Tuesday, 17 January 2017

Laporan Observasi Penggunaan Media Pembelajaran di SDN Pengadilan IV Kota Tasikmalaya




Laporan Observasi Penggunaan Media Pembelajaran
di SDN Pengadilan IV Kota Tasikmalaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah “mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik terhadap aktivitas jasmaniahnya, pikiran-pikirannya, maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nuraninya” (Salahudin, 2011, hlm 19-21).
Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas merupakan salah satu unsur atau subsistem dari sistem pendidikan nasional. Hal tersebut termaktub dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada beberapa unsur yang saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Unsur-unsur tersebut antara lain, guru, siswa, pengelolaan kelas, metode pengajaran, media pendidikan, kurikulum, sarana dan prasarana dsb. Interaksi yang terjadi antara unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Salah satu unsur yang memegang peranan penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran adalah motivasi belajar siswa. Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan pembelajaran dan yang memberikan arah pada kegiatan pembelajaran, sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Penggunaan media dalam proses pembelajaran, variasi metode pengajaran, pengelolaan kelas yang efektif, merupakan hal-hal yang bisa dilakukan guru untuk memotivasi siswanya.
Media merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang mendapat perhatian guru atau fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, guru atau fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru atau fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan keterampilan mengenai media pendidikan.
Dalam upaya membangkitkan motivasi belajar, media pembelajaran mempunyai perananan yang besar. Penggunaan media pembelajaran dalam penyajian materi ajar oleh guru, dapat merangsang dan menumbuhkan rasa ingin tahu, rasa ingin memahami dan berhasil yang ada dalam diri siswa. Penggunaan media pembelajaran yang efektif dan bervariasi akan menimbulkan kegairahan belajar siswa sehingga memungkinkan terjadinya interaksi lebih langsung antara siswa dengan lingkungannya. Hal-hal inilah yang akan menimbulkan motivasi belajar siswa. Maka jelaslah pentingnya penggunaan media pembalajaran dalam proses KBM.
Untuk itu, laporan ini menyajikan sedikit ulasan mengenai macam-macam media pembelajaran, kondisi media pembelajaran yang ada di SDN Pengadilan IV, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Ulasan ini diharapkan dapat berperan sebagai salah satu pendukung bagi para pendidik untuk menuju pemenuhan tuntutan profesionalisme.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah sebagai berikut :
1.    Apa saja media pembelajaran yang ada di SDN Pengadilan IV?
2.    Dari mana asal pengadaan media-media pembelajaran tersebut?
3.    Apa saja media pembelajaran yang digunakan di SDN Pengadilan IV?
4.    Mengapa di SDN Pengadilan IV terdapat beberapa media pembelajaran yang tidak digunakan?
5.    Bagaimana kondisi media-media pembelajaran tersebut?
6.    Bagaimana perawatan media-media pembelajaran tersebut?
7.    Adakah pelatihan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV?
8.    Apa saja hambatan yang terjadi dalam pemanfaatan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Media Pembelajaran dan TIK. Selain itu juga bertujuan agar dapat mengetahui mengenai :
1. Media pembelajaran yang ada di SDN Pengadilan IV.
2. Asal pengadaan media-media pembelajaran di SDN Pengadilan IV.
3. Media pembelajaran yang digunakan di SDN Pengadilan.
4. Alasan mengapa di SDN Pengadilan IV terdapat beberapa media pembelajaran yang tidak digunakan.
5. Kondisi media-media pembelajaran di SDN Pengadilan IV.
6. Perawatan media-media pembelajaran di SDN Pengadilan IV.
7. Pelatihan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV.
8. Hambatan yang terjadi dalam pemanfaatan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV.

