Tuesday, 17 January 2017

Penilaian Produk



Penilaian Produk
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
penilaian produk

Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan dalam membuat suatu produk. Penilaian produk adalah cara penilaian yang dilakukan dengan mengamati dan menilai keterampilan-keterampilan peserta didik dalam menghasilkan sebuah produk dan kualitas dari produk tersebut. Oleh karena itu, tidak saja kualitas produk yang dihasilkan oleh peserta didik, tetapi juga pada kualitas keterampilan-keterampilan siswa dalam menyiapkan dan proses membuat produk tersebut. Contoh, kemampuan peserta didik menggunakan berbagai teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, dan berpenampilan menarik.
Penilaian produk umumnya dilakukan terhadap pencapaian kompetensi belajar siswa dalam menghasilkan produk-produk belajar yang berkualitas, seperti membuat kumpulan puisi, membuat naskah drama, membuat artikel ilmiah untuk media massa, membuat karya tulis ilmiah, membuat produk karya seni, menyusun dokumen kebijakan publik dan sebagainya. Produk yang dibuat adalah benda-benda yang bermanfaat bagi diri siswa atau bagi lingkungan siswa. Penilaian produk tidak bersifat tunggal pada objek produk saja, melainkan juga pada proses penyiapan dan proses pembuatan produknya, maka penilaian produk juga bersifat holistik dan analitik. Penilaian pada aspek persiapan, antara lain mencakup kemampuan merencanakan, menggali informasi, mengembangkan gagasan, dan mendesain produk. Penilaian pada aspek proses pembuatan produk, mencakup kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik serta kualitas prosedur membuat produk. Penilaian pada aspek kualitas produk mencakup kebenaran, keaslian, manfaat, kerapian/keindahan, dan sebagainya. Penilaian produk juga berbasis pada pengamatan terhadap kualitas keterampilan dalam menghasilkan produk dan pengamatan terhadap kualitas produk.
Dalam membuat suatu hasil kerja, ada tiga tahapan yang harus dilalui siswa yaitu tahapan perencanaan atau perancangan, tahapan produksi, dan tahapan akhir. Meskipun terdiri atas beberapa tahap yang berbeda tetapi kesemuaan tahap tersebut merupakan suatu proses yang padu. Karena ketiga tahap tersebut merupakan proses yang padu, maka guru dapat melakukan penilaian tentang kemampuan siswa dalam memilih teknik kerja pada tahap produksi dan pada tahap akhir.
Penilaian produk dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Persiapan
Siswa membuat rencana, mengumpulkan gagasan, dan kemudian membuat desain (rancangan) produk apa yang akan dibuat. Guru memberi saran-saran untuk melengkapi gagasan atau meyempurnakan desain. Pada akhir tahap ini guru melakukan penilaian tentang kemampuan siswa merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, serta mendesain produk.
2.    Pembuatan Produk
Siswa memilih dan menggunakan bahan, alat, dan teknik yang sesuai dengan desain yang telah disusun. Dalam proses pembuatan dimungkinkan siswa membutuhkan bantuan berupa saran-saran dari guru. Pada akhir tahap ini guru melakukan penilaian tentang kemampuan siswa menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
3.    Penyerahan
Siswa menyajikan produk atau memamerkannya kepada komunitas sekolah disertai uraian tertulis mengenai seluk-beluk produk tersebut, seperti maksud, ciri-ciri, proses perancangan dan pembuatan, dan lain-lain. Pada akhir tahap ini guru melakukan penilaian tentang kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaan dan memenuhi kriteria yang telah disepakati.
Pada waktu melakukan penilaian hasil kerja siswa, guru harus menentukan dulu hasil kerja siswa yang mana saja yang akan dijadikan dasar dalam menentukan tingkat kompetensi siswa. Berikut ini kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan hasil kerja siswa yang akan dipilih guru untuk penilaian:
