Sunday, 4 September 2016

Teori Belajar Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku



Teori Belajar Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
teori belajar pendekatan modifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku penggerak utamanya adalah B. F. Skinner. Dalam berbagai proyeknya di Universitas Harvard pada pertengahan tahun lima puluhan. Sejak itu Skinner telah mencapai ketenaran diantara para ahli-ahli psikologi eksperimental karena penelitiannya dilangsungkan dengan subjek infrahuman, dia sangat tertarik kepada pendidikan dan merasa bahwa prosedur – prosedur dan prinsip modifikasi tingkah laku dapat digunakan pada penyempurnaan pratek pendidikan. Skinner berpendapat bahwa apabila binatang saja dapat diajar untuk melakukan tugas-tugas yang sifatnya kompleks, maka manusiapun akan dapat memanfaatkan prinsip-prinsip modifikasi tingkah laku yang diterapkan.
Ada empat fase yang dapat dilihat pada pengembangan prinsip dan prosedur pembelajaran pendekatan modifikasi tingkah laku yaitu :
1. Fase mesin pembelajaran (teaching machine)
Skinner (1968) mengutarakan teori bahwa pembelajaran melibatkan kemungkinan penguatan yang tersusun dimana siswa-siswa belajar. Dia mengutarakan bahwa siswa dapat belajar tanpa bantuan khusus dalam lingkungan alamiah. Tetapi lebih lanjut dia berkata bahwa belajar yang paling baik, dapat ditempuh apabila guru-guru membuat persiapan yang tepat sehingga perubahan tingkah laku menuju ke arah yang diinginkan, yang diperkuat secara sistematis. Ia menyarankan bahwa berbagai sarana dapat digunakan secara sistematis agar dapat menimbukan penguatan tingkah laku yang tepat, konsep yang ia perkenalkan adalah teaching machine.
Skinner mengatakan bahwa belajar dengan memperoleh jawaban yang tepat menjadi suatu hal yang tidak penting dalam pendidikan, dia menyatakan bahwa fokus nyata pada pendidikan haruslah pada pemberian penguatan yang konsisten, segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan, lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa dari hasil-hasil percobaannya menunjukkan bahwa siswa akan lebih mudah menjawabnya apabila dilengkapi dengan suatu pengalaman belajar. Pelajaran diawali dengan tugas-tugas yang relatif mudah dan sudah dikenal kemudian meningkat secara pelan-pelan melalui tugas-tugas dan bahan-bahan yang baru.
Analisis dan resep semacam itu memerlukan penyajian dan pengalaman-pengalaman pendidikan yang sangat handal dan pengadaan penguatan yang konsisten setiap saat siswa melakukan jawaban yang tepat. Dalam konteks ini ia menyarankan bahwa bahan-bahan terprogram dan beberapa jenis “teaching machine” akan memungkinkan pendidik untuk menjaga kondisi pembelajaran yang optimal. Istilah “program” sebelumnya digunakan untuk menunjuk kepada bahan-bahan pendidikan yang tersusun secara khusus, “teaching machine” didefinisikan sebagi suatu alat yang menyajikan bahan pendidikan dan yang memberikan umpan balik atau penguatan kepada siswa yang belajar dan kepada kemajuan belajar yang dicapainya.
2. Fase penekanan pada pembelajaran berprogram
Prosedur-prosedur yang ditempuh dalam pembelajaran berprogram adalah:
a. Suatu program biasanya tersusun dari langkah kecil atau pendek yang relatif mudah dilaksanakan. Berawal dengan tugas-tugas yang mula-mula dapat dilakukan oleh siswa dan secara perlahan-lahan menuju kepada yang sukar atau yang belum dikenal siswa.
b. Biasanya belajar efektif dan efisien terjadi apabila siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.
c. Positif reinforcement harus segera diberikan dan harus segera mengikuti setiap tanggapan atau respon yang tepat. Pada beberapa hal tertentu digunakan beberapa penguat ekstrinsik, misalnya : hadiah, pujian, dll.
d. Ditekankan bahwa program-program harus menyediakan bagi pembelajaran individual paling tidak siswa harus mampu bekerja sesuai dengan kemampuannya. Siswa hendaknya diberi waktu yang cukup sesuai yang dibutuhkan untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
e.  Adanya testing (evaluasi) bagi siswa. Pada pembelajaran berprogram, evaluasi ini biasanya dapat untuk menentukan bagaimana siswa belajar pada setiap materi pembelajaran, sehingga menghasilkan suatu catatan apakah materi tadi menghasilkan kegiatan belajar secara efektif dan efisien.
