Monday, 12 September 2016

Unsur-Unsur Penelitian Ilmiah



Unsur-Unsur Penelitian Ilmiah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
unsur-unsur penelitian ilmiah
Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu memiliki pengetahuan tentang berbagai unsur penelitian. Unsur-unsur yang menjadi dasar penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
1. Konsep
Konsep termasuk unsur penelitian yang penting. Konsep merupakan definisi yang dipakai oleh para peneliti untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena, baik fenomena alami maupun fenomena sosial. Konsep merupakan ide abstrak. Konsep digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata. “Konsep adalah abstraksi dari kejadian atau hal-hal yang memiliki ciri-ciri yang sama atau merupakan ide tentang sesuatu dalam pikiran (Mertodiharjo, Kadiyono dan Mulyono, 1980, hlm. 5). Sedangkan Oemar Hamalik (2005, hlm. 162) “menyatakan suatu konsep dengan menyebut ‘nama’”.
Menurut Amien dalam Salirawati (2010, hlm. 13) menyatakan berdasarkan bentuknya konsep dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yakni:
a. Konsep klasifikasional, mencakup bentuk konsep yang didasarkan atas klasifikasi fakta-fakta kedalam bagan yang terorganisir. Misal mengklasifikasikan hewan yang termasuk hewan buas, mengklasifikasikan bilangan yang termasuk bilangan genap, atau mengklasifikasikan kebutuhan yang termasuk kebutuhan primer.
b. Konsep korelasional, mencakup kejadian-kejadian khusus yang saling berhubungan, atau observasi-observasi yang terdiri dari atas dugaan terutama berbentuk formulasi atau prinsip-prinsip umum. Misal pertumbuhan dan perkembangan.
c. Konsep teoritik, mencakup bentuk konsep yang mempermudah kita dalam mempelajari fakta-fakta atau kejadian-kejadian dalam sistem yang terorganisir. Misal pengertian distributor, sifat hewan jinak, atau menyebutkan bilangan bulat.
Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Misalnya, konsep perilaku menyimpang (deviant behavior) dipakai oleh para sosiolog untuk menggambarkan fenomena bunuh diri, kebiasaan minum alkohol dan banyak fenomena lainnya. Konsep perilaku memilih dipakai untuk menerangkan fenomena memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal dan memilih jumlah anak.
Dalam kenyataannya, konsep dapat mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda. Semakin dekat suatu konsep kepada realitas, semakin mudah konsep tersebut diukur. Banyak konsep-konsep ilmu sosial sangat abstrak terutama yang merupakan unsur dari teori yang sangat umum (grand theory). Misalnya, konsep pilihan pekerjaan (occupational preference) adalah lebih rendah tingkat generalisasinya dari konsep perilaku memilih (choice behavior).
Berbeda dengan konsep-konsep ilmu alam yang menggambarkan fenomena alami yang konkrit (karena dapat diraba dengan panca indera), kebanyakan konsep-konsep dalam ilmu sosial adalah untuk menggambarkan fenomena sosial yang biasanya bersifat abstrak. Karena itu dalam penelitian sosial, konsep-konsep perlu didefinisikan dengan jelas, sehingga penelitian tersebut dapat dipahami oleh masyarakat akademis yang lebih luas.
2. Proposisi
Proposisi adalah pernyataan tentang sifat dari realita yang dapat diuji kebenarannya. Dalam ilmu sosial, proposisi biasanya adalah pernyataan tentang hubungan antara 2 (dua) konsep atau lebih. Misalnya, proposisi “cara belajar siswa adalah salah satu faktor penentu hasil belajar siswa” lebih sering kita jumpai daripada proposisi “cenderung cara belajar siswa di Indonesia menggunakan cara menghafal”. Benar keduanya adalah proposisi, karena keduanya adalah pernyataan tentang realita yang kebenarannya dapat di uji. Perbedaannya, yang pertama menghubungkan 2 (dua) faktor dan menganggap bahwa satu faktor adalah penyebab dari faktor lainnya, sedangkan proposisi yang kedua hanya menunjukkan distribusi suatu faktor.
3. Teori
Sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematis antara fenomena sosial maupun alami yang hendak diteliti adalah teori, yaitu rangkaian yang logis dari satu proposisi atau lebih. Teori merupakan informasi ilmiah yang diperoleh dengan meningkatkan abstraksi pengertian-pengertian maupun hubungan-hubungan pada proposisi. Proposisi 1, misalnya menunjukkan bahwa penerimaan media pembelajaran baru oleh guru di kota Tasikmalaya dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang manfaat media pembelajaran tersebut. Proposisi ini dapat ditingkatkan menjadi teori 1 dengan merubah tingkat abstraksi proposisi tersebut menjadi : “penerimaan suatu inovasi dipengaruhi oleh sikap terhadap inovasi tersebut”. Dalam contoh diatas “media pembelajaran baru” dijadikan lebih abstrak dengan mengubah konsep tersebut menjadi “inovasi” dan “persepsi tentang manfaat media pembelajaran” dijadikan “persepsi tentang inovasi tersebut” atau kalau disajikan secara lebih abstrak kita dapat merumuskan teori 2 “perilaku adalah cerminan dari sikap”.