D. Landasan Teori
Proses KBM erat kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran. Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’ (Arshad Azhar, 2003, hlm 2). Menurut Scrhamm dalam Asep Herry Hermawan, Badru Zamzam & Cepi Riyana (2009, hlm 4) media pembelajaran merupakan “teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran”. Sedangkan menurut Sadiman (2002, hlm 6) “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Maka dapat ditarik garis besar bahwa media pembelajaran adalah alat bantu penyampai pesan dari sumber belajar ke penerima pesan (peserta didik).
Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras (hardware) sendiri merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam khazanah pendidikan seperti ilmu cetak-mencetak, tingkah-laku (behaviorisme), komunikasi, dan laju perkembangan teknologi elektronik, media dalam perkembangannya tampil dalam berbagai jenis dan format (modul cetak, film, televisi, film bingkai, film rangkai, program radio, komputer, dan lain-lain). Masing-masing dengan ciri dan kemampuannya sendiri. Dari sinilah timbul usaha-usaha penataannya, yaitu pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan ciri atau karakteristiknya.
Kerucut Pengalaman menurut Edgard Dale dalam Asyhar & Rayandra (2011, hlm 43) “pengalaman berlangsung dari tingkat yang konkret naik menuju tingkat yang lebih abstrak”. Edgard Dale berkeyakinan bahwa simbol dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami apabila diberikan dalam bentuk pengalaman konkrit. Kerucut pengalaman merupakan awal untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dan pemanfaatan media pembelajaran.
Menurut Gagne dalam Musfiqon (2012, hlm 21) “…media diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok, yakni benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin belajar”.
Bretz & Briggs dalam Susilana, Rudi & Cepi Riyana (2007, hlm 24) mengemukakan bahwa “…klasifikasi media digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu media audio, media visual, media audio visual, dan media serbaneka.
Dengan menganalisis media melalui bentuk penyajian dan cara penyajiannya, maka media dapat diklasifikasikan ke dalam 6 kelompok yang meliputi: media grafis, media bahan cetak, media proyeksi diam, media audio, media audio visual, dan multimedia.


E. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis, belajar menyusun laporan dan lebih mengetahui tentang media pembelajaran di SDN Pengadilan IV.
2. Bagi kalangan akademik, diharapkan penyusunan laporan ini dapat dijadikan sebagai bahan studi perbandingan serta sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
3. Bagi kalangan umum, diharapkan penyusunan laporan ini nantinya dapat bermanfaat dan dapat dipertimbangkan pengembangannya.

F. Metode Penulisan
       Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah studi pustaka dengan menggunakan beberapa sumber buku dan internet, pengamatan secara langsung (observasi), dan wawancara dengan pihak yang terkait.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Identitas Sekolah
1. Nama sekolah     : Sekolah Dasar Negeri Pengadilan IV
2. Alamat            : Jalan Tarumanagara No. 16, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, 
                              Jawa Barat, Indonesia.
3. Lokasi             : Kecamatan Tawang merupakan salah satu kecamatan yang terletak di pusat Kota Tasikmalaya. Sedangkan SDN Pengadilan IV berada di Jalan Tarumanegara No. 16, Kecamatan Tawang bagian Barat Laut. Terletak diantara pemukiman penduduk dekat dengan Rumah Sakit Jasa Kartini dan Alun-Alun Kota Tasikmalaya.

B. Identitas Narasumber
1. Narasumber I
a. Nama               : Marno Suwarno, S. Pd.
b. Bekerja di        : SDN Pengadilan IV, Kota Tasikmalaya
c. Jabatan             : Kepala SDN Pengadilan IV
2. Narasumber II
a. Nama               : Yeti Setiama, S. Pd.
b. Bekerja di        : SDN Pengadilan IV, Kota Tasikmalaya
c. Jabatan             : Guru kelas 1 SDN Pengadilan IV

C. Pelaksanaan Observasi atau Wawancara
1. Tempat                                       : SDN Pengadilan IV, Kota Tasikmalaya
2. Hari                                            : Jum’at
3. Tanggal                                       : 14 November 2014
4. Waktu                                         : 07.30 WBBI
5. Alat/media yang digunakan       : Instrumen pertanyaan, buku catatan,
                                                         bolpoin, dan kamera handphone

