Tuesday, 1 November 2016

Didactical Design Research (DDR)



Didactical Design Research (DDR)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

didactical design research (DDR)

Didactical Design Research (DDR) termasuk ke dalam salah satu model penelitian Design Research. Menurut Plomp (2007, hlm. 13) design research adalah:
“a systematic study of designing, developing, and evaluate the educational intervention (such as programs, strategies, and materials learning, product and system) as a solution to solve complex problem in educational practice, which also aims to advance our knowledge of the characteristics of the interventions as well as the design development”
Artinya, suatu kajian sistematis tentang merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi intervensi pendidikan (seperti program, strategi, dan bahan pembelajaran, produk dan sistem) sebagai solusi untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam prakik pendidikan, yang juga bertujuan untuk memajukan pengetahuan kita tentang karakteristik dari intervensi-intervensi tersebut serta proses perancangan dan pengembangannya. Selanjutnya DeVaus (2001, hlm 9) berpendapat “the function of a research design is to ensure that the evidence obtained enablesus to answer the initial question as unambigously as possible”. Artinya, Fungsi dari Design Research adalah untuk mematiskan fakta-fakta yang diperoleh memungkinkan untuk menjawab pertanyaan awal yang masih samar-samar.
Menurut Lidinillah (2011, hlm 16-17) Didactical Design Research adalah:
“...bentuk khusus dari penerapan design research baik yang mengacu kepada validation study maupun development study. Hanya saja penguasaan disain didaktis (didactical design) menunjukan bahwa terdapat penekanan pada aspek didaktik dalam perancangan pembelajaran yang mengacu kepada teori pembelajaran yang lebih mikro”.
 Menurut Nieven, Mc Kenney, dan Van den Akker (2006, hlm. 152) “validation study includes features learning trajectory to developing, elaborating, and validate theories about the process learning as well as the implications of the result for the design of learning environments”. Artinya, validation study memuat fitur rute pembelajaran untuk mengembangkan, mengelaborasi, dan memvalidasi teori tentang proses pembelajaran serta implikasi dari hasil terhadap rancangan lingkungan belajar. Sedangkan development study menurut Nieven, Mc Kenney, dan Van den Akker (2006, hlm. 153), sebagai berikut:
“reserach in development study is based on problems in the field and in the implementation involves participan, researchers, experts, and other stakeholders....development study integrates theory that has been developed in design principle with the findings resulting from piloting in the field”.
Artinya, penelitian dalam development study didasarkan pada masalah di lapangan dan dalam pelaksanaannya melibatkan partisipan, peneliti, ahli, dan stakeholder lainnya. Development Study mengintegrasikan teori yang telah dikembangkan dalam prinsip desain dengan temuan yang dihasilkan dari piloting di lapangan.
Terdapat dua model pengembangan dan penerapan Didactical Design Research yang sering digunakan di Indonesia, yakni model yang dikembangkan oleh Hudson (2008) dan Suryadi (2010).
Model Hudson (2008)
Model Hudson memandang bahwa didaktik adalah hal yang menjadi fokus utama dalam pembelajaran sejak tahap perencanaan pembelajaran. Analisis didaktis sebelum pembelajaran difokuskan pada hubungan antara guru, siswa, dan materi sehingga dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan pembelajaran.
Didactical Design Research model Hudson (2008, hlm. 354-355) mengadaptasi dari model perencanaan pembelajaran (intructional design) dengan tahapan sebagai berikut:
1. Analisis
Pada tahap ini membahas tentang apa saja yang dapat dijelaskan kepada siswa berkenaan dengan konsep atau materi. Selain itu, untuk menunjukan hal yang dianggap penting dari pengetahuan, pengalaman, kemampuan, atau keterampilan yang diperoleh dari materi yang dipelajari.
2. Perancangan (design)
Tahap ini mengembangkan konten melalui persfektif pedagogis yang khusus berdasarkan hasil dari tahap analisis. Beberapa faktor yang diperhatikan pada tahap ini, seperti menarik, merangsang, mudah didekati, dapat dikhayalkan, dan membuat siswa semangat.
3. Pengembangan
Tahap ini lebih memperjelas mengenai peran penting dari produk yang dikembangkan terhadap situasi pembelajaran, aktivitas pedagogis, dan lingkungan belajar. Di samping itu, diperhatikan juga sejauh mana produk yang dikembangkan tersebut dapat menunjang peranan guru dalam pembelajaran.
4. Interaksi
Tahap ini menekankan pada bagaimana produk yang dikembangkan dapat membantu proses interaksi siswa dengan teknologi, guru, dan siswa lainnya. Diperhatikan juga tentang pencapaian kemampuan hasil belajar siswa.
5. Evaluasi
Tahap ini akan menggambarkan bagaimana kualitas produk yang dikembangkan terhadap situasi pembelajaran, aktivitas pedagogis, dan lingkungan belajar siswa.
Model Suryadi (2010)
Suryadi (2010, hlm. 3) berpendapat bahwa “hubungan didaktis dan pedagogis tidak bisa dipandang secara parsial melainkan perlu dipahami secara utuh karena pada kenyataannya kedua hubungan tersebut dapat terjadi secara bersamaan”. Dengan kata lain, seorang guru pada saat merancang sebuah situasi didaktis, sekaligus juga perlu memikirkan prediksi respon siswa atas situasi tersebut serta antisipasinya sehingga tercipta situasi didaktis baru.
Suryadi (2010, hlm. 10) mengemukakan bahwa Didactical Design Research pada dasarnya terdiri atas tiga tahapan, yakni:
1. Analisis desain didaktis berupa Antisipasi Didaktis dan Pedagogis (ADP)
ADP merupakan analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran (prospective analysis). Pada hakikatnya ADP merupakan sintesis hasil pemikiran guru berdasarkan berbagai kemungkinan yang diprediksi akan terjadi pada peristiwa pembelajaran.
2. Analisis metapedadidaktik
Analisis metapedadidaktik meliputi tiga komponen yang terintegrasi, yakni kesatuan, fleksibilitas, dan koherensi. Komponen kesatuan berkaitan dengan kemampuan guru dalam memandang modifikasi didaktis sebagai suatu kesatuan utuh. Komponen fleksibilitas menekankan bahwa skenario pembelajaran hanyalah prediksi, karena dalam proses pembelajaran situasi dapat berubah, maka pada saat inilah peran guru untuk mampu melakukan antisipasi. Komponen koherensi berkaitan dengan situasi didaktis pedagogis yang selalu dinamis selama proses pembelajaran mendorong guru untuk melakukan intervensi baik bersifat pedagogis maupun didaktis dengan tetap menjaga koherensi antar komponen tersebut.
3. Analisis reprosfektif
Analisis reprosfektif merupakan analisis yang mengaitkan hasi analisis ADP dengan hasil analisis metapedadidaktik.

