Tuesday, 17 January 2017

Peta Konsep



Peta Konsep
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Secara umum belajar dapat dibagi ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa melalui penerimaan dan penemuan. Dimensi kedua berkaitan dengan cara siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif ini berupa fakta, konsep, dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa. Menurut Ausubel (dalam Parno, 2007, hlm. 7) “berdasarkan terhubung atau tidak terhubungkannya antar konsep yang sedang dipelajari, belajar meliputi dua jenis, yaitu belajar secara hafalan dan belajar bermakna”. Selanjutnya Parno (2007, hlm. 7) menyatakan bahwa “belajar secara hafalan terjadi jika mahasiswa (atau siswa) mempelajari konsep-konsep baru secara sembarangan, tanpa mau menghubungkannya dengan konsep-konsep lain yang relevan yang telah diketahuinya. Sedangkan belajar bermakna adalah pengetahuan atau konsep baru yang diperoleh segera dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif...”. Hasil belajar bermakna relatif bertahan lebih lama dalam ingatan. Hasil paduan ini berupa informasi atau konsep baru. Keterkaitan antar konsep dapat tergambar melalui peta konsep.
Peta konsep merupakan suatu gambaran yang memaparkan struktur konsep yakni keterkaitan antar konsep. Gambaran tersebut menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dari suatu materi pelajaran yang dihubungkan dengan suatu kata penghubung sehingga membentuk suatu proposisi. Untuk itu, peta konsep adalah suatu alat yang digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. “Proposisi-proposisi merupakan dua atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik” (Dahar, 1989, hlm. 122). Bentuk paling sederhana peta konsep hanya terdiri atas dua konsep yang dihubungkan oleh satu kata penghubung untuk membentuk proposisi, contohnya sebagai berikut:







 
peta konsep
                                                                                             
Gambaran Peta Konsep (aksi sama dengan reaksi)

Pada peta konsep, tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Artinya, terdapat beberapa konsep yang lebih inklusif daripada konsep-konsep lain. Konsep yang paling inklusif atau disebut juga konsep fokus atau konsep utama terletak di puncak dan memberikan identitas peta konsep tersebut. Makin ke bawah konsep-konsep menjadi semakin khusus.
Dalam dunia pendidikan, peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan. Menurut Dahar (1989, hlm. 129) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya, fungsi peta konsep ada empat, sebagai berikut:
1. Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa
Dipahami bahwa belajar bermakna memerlukan usaha sungguh-sungguh dari siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan yang telah mereka miliki. Untuk itu, guru perlu mengetahui konsep-konsep apa yang telah dimiliki siswa ketika pelajaran baru akan dimulai, sedangkan siswa diharapkan dapat menunjukan konsep-konsep apa yang telah mereka miliki dalam menghadapi pelajaran baru tersebut. Maka, salah satu langkah yang dapat digunakan oleh guru ialah dengan memilih satu konsep utama dari pokok bahasan yang akan dibahas. Selanjutnya siswa menambahkan konsep-konsep dan mengaitkan konsep-konsep hingga membentuk peta konsep. Dari peta konsep yang dihasilkan oleh siswa guru dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang pokok bahasan yang akan diajarkan.
2. Mempelajari cara belajar
Apabila siswa dihadapkan pada suatu bab dari buku pelajaran, maka siswa tidak akan begitu saja memahami apa yang ia baca. Untuk itu, siswa diminta menyusun peta konsep dari isi bab tersebut. Dengan cara ini dapat diketahui bagaimana pola belajar siswa.
3. Mengungkapkan konsepsi salah
Peta konsep juga dapat mengungkapkan konsepsi salah (misconception) yang terjadi pada siswa. Konsep yang salah biasanya timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah.
4. Alat evaluasi
Selama ini alat-alat evaluasi yang digunakan guru berupa tes subyektif atau tes esai. Teknik-teknik evaluasi baru perlu dipikirkan untuk memecahkan masalah-masalah evaluasi yang kita hadapi selama ini. Salah satu terobasannya yakni dengan menggunakan peta konsep. Pembuatan peta konsep oleh siswa dapat menggambarkan sejauh mana siswa tersebut memahami suatu konsep yang diajarkan.
Pembuatan suatu peta konsep secara umum dapat dirumuskan ke dalam enam langkah menurut Dahar (1989, hlm. 126) sebagai berikut:
1. Menentukan bahan bacaan.
2. Menentukan konsep-konsep yang relevan.
3. Mengurutkan konsep-konsep dari mulai yang paling inklusif sampai yang paling tidak inklusif.
4. Menyusun konsep-konsep tersebut pada kertas.
5. Menghubungkan konsep-konsep yang berkaitan dengan garis-garis penghubung dan memberi kata penghubung pada setiap garis penghubung tersebut.
6. Mengembangkan peta konsep.
Novak dan Gowin (dalam Haris Sumadiria, 2005, hlm. 18) mengemukakan kelebihan peta konsep bagi guru dan siswa. Kelebihan peta konsep bagi guru, antara lain:
1. Peta konsep dapat membantu guru mengorganisir seperangkat pengalaman belajar secara keseluruhan yang akan dipelajari.
2. Peta konsep merupakan cara terbaik menyajikan pembelajaran karena tidak bersifat verbal.
3. Peta konsep membantu guru menyajikan pembelajaran secara runtut dan sistematis.
4. Peta konsep membantu efesiensi dan efektifitas pembelajaran.
Sedangkan kelebihan peta konsep bagi siswa, diantaranya:
1. Peta konsep mengembangkan proses belajar yang bermakna bagi siswa.
2. Meningkatkan keaktifan dan kreatifitas berfikir siswa.
3. Mengembangkan struktur kognitif siswa.
4. Membantu siswa melihat makna pembelajaran secara lebih komperhensif dari setiap komponen konsep dan mengenali miskonsepsi.
Adapun kelemahan penggunaan peta konsep menurut Haris Sumadiria (2005, hlm. 20), antara lain:
1. Memerlukan waktu yang relatif lama.
2. Sulit menentukan konsep-konsep yang relevan dengan materi pembelajaran.
3. Sulit menentukan kata-kata penghubung pada peta konsep.
Peta konsep bersifat subjektif individual. Artinya, konsep yang sama dapat menghasilkan peta konsep yang berbeda-beda. Setiap peta konsep memperlihatkan kaitan-kaitan konsep yang bermakna bagi individu yang menyusun. Dengan kata lain, hubungan konsep-konsep bagi seseorang bersifat idiosentrik yang berarti kebermaknaan konsep-konsep itu khas bagi setiap individu, sehingga peta konsep yang dibuat oleh masing-masing individu akan berbeda. Berikut beberapa contoh peta konsep dalam berbagai mata pelajaran di sekolah dasar:
peta konsep

Peta Konsep Benua di Dunia

peta konsep


Peta Konsep Membiasakan Hidup Sehat

peta konsep


Peta Konsep Penggolongan Hewan berdasarkan Jenis Makanannya

peta konsep


Peta Konsep Lingkungan Tidak Sehat

peta konsep


Peta Konsep Bangun Datar dan Bangun Ruang


Referensi
Dahar, R. W. (1989). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Parno. (2007). Perbedaan penguasaan pokok-pokok fisika sekolah mahasiswa antara pembelajaran menggunakan peta konsep dan model pemecahan masalah dengan model STAD. Jurnal Hasil Penelitian. Universitas Negeri Malang.
Sumadiria, H. (2005). Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature, Panduan Praktis Jurnalis Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon