Thursday, 18 August 2016

Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)



Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran value clarification technique (VCT)

Model pembelajaran value clarification technique atau disingkat VCT merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali nilai-nilai tertentu dari diri siswa. Model ini dapat membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalaan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. Dengan kata lain, model pembelajaran VCT dimaksudkan untuk melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika ditinjau dari segi proses, model pembelajaran VCT berfungsi untuk (1) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai, (2) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimiliki baik positif maupun negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulan, dan (3) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional serta dapat diterima siswa sebagai nilai pribadi.
Model pembelajaran VCT sangat efektif digunakan pada mata pelajaran yang lebih menitikberatkan ranah afektif, seperti pendidikan kewarganegaraan (PKn). Mata pelajaran PKn atau sejenisnya berada pada ranah sikap yakni wahana penanaman nilai, moral, dan norma baku. Sikap merupakan posisi seseorang atau keputusan seseorang sebelum berbuat, sehingga sikap merupakan ambang batas seseorang antara sebelum melakukan sesuatu perbuatan atau berperilaku tertentu. Dalam hal ini penggunaan model pembelajaran VCT sangat cocok karena model pembelajaran ini membantu siswa dalam mencapai dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada tertanam dalam diri siswa.
Berikut unsur-unsur yang terdapat pada model pembelajaran VCT, antara lain:
1. Kegiatan kelas berorientasi pada pemecahan masalah.
2. Siswa terlibat secara aktif dalam mengembangkan pemahaman dan pengenalannya terhadap nilai-nilai pribadi.
2. Guru dan siswa mengenal dan menganalisis masalah secara rinci.
3. Guru sebagai pembimbing proses pembelajaran.
4. Tersedianya perpustakaan, sumber belajar yang lain, atau narasumber yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Model pembelajaran VCT dikembangkan oleh John Jarolimek (1974). Metode yang terdapat dalam model pembelajaran ini, diantaranya diskusi, curah pendapat, bermain peran, dan wawancara. Langkah pembelajaran model pembelajaran VCT terdiri atas 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkatan, sebagai berikut:
1. Kebebasan memilih
Pada tingkat ini terdapat 3 tahap, yakni:
a. Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan terinternalisasi ke dalam diri.
b. Memilih dari berbagai alternatif, artinya menentukan pilihan dari berbagai alternatif pilihan secara bebas.
c. Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat dari pilihan.
2. Menghargai
Pada tingkat ini terdapat 2 tahap, yakni:
a. Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dari diri.
b. Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam diri di depan umum, artinya bila kita menganggap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untutk menunjukannya di depan orang lain.
3. Berbuat
Pada tingkat ini terdapat 2 tahap, yakni:
a. Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakan nilai menjadi suatu perilaku.
b. Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya, artinya nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Kelebihan model pembelajaran VCT, diantaranya:
1. Mampu membina dan menanamkan nilai serta moral pada ranah afektif.
2. Mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa, melihat nilai yang ada pada orang lain, dan memahami nilai moral yang ada dalam kehidupan nyata.
3. Mampu menggali dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan selanjutnya akan memudahkan bagi guru untuk menyampaikan pesan moral.
4. Mengembangkan potensi sikap siswa.
5. Menangkal, meniadakan, mengintervensi, dan memadukan berbagai nilai moral dalam sistem nilai serta moral yang ada pada diri seseorang.
6. Memberi gambaran nilai moral yang patut diterima dan menuntut serta memotivasi untuk hidup layak dan bermoral tinggi.
Kelemahan model pembelajaran VCT, diantaranya:
1. Apabila guru tidak memiliki kemampuan melibatkan siswa dengan keterbukaan saling pengertian dan penuh kehangatan, maka siswa akan memunculkan sikap semu atau imitasi.
2. Sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar terutama keterampilan bertanya tingkat tinggi yang mampu mengungkap dan menggali nilai yang ada pada diri siswa.
3. Memerlukan kreativitas guru dalam menggunakan media yang tersedia di lingkungan terutama yang aktual dan paktual sehingga dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran VCT yakni model pembelajaran yang menanamkan dan menggali nilai-nilai tertentu dari diri siswa. Penggunaan model pembelajaran ini harus diimbangi dengan kemampuan guru dalam menguasai keterampilan dasar mengajar khususnya keterampilan bertanya tingkat tinggi. Dalam model pembelajaran ini diperlukan sikap demokratis, ramah, hangat, dan nuansa kekeluargaan yang akrab, sehingga siswa berani berpendapat dan berani berbeda pendepat dengan guru maupun siswa lainnya.


2 comments

sumber/rujukannya gak ditulis kakak?

ini essay yang tidak mengutip dari manapun, jadi tanpa sumber ^-^


EmoticonEmoticon