Tuesday, 17 January 2017

Laporan Layanan Bimbingan dan Konseling SDN Kahuripan 2 Kota Tasikmalaya


Laporan Layanan Bimbingan dan Konseling
SDN  Kahuripan 2 Kota Tasikmalaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap siswa memiliki karakteristik pribadi atau perilaku yang berbeda dengan siswa lainnya. Dengan adanya perbedaan ini maka masalah yang dimiliki setiap siswa pun berbeda juga. Ada yang hanya memiliki masalah kesulitan belajar atau hanya masalah dalam berperilaku saja, bahkan ada yang memiliki kedua masalah tersebut. Masalah-masalah tersebut dapat berasal dari keluarga, lingkungan maupun dari diri sendiri. Keragaman perilaku ini mengandung implikasi akan perlunya data dan pemahaman yang memadai terhadap setiap siswa.
Supriadi dalam Setiawati dan Ima Ni’mah Chudati (2007) menyatakan bahwa, “Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan oleh pembimbing kepada klien agar klien dapat memahami dirinya, mengarahkan dirinya, memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan mengembangkan potensinya sehingga berguna bagi dirinya serta masyarakat. Siswa berkesulitan belajar membutuhkan arahan dan bimbingan belajar yang lebih untuk memahami atau menguasai suatu kompetensi. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD), hal ini merupakan tanggung jawab guru kelas sebagai Teacher Counselor, guru kelas harus memahami serta dapat mempraktikan langkah-langkah dari bimbingan. Namun banyak dari guru kelas yang masih belum memahami cara atau langkah bimbingan untuk membantu siswa berkesulitan belajar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Elis, S.Pd. (Kepala Sekolah SDN Kahuripan 2) yang berpendapat bahwa, “Sekolah kami memang sekolah yang sederhana, guru-guru nya pun terbatas, tapi yang paling menjadi sorotan adalah guru kelas khususnya di sekolah kami masih kesulitan menangani anak yang berkesulitan belajar, seperti kesulitan membaca, berhitung, terlambat memahami materi pelajaran, dan lain sebagainya.”
Oleh karena itu penulis mencoba melakukan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, melalui langkah-langkah analisis, sintesis, identifikasi kasus, diagnosis, prognosis, treatment, penilaian/evaluasi, dan tindak lanjut.

B. Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui kesulitan belajar yang terjadi pada siswa SD.
2.    Mengetahui penyebab kesulitan belajar yang terjadi pada siswa SD.
3.    Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kesulitan belajar anak SD bagi diri sendiri, teman, dan lingkungannya.
4.    Mengembangkan kemampuan penulis dalam menganalisis kejadian di lapangan.
5.    Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling.

C. Landasan Teori
Bersesuaian dengan pendapat M. Arifin (2003), teknik adalah cara, langkah atau metode yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Bimbingan ialah mengarahkan, memandu, mengelola, dan menyetir. Bimbingan juga dapat diartikan sebagai bantuan atau pertolongan.
Konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konseling juga dapat diartikan upaya untuk membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien agar klien mampu memahami diri serta lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga klien merasa bahagia dan efektif prilakunya.
Jadi, teknik bimbingan dan konseling adalah cara atau metode yang dilakukan untuk membantu, mengarahkan atau memandu seseorang atau sekelompok orang agar menyadari dan mengembangkan potensi-potensi dirinya, serta mampu mengambil sebuah keputusan serta menentukan tujuan hidupnya dengan cara berinteraksi atau tatap muka.


D. Manfaat Penulisan
Laporan ini bermanfaat bagi penulis, karena:
1. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mempelajari, mengamati, dan mengkaji suatu permasalahan khususnya kesulitan belajar yang dihadapi oleh anak SD.
2. Melatih penulis dalam membuat suatu karya tulis agar terbiasa dan lebih baik.
3. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk lebih mengenal calon anak didiknya dalam berbagai aspek yang ada dalam diri mereka dan masalah yang mereka hadapi, khususnya anak yang mengalami kesulitan belajar.
4. Sebagai pedoman untuk pembelajaran.
5. Sebagai motivasi untuk melakukan suatu observasi, wawancara atau membaca buku-buku yang berhubungan dengan kesulitan belajar anak atau siswa.
Tidak hanya bagi penulis, laporan ini juga bermanfaat bagi pembaca, karena:
a. Mengetahui akan masalah yang dihadapi seorang siswa yang mungkin kita tidak menyadarinya.
b. Lebih mendekatkan pembaca khususnya orang tua dengan anaknya, dengan memberikan perhatian, kesempatan dan motivasi bagi mereka.
c. Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian akan masalah yang dihadapi oleh siswa.

