Tuesday, 17 January 2017

Filsafat Pendidikan Realisme



Filsafat Pendidikan Realisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
filsafat pendidikan realisme
Realisme berasal dari kata bahasa Latin realis yang berarti sunggug-sungguh atau nyata dan benar. Untuk itu, realisme merupakan aliran filsafat yang meyakini bahwa obyek indera adalah riil atau sungguh-sungguh nyata adanya. Paham ini beranggapan bahwa hakikat realitas terdiri dari dunia fisik dan dunia ruhani. Oleh karena itu, realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yakni subyek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan pihak lain merupakan realita di luar manusia yang dapat dijadikan obyek pengetahuan manusia.
Realisme beranggapan bahwa dunia terbuat dari sesuatu yang nyata, substansial, dan material yang hadir dengan sendirinya. Paham ini meyakini bahwa manusia lahir dengan jiwa/pikiran  yang kosong. Di samping itu, manusia dan masyarakat merupakan bagian dari alam. Karena itu, tugas manusia adalah menyesuaikan diri dengan hukum alam serta terhadap masyarakat dan kebudayaannya.
Realisme menyatakan bahwa pengetahuan seseorang diperoleh melalui sensasi dan abstraksi. Sensasi adalah digunakannya panca indera manusia untuk menemukan pengetahuan bagi dirinya. Melalui panca indera tersebut, maka manusia dapat menangkap berbagai obyek riil di luar dirinya dan kemudian dilanjutkan dengan proses abstraksi yakni proses pengambilan kesan umum sehingga kesan ini selanjutnya disimpan dalam kesadaran seseorang.
Aliran realisme menganut prinsip independensi yang artinya bahwa pengetahuan manusia tentang realitas tidak dapat mengubah substansi atau esensi realitas karena realitas tersebut bersifat obyektif. Dengan kata lain, kebenaran pengetahuan diuji kesesuaiannya dengan fakta di dalam dunia material atau pengalaman indera. Sedangkan nilai-nilai individual dapat diterima apabila sesuai dengan nilai-nilai umum masyarakatnya. Untuk itu, pendapat umum masyarakat merepresentasikan kebenaran sebagai suatu standar untuk menguji validitas nilai-nilai individual.
Aliran realisme menganggap bahwa setiap manusia lahir dengan potensi yang sama. Hal ini berpengaruh terhadap konsep pendidikan bahwa pendidikan harus universal dan seragam. Tujuan pendidikan realisme agar manusia dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Untuk itu kurikulum harus berisi pengetahuan dan nilai-nilai yang esensial agar siswa dapat menyesuaikan diri baik dengan lingkungan alam, masyarakat, dan kebudayaan.
Berikut beberapa prinsip belajar menurut aliran realisme, antara lain:
1. Pelajaran harus didasarkan pada minat peserta didik dan keberhasilan dalam mengajar tidak karena paksaan dari luar, melainkan merupakan suatu hasil perkembangan pribadinya.
2. Setiap mata pelajaran harus memiliki out line berupa garis besar proses belajar mengajar, silabus, dan rencana pembelajaran. Kesemuaan tersebut harus sudah ada pada awal pembelajaran.
3. Guru harus menyampaikan informasi tentang garis-garis besar pembelajaran yang akan dipelajari oleh siswa pada setiap pertemuan awal atau permulaan pembelajaran.
4. Kelas harus dilengkapi dengan gambar-gambar, peta, affirmasi, foto, hasil karya siswa, dan sejenisnya yang berkaitan dengan pelaksanan proses kegiatan belajar mengajar.
5. Pembelajaran harus berlangsung secara berkesinambungan sehingga pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang utuh dan mengikuti pengetahuan secara terus-menerus.
6. Pelajaran dalam subyek yang sama diperuntukan bagi seluruh peserta didik.
Belajar menurut realisme pada dasarnya mengutamakan perhatian pada peserta didik seperti apa adanya. Inisiatif dalam pendidikan realisme ditekankan pada pendidik atau guru. Dengan kata lain, metode pembelajaran yang disarankan bersifat otoriter. Guru mewajibkan siswa untuk dapat menghafal, menjelaskan, membandingkan fakta-fakta, menginterpretasi hubungan-hubungan, dan mengambil kesimpulan makna-makna baru. Dengan demikian, peranan guru dalam pendidikan realisme sebagai penentu materi pelajaran, pengendali perhatian siswa, mendisiplinkan siswa, dan membuat siswa aktif. Sedangkan peran siswa untuk menguasai pengetahuan dan taat pada aturan serta disiplin.
Kesimpulannya pendidikan dalam realisme memiliki keterkaitan erat dengan anggapan bahwa jiwa manusia lahir seperti kertas putih yang kosong kemudian menerima pengaruh dari lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan menurut aliran realisme penting adanya karena untuk membentuk setiap individu agar menjadi sesuai dengan apa yang dipandang baik.


EmoticonEmoticon