Friday, 16 September 2016

Validitas


Validitas
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
validitas
Validitas berasal dari kata bahasa Inggris validity yang berarti kebenaran atau keabsahan. Dalam konteks penelitian, validitas dapat diartikan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Dengan kata lain, suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya dan memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sebaliknya alat ukur yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Ketepatan suatu validitas pada suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Suatu alat ukur yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil pengukuran mengenai variabel A, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas tinggi. Suatu alat ukur yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi menghasilkan data mengenai variabel A- atau bahkan B, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi validitasnya untuk mengukur variabel A- atau B.
Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Cermat artinya bahwa pengukuran itu dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya mengenai perbedaan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dalam pengukuran aspek fisik, bila kita hendak mengukur berat anting emas, maka kita harus menggunakan alat penimbang berat emas agar hasil penimbangannya valid, yakni tepat dan cermat. Sebuah alat penimbang berat badan memang mengukur berat, akan tetapi tidaklah cukup cermat guna mengukur berat anting emas karena perbedaan beratnya sangat kecil pada anting emas tersebut dan tidak dapat terlihat pada alat ukur penimbang berat badan.
Penggunaan alat ukur untuk mengukur suatu aspek tertentu akan tetapi tidak dapat memberikan hasil ukur yang cermat dan teliti akan menimbulkan kesalahan atau eror. Alat ukur yang valid akan memiliki tingkat kesalahan yang kecil sehingga angka yang dihasilkannya dapat dipercaya sebagai angka yang sebenarnya atau angka yang mendekati keadaan yang sebenarnya. Di samping itu, validitas sangat erat kaitannya dengan tujuan pengukuran. Oleh karena itu, tidak ada validitas yang berlaku umum untuk semua tujuan pengukuran. Suatu alat ukur hanya valid untuk satu tujuan yang spesifik. Dengan demikian, validitas harus diikuti oleh keterangan yang merujuk kepada tujuan spesifik dan bagi kelompok subyek tertentu.
Terdapat dua jenis validitas, diantaranya:
1. Validitas internal
Validitas internal adalah sebuah bentuk kesesuaian instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk yang telah disusun, bentuk, dan tata bahasa penggunaan instrumen. Validitas internal terdiri dari:
a. Validitas isi (content validity)
Validitas isi merupakan validitas yang diperhitungkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional. Validitas isi suatu instrumen berkaitan dengan kesesuaian antara karakteristik dari variabel yang dirumuskan pada definisi konseptual dan operasional. Apabila semua karakteristik variabel yang dirumuskan pada definisi konseptual dapat diungkap melalui butir-butir suatu instrumen, maka instumen itu dinyatakan memiliki validitas isi yang baik.
Validitas isi dapat dianalisis dengan cara memperhatikan penampakan luar dari instrumen dan dengan menganalisis kesesuaian butir-butirnya dengan karakteristik yang dirumuskan pada definisi konseptual variabel yang diukur. Validitas yang dianalisis dengan memperhatikan penampilan luar instrumen itu disebut validitas tampang (face validity). Sedangkan validitas yang dianalisis dengan memperhatikan kerepresentativan butir-butir instrumen disebut validitas penyampelan (sampling validity) atau validitas kurikulum (curriculum validity). Validitas tampang maupun penyampelan disebut juga sebagai validitas teoritis karena proses analisisnya lazim dilakukan tanpa didasarkan pada data empiris. Alat yang digunakan untuk menganalisis validitas tersebut adalah logika dari orang yang menganalisisnya.
b. Validitas konstruk (construct validity)
Validitas konstruk adalah tipe validitas yang menunjukan sejauh mana alat ukur mengungkap suatu trait atau konstruk teoritis yang hendak diukurnya. Untuk itu, pengujian validitas konstruk merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Validitas ini berarti seberapa besar derajat instrumen mengukur hipotesis yang dikehendaki untuk diukur. Konstruk merupakan hal yang tidak dapat diamati, namun dapat menjelaskan perilaku. Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut.
2. Validitas eksternal
Validitas eksternal biasa juga disebut dengan validitas empiris. Validitas ini biasanya menggunakan teknik statistik, yakni analisis korelasi. Hal ini disebabkan validitas eksternal mencari hubungan antara skor tes dan suatu kriteria tertentu yang merupakan tolak ukur di luar tes yang bersangkutan. Kriteria ini harus relevan dengan apa yang diukur. Validitas eksternal terdiri dari:
a. Validitas prediktif (predictive validity)
Validitas prediktif adalah jika kriteria standar yang digunakan untuk meramalkan suatu hal di masa yang akan datang.
b. Validitas kongkuren (concurrent validity)
Validitas kongkuren adalah jika kriteria standarnya berlainan.
c. Validitas sejenis (congruent validity)
Validitas sejenis adalah jika kriteria standarnya sejenis.
Validitas yang ideal tentunya mencakup validitas internal dan eksternal, namun pada kenyataannya tidak dapat dicakup secara sempurna karena ada faktor-faktor yang mengancam validitas, sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang dapat mempangaruhi validitas internal
a. Kematangan.
b. Peristiwa sewaktu-waktu.
c. Ujian.
d. Pengukuran tidak stabil.
e. Regresi statistik.
f. Pilihan yang berbeda
g. Menguapnya sampel penelitian.
2. Faktor-faktor yang dapat mempangaruhi validitas eksternal
a. Latar penelitian yang buatan.
b. Kontaminasi.
c. Campur tangan treatment sebelumnya.
d. Ujian.
e. Pilihan yang bias.
Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik garis besar bahwa validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan dan keabsahan suatu instrumen atau alat ukur. Prinsip validitas ialah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi, validitas lebih menekankan pada kesesuain antara instumen atau alat ukur dengan tujuan pengukuran dari instrumen atau alat ukur tersebut serta kesesuaian terhadap subyek pengukuran tertentu yang spesifik.


EmoticonEmoticon