Monday, 16 January 2017

Pengertian Literasi



Pengertian Literasi
Karya : Rizki Siddiq Nugraha
pengertian literasi
Literasi berasal dari kata bahasa Latin littera yang diartikan sebagai penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya. Selanjutnya istilah literasi lebih diartikan sebagai kemampuan baca tulis, kemudian berkembang meliputi proses membaca, menulis, berbicara, mendengar, membayangkan, dan melihat. Berkenaan dengan hal tersebut Richard Kern (2000, hlm. 16) mendefinisikan istilah literasi, sebagai berikut:
“Literacy is the use of socially-, and historically-, and culturally- situated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a tacit awareness of the relationships between textual conventions and their context of use and, ideally, the ability to reflect critically on those relationships. Because it is purpose-sensitive, literacy is dinamic – non static – and variable across and within discourse communities and cultures. It drawn on a wide range of cognitive abilities, on knowledge of written and spoken language, on knowledge of genres, and on cultural knowledge.
Artinya, literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaannya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan tersebut. Karena peka dengan tujuan, literasi itu bersifat dinamis – tidak statis – dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulisan dan lisan, pengetahuan tentang genre (pengetahuan tentang jenis-jenis teks yang berlaku dalam komunitas wacana, misalnya teks naratif, eksposisi, deskipsi, dan lain sebagainya), dan pengetahuan kultural.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa literasi memerlukan penguasaan kemampuan yang kompleks. Menurut Richard Kern (2000, hlm 16-17) terdapat tujuh unsur yang membentuk definisi literasi yang selanjutnya membentuk tujuh prinsip pendidikan literasi, yakni:
1. Interpretasi
Penulis/pembicara dan pembaca/pendengar berpartisipasi dalam interpretasi, yakni penulis/pembicara menginterpretasikan dunia (peristiwa, pengalaman, gagasan, perasaan, ide, dan lain-lain), dan pembaca/pendengar kemudian menginterpretasi interpretasi penulis/pembaca dalam bentuk konsepsinya sendiri tentang dunia.
2. Kolaborasi
Terdapat kerjasama antara dua pihak yakni penulis/pembicara dan pembaca/pendengar. Kerjasama yang dimaksud tersebut dalam upaya mencapai suatu pemahaman bersama. Penulis/pembicara memutuskan apa yang harus ditulis/dikatakan atau yang tidak perlu ditulis/dikatakan berdasarkan pemahaman mereka terhadap pembaca/pendengar. Sedangkan pembaca/pendengar mencurahkan motivasi, pengetahuan, dan pengalaman mereka untuk memaknai teks penulis/pembicara.
3. Konvensi
Konvensi ini mencakup aturan-aturan bahasa baik lisan maupun tertulis. Seseorang membaca dan menulis atau menyimak dan berbicara ditentukan oleh konvensi/kesepakatan kultural (tidak universal) yang berkembang melalui penggunaan dan dimodifikasi untuk tujuan-tujuan individual.
4. Pengetahuan kultural
Membaca dan menulis atau menyimak dan berbicara berfungsi dalam sistem-sistem sikap, keyakinan, kebiasaan, cita-cita, dan nilai tertentu. Untuk itu, literasi melibatkan pengetahuan kultural.
5. Pemecahan masalah
Kata-kata selalu melekat pada konteks linguistik dan situasi yang melingkupinya, maka tindak membaca, menulis, menyimak, dan berbicara melibatkan upaya membayangkan hubungan-hubungan di antara kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, unit-unit makna, teks-teks, dan dunia. Upaya membayangkan ini merupakan suatu bentuk pemecahan masalah.
6. Refleksi dan refleksi diri
Penulis/pembicara dan pembaca/pendengar memikirkan bahasa dan hubungan-hubungannya dengan dunia dan diri sendiri. Setelah berada dalam situasi komunikasi mereka memikirkan apa yang telah mereka katakan, bagaimana mengatakannya, dan mengapa mengatakan hal tersebut.
