Wednesday, 24 August 2016

Video Game sebagai Alternatif Solusi Pengenalan Kosakata Bahasa Inggris Bagi Anak Usia Dini


Video Game sebagai Alternatif Solusi
Pengenalan Kosakata Bahasa Inggris Bagi Anak Usia Dini
Karya: Rizki Siddiq Nugraha, Yajid Nur Salim, dan Siti Putri Indriani

Video Game sebagai Alternatif Solusi Pengenalan Kosakata Bahasa Inggris Bagi Anak Usia Dini

Bahasa nasional bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia. Di samping itu terdapat juga lebih dari 700 bahasa daerah di negara Indonesia. Bahasa daerah tersebut tersebar di seluruh wilayah nusantara. Dengan kata lain negara Indonesia kaya akan bahasa.
Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah sejak lama dikenal bangsa Indonesia. Begitu pula dengan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Mata pelajaran bahasa Inggris telah ada sejak kurikulum pendidikan pertama negara Indonesia yakni Kurikulum 1968. Saat ini dalam Kurikulum 2013, mata pelajaran bahasa Inggris terdapat pada jenjang pendidikan SMP dan SMA. Pokok-pokok materi bahasa Inggris di SMP dalam kurikulum 2013 diantaranya, memahami teks lisan, memahami struktur teks, menyusun teks lisan dan tulis, menangkap makna dalam teks, serta menangkap dan memahami pesan dalam lagu. Dengan demikian dapat diartikan bahwa siswa SMP harus menguasai kosakata bahasa Inggris yang cukup sebagai modal dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris di SMP.
Pada jenjang sekolah dasar (SD) tidak terdapat mata pelajaran bahasa Inggris. Adapun mata pelajaran bahasa Inggris terdapat di beberapa SD sebagai muatan lokal. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan penguasaan bahasa Inggris siswa SD karena tidak setiap sekolah maupun daerah menambahkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal. Salah satunya keterbatasan pengetahuan kosakata bahasa Inggris. Maka tidak setiap lulusan SD siap mengikuti pembelajaran bahasa Inggris di SMP.
Pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) anak bermain sambil belajar. Pada saat bermain, anak secara tidak langsung sedang mempelajari berbagai kompetensi, salah satunya kosakata bahasa Inggris. Pada jenjang PAUD anak mulai dikenalkan kosakata bahasa Inggris sederhana. Namun, sayangnya PAUD masih asing bagi masyarakat secara umum. Di samping belum ditetapkan sebagai jenjang pendidikan wajib secara nasional, keberadaan PAUD juga belum tersebar secara luas di beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu, tidak setiap anak di Indonesia mengalami jenjang PAUD sebelum masuk SD.
“Keluarga merupakan lembaga sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak” (Endang Purwaningsih, 2010, hlm. 47). Dengan kata lain, anak pertama kali mengenal pendidikan dalam keluarga. Komponen utama keluarga diantaranya, ayah, ibu, dan anak. Anak merupakan subjek pendidikan dalam keluarga. Sedangkan ayah dan ibu berperan sebagai pendidik di keluarga. Maka, ayah dan ibu sebagai orang tua memiliki peranan penting dalam pendidikan di keluarga. Bahasa berkembang dalam diri anak dari sejak lahir. Oleh karena itu, pendidikan bahasa penting adanya dalam pendidikan keluarga. Anak Indonesia secara lahiriah memiliki bahasa pertama bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Sedangkan pengenalan kosakata bahasa Inggris bagi anak Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini dipengaruhi kebiasaan orang tua berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Dengan demikian anak di keluarga sangat terbatas dalam mengenal kosakata bahasa Inggris.
Beberapa solusi yang pernah ditawarkan dalam pengenalan kosakata bahasa Inggris untuk anak usia dini, antara lain:
1.        Pengenalan kosakata bahasa Inggris di PAUD
Sejalan dengan uraian sebelumnya bahwa terdapat pengenalan kosakata bahasa Inggris sederhana di PAUD. Anak belajar kosakata bahasa Inggris di PAUD dengan cara bermain aktif. “Bermain aktif adalah aktivitas bermain yang melibatkan pergerakan tubuh sehingga membutuhkan energi atau tenaga dan menimbulkan rasa senang pada diri anak” (Abidin dan Yunus, 2009, hlm. 13). Anak mengenal kosakata bahasa Inggris dengan melakukan berbagai permainan seperti, bermain bebas, bermain peran, mengumpulkan benda, menyusun, serta permainan dan olahraga. Solusi ini memiliki berbagai kendala, mulai dari belum dikenalnya PAUD oleh masyarakat secara umum, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya PAUD, dan keberadaan PAUD yang belum terdapat di beberapa daerah di Indonesia.
