Tuesday, 17 January 2017

Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar



Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

bimbingan dan konseling di sekolah dasar

Bimbingan dapat didefinisikan sebagai proses pemberian bantuan. Muro dan Kottman dalam Juntika Nurihsan (2003, hlm. 11) memaparkan bahwa “bimbingan yang berkembang saat ini adalah bimbingan perkembangan”. Selanjutnya Crow dan Crow dalam Muhammad Surya (1998, hlm. 45) menyatakan bahwa “bimbingan diartikan sebagai bantuan yang diberikan seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai kepada individu dari setiap usia untuk menolongnya, mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Rochman Natawijaya (1987, hlm. 37) yang mengartikan bimbingan sebagai “suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga dia dapat sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan pada umumnya.
Konseling berasal dari kata bahasa Inggris counseling yang memiliki makna sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individu. Hubungan ini antara seseorang yang berusaha membantu seseorang yang lain. Seseorang yang berusaha membantu disebut konselor, sedangkan seseorang yang dibantu disebut klien. Konseling bertujuan untuk mencapai pengertian tentang diri sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi pada waktu yang akan datang.
Berdasarkan paparan pendapat tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa bimbingan dan konseling di sekolah dasar diartikan sebagai upaya bantuan yang dilakukan guru/pendamping terhadap siswa agar siswa dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.
Berikut prinsip-prinsip bimbingan dan konseling di sekolah dasar, antara lain:
1. Sikap dan tingkah laku siswa sebagai pencerminan dari segala kejiwaaannya yang unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian siswa. Untuk itu, dalam memberikan layanan bimbingan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai.
2. Setiap siswa memiliki perbedaan dan memiliki berbagai kebutuhan. Oleh karena itu, dalam memberikan bimbingan agar efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan siswa.
3. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya siswa yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
4. Pada suatu proses bimbingan siswa yang dibimbing harus aktif, memiliki banyak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada dasarnya berpusat pada siswa yang dibimbing.
5. Pada tahap awal bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa.
6. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi lingkungan siswa.
7. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan suatu keharusan karena usaha bimbingan memiliki peran untuk memperlancar jalannya proses pendidilan dalam mencapai tujuan pendidikan.
8. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan di sekolah. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah. Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang ahli.
9. Program bimbingan dan konseling di sekolah dasar hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari siswa. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan dan konseling.
Pada intinya bahwa bimbingan dan konseling di sekolah dasar merupakan upaya penyelesaian masalah belajar yang dialami oleh siswa agar tujuan pembelajaran tercapai dengan optimal. Berikut beberapa langkah yang digunakan dalam menghadapi permasalahan belajar siswa, diantaranya:
1. Identifikasi masalah
Pada tahap ini guru melakukan proses pemanggilan siswa yang bersangkutan ataupun teman dekatnya untuk memperoleh informasi awal masalah yang dihadapi oleh siswa.
2. Analisis masalah
Pada tahap ini guru melakukan analisis masalah dari informasi awal yang didapat sebelumnya dan mengamati tingkah laku siswa bersangkutan.
3. Diagnosis
Guru mencari kemungkinan penyebab masalah dari masalah yang dialami oleh siswa bersangkutan.
4. Prognosis
Kemudian guru mencari berbagai alternatif pemecahan masalah yang dialami oleh siswa bersangkutan.
5. Pelaksanaan bantuan (treatment)
Setelah diperoleh penyebab dan alternatif pemecahannya, guru kemudian melakukan layanan bimbingan kepada siswa yang memiliki masalah tersebut. Pelaksanaan bantuan ini dapat berupa nasihat, namun jika cara tersebut belum mampu mengatasi masalah, maka guru harus mendatangi rumah orang tua siswa untuk sharing dan mencari pemecahan masalah bersama-sama dengan orang tua siswa.
6. Evaluasi dan tindak lanjut
Langkah ini dilakukan setelah treatment diberikan. Siswa bersangkutan terus dipantau apakah sudah ada perubahan atau belum. Jika belum, guru perlu melakukan alternatif pemecahan masalah yang lain, sehingga masalah yang dialami oleh siswa yang bersangkutan dapat terselesaikan. Apabila masalah tersebut sudah tidak dapat diselesaikan oleh pihak sekolah, maka prinsip referal atau pengalihan dalam bimbingan diberlakukan.
Pada dasarnya bimbingan itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan. Proses yang terpenting dalam bimbingan dan konseling di sekolah dasar yakni proses penemuan diri sendiri siswa. Hal tersebut akan membantu siswa mengadakan penyesuaian terhadap situasi baru, mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami diri sendiri, dan menerapkannya dalam segala situasi. Bimbingan bukan hanya suatu tindakan yang bersifat hanya mengatasi krisis yang dihadapi siswa, melainkan juga merupakan suatu pemikiran tentang perkembangan siswa sebagai pribadi dengan segala kebutuhan, minat, dan kemampuan yang berkembang.

Referensi
Natawijaya, R. (1987). Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Depdikbud.
Nurihsan, J. (2003). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Mutiara.
Surya, M. (1998). Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, Teori Praktek. Yogyakarta: Kota Kembang.


EmoticonEmoticon