Tuesday, 17 January 2017

Gaya Mengajar Anti Boring (GAMAB) Mengintegrasikan Stand Up Comedy dalam Pembelajaran Atraktif untuk Mencetak Guru Sekolah Dasar Profesional



Gaya Mengajar Anti Boring (GAMAB) Mengintegrasikan Stand Up Comedy
dalam Pembelajaran Atraktif untuk Mencetak Guru Sekolah Dasar Profesional
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
gaya mengajar anti boring (GAMAB)

Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan, karena pendidikan adalah modal dasar manusia untuk menjalani kehidupan. Di Indonesia sendiri kondisi pendidikan cukup memprihatinkan, hal ini disebabkan karena  kegiatan belajar mengajar yang belum optimal. Dari hasil observasi 3 SD di Kota Tasikmalaya ditemukan beberapa indikasi yang menunjukan bahwa peserta didik merasa jenuh dan tidak nyaman dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menyebabkan konsentrasi peserta didik dalam belajar teralihkan. Faktanya saat guru menyampaikan materi pelajaran menunjukan bahwa banyak dari peserta didik yang tidak memperhatikan, diantaranya mereka mengantuk, bercanda, mengganggu peserta didik yang lain, membaca komik, dan menggunakan alat komunikasi. Hal ini disebabkan karena cara dan gaya pendidik  menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah yang cenderung membosankan.
Selain itu dengan munculnya Kurikulum 2013 tidak sedikit pendidik yang masih merasa kebingungan dalam mengaplikasikan kurikulum tersebut. Jika kondisi ini dibiarkan maka pendidikan di Indonesia akan semakin sulit untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, maka dari itu perlu adanya penataan dan mendobrak kebiasaan yang dianggap sepele namun berdampak besar terhadap masa depan bangsa Indonesia itu sendiri. Peran guru menurut Deni Damayanti dalam bukunya yang berjudul Panduan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah (2014) bahwasannya, ‘’peran guru hadir untuk membantu membangun dan mengembangkan karakter setiap anak didiknya’’.
Di samping itu jika kita mengamati lebih jauh tentang Kurikulum 2013 dapat kita temukan bahwa tujuan pembelajaran bukan hanya agar anak hafal (baca: pengetahuan) tetapi agar anak suka (baca: sikap) terhadap apa yang diajarkan, contohnya dalam kompetensi inti Kurikulum 2013 kelas 1 Sekolah Dasar K.D 2.1 yaitu, “Memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan wujud dan sifat benda melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah”. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa Kurikulum 2013 khususnya pada jenjang Sekolah Dasar lebih menitikberatkan pengembangan afektif. Dengan demikian dibutuhkan suatu penyelesaian agar pembelajaran dapat tersampaikan dan tercipta pembelajaran yang efektif.
Berdasarkan permasalahan yang dipaparkan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini, yaitu:
1. Terealisasinya pembelajaran efektif dan atraktif.
2. Menciptakan guru SD yang profesional dan disukai oleh peserta didik serta dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai pendidik dalam mencapai pendidikan nasional.
3. Membantu mewujudkan pendidikan karakter dan implementasi Kurikulum 2013.
4. Pembelajaran dapat mudah dicerna dan mendekatkan hubungan antara anak dengan guru sehingga tercapainya pendidikan ideal yang dicita-citakan.       
Salah satu metode pembelajaran yang sejak dulu banyak digunakan oleh pendidik adalah metode ceramah. Dalam metode ini penyampaian materi dan bahan ajar disampaikan pendidik kepada siswa secara verbal. Organisasi kelas dengan metode ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana, tidak memerlukan persiapan yang rumit. Metode ceramah merupakan metode yang murah untuk dilakukan, maksudnya proses ceramah tidak memerlukan pealatan-peralatan yang lengkap, metode ini cukup hanya bermodalkan suara pendidik. Dalam Metode ceramah, pendidik diharuskan memiliki kemampuan berkomunikasi dan bertutur kata yang baik. Namun faktanya sebagian besar pendidik dalam menggunakan metode ceramah membuat siswa menjadi bosan. Hal ini dikarenakan metode ceramah yang digunakan oleh pendidik hanya menitik beratkan kepada transfer ilmu saja dan terkesan kurang menarik, sehingga siswa kurang memperrhatikan materi yang disampaikan oleh pendidik.
Sesuai dengan pernyataan Asep, Asra, Laksmi (2007) dalam bukunya yang berjudul Belajar dan Pembelajaran SD bahwa, “mungkin saja fisik peserta didik berada di dalam kelas, tapi secara mental pikiran peserta didik berada diluar kelas. Dengan demikian seorang pendidik harus mampu memodifikasi metode ceramah yang membosankan sehingga dapat meminimalisir rasa kejenuhan yang dialami oleh siswa.
Menurut hasil wawancara dengan Prof. Dr. H. Cece Rahmat, M. Pd., solusi yang pernah coba diterapkan untuk mengatasi kejenuhan yang disebabkan oleh metode ceramah yang kurang menarik dalam pembelajaran di kelas adalah belajar dengan karyawisata (fieldtrip) atau juga belajar dengan simulasi (simulation learning). Beliau mengatakan bahwa, “belajar dengan kedua cara ini telah lumrah dilakukan, namun dalam pelaksanaannya  belum maksimal”.
Hal ini sesuai dengan apa yang dijabarkan oleh Abdul Majid (2014) dalam bukunya yang berjudul Pembelajaran Tematik Terpadu, mengemukakan bahwa :
1. Karyawisata (fieldtrip) adalah salah satu cara untuk mengatasi kejenuhan siswa dalam belajar. Pada pelaksanaannya, siswa melakukan kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Secara umum siswa memang antusias dalam mengikuti karyawisata, tetapi pada kenyataannya di lapangan, kebanyakan siswa malah bermain-main dan mengesampingkan aspek belajar yang sebenarnya merupakan tujuan dari karyawisata tersebut.
