Tuesday, 17 January 2017

Kemampuan Komunikasi Matematis



Kemampuan Komunikasi Matematis
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
kemampuan komunikasi matematis

Komunikasi melalui interaksi sosial berperan penting dalam membina pengetahuan matematika siswa. Melalui tindakan tersebut guru dapat membantu siswa dalam meningkatkan dan memperbaiki pengetahuan matematika siswa. Untuk itu, interaksi antara siswa dengan guru dan teman lainnya merupakan unsur penting dalam proses pembelajaran termasuk pembelajaran matematika.
Menurut Roger (dalam Astuti, 2009) mengartikan komunikasi sebagai “...proses partisipan/peserta saling berbagi informasi satu sama lain guna mencapai pengertian timbal balik”. Selanjutnya menurut Abdulhak (dalam Ansari, 2003) “komunikasi dimaknai sebagai proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima melalui saluran tertentu untuk tujuan tertentu”. Kemudian Mulyadinata (dalam Astuti, 2009) mengemukakan bahwa “komunikasi merupakan salah satu keterampilan proses, yaitu berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyampaikan atau menerima gagasan/ide agar lebih kreatif, baik melalui lisan maupun tulisan.
Berdasarkan paparan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan informasi antara dua orang atau lebih, baik lisan maupun tulisan. Beberapa faktor yang terdapat pada komunikasi, diantaranya: (1) pemberi informasi (komunikator), (2) penerima informasi (komunikan), dan (3) pesan/informasi itu sendiri.
Baroody (dalam Ansari, 2003) mengemukakan bahwa kemampuan komunikasi adalah kemampuan siswa yang dapat diukur melalui aspek-aspek, sebagai berikut:
1. Representasi (representing)
Representasi adalah bentuk baru sebagai hasil translasi dari suatu masalah atau ide, suatu diagram atau model fisik ke dalam simbol kata-kata.
2. Mendengar (listening)
Mendengar merupakan salah satu aspek yang penting dalam proses komunikasi. Tanpa aktivitas mendengar, tidak akan ada proses komunikasi.
3. Membaca (reading)
Membaca yang dimaksud adalah membaca aktif. Membaca aktif berarti membaca yang difokuskan pada paragraf-paragraf yang diperkirakan mengandung jawaban yang relevan dengan pertanyaan (permasalahan yang ingin diselesaikan).
4. Diskusi (discussing)
Diskusi ide antar siswa merupakan cara yang baik dalam menjauih ketidakkonsistenan. Dengan kata lain, siswa akan mencapai suatu keberhasilan kemurnian berpikir. Diskusi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
5. Menulis (writing)
Menulis adalah suatu aktivitas untuk mengungkapkan gagasan, ide, atau pemikiran. Dalam proses komunikasi, menulis berperan untuk merangkum kesemuaan yang telah dilaksanakan, dituangkan dalam bahasa sehingga lebih mudah dipahami dan lebih lama tersimpan dalam ingatan.
Komunikasi matematis menurut Schoen, dkk. (dalam Ansari, 2003) adalah
“kemampuan siswa dalam hal menjelaskan suatu alogaritma dan cara unik untuk pemecahan masalah, kemampuan siswa mengontruksi dan menjelaskan sajian fenomena dunia nyata secara grafik, kata-kata/kalimat, persamaan, tabel, dan sajian secara fisik”.
Sedangkan menurut Greenes dan Schulman (dalam Ansari, 2003) menyatakan bahwa komunikasi matematis adalah:
“kemampuan (1) menyatakan ide matematika melalui ucapan, tulisan, demonstrasi, dan melukiskan secara visual tipe yang berbeda, (2) memahami, menafsirkan, dan menilai ide yang disajikan dalam tulisan, lisan, atau bentuk visual, dan (3) mengonstruk, menafsirkan, dan menghubungkan bermacam-macam representasi ide dan hubungannya”.
Selanjutnya Sullivan dan Mousley (dalam Ansari, 2003) menegaskan bahwa
“komunikasi matematis bukan hanya sekedar menyatakan ide melalui tulisan tetapi lebih luas lagi yaitu kemampuan siswa dalam hal bercakap, menjelaskan, menggambarkan, mendengar, menanyakan, klarifikasi, bekerja sama (sharing), menulis, dan akhirnya melaporkan apa yang telah dipelajari”.
Ansari (2003) membagi komunikasi matematis menjadi dua, yaitu “...komunikasi matematis lisan dan komunikasi matematis tulisan”. Komunikasi matematis lisan diartikan sebagai suatu peristiwa saling berinteraksi (dialog) yang terjadi dalam suatu kelas atau kelompok kecil mengenai pengalihan pesan berisi tentang materi dalam matematika yang sedang dipelajari. Sedangkan komunikasi matematis tulisan adalah kemampuan siswa dalam menggunakan kosakatanya, notasi, dan struktur matematis baik dalam bentuk penalaran, koneksi, maupun problem solving.
Kemampuan komunikasi matematis penting dibangun dalam diri siswa agar dapat:
1. Memodelkan situasi dengan tertulis, lisan, grafik, gambar, dan secara aljabar.
2. Merefleksikan dan mengklarifikasi pemikiran mengenai gagasan matematis dalam berbagai situasi.
3. Mengembangkan pemahaman terhadap gagasan matematis termasuk peranan definisi dalam matematika.
4. Menggunakan keterampilan membaca, menulis, dan mendengar untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi gagasan matematis.
5. Mengkaji gagasan matematis dengan alasan yang meyakinkan.
6. Memahami nilai dari notasi dan peran matematika dalam pengembangan gagasan matematika.
Baroody (dalam Ansari, 2003) menyatakan setidaknya ada dua alasan penting mengapa komunikasi dalam pembelajaran matematika perlu dikembangkan, yakni pertama mathematics as language, an invaluable tool for communicating a variety of ideas clearly, precisely, and succinctly”, artinya matematika tidak hanya sekedar alat bantu berpikir, alat untuk menemukan pola, atau alat untu menyelesaikan masalah, melainkan matematika sebagai bahasa, alat untuk berkomunikasi berbagai ide secara jelas, tepat, dan ringkas. Kedua “mathematics learning as social activity, nurturing children’s mathematical potensial”, artinya matematika sebagai kegiatan sosial, memelihara potensi matematis siswa.
Pada saat pembelajaran matematika, komunikasi berperan penting dalam mengembangkan pengetahuan siswa. Program pembelajaran matematika di sekolah yang baik salah satunya adalah perlu menekankan siswa dalam menggunakan bahasa matematis untuk mengekspresikan ide-ide matematis secara benar.

Referensi
Ansari, B. I. (2003). Menumbuhkembangkan Kemampuan Pemahaman dan Komunikasi Matematik Siswa melalui Strategi Think-Talk-Write. (Disertasi). Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Astuti, R. (2009). Studi Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Belajar Siswa pada Kelompok Siswa yang Belajar Reciprocal Teaching dengan Pendekatan Metakognitif dan Kelompok Siswa yang Belajar dengan Pembelajaran Biasa. (Tesis). Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.


EmoticonEmoticon