D. Pembahasan
Sekolah Dasar Negeri Pengadilan IV terletak di Jalan Tarumanagara No. 16, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, merupakan salah satu sekolah dasar yang bertipe komplek atau serumpun. SDN Pengadilan IV keberadaannya satu komplek dengan SDN Pengadilan I, II, III, dan SDN Tawangsari. Dulunya SDN Pengadilan hanya ada satu, namun karena banyaknya anak usia sekolah dasar di daerah tersebut, maka terjadilah pemekaran. Hal ini berdampak positif terhadap optimalisasi pendidikan di daerah tersebut, namun di sisi lain terjadi beberapa kendala. Salah satu kendala yang terjadi di SDN Pengadilan IV adalah terbatasnya pemanfaatan media pembelajaran.
Menurut Marno Suwarno selaku kepala SDN Pengadilan IV, media pembelajaran yang ada di sekolah dasar tempat beliau mengajar relatif banyak, ada papan tulis (whiteboard), CD/DVD interaktif, televisi, DVD, berbagai alat olahraga (bola basket, bola sepak bola, bola kasti, pemukul kasti, bola voli, dan net voli), peta, gambar, dan berbagai macam KIT (KIT tuntunan shalat, KIT tuntunan wudhu, KIT tata suya, KIT puzzle bahasa, KIT gejala alam, dan sebagainya).
Keseluruhan media pembelajaran yang ada di SDN Pengadilan IV tidak semua digunakan. Media-media yang digunakan rata-rata berada di dalam kelas, yaitu papan tulis (whiteboard) dan gambar yang ada pada tiap-tiap kelas. Papan tulis yang ada di dalam kelas memiliki kondisi yang masih layak. Agar papan tulis tersebut selalu terlihat bersih, siswa-siswa yang sedang memiliki jadwal piket kelas pada hari tersebut selalu menghapus tulisan-tulisan yang ada di papan tulis ketika jam pelajaran berakhir. Papan tulis terletak di depan bagian tengah menghadap siswa agar seluruh siswa baik yang duduk di bangku depan, tengah, maupun pojok belakang dapat melihat papan tulis saat pembelajaran berlangsung. Gambar-gambar yang berada di tiap-tiap kelas terlihat kurang terawat dan berdebu. Gambar tersebut meliputi gambar pahlawan, tuntunan shalat, tuntunan wudhu, struktur anatomi bunga, dan lain sebagainya.
Adapun salah satu kendala pemanfaatan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV adalah terbatasnya fasilitas pendukung dari media pembelajaran tersebut. Meski CD/DVD interaktif banyak tersedia, namun tidak terdapat fasilitas pendukungnya seperti laptop dan LCD proyektor. Selain itu keterbatasan ruangan pun mengakibatkan kurang maksimalnya pemanfaatan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV. Televisi dan DVD yang merupakan bantuan dari pemerintah provinsi hanya disimpan di sudut ruangan guru dan tidak difungsikan karena keterbatasan ruangan yang tersedia. Kebanyakan media pembelajaran yang ada di SDN Pengadilan IV disimpan di salah satu ruangan yang letaknya dekat dengan ruang guru. Ruangan tersebut cukup sempit, pada ruangan tersebut terdapat rak buku, serta tumpukan berbagai KIT yang terlihat masih baru dan jarang digunakan. Tidak ada pengelola khusus untuk media pembelajaran di SDN Pengadilan IV, oleh sebab itu belum ada inventarisasi media pembelajaran. Perawatan media pembelajaran hanya dilakukan oleh guru-guru yang menggunakan media tersebut.
Sumber Daya Manusia (SDM) guru yang tidak sama dan penggunaan KIT yang cukup sulit, menjadi alasan utama jarang digunakannya media pembelajaran yang tersedia tersebut. Hanya beberapa guru yang biasa memanfaatkan media pembelajaran tersebut. Meski demikian, SDN Pengadilan IV terbilang sering mengirimkan guru utusan untuk mengikuti pelatihan media pembelajaran, salah satunya yang pernah diikuti adalah “Sosialisasi Alat Pembelajaran Agama”. Tetapi SDN Pengadilan IV tidak pernah mengadakan pelatihan tentang media pembelajaran secara mandiri.
Tidak ada pengawasan khusus dalam pemanfaatan media pembelajaran di SDN Pengadilan IV, kepala sekolah hanya sesekali melakukan kunjungan ke kelas (class visit), itupun hanya melihat kenirja guru secara umum, tidak terfokus pada media pembelajaran. Pada saat ditanya tentang teori Edgard Dale, beliau menjawab “tidak tahu”.
Menurut Yeti Setiama selaku guru kelas 1 SDN Pengadilan IV, media pembelajaran yang paling sering digunakan adalah papan tulis, gambar, dan benda nyata yang beliau bawa sendiri dari rumah. Beliau lebih sering memanfaatkan benda yang tersedia di rumah, salah satu yang beliau contohkan adalah ‘samping’ yang dimanfaatkan sebagai media pengenalan budaya Indonesia berupa batik. Beliau berpendapat bahwa media gambar atau benda nyata akan lebih konkrit untuk anak serta mudah didapat. Beliau mengetahui tentang media pembelajaran yang tersedia di SDN Pengadilan IV, namun jarang menggunakannya dengan alasan tidak mengerti cara menggunakannya (KIT). Beliau mengaku belum pernah mengikuti pelatihan media pembelajaran dan tidak mengetahui tentang teori kerucut pengalaman Edgard Dale. Menurut beliau media pembelajaran yang perlu disediakan di SDN Pengadilan IV adalah LCD proyektor, karena beberapa guru bahkan sengaja membawa LCD proyektor milik pribadi dari rumah. Media pembalajaran yang sudah beliau pernah gunakan diantaranya papan tulis, gambar, benda nyata, alat peraga yang dibuat bersama siswa (contohnya jarring-jaring kubus), dan lain-lain.
SDN Pengadilan IV belum mempunyai perpustakaan dan laboratirum karena keterbatasan ruangan. Terdapat ruangan kecil yang difungsikan sebagai mushola, kondisinya layak, bersih, terdapat alat shalat (mukena, sajadah, Al-Quran), namun belum cukup untuk menampung seluruh siswa yang ada. Tempat tersebut dikelola dan dirawat oleh guru mata pelajaran agama serta penjaga sekolah. Banyak sekali KIT yang merupakan bantuan dari pemerintah provinsi. KIT tersebut masih terlihat baru dan jarang difungsikan, karena masih ada permasalahan tentang kepemilikannya. Tidak terdapat taman di SDN Pengadilan IV, hanya terdapat beberapa tanaman yang ditanam pada pot. Pot tersebut dirawat oleh penjaga sekolah. SDN Pengadilan IV pun belum memiliki mading, hanya terdapat papan pengumuman yang dapat diakses oleh guru saja.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keseluruhan media pembelajaran yang tersedia di SDN Pengadilan IV ini tidak semua digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut dikarenakan kurang adanya keterampilan guru dalam mengoperasikan media yang ada, keterbatasan ruangan yang tersedia, dan terbatasnya fasilitas pendukung yang ada.
Dari keseluruhan media, media-media pembelajaran yang masih digunakan adalah papan tulis, gambar, alat olahraga, KIT agama. Selebihnya media-media pembelajaran yang ada hanya tersimpan di salah satu ruangan dekat ruang guru.