2. Belajar menggunakan simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran, karena melalui simulasi, siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang dipelajari. Namun belajar dengan simulasi ini memiliki beberapa kelemahan yakni, pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan, jika pengelolaannya kurang baik sering kali simulasi dijadikan sebagai alat hiburan sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan, dan faktor psikologis seperti rasa malu serta takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi sehingga hasilnya tidak efektif. Contohnya dalam mensimulasikan praktek jual-beli, siswa yang sudah faham materi berhitungan akan mengikuti simulasi dengan baik, tetapi siswa yang belum faham, tidak dapat maksimal dalam mengikuti simulasi, dan akhirnya mengganggu siswa yang lain.
Gaya mengajar anti boring yang selanjutnya disebut GAMAB, merupakan gaya mengajar yang pengimplementasiannya mengintegrasikan Stand Up Komedi. Dalam hal ini GAMAB dirancang sebagai bentuk kuratif dari solusi yang sebelumnya pernah di tawarkan namun tidak berjalan optimal. Salah satu solusi yang pernah di tawarkan untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak jenuh adalah fieldtrip.
Apabila kita melakukan peninjauan kembali, fieldtrip cenderung lebih banyak mengeluarkan biaya dan dalam pelaksanaannya acapkali melenceng dari tujuan utama yakni 90% siswa lebih banyak bermain. Selain itu hal yang tidak dipungkiri adalah bahwasannya dalam implementasi fieldtrip tidak dapat dilaksanakan setiap waktu dalam mengajar, hanya beberapa kali saja. Hal ini mengindikasikan adanya pemborosan waktu dan biaya. Begitu pula dengan simulasi yang tidak berjalan sesuai rencana dan dianggap sebagai hiburan, menandakan rendahnya suatu kualitas yang tidak sejalan dengan guru sebagai supervisor, fasilitator, yang menggambarkan peran serta profesionalisme guru.
Dapat disimpulkan bahwa dengan mengganti metode pengajaran yang digunakan, hasilnya tidak begitu signifikan. Karena itu penulis mempuyai solusi yakni, GAMAB yang merupakan bentuk modifikasi dari metode ceramah yang telah lazim digunakan.
Untuk mewujudkan GAMAB (gaya mengajar anti boring) dalam  praktek pengajaran, guru menyisipkan stand up komedi yang mendidik dengan mengambil contoh dalam kehidupan sehari-hari serta fenomena kehidupan nyata sehingga peserta didik dapat memahami dengan mudah apa yang dipelajari. Hal tersebut memberikan pengaruh besar dalam pencapaian ekspektasi di dalam pengimplementasian Kurikulum 2013 menuju Indonesia berkarakter. GAMAB dalam pelaksanaannya sedemikian rupa mengemas materi pembelajaran yang cenderung terkesan serius dengan guyonan yang mendidik dan logis.
Guna merealisasikan gagasan tersebut perlu adanya konsolidasi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), dinas pendidikan dan kebudayaan, perguruan tinggi, serta dinas pendidikan setempat, mahasiswa calon guru, dan guru maupun pendidik sebagai stakeholder terbesar dalam manipestasi GAMAB.
Berikut langkah-langkah strategis yang harus ditempuh:
1.    Pihak DIKTI merekomendasikan gagasan ini dan memberi dukungan dengan    memfasilitasi secara materi maupun moril.
2.    Sedangkan pihak perguruan tinggi bekerjasama dengan dinas pendidikan berkenan mengadakan sosialisasi dan mengaplikasikan dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).
3. Mahasiswa calon guru didampingi oleh dosen dan dinas pendidikan setempat mengimplementasikan sosialisasi GAMAB kepada guru maupun pendidik.
GAMAB (gaya mengajar anti boring) merupakan gagasan yang diajukan sebagai upaya dalam menghadapi problema solusi yang sempat diajukan namun tidak berhasil yaitu, fieldtrip dan simulasi mengajar. Membentuk guru dan/atau pendidik yang profesional dengan memberdayakan kemampuan dan keterampilannya secara optimal. Sebagaimana termaktub dalam UU RI No. 14 Th. 2005 Tentang Guru dan Dosen Bab II Pasal 6 bahwasannya,’’kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik...’’. Kemudian sebagai pembekalan kepada mahasiswa calon guru dalam keterampilan mengajar yang menyenangkan.
GAMAB dapat diimplementasikan dengan jalan direkomendasikannya gagasan ini oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi kepada dinas pendidikan dan kebudayaan untuk mengaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Selanjutnya guna memperkuat gagasan GAMAB dilakukan sosialisasi dalam bentuk seminar dan workshop oleh mahasiswa didampingi oleh dosen serta dinas pendidikan setempat kepada guru dan/atau pendidik.
Apabila GAMAB (gaya mengajar anti boring) terealisasi akan meminimalisir terjadinya deklinasi dalam pengembangan potensi anak didik. Diantaranya ketegangan dalam belajar, verbalisme, dsb. Sementara untuk pendidik, GAMAB dapat memodifikasi gaya mengajar sehingga bisa mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional khususnya dalam pembentukan pendidikan karakter di Indonesia.

Referensi
Asra. Dewi, L. dan Herry, A. (2007). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: UPI PRESS.
Damayanti, D. (2014). Panduan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Penerbit Araska.
Majid,A. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Permadi, D. Daeng Arifin. (2013). Panduan Menjadi Guru Profesional. Bandung:
CV Nuansa Aulia.
Rusman. (2012). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Persindo Persada.


EmoticonEmoticon