1.    Relevan dan mewakili kompetensi yang diukur
Penilaian sebaiknya didasarkan pada sejumlah hasil kerja yang relevan dengan kompetensi yang diukur. Selain itu penilaian juga sebaiknya didasarkan pada seluruh aspek kompetensi (bukan pada salah satu aspek saja). Misalnya penilaian hanya menekankan pada kualitas hasil kerja tanpa menilai proses kerja, atau penilaian hanya menekankan pada keterampilan saja tanpa mengukur pemahaman siswa. Hal yang demikian akan memberikan dampak negatif terhadap proses belajar mengajar. Strategi yang dapat dilakukan untuk memastikan relevansi dan lingkup hasil kerja adalah:
a.    Menetapkan kompetensi yang akan diukur setiap memberikan tugas kepada siswa. Perlu diingat pada waktu memberikan tugas kepada siswa sebaiknya tugas tersebut tidak hanya memungkinkan siswa untuk menunjukkan kompetensi yang diukur tetapi juga memungkinkan siswa untuk dapat menunjukkan kompetensi setingkat di atasnya dan kompetensi setingkat di bawahnya.
b.    Menetapkan kompetensi yang akan diukur pada tiap tahap dalam pengerjaan hasil kerja (dalam tahap perencanan, produksi, dan akhir).
2. Jumlah dan objektivitas hasil kerja
Semakin banyak hasil kerja yang dinilai untuk masing-masing kompetensi maka kesimpulan yang dihasilkan akan semakin handal. Untuk memperoleh penilaian hasil kerja yang handal biasanya digunakan portofolio kerja siswa. Penilaian hasil kerja yang objektif adalah penilaian yang tidak dipengaruhi oleh jenis dan bentuk hasil kerja siswa, serta tidak dipengaruhi oleh guru yang menilai.
Contoh keterampilan siswa yang dapat dinilai pada waktu proses pembuatan suatu produk:
a.    Tahap persiapan: keterampilan siswa untuk membuat perencanaan, kemampuan siswa untuk merancang suatu produk, atau kemampuan siswa untuk menggali dan mengembangkan suatu ide.
b.    Tahap produksi: kemampuan untuk memilih dan menggunakan bahan, peralatan, dan teknik kerja.
c.    Tahap akhir: kemampuan siswa untuk menghasilkan produk yang memenuhi kriteria (fungsi dan estetika), kemampuan siswa untuk mengevaluasi hasil kerjanya.
Guru harus memahami tujuan penilaian hasil kerja agar tidak terjadi kekeliruan dalam menyusun kisi-kisi instrument penilaian. Penilaian hasil kerja biasa digunakan guru untuk:
1.    Menilai penguasaan keterampilan siswa yang diperlukan sebelum mempelajari keterampilan berikutnya.
2.    Menilai tingkat kompetensi yang sudah dikuasai siswa pada setiap akhir jenjang/kelas di sekolah.
3.    Menilai keterampilan siswa yang akan memasuki institusi pendidikan.
Selain itu penilaian produk akan menilai kemampuan siswa dalam bereksplorasi dan mengembangkan gagasan dalam mendesain, memilih bahan-bahan yang tepat, menggunakan alat, menunjukkan inovasi dan kreasi, memilih bentuk dan gaya dalam karya seni.
Dalam menilai hasil kerja, guru perlu mengelola sejumlah hasil kerja siswa dan mencatat hasil penilaiannya. Biasanya guru sudah merencanakan selama satu tahun ajaran bukti hasil kerja siswa yang harus dikumpulkan. Bermanfaat tidaknya hasil kerja siswa untuk digunakan sebagai dasar penilaian tergantung pada spesifikasi tugas yang diberikan kepada siswa. Spesifikasi tugas pada lembar kerja yang sifatnya umum atau tidak rinci, yang berarti memberi keleluasaan besar bagi siswa untuk berkreasi, akan mempersulit siswa untuk memenuhi tugas yang dimaksud.
Oleh karena itu spesifikasi tugas sebaiknya berisi hal-hal sebagai berikut:
1.    Batasan pada tahap perencanaan/perancangan. Batasan diberikan untuk membantu siswa agar dapat memfokuskan diri pada proses kerja. Selain itu batasan diperlukan untuk mempermudah guru menilai keterampilan atau kompetensi yang diukur dalam tugas tersebut.
2.    Merinci langkah-langkah yang harus dilakukan siswa dalam membuat suatu hasil kerja. Hal ini akan membantu siswa untuk memfokuskan diri pada langkah-langkah yang akan dinilai.
