Thursday, 13 October 2016

Instrumen Penelitian Pendidikan



Instrumen Penelitian Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Setiap penelitian terdapat proses pengumpulan data untuk menguji hipotesis atau pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan dalam penilitian tersebut. Untuk itu, peneliti menggunakan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data penelitian. Menurut Hamid Darmadi (2011, hlm. 85) instrumen adalah “...sebagai alat untuk mengukur informasi atau melakukan pengukuran”. Sedangkan menurut Sumardi Suryabrata (2008, hlm. 52) instrumen adalah “...alat yang digunakan untuk merekam pada umumnya secara kuantitatif keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis”. Atribut-atribut psikologis ini secara teknis digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Atribut kognitif perangsangnya adalah pertanyaan sedangkan atribut non kognitif perangsangnya pernyataan. Menurut Sukarnyana, dkk. (2003, hlm. 71) “instrumen penelitian merupakan alat-alat digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data dalam rangka memecahkan masalah penelitian atau mencapai tujuan penelitian”. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan dan mengumpulkan data penelitian, sebagai langkah untuk menemukan hasil atau kesimpulan dari penelitian.
Instrumen dalam penelitian dibedakan menjadi dua, yakni bentuk tes dan non tes. Instrumen tes terdiri dari tes psikologis dan non psikologis, sedangkan instrumen non tes terdiri dari angket atau kuisioner, interview atau wawancara, observasi atau pengamatan, skala bertingkat, dan dokumentasi. Penjelasan secara rinci dijabarkan sebagai berikut:

1. Instrumen tes

Instrumen Penelitian Pendidikan

Dilihat dari aspek yang diukur, tes dibedakan menjadi dua, yakni tes psikologis dan tes non psikologis. Jenis tes psikologis dibedakan lagi menjadi dua macam, yakni tes psikologi yang digunakan untuk mengukur aspek afektif dan tes psikologis yang digunakan untuk mengukur aspek intelektual.
Tes psikologis yang dirancang untuk mengukur aspek afektif umumnya dikenal dengan nama tes kepribadian (personality test). Tes kepribadian ini sering digunakan untuk mengukur karakteristik seseorang seperti pernyataan emosional, hubungan interpersonal, motivasi, minat, dan sikap.
Tes psikologis yang digunakan untuk mengukur aspek intelektual disebut dengan tes kemampuan (ability test). Tes kemampuan dikategorikan menjadi dua, yakni tes bakat (aptitude test) dan tes kemahiran (proficiency test).
Prosedur yang ditempuh dalam menyusun atau mengembangkan tes kemampuan dalam rangka penelitian pada dasarnya, sebagai berikut:
a. Penetapan aspek yang diukur
Dalam pengembangan tes hasil belajar, terdapat dua aspek yang mendapat perhatian, yakni materi pelajaran dan aspek kepribadian/ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang akan diukur.
b. Pendeskripsian aspek yang diukur
Pendeskripsian aspek yang diukur merupakan penjabaran lebih lanjut dari aspek-aspek yang telah ditetapkan sebelumnya. Deskripsi variabel yang telah ditetapkan tersebut dituangkan dalam bentuk tabel spesifikasi atau lebih dikenal dengan kisi-kisi tes. Dalam kisi-kisi tes termuat materi pelajaran dan aspek kepribadian yang diukur, bentuk tes dan tipe soal yang digunakan, serta jumlah soal.
c. Pemilihan bentuk tes
Bentuk tes merupakan tipe soal dilihat dari cara peserta tes dalam memberikan jawaban soal dan cara peneliti memberikan skor. Jika peserta tes memiliki kebebasan yang luas dalam menjawab soal-soal tes, maka dikatakan bahwa tes itu adalah tes subyektif (free answer test). Jika peserta tidak memiliki kebebasan dalam menjawab soal-soal tes, bahkan hanya tinggal memilih jawaban yang telah disediakan oleh peneliti, maka tes itu disebut tes obyektif (restricted answer test). Suatu tes juga disebut tes subyektif berdasarkan cara peneliti memberikan skor apabila skor yang diberikan peneliti dipertimbangkan terlebih dahulu terhadap jawaban peserta tes, kemudian baru didapat perolehan skor dari tes tersebut. Suatu tes disebut tes obyektif  berdasarkan cara peneliti memberikan skor apabila peneliti memberikan skor secara langsung tanpa harus mempertimbangkan jawaban yang diberikan oleh peserta tes.
d. Penyusunan butir soal
Penyusunan butir soal ke dalam suatu tes didasarkan atas bentuk dan tipe soal yang akan dibuat. Butir-butir soal tes obyektif dikelompokkan tersendiri, begitu juga dengan soal-soal tes subyektif. Jika dalam tes obyektif digunakan beberapa tipe soal (pilihan benar, pilihan kombinasi, dan/atau pilihan kompleks), maka butir-butir soal tes obyektif harus disusun berdasarkan tipe soal tersebut.
e. Pelaksanaan uji coba
Pelaksanaan uji coba intrumen yang berupa tes dilakukan untuk mengetahui validitas butis soal, tingkat reliabilitas tes, ketepatan petunjuk dan kejelasan bahasa yang digunakan, dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes. Uji coba tes dilakukan pada subyek yang memiliki karakteristik yang identik dengan subyek penelitian yang sesungguhnya agar hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.
f. Analisis hasil uji coba
Analisis hasil uji coba tes dilakukan untuk mengetahui secara empirik validitas butir soal tingkat reliabilitas tes. Ukuran yang digunakan untuk menilai validitas butir soal adalah indeks kesukaran soal (P) dan indeks daya beda soal (D), sedangkan untuk mengetahui tingkat reliabilitas tes adalah dengan menggunakan koefisien reliabilitas yang biasanya dihitung menggunakan rumus KR-20 atau KR-21 untuk tes obyektif dan koefisien Alpha untuk tes subyektif.
g. Seleksi, penyempurnaan, dan penataan butir soal
Hasil analisis terhadap kualitas butir soal dijadikan dasar peneliti untuk memilih atau menyempurnakan butir soal yang akan digunakan dalam tes. Seleksi dan penyempurnaan butir soal diperlukan karena biasanya selalu ada soal yang tidak memenuhi syarat dilihat dari kriteria tingkat kesukaran dan daya beda soal. Oleh sebab itu, jumlah soal yang ditulis untuk keperluan uji coba selalu harus lebih banyak dari jumlah soal yang diperlukan. Penataan soal sebaiknya memperhatikan bentuk tes dan tipe soal, serta mengindahkan tingkat kesukaran soal. Soal yang tergolong mudah biasanya berada di bagian paling awal dari tes, sedangkan sebagian lagi ditempatkan di bagian akhir dan soal-soal yang tergolong sedang dan sukar ditempatkan di bagian tengah-tengah. Penataan ini didasarkan atas pertimbangan psikologis pengambil tes.
h. Pencetakan tes
Pencetakan tes perlu memperhatikan format, jenis, dan model huruf yang akan digunakan. Format tes berkenaan dengan tata letak (layout) dan soal-soal di dalam tes, sedangkan jenis dan model huruf memiliki hubungan erat dengan besar dan kejelasan huruf yang digunakan. Pencetakan tes perlu diperhatikan agar penampilan tes menjadi rapi, indah, dan jelas sehingga menarik untuk dikerjakan.

