Tuesday, 17 January 2017

Landasan Psikologis Pendidikan



Landasan Psikologis Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
landasan psikologis pendidikan

Psikologi berasal dari kata bahasa Yunani psyche yang artinya jiwa dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah, baik mengenai gejala, proses, maupun latar belakangnya. “Kajian psikologi erat kaitannya dengan pendidikan, yakni berkaian dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar” (Tirtarahardja, 2005, hlm. 106). Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan ialah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Untuk itu, landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia berupa gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangan dengan tujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Analisis psikologi akan membantu pendidik memahami struktur psikologis anak didik dan kegiatannya, sehingga proses pendidikan dapat dilakukan secara efektif. Dengan demikian, psikologi merupakan salah satu landasan dari pendidikan.
Psikologi memiliki berbagai cabang, namun terdapat tiga cabang yang erat dengan pendidikan, antara lain:
1. Psikologi perkembangan
Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi sampai dewasa. Hal ini berkaitan dengan proses belajar dan pematangan melalui interaksi dengan lingkungan. Psikologi perkembangan memandang manusia merupakan makhluk unik yang memiliki suatu kekhasan dan selalu berkembang. Perkembangan manusia ini pada dasarnya bersifat dinamis dan tidak dapat terprediksi (unpredicteble). Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan, diantaranya:
a. Pendekatan tahapan
Pendekatan ini memandang bahwa perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. Pendekatan ini paling banyak diterapkan dalam proses pendidikan. Pendekatan tahapan terbagi menjadi dua macam, yakni:
1) Bersifat menyeluruh
Pada jenis tahapan ini, berkembang dipandang secara menyeluruh yang merupakan kesatuan, totalitas, dan integrasi fisik, motorik, sosial, bahasa, sikap, minat, nilai, motif, serta moral dari manusia. Tahapan perkembangan secara menyeluruh dapat dijabarkan, sebagai berikut:
a) Umur 0-2 tahun : masa bayi.
b) Umur 2-4 tahun : masa kanak-kanak.
c) Umur 5-8 tahun : masa dongeng.
d) Umur 9-13 tahun : masa petualang.
e) Umur 14-18 tahun : masa pubertas.
f) Umur 19-21 tahun : masa pubertas akhir.
g) Umur 21 tahun ke atas : masa dewasa.
2) Bersifat khusus
Pada jenis tahapan ini, dideskripsikan salah satu aspek perkembangan saja sebagai dasar penyusunan tahap-tahap perkembangan. Contohnya menurut Piaget yang menjabarkan perkembangan berdasarkan kemampuan kognitif anak, sebagai berikut:
a) Tahap sensorimotor, usia 0-2 tahun.
b) Tahap praoperasional, usia 2-4 tahun.
c) Tahap operasional konkret, usia 7-11 tahun.
d) Tahap operasional formal, usia 11-15 tahun.
b. Pendekatan diferensial
Pendekatan ini memandang bahwa setiap individu itu memiliki perbedaan dan kesamaan. Atas dasar ini lalu terjadi pengelompokan. Anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka, terbentuk kelompok berdasarkan jenis kelamin, kemampuan intelektual, bakat, ras, status sosial-ekonomi, dan lain sebagainya.
c. Pendekatan ipsatif
Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu atau disebut juga dengan pendekatan individual. Dengan demikian, pendekatan ini mengkaji perkembangan seseorang secara individual dengan detail dan mendalam.
2. Psikologi belajar
Menurut Made Pidarta (2007, hlm. 206) “belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain”. Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku dari hasil interaksi dengan lingkungan. Pengertian ini mengisyaratkan dua makna, yakni pertama bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu berupa perubahan tingkah laku. Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.
Berdasarkan pengertian belajar tersebut, maka kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku dipandang sebagai proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri dipandang sebagai hasil belajar. Dengan kata lain, pada hakikaktnya belajar menyangkut proses belajar dan hasil belajar. Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola tingkah laku manusia sebagai model yang dijadikan sebagai prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip ini biasa dikenal dengan istilah teori belajar.
3. Psikologi sosial
“Psikologi sosial membahas tentang seseorang dalam masyarakat yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu” (Hollander dalam Pidarta, 2007, hlm. 219). Kaitannya dengan pendidikan berupa pembentukan kesan pertama khususnya antara anak didik terhadap pendidik. Dalam hal ini terdapat tiga kunci utama, yakni (1) kepribadian, (2) perilaku, dan (3) latar belakang situasi. Dalam konteks pendidikan, kesan pertama yang positif dari pendidik dapat memberikan motivasi dan semangat belajar bagi anak didik. Motivasi merupakan bagian dari aspek psikologi sosial, sebab tanpa motivasi tertentu seseorang akan sulit untuk bersosialisasi dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, pendidik memiliki kewajiban untuk menggali motivasi dari anak didik, sehingga mereka semangat dalam belajar di sekolah.

Daftar Pustaka
Pidarta, M. (2007). Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Tirtarahardja, dkk. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta


EmoticonEmoticon