atas, maka full day school adalah sekolah sepanjang hari. Dari segi makna dan pelaksanaannya full day school sebagian waktunya digunakan untuk program pembelajaran dengan suasana informal, tidak kaku, dan menyenangkan bagi siswa. Terlepas dari pro dan kontra penerapan sistem full day school, sistem ini diharapkan agar siswa memiliki produktifitas yang tinggi sehingga mampu meminimalisir hal-hal negatif yang dimungkinkan dilakukan oleh anak sebagai dampak dari pergaulan dengan lingkungan yang tidak terawasi.


EmoticonEmoticon