2. Angket atau kuisioner

Instrumen Penelitian Pendidikan

Angket atau kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Kuisioner banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian sosial yang menggunakan rancangan survei, karena ada beberapa keuntungan yang diperoleh. Pertama, kuisioner dapat disusun secara teliti dalam situasi yang tenang sehingga pertanyaan-pertanyaan yang terdapat didalamnya dapat mengikuti sistematik dari masalah yang diteliti. Kedua, penggunaan kuisioner memungkinkan peneliti menjaring data dari banyak responden dalam periode waktu yang relatif singkat.
Berikut terdapat jenis-jenis angket, di antaranya:
a. Angket tertutup
Angket tertutup adalah angket yang didalamnya telah terdapat alternatif jawaban yang telah ditentukan oleh pembuat angket. Jawaban tersebut dapat berupa jawaban ya atau tidak atau pilihan ganda sehingga responden tinggal memilih dari jawaban yang tersedia.
b. Angket terbuka
Angket terbuka adalah angket yang didalamnya tidak terdapat alternatif jawaban sehingga responden dapat leluasa mengisi pertanyaan dalam angket tersebut dengan jawaban dan pendapat mereka sendiri tanpa dibatasi oleh alternatif jawaban dari angket tersebut.
c. Kombinasi angket tertutup dan dan angket terbuka
Jenis angket ini adalah gabungan dari kedua jenis angket tertutup dan terbuka. Artinya dalam angket ini terdapat pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan alternatif jawabannya, namun terdapat pula pilihan alternatif bagi responden untuk membuat jawabannya sendiri untuk mengemukakan pendapatnya apabila pada pilihan jawaban yang disediakan oleh pembuat angket tersebut tidak terdapat jawaban seperti yang responden inginkan.
d. Angket langsung
Angket langsung yakni angket yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan responden atau jawaban tentang pribadi diri responden itu sendiri.
e. Angket tidak langsung
Angket tidak langsung yakni angket yang berisi daftar pertanyaan tentang orang lain dan diisi oleh responden yang mengetahui tentang orang tersebut.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket, antara lain:
a. Menggunakan bahasa yang sederhana, disesuaikan dengan responden yang akan mengisi angket tersebut.
b. Menggunakan kalimat yang pendek.
c. Hindari pertanyaan yang berhubungan dengan harga diri dan bersifat pribadi bagi responden.
d. Butir soal angket jangan terlalu banyak agar tidak memakan waktu pada saat pengisiannya.
e. Dalam daftar pertanyaan hindari pertanyaan yang menyinggung perasaan responden atau usaha memberikan pemahaman kepada responden terhadap angket yang dibuat.