7. Penggunaan bahasa
Literasi bukanlah sebatas pada sistem-sistem bahasa (lisan/tulis) melainkan mensyaratkan pengetahuan tentang bahasa tersebut digunakan baik dalam konteks lisan maupun tertulis untuk menciptakan sebuah wacana.
Menurut Snow (dalam Mc Cartney dan Philips, 2008) menyatakan bahwa “the concept of literacy and literacy development variaty in a number of aspects and this variation is implicit when discussing literacy”. Artinya, konsep literasi dan perkembangan literasi bervariasi dalam sejumlah aspek dan variasi ini bersifat implisit saat membahas literasi. Variasi ini kemudian memunculkan pandangan kontroversi. Untuk membantu mengeksplisitkan hakikat kontreversi dalam literasi, berikut uraian beberapa pertentangan aspek dari literasi, yaitu:
1. Komponen versus holistik
Literasi dapat dipandang sebagai hasil dari berbagai komponen keterampilan yang penting sebagai kesadaran fonologis, pengetahuan huruf, dan kecepatan membaca urutan huruf. Sedangkan holistik memfokuskan literasi sebagai aktivitas sosial yang bermakna dalam rutinitas sehari-hari sehingga kurang memperhatikan komponen dalam pengajaran dan pengukuran membaca.
2. Solitari versus sosial
Literasi dapat dipandang sebagai kemampuan kognitif individual, namun juga dapat dilihat sebagai aktivitas penting yang bersifat interaktif dan kolaboratif yang dilakukan dalam tujuan sosial meskipun khususnya tindakan membaca bersifat solitari. Pandangan solitari menganggap membaca sebagai proses psikolinguistik dalam kepala yang melibatkan perkembangan alur dan organisasi saraf. Sedangkan pandangan sosial menganggap keterampilan membaca memberi akses pada berbagi kekuatan dan pengetahuan.
3. Diajarkan versus natural
Literasi dapat dilihat sebagai proses pengajaran sehingga kualitas pengajaran menjadi penting. Sebaliknya dapat dilihat juga sebagai hasil dari proses natural yang tumbuh dalam masyarakat sehingga mudah untuk menguasai literasi tanpa pengajaran asalkan ada motivasi dan kesempatan untuk berlatih.
4. Fungsional/teknikal versus transformasional/kultural
Literasi dipandang sebagai keahlian fungsional/teknis yang dapat mempermudah penyelesaian tugas seperti menerima informasi, berkerja, dan memasuki lingkungan baru. Namun, literasi juga dipandang sebagai sebuah faktor dalam indentitas diri dan sosial, sumber pembentukan jati diri, serta sebuah kekuatan untuk mentransfer aturan dan hubungan yang mempertahankan budaya.
5. Tunggal/koheren versus multipel/bervariasi
Literasi didefinisikan sederhana sebagai apa yang dilakukan seseorang dengan buku, namun terdapat pandangan kontras yang memandang literasi sebagai proses membaca buku untuk lebih difahami, sebagai aktivitas membaca dengan kritis, atau upaya mencari informasi. Dalam pandangan multipel, tugas literasi sangat bervariasi.
6. Berfokus sekolah versus berfokus rumah atau komunitas
Bagi sebagian orang kegiatan terkait literasi lebih banyak dilakukan di sekolah, sebagaian lain menganggap kebanyakan aktivitas literasi terjadi di luar sekolah seperti di rumah dalam konteks melakukan kegiatan sehari-hari dan terlibat dalam komunitas.
Dalam kaitan definisi tersebut, perbedaan di atas muncul karena literasi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang ini dapat diletakan dalam suatu rentang kontinum yang masing-masing berada pada posisi eksrim. Hal ini berarti kedua pandangan tersebut dapat diintegrasikan dan dapat diterima sebagai pandangan yang saling melengkapi.

Referensi
Kern, R. (2000). Literacy and Language Teaching. Oxport: Oxport University.
McCartney, K. Dan Philips, D. (2008). Blackwell Handbook of Early Childhood Development. Oxport: Blackwell Publishing.


EmoticonEmoticon