2.        Pengenalan kosakata bahasa Inggris melalui nyanyian
Melaluai nyanyian berbahasa Inggris, anak secara tidak langsung mengenal kosakata bahasa Inggris. Salah satu nyanyian bahasa Inggris yang banyak anak kenal ialah lagu Happy Birthday. Hampir pada setiap momen ulang tahun, anak menyanyikan lagu Happy Birthday. Melalui lagu tersebut anak dapat mengucapkan kata happy birthday. Namun disisi lain tidak setiap anak mengerti makna dari kata tersebut. Inilah kendala dari pengenalan kosakata bahasa Inggris melalu nyanyian.
3.        Pengenalan kosakata bahasa Inggris melalui percakapan langsung
Pengenalan kosakata bahasa Inggris dapat dilakukan melalui percakapan sehari-hari. Caranya seperti mengajak anak bercakap dalam bahasa Inggris, membaca teks cerita sederhana berbahasa Inggris, dan melalui gambar benda. Orang tua memiliki peranan sentral dalam penggunaan cara ini. Orang tua harus mampu menguasai dan mengenalkan bahasa Inggris kepada anak. Kendala muncul apabila orang tua memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa Inggris.
Anak merupakan anugerah dan amanah yang harus diberikan pendidikan agar tumbuh dan berkembang. Selain itu, Anak memiliki potensi yang harus dikembangkan secara optimal. Pengembangan potensi anak haruslah jelas arahnya sehingga potensi anak akan menjadi kompetensi yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya kelak.  Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari anak adalah bermain. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Melalui kegiatan bermain anak belajar berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Dikutip dari Suhendi (2001, hlm. 8) menjelaskan bahwa:
“Setiap diri manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa terdapat hasrat untuk bermain. Seperti halnya kebutuhan bersosialisasi dan berkelompok, bermain merupakan hasrat yang mendasar pada diri manusia…Anak-anak ingin bermain karena saat itulah mereka mendapatkan berbagai pengalaman lewat bermain melalui eksplorasi alam d sekitarnya. Dari kegiatan tersebut, mereka dapat mengenal alam dan teman sepermainan dalam suasana yang menyenangkan. Sementara orang dewasa membutuhkan permainan sebagai sarana relaksasi dan menghibur diri”.
Berdasar pada pendapat tersebut, maka bermain merupakan kebutuhan bagi anak untuk mendapatkan berbagai pengalaman secara langsung dalam kehidupan. Membicarakan tentang bermain erat kaitannya dengan permainan.
Menurut Sadiman (1993, hlm. 77) bahwa “Permainan (games) adalah setiap kontes antara para pemain yang berinteraksi satu sama lain dengan mengikuti aturan-aturan tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pula”.
Permainan adalah suatu perbuatan yang mengandung keasyikan dan dilakukan atas kehendak sendiri, bebas tanpa paksaan dengan bertujuan untuk memperoleh kesenangan pada waktu mengadakan kegiatan tersebut. Oleh karena itu perlu kiranya bagi anal-anak untuk diberi kesempatan dan sarana di dalam kegiatan permainnya. (Abu Ahmadi, 1991: 69-70). Merujuk pada kedua pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa permainan adalah suatu kegiatan yang dilakukan tanpa adanya paksaan didasari oleh rasa senang untuk mengikuti aturan-aturan, dan tujuan-tujuan dalam kegiatan tersebut.
