Thursday, 8 September 2016

Laporan Observasi Anak Berkebutuhan Khusus SLB YKSB Cijeungjing Ciamis



Laporan Observasi Anak Berkebutuhan Khusus
SLB YKSB Cijeungjing Ciamis
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan acap kali dijadikan suatu parameter kemajuan dari sebuah negara. Untuk itu, pendidikan dianggap merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, suatu negara haruslah menjamin warga negaranya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Hal inilah yang dijadikan dasar bagi seluruh warga negara Indonesia untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Disamping itu, pemerintah Indonesia lewat Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 mewajibkan seluruh warga negaranya wajib belajar pendidikan dasar. Dengan demikian, seluruh anak Indonesia wajib mengenyam pendidikan dari mulai jenjang sekolah dasar sampai jenjang sekolah menengah pertama.
Hal diatas menunjukan bahwa seluruh anak Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan pendidikan, tidak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus atau biasa disingkat ABK merupakan anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya, baik secara fisik, psikis, maupun mental. Ada 3 jenis pelayanan pendidikan khusus bagi ABK antara lain, pelayanan pendidikan secara segresi, integral, dan inklusif.
Sekolah Luar Biasa (SLB), sebagai lembaga pendidikan khusus tertua dan memberikan pelayanan pendidikan khusus secara segresi, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama, sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda.
Berdasarkan hal tersebut, sebagai pendidik maupun calon pendidik, selain harus memahami layanan pendidikan bagi peserta didik yang normal, kita juga harus memahami pendidikan yang sesuai untuk anak yang memiliki kelainan. Pendidikan yang tepat sesuai dengan kelainan yang dialami tentu akan menghasilkan kualitas proses dan hasil yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan ini, sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik anak ABK?
2. Bagaimana faktor penyebab terjadinya kelainan yang dialami oleh ABK?
3. Bagaimana akibat atau dampak dari anak ABK?
4. Bagaimana alternatif solusi pelayanan bagi anak ABK?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Inklusif. Selain itu juga bertujuan agar dapat mengetahui mengenai :
1. Karakterisitik anak ABK.
2. Faktor penyebab terjadinya kelainan yang dialami oleh ABK.
3. Akibat atau dampak dari anak ABK.
4. Alternatif solusi pelayanan bagi anak ABK

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis, belajar menyusun laporan dan lebih mengetahui tentang ABK.
2. Bagi kalangan akademik, diharapkan penyusunan laporan ini dapat dijadikan sebagai bahan studi perbandingan serta sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
3. Bagi kalangan umum, diharapkan penyusunan laporan ini nantinya dapat bermanfaat dan dapat dipertimbangkan pengembangannya.




E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka dengan menggunakan beberapa sumber buku dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Identifikasi Anak
Nama Anak                      : Muhamad Rizqi Ramadhan
TTL                                  : Ciamis, 10 Desember 2001
Jenis Kelamin                   : Laki-laki
Alamat                             : Lingkungan Kalapa Jajar RT 04/17, Ciamis
Sekolah                            : SLB YKSB Cijeungjing Ciamis
Nama Orang Tua              : Haryanto dan Yati Sunaryati