3.    Menyusun kriteria penilaian secara jelas. Rincian tentang aspek, kompetensi, langkah, kualitas yang akan dinilai perlu ditulis secara eksplisit disertai nilainya.
Bila hasil penilaian produk ini diperlukan untuk membandingkan individu satu dengan individu lainnya, maka keadilan penilaian perlu diperhatikan.
Penentuan tingkat kompetensi siswa pada penilaian yang bersifat perkembangan biasanya didasarkan pada observasi dan penilaian hasil kerja siswa. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan guru untuk menilai dan mencatat hasil kerja siswa antara lain adalah sebagai berikut:
1.    Anekdotal
Anekdotal adalah catatan yang dibuat guru selama melakukan pengamatan terhadap siswa pada waktu kegiatan belajar mengajar. Anekdotal biasanya digunakan untuk mencatat kompetensi yang belum terlihat pada hasil kerja siswa, misalnya kemampuan siswa untuk bekerjasama, kemampuan siswa menggunakan peralatan secara aman, atau kemampuan siswa untuk memilih bahan kerja yang tepat. Agar anekdotal dapat dimanfaatkan secara maksimal maka sebaiknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut:
a.    Menentukan kompetensi yang akan diamati dan bagaimana mengamatinya. Misalnya guru akan mengamati kemampuan siswa mengorganisasi dan menerapkan prosedur kerja yang benar maka hal-hal yang perlu diamati adalah kerapianruang kerja siswa, penggunaan alat secara aman, dan penerapan prinsip-prinsip kenyamanan dalam kerja.
b.    Menentukan secara sistematis siswa yang akan diamati karena guru tidak mungkin mengamati seluruh siswa dalam satu kali kegiatan belajar mengajar. Dengan cara bergantian tersebut semua siswa akhirnya akan dapat diamati daripada mengamati seluruh siswa dalam satu kegiatan.
2.    Skala penilaian analitis
Skala penilaian analisis adalah penilaian yang dibuat berdasarkan beberapa aspek pada hasil kerja siswa. Dalam skala penilaian analisis guru menilai hasil kerja siswa dari berbagai perspektif atau kriteria. Misalnya pada jurusan seni dan desain, hasil karya siswa dinilai selain dari segi keterampilan teknis juga pemahaman dasar-dasar dari desain.
Skala penilaian analisis biasanya digunakan untuk menilai kemampuan pada tahap perencanaan/perancangan dan tahap akhir. Pada kedua tahap tersebut guru dapat menilai desain atau hasil kerja siswa dari berbagai perspektif atau kriteria. Untuk setiap keterampilan yang diukur, ditentukan beberapa kriteria yang harus dipenuhi.
3.    Skala penilaian holistik
Penilaian holistik adalah penilaian terhadap hasil kerja siswa secara keseluruhan. Penilaian holistik biasanya digunakan untuk penilaian pada tahap akhir seperti penilaian terhadap kualitas hasil kerja siswa dan penilaian terhadap kemampuan siswa untuk mengevaluasi hasil kerjanya.

Contoh Format Penilaian Produk Artikel untuk Media Massa (analitik)
Nama Siswa :
Kelas            :
No
Aspek
Indikator Penilaian
Skala Rentang
1
2
3
4
1.

Persiapan
1.    Memilih dan mengkritisi sumber




2.    Pengumpulan informasi




3.    Deesain awal




2.
Pembuatan artikel
1.    Mengembangkan kerangka berpikir




2.    Pengembangan gagasan pokok




3.    Memilih materi penjelas




3.
Kualitas produk
1.    Kebenaran informasi




2.    Kelugasan dan kejelasan




3.    Bahasa komunikatif




4.    Relevansi dengan gagasan pembaca




5.    Relevansi pilihan topik




Jumlah skor

Skor yang dicapai

Skor maksimum

Nilai

Contoh Format Penilaian Produk (Holistik)
Nama Siswa :
Kelas            :
No
Indikator Penilaian
Skala Rentang
1
2
3
4
1.
Keaslian ide




2.
Pengetahuan yang mendukung




3.
Alat dan bahan yang dugunakan




4.
Cara pembuatan




5.
Penampilan produk




6.
Manfaat produk




Skor yang dicapai

Skor maksimum

Nilai



EmoticonEmoticon