3. Wawancara atau interview
Instrumen Penelitian Pendidikan
Wawancara atau interview adalah percakapan orang-perorang (the person to person) dan wawancara kelompok (group interview). “Percakapan dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu peneliti sebagai pewawancara dan subyek penelitian sebagai informan” (N. Ulfatin, 2014, hlm. 189). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti digunakan untuk menilai keadaan seseorang.
Wawancara dalam penelitian dapat dilakukan secara berentang mulai dari situasi formal sampai informal atau dari pertanyaan yang terstruktur sampai dengan tidak terstruktur. Ilustrasi situasi pada wawancara digambarkan sebagai berikut:
Ilustrasi Rentangan Wawancara


4. Observasi atau pengamatan

Instrumen Penelitian Pendidikan

Observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung. Observasi dapat dilakukan dengan tes, kuisioner, rekaman gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Pedoman observasi diperlukan terutama jika peneliti menerapkan pengamatan terfokus dalam proses pengumpulan data. Dalam pengamatan terfokus peneliti memusatkan perhatiannya hanya pada beberapa aspek perilaku atau fenomena tertentu dari obyek sasaran.
Penyusunan pedoman pengamatan yang perlu dilakukan, di antaranya:
a. Menetapkan obyek yang akan diamati.
b. Merumuskan definisi operasional mengenai obyek yang akan diamati.
c. Membuat deskripsi tentang obyek yang akan diamati.
d. Membuat dan menyusun butir-butir pertanyaan singkat tentang indikator dari obyek yang akan diamati.
e. Melakukan uji coba.
f. Menyempurnakan dan menata butir-butir pertanyaan ke dalam satu kesatuan yang utuh dan sistematis.

5. Skala bertingkat

Instrumen Penelitian Pendidikan

Skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif yang dibuat berskala. Skala bertingkat akan menghasilkan data yang kasar, namun cukup memberikan informasi tertentu tentang responden. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat. Dalam menyusun skala, perlu memperhatikan penentuan variabel skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati oleh responden.
Berikut macam-macam skala bertingkat yang biasa digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian sosial, yakni:
a. Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Skala Likert memberikan alternatif jawaban berskala seperti sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
b. Skala Guttman
Skala Guttman menekankan pada jawaban yang tegas. Alternatif jawaban yang diberikan hanya dua pilihan tegas, yakni ya atau tidak, benar atau salah, pernah atau tidak pernah, dan sejenisnya.
c. Semantic differensial
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya saja bentuknya bukan pilihan ganda maupun daftar cek, melainkan tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban sangat positifnya terletak di bagian kana garis, sedangkan jawaban sangat negatifnya terletak di bagian kiri garis atau sebaliknya. Contohnya:
Pertanyaan
Bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah?
Bersahabat         5          4          3          2          1          tidak bersahabat
Tepat janji          5          4          3          2          1          lupa janji
Bersaudara         5          4          3          2          1          memusuhi
Memberi pujian  5          4          3          2          1          mencela
Mempercayai     5          4          3          2          1          mendominasi

6. Dokumentasi dan data sekunder

Instrumen Penelitian Pendidikan

Dokumentasi arti kata dasarnya adalah barang-barang tertulis. Dalam penggunaan instrumen dokumentasi, peneliti menyelidiki hal-hal berupa transkrip, catatan, buku, surat, prasasti, notulensi rapat, agenda, arsip, jurnal, video, gambar, dan sebagainya.
Penggolongan dokumen dan data sekunder dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Dokumen resmi, yakni bahan atau catatan yang dibuat atau disusun secara formal baik untuk kepentingan dan keperluan internal maupun eksternal kelembagaan.
b. Dokumen pribadi, yakni catatan atau bahan yang ditulis atau dibuat oleh seseorang yang menggambarkan pengalaman, peristiwa, dan atau perasaan seseorang individu atau pribadi. Contoh dokumen pribadi diantaranya buku harian, surat pribadi, riwayat hidup, foto/video pribadi, dan lain sebagainya.
c. Data fisik, dalam hal ini termasuk di dalamnya tempat-tempat dan benda fisik yang diperuntukkan sebagai alat untuk menelusuri berbagai macam aktivitas. Misalnya perpustakaan, museum, papan pengumuman, dan lain-lain.
d. Data penyelidikan yang disimpan, yakni data hasil penelitian yang dapat digunakan untuk penelitian berikutnya. Data hasil penelitian ini biasanya disimpan dalam bentuk print out atau floppy disk atau CD-ROM.

Referensi
Darmadi, H. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sukarnyana, dkk. (2003). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian. Malang: UM Press.
Suryabrata, S. (2008). Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ulfatin, N. (2014). Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan: Teori dan Aplikasinya. Malang: Bayumedia.


EmoticonEmoticon