Tuesday, 17 January 2017

Jenis, Teknik, dan Kode Etik Bimbingan



Jenis, Teknik, dan Kode Etik Bimbingan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

jenis, teknik, dan kode etik bimbingan

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usaha sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru atau konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kea rah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Pada setiap sekolah peran seorang pendidik bimbingan dan konseling sangat penting untuk semua siswa, karena semua siswa perlu bimbingan dalam menghadapi perkembangan dan masalah yang dialaminya.
Namun masih banyak dari pendidik yang masih belum mengetahui tentang jenis juga teknik konseling yang harus ia fahami dan terapkan di sekolah. Hal ini jika dibiarkan akan menghambat proses konseling di sekolah, padahal konseling di sekolah sangat penting karena berhubungan langsung dengan pembelajaran peserta didik.
Karena hal itu, dalam makalah ini kami akan membahas tentang jenis-jenis bimbingan dan konseling, teknik-teknik bimbingan dan konseling, langkah bimbingan konseling, dan kode etik pada bimbingan dan konseling.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Apa jenis-jenis bimbingan dan konseling ?
2.  Apa pengertian teknik-teknik bimbingan dan konseling ?
3. Bagaimana langkah-langkah bimbingan dan konseling ?
4. Bagaimana teknik-teknik bimbingan dan konseling ?
5. Apa kode etik pada bimbingan dan konseling ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Selain itu juga bertujuan agar dapat memahami secara mendalam mengenai :
1. Jenis-jenis bimbingan dan konseling.
2. Pengertian teknik-teknik bimbingan dan konseling.
3. Langkah-langkah bimbingan dan konseling.
4. Teknik-teknik bimbingan dan konseling.
5. Kode etik pada bimbingan dan konseling.

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis, belajar menyusun makalah dan lebih mengetahui serta memahami tentang jenis, teknik, dan kode etik bimbingan.
2. Bagi kalangan akademik, diharapkan penyusunan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan studi perbandingan serta sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
3. Bagi kalangan umum, diharapkan penyusunan makalah ini nantinya dapat bermanfaat dan dapat dipertimbangkan pengembangannya.

E. Metode Penulisan
       Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah studi pustaka dengan menggunakan beberapa sumber buku dan internet.



