Tuesday, 17 January 2017

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar


Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar 
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
pembelajaran matematika di sekolah dasar
Matematika berkaitan dengan cara berpikir. Reys, dkk (dalam Suwangsih dan Tiurlina, 2010, hlm. 4) menyatakan bahwa “Matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.” Dikatakan pola hubungan karena pada matematika keterkaitan antarkonsep sering dicari kebenarannya untuk dibuat generalisasi. Pembelajaran matematika yang diberikan pada siswa sekolah dasar adalah aplikasi kehidupan sehari-hari, artinya dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam lingkungan maupun dalam membentuk cara berpikir. Hal ini didukung oleh pendapat Suwangsih dan Tiurlina (2010, hlm. 16) “Matematika yang dipelajari oleh siswa SD dapat digunakan oleh siswa SD untuk kepentingan hidupnya sehari-hari dalam kepentingan lingkungannya, untuk membentuk pola pikir logis, sistematis, kritis dan cermat dan akhirnya dapat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.”
Pada tahap perkembangan berpikir menurut Piaget (dalam Suwangsih dan Tiurlina, 2010, hlm. 15) “Anak usia SD berada pada usia 7-12 tahun, artinya mereka berada pada tahap berpikir konkret.” Oleh karena itu, untuk mengenalkan konsep-konsep matematika diperlukan benda-benda konkret atau lingkungan yang ada disekitarnya. Matematika sering dianggap sukar oleh siswa, maka yang perlu diperhatikan dalam  menumbuhkan minat siswa dalam belajar matematika, yaitu: “(1) Menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia anak; (2) Pembelajaran dapat dilakukan dengan cara dari mudah ke sukar atau dari konkret ke abstrak; (3) Penggunaan alat-alat peraga; (4) Pembelajaran hendaknya membangkitkan aktivitas anak; (5) Semua kegiatan harus kontras.” (Suwangsih dan Tiurlina, 2010, hlm. 17). Implikasi dari setiap hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia anak, misalnya dengan memanfaatkan lingkungan.
Contoh: Mengajarkan materi bangun ruang dengan menggunakan benda-benda sekitar yang sering dijumpai siswa. Seperti: kardus TV dan kardus mie instan dikaitkan dengan bentuk kubus atau balok.
(2)      Pembelajaran dapat dilakukan dengan cara dari mudah ke sukar atau dari konkret ke abstrak.
Contoh: Dari mudah ke sukar
Mengajarkan materi mengenai perkalian dan pembagian, untuk mengajarkan materi perkalian dan pembagian sebelumnya siswa harus mendapat pengalaman mengenai  materi penjumlahan dan pengurangan.
Contoh: Dari konkret ke abstrak
Mengajarkan penjumlahan kepada siswa awalnya dilakukan dengan menggabungkan benda-benda konkret misalnya 4 pensil ditambah 2 pensil kemudian digabungkan, menghasikan 6 pensil. Dilanjutkan dengan penggunaan gambar (semi konkret), tahap selanjutnya adalah menggunakan simbol matematika (abstrak).
(3)      Penggunaan alat-alat peraga.
Menggunakan alat peraga merupakan hal penting dalam mengajar. Penggunaanya dapat secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung artinya alat peraga dapat dicoba langsung kegunaannya oleh siswa. Secara tidak langsung artinya alat peraga berupa tiruan seperti gambar, sehingga siswa tidak bisa mencobanya secara langsung (melalui pengamatan).
(4)      Pembelajaran hendaknya membangkitkan aktivitas anak.
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam menemukan konsep sebaiknya siswa dilibatkan secara aktif, dalam hal ini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator bukan sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Oleh karena itu, guru harus tepat dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran.
(5)      Semua kegiatan harus kontras.
Kegiatan pembelajaran harus menarik bagi siswa. Misalnya, penggunaan warna-warna yang berbeda pada setiap bangun datar untuk mengenalkan konsep bangun datar.
Dalam mengajarkan matematika di sekolah dasar selain harus memperhatikan tahap perkembangan berpikir siswa dan minat siswa, perlu diperhatikan juga bagaimana ciri-ciri pembelajaran matematika yang diajarkan pada sekolah dasar. Hal ini didukung oleh pendapat Suwangsih dan Tiurlina (2010, hlm. 24) yang mengemukakan beberapa ciri-ciri pembelajaran matematika di sekolah dasar di antaranya adalah:
1.         Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral (keterkaitan antartopik).
2.         Pembelajaran matematika bertahap (dari mudah ke sukar atau dari konkret ke abstrak).
3.         Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif.
4.         Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.
5.         Pembelajaran matematika hendaknya bermakna.

Daftar Pustaka
Suwangsih, E. dan Tiurlina. (2010). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.


EmoticonEmoticon