E. Metode Penulisan
       Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah studi pustaka dengan menggunakan beberapa sumber buku dan internet, pengamatan secara langsung (observasi), dan wawancara dengan pihak yang terkait.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis
Untuk memahami lingkungan anak, penulis melakukan pengamatan secara langsung (observasi) terhadap siswa-siswi kelas II SDN Kahuripan 2. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa, siswa-siswi kelas II SDN Kahuripan 2 pada umumnya aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM), antusias dalam mengikuti pelajaran, patuh terhadap guru, dan tidak mengalami kesulitan dalam belajar, namun ada beberapa siswa yang sedikit tertinggal oleh teman-temannya dan terlambat dalam belajar.

B. Sintesis
Dengan bantuan Ibu Lia Qomariah (wali kelas II SDN Kahuripan 2) penulis mendapatkan data seorang anak yang mengalami kesulitan belajar. Data tersebut adalah sebagai berikut :
1. Identitas murid :
a. Nama lengkap                        : Agis Rahmawan
b. NIS                                        : 080912052
c. Tempat, tanggal lahir             : Tasikmalaya, 15 Agustus 2005
d. Alamat                                   : Jalan Citapen Kidul, Kota Tasikmalaya
e. Jabatan                                   : Siswa kelas II SDN Kahuripan 2
2. Keterangan tentang orang tua murid :
a. Nama ayah/ibu                       : Ipan/Aun Darmawah
b. Agama                                   : Islam
c. Pendidikan tertinggi              : SD/SMP
d. Pekerjaan                               : Buruh/ibu rumah tangga
e. Alamat                                   : Jalan Citapen Kidul, Kota Tasikmalaya
3. Pelaksanaan
a. Tempat                                   : SDN Kahuripan 2
b. Alamat                                   : Jalan Taman Pahlawan Kusumah Bangsa
c. Jumlah peserta didik              : 27 Siswa
d. Hari, tanggal                          : Jum’at, 18, 25 April, 2 Mei 2014
e. Waktu                                                : 08.00-10.00

C. Identifikasi Kasus
Dengan observasi, keadaan anak dapat dilihat dari berbagai aspek:
a. Aspek Kognitif
Dilihat dari aspek kognitif, Agis termasuk anak yang mengalami kesulitan belajar, karena belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Hal itu mengakibatkan Agis sulit mengerjakan tugas yg ditugaskan.
b. Aspek Afektif
Dilihat dari segi afektif, Agis cenderung pendiam, saat siswa-siswi lain belajar berkelompok, ia malah duduk menjauh, menyendiri, dan telihat terasingkan.
c. Aspek Psikomotor
Dilihat dari aspek psikomotor, perkembangan psikomotor Agis cenderung terlambat berkembang, masih kesulitan dalam membaca serta menulis.

D. Diagnosis
Agis memiliki beberapa kesulitan dalam belajar, sulit membaca, menulis, dan berhitung. Agis juga memiliki masalah sosial di lingkungan kelasnya, yakni kurangnya sosialisasi dan terasingkan. Namun, setelah mempertimbangkan urgensi dan kebutuhan dari siswa, penulis lebih menitikberatkan kepada permasalahan kesulitan belajar dan memfokuskan pada masalah kesulitan membaca. Agis mengalami kesulitan membaca terutama dalam membaca huruf Kluster (huruf yang terdiri dari 2 konsonan yang digabung, seperti “kh”, “ny”, “ng”)

E. Prognosis
Kesulitan yang dialami Agis adalah dalam membaca huruf kluster, karena itu penulis berasumsi untuk memberi bantuan berupa bimbingan pengayaan individual, dalam bentuk remedial mebaca dengan menggunakan pendekatan modifikasi abjad. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abdul Chaer (2007), “Pendekatan modifikasi abjad digunakan untuk menangani kesulitan membaca pada bahasa yang kaitan huruf dari bunyi tidak selalu konsisten.”
Dengan menggunakan pendekatan modifikasi abjad, Agis akan lebih lancar membaca dan tidak akan kebingungan saat membaca huruf kluster.
Beberapa kemungkinan apabila masalah-masalah yang dihadapi Agis dapat diselesaikan, yaitu:
1. Agis akan kembali bersemangat dalam belajar.
2. Sikapnya yang pendiam dan terasingkan akan berkurang.
3. Agis akan lebih giat untuk belajar, sehingga dapat naik kelas.
Sebaliknya, beberapa kemungkinan apabila masalah-masalah yang dihadapi Hamdani masih belum bisa diselesaikan, yaitu:
a. Tidak ada perubahan dalam hal prestasi belajar.
b. Agis akan semakin pendiam dan terasingkan, sehingga sulit bersosialisasi.
c. Kesulitan dalam belajar yang tidak terselelesaikan, sehingga Agis mengalami tinggal kelas.

