Tuesday, 17 January 2017

Filsafat Pendidikan Eksistensialisme



Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
filsafat pendidikan eksistensialisme
Eksistensialisme berasal dari pemikiran seorang filsup berkebangsaan Denmark bernama Soren Kier Kegard (1813-1855). Pokok pemikirannya dicurahkan kepada pemecahan yang konkret terhadap persoalan arti ‘keberadaan’ mengenai manusia. Dengan kata lain, eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensial dan pengalaman manusia dengan cara manusia berada. Paham ini berkeyakinan bahwa situasi manusia selalu berpangkal pada eksistensi (cara manusia berada di luar) sehingga aliran ini memfokuskan pada pembahasan pengalaman-pengalaman individu.
Filsafat eksistensialisme menyatakan bahwa  cara berada manusia dengan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia dan ia menyadari bahwa dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia dan mengerti apa yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu, benda lain, dan mengerti bahwa hidupnya memiliki arti. Artinya manusia menurut faham eksistensialisme dianggap sebagai subyek, sedangkan benda lain yang disadarinya disebut obyek. Keberadaan benda-benda tersebut beradasarkan ketidaksadaran akan dirinya sendiri dan tidak dapat berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Untuk itu, bagi eksistensialisme benda yang berada di luar manusia tidak akan bermakna dan tidak memiliki tujuan apa-apa jika terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena keberadaan manusia.
Pengetahuan manusia berdasarkan aliran eksistensialisme bergantung pada pemahaman tentang realitas dan interpretasi manusia terhadap realitas. Untuk itu, pengetahuan yang diberikan bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pemahaman ini berhubungan dengan nilai yang menekankan pada kebebasan dalam tindakan. Dengan kata lain, manusia memiliki kebebasan untuk memilih dengan menentukan pilihan-pilihan yang terbaik dimana seseorang harus menerima akibat-akibat dari pilihannya. Maka, setiap manusia harus berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri.
Eksistensialisme menekankan pada individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik dan harus bertanggung jawab terhadap nasibnya. Paham ini berkaitan erat dengan pendidikan. Pusat pembicaraan eksistensialisme ialah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.
Tujuan pendidikan eksistensialisme ialah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam penentuan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan tidak ada kurikulum yang dapat berlaku secara umum. Untuk itu, kurikulum ideal eksistensialisme yakni yang memberikan kebebasan invidual yang luas mensyaratkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan sendiri.
Konsep belajar mengajar eksistensialisme tercermin dari proses dialog. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subyek bagi yang lainnya. Untuk itu, pada proses ini pengetahuan tidak dilimpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi bagian dari pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi.
Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa dan mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untuk memilih alternatif-alternatif, sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia melainkan dipilih oleh manusia. Guru harus mampu membimbing siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relatif dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. Dengan kata lain, guru tidak mengarahkan dan tidak memberi intruksi. Dengan demikian, diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme.
Berdasarkan uraian di atas, maka filsafat eksistensialisme lebih memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Dengan mengatakan bahwa yang nyata adalah yang dialaminya bukan diluar manusia. Pendidikan eksistensialisme bertujuan untuk memberikan pengalaman yang luas dan kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, peran guru dalam paham eksistensialisme ialah melindungi kebebasan akademik sekaligus sebagai motivator dan fasilitator untuk membantu siswa dalam mengembangkan dirinya.

2 comments

Semoga saya bisa menjadi guru yang memiliki eksistensialisme
Aamiim

terima kasih kunjungannya ^-^
setiap harinya ada tulisan baru, mampir-mampir lagi ya, dan boleh request judul juga


EmoticonEmoticon