Referensi
De Vaus, D. (2001). Research Design in Social Research. London: SAGE Publications.
Hudson, B. (2008). “Didactical Design Research for Teaching as a Design Profession”, dalam Teacher Education Policy in Europe : a Voice of Higher Education Institutions. Umeå, Swedia: University of Umeå.
Lidinillah, D. A. M. (2011). Educational Design Research: a Theoretical Framework for Action. [Online]. Diakses dari: http://file.upi.edu/Direktori/KDTASIKMALAYA/DINDIN_ABDUL_MUIZ_LIDINILLAH_(KD-TASIKMALAYA).pdf.
Nieven, N., McKenney, S., van den Akker (2006). “Edacional Design Research”, dalam Educational Design Research. New York: Routledge.
Plomp (2007). “Educational Design Research : An Introduction”, dalam An Introduction to Educational Research. Enschede, Netherland: National Institute for Curriculum Development.
Suryadi, D. (2010). Metapedadidaktik dan Didactical Design Research (DDR) : Sintesis Hasil Pemikiran Berdasarkan Lesson Study. Bandung: FPMIPA UPI.

2 comments

kang boleh minta jurnal yg iniSuryadi, D. (2010). Metapedadidaktik dan Didactical Design Research (DDR) : Sintesis Hasil Pemikiran Berdasarkan Lesson Study. Bandung: FPMIPA UPI. gak? tos milari mung tos teu aktif deui linkna 😞

coba kalo perlu jurnal bisa search nya lewat google scholar https://scholar.google.co.id/
atau lewat researchgate https://researchgate.net/


EmoticonEmoticon