BAB II
PEMBAHASAN

A.   Jenis-Jenis Bimbingan dan Konseling
Jenis bimbingan dan konseling yang timbul dalam ruang lingkup sekolah dapat diklasifikasikan dalam 3 jenis masalah, sebagaimana berdasarkan yang dikemukakan oleh Djumhur dan Moh. Surya dalam A. Salahudin (2010)  sebagai berikut :
1. Masalah pendidikan
Individu merasa kesulitan dalam menghadapi kegiatan belajar, misalnya sulit untuk memahami mata pelajaran yang didapatkan, cara membagi waktu belajar, cara belajar, mengerjakan tugas, berhubungan dengan lingkungan sekolah, guru-guru, dan tata tertib.
2. Masalah pribadi dan sosial
Masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya berasal dari pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya. Adapun masalah sosial yang dihadapi oleh siswa dalam lingkup sekolah yang bersangkutan dengan hubungan antar individu atau hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya, misalnya kesulitan mencari teman, merasa terasing dengan pekerjaan kelompok, dll.
3. Masalah pekerjaan (karir)
Masalah ini berhubungan dengan memilih pekerjaan. Misalnya adalah memilih jenis-jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya, memilih latihan tertentu untuk suatu pekerjaan, mendapatkan informasi tentang jenis pekerjaan, dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan.
Berdasarkan kurikulum SMU 1994 dalam S. Willis (2004), jenis kegiatan layanan bimbingan dan konseling terdiri dari :
a. Layanan orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang memiliki tujuan membantu mengorientasikan (mengarahkan, membantu, mengadaptasi) siswa (juga pihak lain yang dapat memberi pengaruh, terutama orang tuanya) dari situasi lama kepada situasi baru khususnya untuk siswa baru.
b. Layanan informasi
Layanan informasi dilakukan sepanjang tahun jika diperlukan siswa dan orang tuanya demi kemajuan studi. Karena itu layanan yang satu ini harus diprogramkan dengan baik.
Materi layanan informasi meliputi :
1) Informasi pendidikan
 Mencakup apa, bagaimana, dimana, dan kapan (seperti proses studi lanjutan, cara belajar, cara menggunakan perpustakaan, informasi kursus-kursus keterampilan yang ada, dan sebagainya).
2) Informasi pekerjaan
Mencakup informasi tentang jenis atau macam pekerjaan yang ada, kesempatan pekerjaan, peluang dari suatu pekerjaan, dan lain lain.
3) Informasi sosial budaya
Misalnya bagi para siswa yang akan melakukan pendakian gunung dimana mereka akan menemui berbagai orang dan masyarakat yang berbeda sosial budaya dan ekonominya, agar para siswa mudah memperoleh bantuan informasi dan bimbingan, misalnya kunjungan karyawisata ke Bali dimana sosial budayanya mungkin amat berbeda dengan para siswa.
4) Informasi diri siswa
Suatu kebutuhan siswa mengenal informasi mencakup tentang dirinya menurut catatan dan persepsi pembimbing atau guru-guru. Tujuannya agar siswa bisa melakukan mawas diri dan memacu diri untuk maju.
c. Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran
Layanan bimbingan yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran secara tepat (misalnya penempatan atau penyaluran didalam kelas, kelompok belajar, jurusan atau program khusus, kegiatan ekstrakurikuler), sesuai dengan potensi, bakat, dan minat, serta kondisi pribadinya.
d. Layanan bimbingan belajar
Layanan bimbingan belajar yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebisaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.
Diagnostik kesulitan belajar adalah suatu cara untuk membantu siswa mengatasi kesulitan belajar yang dihadapinya. Dengan metode diagnostik ini akan diketahui sebab-sebab kesulitan, setelah terlebih dahulu memahami gejala-gejala kesulitan tersebut. Berdasarkan pengetahuan itu, akan disusun strategi yang tepat untuk membantu mengatasi kesulitan belajarnya.

B. Pengertian Teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling
Bersesuaian dengan pendapat M. Arifin (2003), teknik adalah cara, langkah atau metode yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Bimbingan ialah mengarahkan, memandu, mengelola, dan menyetir. Bimbingan juga dapat diartikan sebagai bantuan atau pertolongan.
Konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konseling juga dapat diartikan upaya untuk membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien agar klien mampu memahami diri serta lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga klien merasa bahagia dan efektif prilakunya.
Jadi, teknik bimbingan dan konseling adalah cara atau metode yang dilakukan untuk membantu, mengarahkan atau memandu seseorang atau sekelompok orang agar menyadari dan mengembangkan potensi-potensi dirinya, serta mampu mengambil sebuah keputusan serta menentukan tujuan hidupnya dengan cara berinteraksi atau tatap muka.
C. Langkah-Langkah Bimbingan dan Konseling
1. Identifikasi anak
Dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang tampak. Pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak yang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu.
2. Langkah diagnosis
Yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi anak beserta latar belakangnya. Pembimbing mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap anak, menggunakan berbagai studi terhadap anak, menggunakan bebagai teknik pengumpulan data.
3. Langkah prognosis
Yaitu langkah untuk menetapkan jenis bantuan yang akan dilaksanakan untuk bimbingan anak. Didasarkan atas kesimpulan langkah diagnosis.
4. Langkah terapi
Yaitu langkah pelaksanaan bantuan atau bimbingan. Langkah ini merupakan pelaksanaan yang ditetapkan dalam langkah prognosis, prosesnya berkelanjutan dan sistematis.
5. Langkah evaluasi dan follow up
Dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah follow up dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka waktu yang lebih jauh.

D. Teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan pendapat Setiawati dan I. Ni’mah (2007), pada umumnya teknik-teknik yang dipergunakan dalam bimbingan mengambil dua pendekatan, yaitu pendekatan secara kelompok (group guidance) dan pendekatan secara individual (individual guidance counseling).
1. Bimbingan kelompok (group guidance)
Teknik ini dipergunakan dalam membantu murid atau sekelompok murid memecahkan masalah-masalah dengan melakukan kegiatan kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat individual yaitu dirasakan oleh individu sebagai anggota kelompok.
Teknik ini membawa keuntungan, di antaranya :
a. Menghemat waktu dan tenaga.
b. Menciptakan kesempatan bagi semua siswa untuk berinteraksi dengan konselor, yang memungkinkan siswa lebih berkeinginan membicarakan perencanaan masa depan atau masalah pribadi-sosial.
c. Menyadarkan siswa bahwa kenyataan yang sama juga dihadapi oleh teman-temannya, sehingga mereka terdorong untuk berusaha menghadapi kenyataan itu bersama-sama dan saling mendiskusikannya.
Ada beberapa teknik dalam bimbingan kelompok, seperti :
1) Home room program
Yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat membatunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu.
Dalam home room program ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah.
Dalam kesempatan ini diadakan tanya jawab, menampung pendapat, merancanakan suatu kegiatan, dan sebagainya.
2) Karyawisata (Field trip)
Kegiatan rekreasi yang dikemas dengan metode mengajar untuk bimbigan kelompok dengan tujuan siswa dapat memperoleh penyesuaian dalam kelompok untuk dapat kerjasama dan penuh tanggungjawab.
3) Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid akan mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid dapat menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dalam diskusi ini dapat tertanam pula rasa tanggungjawab dan harga diri.
Masalah yang mungkin dapat didiskusikan antara lain :
a) Pembagian kerja dalam suatu kelompok.
b) Perencanaan suatu kegiatan.
c) Masalah-masalah pekerjaan.
d) Masalah belajar.
e) Masalah penggunaan waktu senggang.
f) Masalah sahabat, keluarga, dsb.
4) Kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok merupakan teknik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berpartisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan. Juga dapat melatih tanggungjawab.
5) Organisasi murid
Keorganisasian baik dalam lingkungan pendidikan maupun lingkungan masyarakat. Melalui organisasi ini banyak masalah individu maupun kelompok dapat diselesaikan. Dalam organisasi murid mendapat kesempatan untuk belajar mengenal berbagai aspek kehidupan sosial. Menjadikan murid aktif dalam mengembangkan bakat kepemimpinan disamping memupuk rasa tanggungjawab dan harga diri.
6) Sosiodrama
Sosiodrama dipergunakan sebagai suatu teknik didalam memecahkan masalah-masalah sosial dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah sosial.
7) Psikodrama
Psikodrama adalah teknik untuk memecahkan masalah-masalah psikis yang dialami oleh individu. Dengan memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat dikurangi atau dihindari. Kepada sekelompok murid dikemukakan suatu cerita yang didalamnya tergambarkan adanya ketegangan psikis yang dialami individu.
8) Remedial teaching
Bentuk penambahan pelajaran, pengulangan kembali, latihan-latihan, dan penekanan aspek-aspek tertentu. Hal itu tergantung dari jenis dan tingkat kesulitan belajar yang dialami siswa.
2. Bimbingan konseling individu (Individual guidance counseling)
Bimbingan konseling individu yaitu bimbingan konseling yang memungkinkan klien mendapat layanan langsung tatap muka dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan yang sifatnya pribadi yang dideritanya.
Dalam konseling ini hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya menunjukan adanya sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien. Dan empati artinya berusaha menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan sikap ini klien akan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada konselor.
Dalam konseling ini terdapat hubungan yang akrab dan dinamis. Murid merasa diterima dan dimengerti oleh konselor. Dalam hubungan tersebut, konselor menerima murid secara pribadi dan tidak memberikan penilaian. Murid merasakan ada orang yang mengerti masalah pribadinya, mau mendengarkan keluhan dan curahan perasaannya.
Dalam konseling ini berisi proses belajar yang ditujukan agar murid dapat mengenal, menerima, mengarahkan, dan menyusuaikan diri secara realistis dalam kehidupannya di sekolah maupun di rumah. Dalam konseling ini tercipta hubungan  pribadi yang unik dank has, dengan hubungan tersebut klien diarahkan agar dapat membuat keputusan, pemilihan dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperan lebih baik di lingkungannya. Konseling ini membantu individu agar lebih mengerti dirinya sendiri, mampu mengeksploitasi, dan memimpin diri sendiri, serta menyelesaikan tugas-tugas kehidupannya. Proses konseling ini lebih bersifat emosional diarahkan pada perubahan sikap, pola-pola hidup sebab hanya dengan perubahan-perubahan tersebut memungkinkan terjadinya perubahan prilaku dan penyelesaian masalah.