3. Fase manajemen kontingensi
Fase ketiga dari aliran ini dapat disebut sebagai manajemen kontingensi. Dalam aplikasi prinsip-prinsip belajar modifikasi tingkah laku disini fokusnya kepada lingkup kegiatan yang lebih luas dibandingkan dengan fase teaching machine dan pembelajaran berprogram. Beberapa psikolog berpendapat bahwa pendekatan modifikasi tingkah laku dari Skinner mempunyai implikasi yang nyata untuk menghadapi suatu lingkup masalah pendidikan praktis yang luas, namun dirasakan ada keterbatasan dari pendekatan teaching machine dan pembelajaran berprogram. Lebih khusus lagi dirasakan bahwa walaupun aspirasi lain dimunculkan Skinner terdapat kecendrungan untuk mencegah penggunaan modifikasi tingkah laku terhadap tingkah laku verbal misalnya membaca, berbicara, menulis, dan lain sebagainya.
Penerapan pendekatan manajement kontingensi dalam bidang pendidikan pertama-tama terjadi pada situasi pendidikan yang bersifat khusus. Misalnya selama ini dikenal bahwa beberapa karakteristik tingkah laku anak yang menunjukkan berupa ketidakmampuan belajar. Banyak ditentukan oleh kondisi fisiologisnya. Tetapi dirasakan pula bahwa beberapa tingkah laku yang tidak benar juga terbentuk oleh karena hubungan siswa-siswa dengan orang lain. Diperkirakan bahwa mungkin salah satu sebab mengapa siswa-siswa menunjukkan tingkah laku yang tidak benar disebabkan bagian dari ganjaran yang diberikan kepada tingkah laku tersebut oleh guru-guru mereka maupun teman sebayanya. Proyek-proyek dibentuk dimana guru-guru hendaknya mengabaikan respon-respon yang tak tepat, tapi memberikan perhatian apabila siswa-siswa bertingkah laku sosial yang tepat atau menunjukkan kemajuan di bidang pendidikan.
4. Fase behavioral engineering
Tiga segi modifikasi tingkah laku telah mendorong munculnya pendekatan behavioral engineering, sebagai fase keempat yang dinilai lebih efektif dalam modifikasi tingkah laku, karena menekankan aspek pengukuran penelitian.
Behavioral engennering adalah gabungan dari dua teknologi yaitu teknologi manajemen kontingensi dan teknologi pengaturan rangsang. Manajemen kontingensi berkaitan erat dengan prinsip-prinsip modifikasi tingkah laku, sedangkan pengaturan rangsangan sebagai suatu rangsangan yang mengatur kemungkinan suatu jawaban.
Dalam hal ini disarankan menggunakan penguatan sesegera mungkin untuk tingkah laku yang mendekati tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. Sejumlah kecil ganjaran secara teratur diberikan bagi setiap tambahan peningkatan dan secara bertetap ganjaran diberikan setelah tindakan yang diinginkan dan bukan sebelumnya. Mereka menekankan bahwa suatu kontrak harus dibuat secara lisan antara guru dan siswa, secara jelas, fair, dan jujur serta diikuti sungguh-sungguh oleh kedua pihak. Penilaian yang sistematis dan yang berulang-ulang dilangsungkan baik sebagai alat untuk memotivasi siswa dengan memberitahukan kepadanya tentang kemajuan-kemajuan yang dicapainya maupun sebagai landasan untuk mengetahui aspek dari program pendidikannya yang mungkin memerlukan modifikasi (perubahan).
Prinsip-prinsip pembelajaran modifikasi tingkah laku telah digunakan pada TK, SD, SLTP, SLTA, Universitas dan Sekolah-sekolah kejuruan, pada program-program latihan militer serta industri. Prinsip tersebut digunakan dalam menghadapi masalah-masalah emosional anak-anak di dalam kelas, dalam pengelolaan masalah belajar siswa dan masalah-masalah akademis lainnya. Lingkup masalah-masalah yang telah digunakan prosedur-prosedur ini antara lain dalam contoh topik-topik berikut ini :
1. Meningkatkan ketelitian pengucapan pada anak-anak.
2. Pengaruh perhatian guru terhadap tingkah laku belajar.
3. Produksi dan eliminasi tingkah laku tertentu, dengan cara mengganti guru yang bermacam-macam tingkah lakunya.
4. Modifikasi tingkah laku anak-anak yang tidak berkemampuan belajar dengan menggunakan ganjaran, upah, sebagai penguat yang mendukung.
5. Penerapan prinsip-prinsip pembelajaran berprogram kepada pembelajaran klasikal.


EmoticonEmoticon