B.     Jenis Masalah ABK
Kelainan yang dialami oleh ABK tersebut adalah tuna grahita ringan. Tuna grahita ringan dapat didefinisikan sebagai anak dengan fungsi kecerdasan yang terbatas.
Anak tuna grahita ringan dengan skor IQ (59-79). Di saat dewasa pun anak-anak tuna grahita ringan tetap mengalami kelemahan dalam kemampuan self-perception dan perilaku belajar mereka sehingga mengalami gangguan perilaku seperti sulit beradaptasi dan putus sekolah. Akan tetapi, bila kondisi ini cepat diatasi dengan intervensi khusus, banyak anak yang memiliki kecerdasan terbatas juga mampu membangun keterampilan resiliensi untuk mengatasi permasalahan tersebut dan dapat lulus dari sekolah menengah atas.
Muhammad Anwar (2013, hlm. 13) menggambarkan terdapat sejumlah karakteristik dari anak tuna grahita ringan dibandingkan dengan anak rata-rata seusianya, yaitu:
1.      Kesulitan untuk memahami teknik pembelajaran dengan konsep yang abstrak.
2.      Kesulitan dalam mengubah atau mengeneralisasi keterampilan, pengetahuan, dan strategi belajar, mengadaptasi konsep baru pada situasi yang baru.
3.      Kesulitan secara kognitif untuk mengorganisasikan materi baru, termasuk asimilasi informasi baru atas informasi sebelumnya.
4.      Kesulitan mengalami untuk tata kelola waktu dan penentuan tujuan jangka panjang.
5.      Kesulitan  dalam membangun motivasi akademis atau motivasi berprestasi.
Oleh karena itu, anak  tuna grahita ringan membutuhkan dorongan untuk mengatasi kurangnya motivasi belajar dan permasalahan self-concept, serta untuk melanjutkan pengembangan keterampilan belajar.  Sehingga siswa dengan tuna grahita ringan lebih beresiko tinggi terhadap resiko permasalahan perilaku dan kesehatan mental.
C.    Karakteristik Anak
1.      Intelegensi
Dari segi intelegensi anak-anak tuna grahita ringan berada pada kisaran 59-79 berdasarkan skala WISC. Anak dengan IQ tersebut biasanya mengalami kesulitan pada semua mata pelajaran, terutama pada hafalan dan pemahaman, sulit memahami hal abstrak dan nilai hasil belajar rendah.
Sansan sekarang duduk dikelas V SLB, menurut keterangan yang diperoleh dari guru pembimbing khusus, Rizqi adalah anak yang mengalami kesulitan dalam belajar dan sangat lamban dalam memahami suatu hal yang baru. “Rizqi juga pemalu serta sulit berkomunikasi dengan orang terutama yang baru ia kenal” (Dwi Herdyanti, guru pembimbing kelas V SLB YKSB Cijeungjing Ciamis).
Beberapa kejadian yang observer amati pada saat pembelajaran yaitu:
a.       Setiap penjelasan yang diberikan oleh guru, Rizqi hanya memainkan sesuatu sendiri dan sulit untuk terfokus.
b.      Setiap materi di dikte, Rizqi tidak mampu menulis dengan cepat dan selalu terjadi ketertinggalan.
c.       Dalam pemberian tugas, Rizqi kerap kali tidak mengerjakan karena tidak paham dengan materi tersebut. Padahal meja Sansan sering kali didatangi oleh guru untuk mendapatkan penjelasan seraca berulang-ulang.

2.      Bahasa
Anak-anak lamban belajar mengalami masalah dalam berkomunikasi baik dalam menyampaikan ide dan gagasan maupun dalam memahami percakapan orang lain. Hal ini pun dialami Rizqi, akibatnya ia tidak pernah meengungkapkan gagasannya dan seringkali memilih untuk diam. Untuk meminimalisir kesulitan, sebaiknya melakukan komunikasi yang sederhana.
3.      Emosi
Anak-anak lamban belajar memiliki emosi yang kurang stabil, cepat marah dan meledak-ledak serta sensitif. Jika melakukan kesalahan atau tertekan, biasanya mereka cepat patah semangat. Seperti emosi Rizqi yang sering kali marah kepada ibunya jika tidak ditunggu pada saat pembelajaran.
4.      Sosial
Anak-anak lamban belajar dalam bersosialisasi biasanya kurang baik. Saat bermain, mereka memilih jadi pemain pasif atau penonton dan terkadang lebih senang bermain dengan anak dibawah usia mereka. Hal ini pun dialami oleh Rizqi, akibatnya ia jarang berkomunikasi ataupun akrab dengan temannya.
5.      Moral
Moral seseorang akan berkembang seiring kematangan kognitifnya, anak-anak lamban belajar tahu aturan yang berlaku, tetapi tidak paham untuk apa peraturan tersebut dibuat. Hal tersebut disebabkan kemampuan memori mereka terbatas sehingga sering lupa. Akibatnya Rizqi sering kali menjadi pengganggu dalam kelas.
D.    Faktor Penyebab
1.      Faktor Prenatal (sebelum lahir) dan Genetik
Perkembangan seorang anak dimulai dari sejak pra lahir. Biologis seorang anak yang berasal dari kedua orangtuanya, berupa kromosom yang memecah menjadi partikel yang disebut gen. kelainan dari kromosom dapat menyebabkan kelainan fungsi-fungsi kecerdasan. Selain kromosom, juga disebabkan adanya gangguan biokimia dalam tubuh. Kondisi jantung ibu yang kurang baik juga menyebabkan transfer oksigen ke otak bayi menjadi kurang. Faktor genetik ini, diduga yang menjadi salah satu penyebab Rizqi menderita tuna grahita.
2.      Faktor Postnatal (sesudah lahir) dan Lingkungan
Orang tua Rizqi awalnya shock dan sulit menerima kenyataan bahwa anaknya mengidap kelainan. Hal ini menyebabkan Rizqi awalnya tidak di sekolahkan karena orang tuanya malu untuk mensekolahkan. Namun setelah bertemu dan berkomunikasi dengan salah satu guru dari SLB YKSB Cijeungjing Ciamis, akhirnya Rizqi disekolahkan disana dan mendapatkan pelayanan yang baik.
E.     Akibat atau Dampak untuk Anak
1.      Anak mengalami perasaan minder, karena kemampuan belajarnya lamban dibandingkan teman-temannya.
2.      Cenderung pemalu, menarik diri dari lingkungannya.
3.      Lamban menerima informasi, karena keterbatasan berbahasa.
4.      Hasil prestasi belajar kurang optimal sehingga dapat membuat stress karena ketidakmampuan mencapai harapannya.
5.      Sulit berkomunikasi dengan orang yang baru ia kenal.