E. Kode Etik Pada Bimbingan dan Konseling
Bersesuaian dengan pendapat S. Yusuf dan J. Nurihsan (2005), kode etik yaitu ketentuan atau peraturan yang harus ditaati oleh siapa saja yang berkecimpung dalam bidang bimbingan dan konseling demi untuk kebaikan. Dengan adanya kode etik dalam bimbingan dan konseling dimaksudkan agar bimbingan dan konseling tetap dalam keadaan baik dan justru diharapkan semakin baik. Kode etik ini mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar atau diabaikan tanpa membawa akibat yang tidak menyenangkan.
Dibawah ini adalah beberapa kode etik dalam bimbingan dan konseling :
1. Konselor yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
2. Konselor harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. Karena itu pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang serta tanggungjawabnya.
3. Oleh karena pekerjaan konselor langsung dengan kehidupan pribadi orang, maka seorang konselor harus :
a. Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
b. Menunjukan sikap hormat kepada klien.
c. Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien.
4. Konselor tidak diperkenankan :
a. Menggunakan tenaga-tenaga ahli yang tidak terdidik dan terlatih.
b. Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
c. Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik terhadap klien.
d. Mengalihkan klien kepada konselor lain, tanpa persutujuan dari klien.
e. Meminta bantuan kepada ahli bidang lain diluar kemampuan atau diluar keahliannya.
5. Konselor haruslah menyadari akan tanggungjawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian sepenuhnya.
6. Konselor wajib menempatkan kepentingan kliennya di atas kepentingan pribadinya.
7. Konselor wajib memiliki keterampilan menggunakan teknik dan prosedur khusus yang dikembangkan atas dasar wawasan yang luas dan kaidah-kaidah ilmiah.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas dapatlah diketahui bahwa di dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling seorang konselor memiliki tanggungjawab yang besar. Untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami klien, seorang konselor harus memiliki teknik-teknik yang digunakan mulai sejak awal pertemuan hingga akhir penyelesaian masalah.
Dapat diketahui bahwa di dalam proses penyelesaian permasalahan yang dialami klien, memiliki banyak sekali teknik-teknik yang dapat digunakan, misalnya bimbingan kelompok (group guidance) dan bimbingan konseling individual (individual guidance counseling) sehingga banyak alternatif-alternatif ketika gagal di dalam penggunaan satu teknik, bisa diganti dengan penggunaan teknik yang lain.

B. Saran
Kami berharap makalah ini akan memberikan sumbangan bagi proses pembelajaran Bimbingan dan Konseling. kami menyadari banyak kekurangan pada makalah kami, maka kritik dan saran demi memperbaiki makalah ini senantiasa kami harap dan nantikan.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin,M. (2003). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta : PT Golden Terayon Press.
Salahudin,A. (2010). Bimbingan dan Konseling. Bandung : CV Pustaka Setia.
Setiawati., Ni’mah,I. (2007). Bimbingan dan Konseling. Bandung : UPI PRESS
Willis, S. (2004). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung : ALFABETA
Yusuf,S.,Nurihsan,J. (2005). Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.


 



 


EmoticonEmoticon