Kostelnik dalam W. Montolalu (2008, hlm. 105) mengemukakan tentang karakteristik bermain pada anak sebagai berikut:, ”Play is fun, not serious, meaningful, active, voluntary, intrinsically motivated, rule governed”. Pendapat ini mengimplikasikan bahwa permainan harus membuat anak senang dan anak bermain dengan bermakna. Permainan memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak baik secara mental, sosial dan emosional. Untuk itu, permainan harus dapat dimanfaatkan sebagai media untuk mengembangkan potensi anak. Adapun pemanfaatan permainan sebagai media pendidikan memiliki beberapa kelebihan. menurut Sadiman, Arief, dkk. (1993, hlm. 80-82) kelebihan permainan sebagai media pendidikan antara lain:
1.    Permainan adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan atau sesuatu yang menghibur.
2.         Permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar.
3.         Permainan dapat memberikan umpan balik langsung.
4.    Umpan balik yang secepatnya atas apa yang kita lakukan akan memungkinkan proses belajar menjadi lebih efektif.
5.         Permainan memungkinkan penerapan konsep-konsep ataupun peran-peran ke dalam situasi dan peranan yang sebenarnya di masyarakat.
6.    Permainan bersifat luwes. Salah satu sifat permainan yang menonjol adalah keluwesannya.
Permainan seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi terus  mengalami kemajuan. Di era globalisasi ini bermunculan permainan-permainan modern yang canggih. Permainan canggih ini termasuk kedalam permainan elektronik. Keunikan dan kecanggihan permainan modern mampu menarik perhatian anak. Daya tarik inilah yang membuat semakin maraknya bermunculan permainan-permainan baru. Cara memainkannya pun cenderung sederhana hanya dengan memencet tombol pada remot kontrol. Salah satu alat permainan modern ini adalah video game. Video game memiliki daya tarik tersendiri bagi anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa video game merupakan salah satu permainan favorit bagi anak. Banyak anak menyukai video game karena anak tertarik dengan gambar, bentuk, warna, dan hal lainnya yang didesain sedemikian rupa oleh pembuat video game.
Secara umum video game yang tersedia saat ini menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa Inggris. Untuk itu, karena video game secara umum menggunakan bahasa Inggris dan anak banyak menyukai bermain video game maka hal ini dimanfaatkan sebagai modal dasar video game sebagai solusi mengenalkan kosakata bahasa Inggris bagi anak usia dini.
Mark Griffiths (2002, hlm. 47) mengemukakan  bahwa “Video games have great positive potential in addition to their entertainment value and there has been considerable success when games are designed to address a specific problem or to teach a certain skill”. Merujuk pada pendapat tersebut, bahwa video game memiliki potensi yang bagus menambah nilai hiburan dan untuk kesuksesan ketika permainan dirancang untuk mengatasi permasalahan atau untuk belajar kemampuan tertentu.
Dalam melakukan aktivitas bermain video game anak secara langsung akan mengembangkan berbagai kemampuan dasar. Salah satu kemampuan dasar yang akan berkembang adalah kemampuan berbahasa. Ketika bermain anak akan menemukan berbagai kosakata baru dari apa yang dilihat atau yang didengarnya. Hal ini didasari oleh teori pemerolehan bahasa yaitu teori behavioristik. Teori behavioristik ini lebih menekankan pada kebiasaan. kaum behaviors berpendapat bahwa anak-anak lahir dengan potensi belajar maka perilaku mereka dapat dibentuk dengan memanipulasi lingkungan. Selain itu, dengan adanya penguatan yang benar, kemampuan intelektual anak dapat dikembangkan. Teori permerolehan bahasa behavioristik ini dikembangkan oleh B.F Skinner yang berpandangan bahwa pemerolehan bahasa anak dikendalikan oleh lingkungan.  Dalam teori ini Skinner memiliki pandangan lebih menekankan pada kebutuhan “pemeliharaan” perkembangan intelektual dengan memberikan stimulus pada anak dan menguatkan perilaku anak. Berlandasaskan dari teori behavioristik ini, maka  Kaitannya dengan pemanfaatan video game maka video game memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berbahasa agar anak mengenal kosakata dalam bahasa Inggris. Melalui kebiasaan bermain video game akan  mengakibatkan banyak informasi khususnya kosakata baru dalam bahasa Inggris yang diperoleh anak. Untuk itu, ketika anak akan bermain video game suka atau tidak, anak akan  mencari tahu kata-kata yang ada pada video game. Anak harus mengikuti perintah-perintah pada video game agar dapat mencapai tujuan dalam video game. Tentu ketika anak suka dengan video game maka sebenarnya tanpa dipaksa atau disuruh untuk bermain anak akan sendiri memiliki dorongan untuk bermain. Sejalan dengan teori behavioristik, maka stimulus atau rangsangan ini berkaitan dengan pemenuhan sarana oleh orang tua untuk anak. Sedangkan penguatannya berupa dukungan dan pengawasaan terhadap aktivitas bermain video game anak.  Orang tua harus bisa menyediakan video game dengan konten yang sesuai dengan perkembangan anak sehingga video game akan sangat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan bahasa anak. Dalam hal ini, lebih menekankan bagaimana anak belajar melalui bermain video game. Maka pemanfaatkan video game ini ditujukan untuk mengenalkan kosakata bahasa Inggris pada anak. Orang tua memiliki peran penting dalam hal mengawasi kegiatan anak. Aktivitas bermain video game harus diawasi terutama dari segi waktu. Menejemen waktu yang baik tentunya akan berdampak baik juga bagi perkembangan anak.