F.     Solusi Penanggulangan
1.      Cara menghadapi anak tuna grahita
a.       Pahami bahwa anak membutuhkan waktu lebih lama dan pengulangan yang lebih banyak (3-5kali) untuk memahami suatu materi dibandingkan dengan  anak-anak lain seusianya.
b.      Sederhanakan kalimat ataupun intruksi yang disampaikan kepada anak dan pastikan anak memahami maksudnya.
c.       Cobalah membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai suatu materi yang penting daripada meminta mereka untuk menghafal.
d.      Gunakan alat bantu visual, jangan terlalu verbalisasi. Pendekatan multisensori juga dapat membantu mereka memahami materi dengan mudah.
e.       Ketahuilah gaya belajar anak, apakah visual, auditori atau kinestetik
f.       Ketahui minat anak untuk mempermudah menambah motivasi anak belajar.
g.      Doronglah anak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang memungkinkan anak memiliki pengalaman sukses atau berhasil, yang dapat membangun konsep diri yang positif.
2.      Penanganan Anak Lamban Belajar
a.       Terapi Bermain
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang gemar bermain, mereka merasa senang bila melakukan aktivitas bermain. Terapi bermain adalah salah satu upayapsikoterapi untuk membantu mengatasi masalah sosial, bahasa atau motorik. 
b.      Terapi Perilaku
Diberikan kepada anak dengan tujuan melatih perilaku baru dengan mengubah lingkungan atau dengan proses kognitif dan emosional anak,. Misalnya, kebiasaan mencorat-coret tembok menjadi kebiasaan menggambar di buku.
c.       Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diterapkan untuk seluruh anggota keluarga dalam rangka membantu anak lamban belajar. Banyak masalah anak dapat diatasi dengan cepat karena bantuan atau dukungan keluarganya.
d.      Terapi Lain
Terapi lain seperti okupasi terapi, terapi renang dan lain-lain sesuai masalah yang dihadapi oleh anak, didahului konsultasi dengan para ahli.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tuna grahita didefinisikan sebagai anak dengan fungsi kecerdasan yang terbatas. Kelainan ini dialami oleh Rizqi, siswa kelas V SLB. Berbagai karakteristik ditunjukan oleh Rizqi mulai dari Intelegensi, Bahasa, Emosi, Sosial dan Moral. Berbagai faktor yang menyebabkan hal tersebut diantaranya faktor gen dan lingkungan. Kelainan ini berdampak negatif terhadap kondisi psikis Rizqi.
Alternatif Solusi untuk membantu tuna grahita yaitu guru harus memahami diri Rizqi, kemudian buatlah pembelajaran semenarik mungkin sesuai minat siswa, lakukan komunikasi dan kerjasama dengan pihak sekolah dan Orangtua untuk membantu keterlambatan dan ketertinggalan Rizqi.

B.     Saran
Berdasarkan pembahasan mengenai kelainan yang dialami oleh Rizqi yaitu lambat dalam belajar, memberikan efek buruk dalam kehidupan sosial. Agar meminimalisir hal tersebut, Rizqi harus mendapatkan dukungan dari lingkungan, utamanya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal ini sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar dari anak.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M. (2013). Ciri-Ciri Karakteristik Anak Tuna Grahita Ringan. Yogyakarta: Cempaka Press.
Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang wajib belajar.
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 tentang pendidikan.
Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5

LAMPIRAN
laporan observasi ABK SLB YKSB Cijeungjing Ciamis


EmoticonEmoticon