Tuesday, 17 January 2017

Difusi Inovasi Pendidikan



Difusi Inovasi Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
difusi inovasi pendidikan

Difusi inovasi mulai berkembang sejak tahun 1950-an di Amerika Serikat. Pada masa itu pemerintah Amerika Serikat melakukan riset untuk mengetahui bagaimana dan mengapa sebagian petani mengadopsi teknik-teknik baru dalam pertanian dan sebagian lainnya tidak. Salah satu tokoh yang ikut dalam eksplorasi ini bernama Everett M. Rogers yang kemudian menggagas teori difusi inovasi dalam sebuah buku pada tahun 1962 berjudul “Diffusion of Innovations”. Kini buku ini menjadi landasan pemahaman tentang inovasi, karakteristik inovasi, mengapa orang mengadopsi inovasi, faktor-faktor sosial apa yang mendukung adopsi inovasi, dan bagaimana inovasi tersebut berproses di antara masyarakat.
Menurut Suherli (2010) “difusi inovasi adalah penerimaan dan pengembangan program inovasi. Selanjutnya Udin Saefudin Sa’ud (2008, hlm. 28) mengemukakan “definisi inovasi adalah proses komunikasi inovasi antara warga masyarakat/anggota sistem sosial, dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa difusi didefinisikan sebagai proses suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu selama jangka waktu tertentu terhadap anggota suatu sistem sosial. Difusi juga dapat dikatakan sebagai suatu tipe komunikasi khusus dimana pesannya berupa ide/hal baru.
Proses difusi inovasi melibatkan empat unsur utama, meliputi:
1. Innovation (inovasi)
Secara umum inovasi didefinisikan sebagai suatu ide, praktik atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain.
2. Communication channel (komunikasi saluran)
Komunikasi adalah proses partisipan menciptakan dan berbagai informasi satu sama lain untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Rogers (1983) menyebutkan ada empat unsur dari proses komunikasi ini, meliputi:
a. Inovasi itu sendiri.
b. Seorang individu atau satu unit adopsi lain yang mempunyai pengetahuan atau pengalaman dalam menggunakan inovasi.
c. Orang lain atau unit adopsi lain yang belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman menggunakan inovasi.
d. Saluran komunikasi yang menghubungkan kedua unit tersebut.
Jadi, komunikasi dalam proses difusi adalah upaya mempertukarkan ide baru (inovasi) oleh seseorang atau unit tertentu yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan inovasi tersebut (inovator) kepada seseorang atau unit lain yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai inovasi tersebut (potensial adopter) melalui saluran komunikasi tertentu.
Saluran komunikasi dapat dikategorikan menjadi dua, yakni (1) saluran media massa (mass media channel) dan (2) saluran antarpribadi (interpersonal channel). Media massa dapat berupa televisi, surat kabar, radio, dan sebagainya. Sedangkan saluran pribadi melibatkan upaya pertukaran informasi tatap muka antara dua atau lebih individu.
3. Time (waktu)
Dimensi waktu dalam proses difusi berpengaruh dalam hal:
a. Innovation decision process, yakni proses keputusan inovasi atau tahapan proses sejak seseorang menerima informasi pertama sampai ia menerima atau menolak inovasi.
b. Relative time which an innovation is adopted by individual or group, yakni waktu yang diperlukan oleh individu maupun kelompok untuk mengadopsi sebuah inovasi.
c. Innovation’s rate of adoption, yakni seberapa banyak jumlah anggota suatu sistem mengadopsi suatu inovasi dalam periode waktu tertentu.
4. Social system (sistem sosial)
Proses difusi terjadi dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial ialah satu set unit yang saling berhubungan yang tergabung dalam suatu upaya pemecahan masalah bersama untuk mencapai suatu tujuan. Anggota dari suatu sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi, atau sub sistem.
Proses difusi dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan baik secara individu maupun kelompok. Apabila proses inovasi dikembangkan di sekolah, maka proses difusi inovasi akan mengikutsertakan seluruh pihak yang berperan di sekolah, yakni kepala sekolah, guru, staf administrasi, siswa, komite sekolah, orang tua siswa, dan dinas atau lembaga tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan. Dalam proses difusi inovasi memerlukan penyebaran informasi yang komunikatif dari seluruh pihak yang terkait. Komunikasi ini memiliki ciri pokok, pesan yang dikomunikasikan adalah hal yang baru (inovasi). Maka dalam proses difusi inovasi perlu perencanaan dan pengelolaan. Misalnya difusi inovasi di sekolah, untuk menyebarluaskan upaya/cara baru dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat dimulai dengan cara menatar para guru dengan harapan akan terjadinya difusi inovasi antar guru di sekolah masing-masing, sehingga terjadi saling tukar informasi dan kesamaan pendapat antar guru tentang inovasi yang akan dilaksanakan.
Proses difusi inovasi pendidikan akan lebih efektif hasilnya apabila dalam satu sekolah atau lembaga pendidikan terdapat personal yang memiliki kesamaan, seperti asal daerah, kepercayaan, tingkat pendidikan, dan sebagainya, serta partisipasi berbagai pihak terkait yang tinggi. Untuk itu, keberhasilan proses difusi inovasi pendidikan ditentukan oleh sistem sosial dunia pendidikan.

Referensi
Rogers, E. M. (1983). Diffusion of Innovation. Canada: The Free Press, A Division of Macmillan Publishing Co., Inc. New York.
Sa’ud, U. S. (2008). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabet.
Suherli, K. (2010). Manajemen Inovasi Pendidikan. Ciamis: Pasca Sarjana Unigal Press.


EmoticonEmoticon