B. Saran
Adanya media-media pembelajaran yang tidak digunakan di SDN Pengadilan IV dapat menyebabkan penumpukan barang yang awalnya memiliki daya guna menjadi barang yang tidak memiliki daya guna yang dapat menganggu penglihatan sekaligus dapat membuat ruang penyimpanan menjadi penuh. Hal tersebut juga dapat menyebabkan kurang efisien dalam perawatan media-media yang ada. Sebab, apabila media-media tersebut tidak berada pada tempat yang layak dan kurang perawatan, akan menyebabkan aus atau rusaknya beberapa bagian atau komponen yang ada pada media-media tersebut. Jika terdapat sarana dan prasarana yang memenuhi, maka proses belajar mengajar di SDN Pengadilan IV akan lebih kondusif, karena media-media pembelajaran yang ada dapat semuanya difungsikan sebagaimana mestinya.


DAFTAR PUSTAKA

Asyhar & Rayandra. (2011). Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jambi: Gaung Persada Press.
Azhar, A. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Herry, A., Zamzam, B. & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran SD. Bandung: UPI PRESS.
Musfiqon. (2012). Media Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Sadirman. (2002). Media Pendidikan. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Salahudin. (2011). Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Susilana., Rudi & Riyana, C. (2007). Media Pembelajaran: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.



LAMPIRAN

laporan observasi penggunaan media pembelajaran di SDN pengadilan IV kota tasikmalaya

Media Pembelajaran

laporan observasi penggunaan media pembelajaran di SDN pengadilan IV kota tasikmalaya

Rak Buku

laporan observasi penggunaan media pembelajaran di SDN pengadilan IV kota tasikmalaya

KIT Bahasa
.






2 comments

sama-sama terima kasih juga sudah berkunjung ^-^


EmoticonEmoticon