4. Variabel
Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai. Jadi, konsep “Badan” bukan variabel, karena badan tidak mengandung pengertian adanya nilai yang bervariasi. “Berat Badan” adalah variabel karena memiliki nilai yang berbeda. Konsep-konsep yang tidak mengandung pengertian nilai yang beragam biasanya dapat diubah menjadi variabel dengan memusatkan pada aspek tertentu dari konsep tersebut. Jadi, konsep perilaku menyimpang dapat diubah menjadi variabel dengan merubahnya menjadi penyimpangan perilaku belajar siswa.
5. Hipotesis
Tujuan penelitian adalah menelaah hubungan sistematis antara variabel-variabel. Hubungan ini biasanya disajikan dalam bentuk hipotesis. Hipotesis adalah kesimpulan sementara atau proposisi tentantif tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
Hipotesis yang baik harus memenuhi 2 kriteria, yaitu : (1). Hipotesis harus menggambarkan hubungan antara variabel-variabel dan (2). Hipotesis harus memberikan petunjuk bagaimana pengujian hubungan tersebut. Ini berarti, variabel-variabel yang dicantumkan dalam hipotesis harus dapat diukur dan arah hubungan antara variabel-variabel tersebut harus jelas.
Seringkali rumusan hipotesis dimulai dengan suatu proposisi yang menunjukkan hubungan antara variabel dan diikuti oleh pernyataan yang lebih spesifik tentang arah serta kuatnya hubungan tersebut. Misalnya, untuk penelitian tentang penggunaan media pembelajaran dapat dirumuskan sebagai berikut :
Tingkat penggunaan media pembelajaran dipengaruhi oleh persepsi  guru tentang manfaat media pembelajaran tersebut dan persepsi mereka tentang sikap siswa terhadap hal yang sama”
Hipotesis di atas menunjukkan hubungan antara 2 (dua) variabel bebas (persepsi tentang manfaat media pembelajaran dan persepsi tentang sikap siswa terhadap media pembelajaran) dan variabel terikat (tingkat penggunaan media pembelajaran). Jenis hipotesis ini disebut hipotesis relasional. Selain hipotesis relasional, terdapat hipotesis deskriptif. Hipotesis ini bertujuan menggambarkan karakteristik suatu sampel menurut variabel tertentu. Salah satu contoh hipotesis deskriptif adalah : “Proporsi orang-orang desa berpendidikan tinggi yang beremigrasi lebih besar daripada yang berpendidikan rendah”.
Semua hipotesis yang di atas disebut dengan hipothesa kerja atau hipotesis alternatif dan diberi simbol Ha. Untuk menguji hipotesis alternatif tersebut, diperlukan pembanding dan disebut dengan hipotesis nihil atau hipotesis nol dan diberi simbol Ho (seringkali disebut juga dengan hipotesis statistik). Rumusan hipotesis nol adalah kebalikan dari hipotesis alternatif. Jadi kalau hipotesis alternatif berbunyi : Tingkat penggunaan media pembelajaran dipengaruhi oleh persepsi guru tentang manfaat media pembelajaran tersebut dan persepsi mereka tentang sikap siswa terhadap hal yang sama”, maka hipotesis nol berbuyi : Tingkat penggunaan media pembelajaran tidak dipengaruhi oleh persepsi guru tentang manfaat media pembelajaran tersebut dan persepsi mereka tentang sikap siswa terhadap hal yang sama”.
6. Definisi operasional
Salah satu unsur yang membantu komunikasi antar penelitian adalah definisi operasional, yaitu merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Dengan membaca definisi operasional dalam suatu penelitian, seorang peneliti akan mengetahui pengukuran suatu variabel, sehingga peneliti dapat mengetahui baik buruknya pengukuran tersebut.
Dibawah ini diberikan contoh-contoh dari definisi operasional:
a. Aktivitas belajar : segala sesuatu yang dilakukan siswa dalam rangka proses belajar.
b. Hasil belajar: hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai suatu kecakapan yang tercermin dari hasil evaluasi.
c. Motivasi: dorongan mental yang menggerakan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar.

Daftar Pustaka
Hamalik, O. (2005). Perencanaan Pengajaran berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mertodiharjo, Kadiyono, dan Mulyono. (1980). Mengajarkan Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Departemen Pendidikan.
Salirawati, DAS. (2010). Pengembangan Model Instrumen Pendeteksi Miskonsepsi Kimia pada Peseta Didik SMA. Skripsi Program Pascasarjana. Universitas Negeri Yogyakarta.


EmoticonEmoticon