Apabila ditinjau dari tingkat perkembagan berfikir menurut Piaget maka anak memiliki cara berikir kongkrit. Oleh sebab itu, anak harus melakukan aktivitas kongkrit dan pegalamanan langsung. Melalui video game, anak akan mendapat kesempatan yang luas untuk berinteraksi langsung dengan objek-objek yang ada dalam video game tersebut sehingga anak secara tidak disadari akan memperoleh kosakata baru sekaligus mengetahui makna katanya. Sejalan dengan hal tersebut, I Made Sriundy Mahardika (2005, hlm. 76) mengungkapkan beberapa karakteristik  sosial emosional anak antara lain “kemampuan anak berfikir kongkret, anak memiliki ketertarikan kepada setiap hal yang baru, anak memiliki kesenangan dan keinginan menemukan masalah baru yang belum diketahui, anak memiliki kegemaran mengulang-ngulang kegiatan yang menyenangkan, dan anak memiliki hasrat berkreasi dan daya khayal tinggi”. Pendapat ini memperkuat bahwa video game dapat dijadikan alternatif solusi karena dilihat dari karakteristiknya video game mengandung unsur-unsur hal yang kongkret, terdapat hal-hal atau informasi yang baru bagi anak, terdapat berbagai masalah yang harus dipecahkan oleh anak, karena menarik dan menyenangkan tentunya anak akan mengulangi untuk bermain video game, dan dalam video game mengandung unsur kreasi dan daya khayal sehingga dapat meningkatkan kreativitas anak.
Merujuk pada uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa video game dapat dimanfaatkan sebagai alternatif solusi mengenalkan kosakata bahasa Inggris bagi anak usia dini. Potensi anak harus dikembangkan secara optimal. Dalam hal ini kesenangan anak terhadap bermain video game merupakan modal dasar untuk mengenalkan bahasa Inggris pada anak. Selain itu, untuk mendapatkan pengaruh positif secara maksimal dari pemanfaatan video game maka diperlukan peranan orang tua sebagai fasilitator dan pengawas. Untuk itu, melalui video game anak dapat mengenal kosakata dalam bahasa Inggris dan diharapkan ketika beranjak dewasa anak memiliki kompetensi berbahasa Inggris untuk menghadapi perkembangan global yang semakin hari semakin berkembang.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. (2009). Bermain, Pengantar bagi Penerapan Pendekatan Beyond Center and Circle Time (BCCT) dalam Dimensi PAUD. Bandung: RIZQI Press.
Ahmadi, A. (1991). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.
Griffits. (2002). The education benefits of video games. Education and health, 20 (3), hlm. 47.
Mahardika, I Made Sriundy. (2005). Pendidikan jasmani dan kesehatan. Jurnal pendidikan dasar, 6 (2), hlm. 76.
Montolalu, W. Bermain dalam Kelompok, Bermain Bola, Bermain dengan Angka. Jakarta: Grasindo.
Purwaningsih, E. (2010). Keluarga dalam mewujudkan pendidikan nilai sebagai upaya mengatasi degradasi nilai moral. Jurnal pendidikan sosial dan humaniora, 1 (1), hlm. 47.
Sadiman., Arief, S., dkk. (1993). Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suhendi, A., dkk. (2001). Mainan dan Permainan. Jakarta: PT Gramedia.
Suyadi. (2009). Permainan Edukatif yang Mencerdaskan. Yogyakarta: Power Books
Suyadi. (2010). Psikologi Belajar PAUD. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Mandani.



EmoticonEmoticon