F. Treatment
Treatment atau layanan bimbingan dilakukan dalam tiga kali pertemuan, yakni pada hari Jum’at, tanggal 18, 25 April, dan 2 Mei 2014. Treatment tersebut berupa bimbingan pengayaan individual, dalam bentuk remedial mebaca dengan menggunakan pendekatan modifikasi abjad.
Agis diberikan beberapa deret kata yang menggunakan huruf kluster “kh”, “ng”, dan “ny”, seperti kata : “khas”, “anjing”, dan “nyamuk”. Selanjutnya memodifikasi bentuk huruf “kh” menjadi J, “ng” menjadi K, dan “ny” menjadi L, sambil membunyikan bunyi hurufnya. Setelah itu menunjukan kepada Agis kata yang hurufnya sudah dimosifikasi, seperti : "Jas”, “anjiK”, dan “Lamuk”. Hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang selama tiga kali pertemuan dan juga menggunakan variasa kata yang berbeda-beda.

G. Evaluasi atau Penilaian
Saat pertama kali Agis mencoba membaca huruf kluster, Agis mengalami kesulitan dalam membacanya, namun setelah hurufnya dimodifikasi, Agis mulai mampu membaca huruf kluster, meskipun belum sepenuhnya lancar.

H. Tindak Lanjut
Usaha tindak lanjut yang dapat dilakukan dalam mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan dengan cara :
1. Usaha di lingkungan keluarga
a. Menciptakan keluarga yang harmonis, terbuka dan jauh dari kekacauan. Dengan keadaan keluarga yang seperti ini, mengakibatkan anak-anak lebih nyaman belajar di rumah.
b. Memberikan kemerdekaan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya dalam batas-batas kewajaran tertentu. Dengan tindakan seperti ini, anak-anak dapat berani untuk menentukan langkahnya, tanpa ada keraguan dan paksaan dari berbagai pihak. Sehingga mereka dapat menjadi lebih bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan.
c. Orang tua selalu berbagi pengalaman, cerita dan informasi kepada anak-anak. Sehingga mereka dapat memilih figur dan sikap yang cocok untuk dijadikan pegangan dalam belajar.
d. Orang tua sebaiknya memperlihatkan sikap-sikap yang pantas dan dapat diteladani oleh anak-anak mereka.
2. Usaha di lingkungan sekolah
a. Menegakkan disiplin sekolah yang wajar dan dapat diterima siswa dan penghuni sekolah. Disiplin yang baik dan wajar dapat diterapkan dengan pembentukan aturan-aturan yang sesuai dan tidak merugikan berbagai pihak, agar siswa dapat belajar dengan efektif.
b. Pelaksanaan peraturan dengan adil dan tidak pandang bulu. Tindakan dilakukan dengan cara memberikan sanksi yang sesuai terhadap semua siswa yang melanggar peraturan tanpa melihat keadaan orang tua siswa tersebut. Seperti siswa yang berasal dari keluarga terpandang atau pejabat.
c. Meningkatkan kerja sama dengan masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar sekolah. Dengan cara ini, masyarakat dapat melaporkan langsung penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan siswa di luar pekarangan sekolah. Seperti bolos, tawuran, merokok dan minum-minuman keras yang berdampak pada kesulitan belajar bagi siswa.
3. Usaha di lingkungan masyarakat
a. Menegur anak-anak yang sedang melakukan tindakan-tindakan yang telah melanggar norma.
b. Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang tinggal di lingkungan tempat tinggal.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah yang dialami oleh seorang siswa tidak muncul begitu saja. Tetapi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. baik faktor psikologis maupun fisik. Faktor psikologis dapat berupa keterbatasan kemampuan, minat, dan perhatian sedangkan faktor fisik dapat berasal dari lingkungan, lingkungan, ekonomi dan sosial. Semua faktor tersebut sangat berpengaruh dalam mendorong timbulnya masalah serta kurangnya motivasi untuk belajar, melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.

B. Saran
Penulis berharap laporan ini akan memberikan sumbangan bagi proses pembelajaran Bimbingan dan Konseling. Penulis menyadari banyak kekurangan pada laporan ini, maka kritik dan saran demi memperbaiki makalah ini senantiasa penulis harap dan nantikan.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin,M. (2003). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta : PT Golden Terayon Press.
Setiawati., Ni’mah,I. (2007). Bimbingan dan Konseling. Bandung : UPI PRESS
Hartati,T., Ernalis., Churiah, Y. (2002) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung : UPI PRESS
.
Lampiran
laporan layanan BK SDN Kahuripan 2 kota tasikmalaya


EmoticonEmoticon