Sunday, 20 November 2016

Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak


Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
Karya  : Siti Putri Indriani
meningkatkan rasa percaya diri anak
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan dengan segala keterbatasanya, namun dibalik keterbatasan tersebut manusia diberikan kelebihan dari manusia lainnya, maksudnya setiap manusia mempunyai salah satu bidang yang mereka ahli didalamnya. Namun terkadang manusia tidak percaya terhadap kemampuan dirinya sediri. “Percaya diri adalah modal dasar keberhasilan atau sukses dalam segala bidang” (Timothy Wibowo, hlm 3). Menurut Bandura, 1977 (dalam Hurlock, 1999) “Kepercayaan diri adalah suatu keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai dengan harapan dan keinginannya”. Sikap percaya diri muncul bukan sebuah kebetulan namun dilihat dari kebiasaan di lingkungannya, kebiasaan tidakan orang-orang di sekitarnya. Sikap ini tidak tercipta saat manusia sudah dewasa, namun kebiasaan ini dipupuk dari sejak dini. Lantas, siapakah yang selalu ada untuk anak usia dini? Ya, mereka orang tua yaitu ibu dan ayah. Mereka yang menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan anaknya, serta mereka yang menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk anaknya, begitu pun dengan sikap percaya diri anak. Oleh karena itu, orang tua harus mempunyai pengetahuan khusus agar anaknya muncul sebagai pemberani dan sukses dalam segala bidang.
Timothy Wibowo menyebutkan ada 7 cara meningkatkan rasa percaya diri anak, yaitu:
1.      Mengevaluasi Pola Asuh
Setiap orang tua senantiasa selalu menjaga anaknya bagaimana pun ia, dari mulai bangun tidur sampai anak tidur kembali. Sehingga secara otomatis, anak meniru bagaimana orang tuanya bertindak dan melakukan apa yang dikatakannya.  Saat anak tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua, maka jangan menyalahkan anak, intropeksilah cara mengasuhnya. Karena idealnya orang tua bersikap demokratis kepada anaknya, maksudnya orang tua mengendalikan anak namun tetap memberikan kebebasan anak untuk berpendapat. Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh demokratis akan bersikap rasional terhadap anaknya, ia akan menerima kelebihan dan kekurangan anaknya, tidak berharap lebih kepada anak atau melampaui kemampuan anaknya. Hasil dari pola asuh ini adalah menghasilkan  karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan dapat bekerja sama dengan orang lain. Persoalan anak adalah persoalan orang tua pula dan persoalan orang tua dapat berpengaruh pada kondisi anak.
2.      Pujian yang Tepat
Pujian merupakan hal sederhana yang memberikan pengaruh besar terhadap kondisi psikis manusia. Pujian merupakan motivasi untuk terus menjadi lebih baik. Anak-anak pun merasakan hal yang sama, maka orang terdekat khususnya orang tua harus memberikan itu semua, karena suatu pujian memang baik untuk anak, namun jangan berlebihan juga. Jangan megulang pujian yang sifatnya membangga-banggakan skill anak, sebab itu semua akan menjadi beban anak untuk menjadi yang terhebat. Namun berikanlah kata-kata motivasi yang akan lebih membekas bagi anak,misalnya “hebat, kamu bisa menyelesaikan tugas dengan baik” ketimbang pujian seperti “ayah bangga denganmu nak”.
3.      Agenda Sosialisasi
Hidup di dunia, anak harus mengenal dunia luar bukan hanya dirinya, ibu dan ayahnya, anak harus tahu bahwa di luar sana ia akan bertemu dengan banyak orang. Oleh karena itu, buatlah jadwal sosialisasi dalam aktivitas anak dan sebaiknya anak tidak disibukkan dengan les privat sehingga anak lupa bermain dengan teman-temannya.  Jadwal sosialisasi misalnya dengan mengajak anak mengunjungi kerabat, sepupu, tetangga, kemudian bermain di taman bermain dan tempat keramaian lain yang dapat membuat anak bersosialisasi baik dengan orang lain. Kemudian ajari anak cara bertemu dengan orang, makan yang baik, bahasa yang sopan, dan latih anak agar peduli dan berbagi terhadap sesama.
4.      Kenalkan anak pada karakter melalui cerita
Anak sangat senang apabila dibacakan cerita, maka bacakanlah cerita fiksi, mengenal tokoh yang ada dalam cerita tersebut, atau orang tua bisa menceritakan pengalamannya, kemudian biarkan anak mempelajari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, selanjutnya bimbing anak untuk menceritakan kembali apa yang ia pahami dari karakter tokoh tersebut. Dengan melakukan kegiatan ini, anak semakin terbuka untuk menceritakan pengalamannya atau kejadian yang dialaminya, kemudian percaya diri untuk tampil di depan kelas, mengeluarkan pendapatnya, ataupun bercerita kepada teman-temannya. Hal ini dapat melatih cara bicara anak menjadi lebih baik juga.
5.      Bermain peran
Salah satu cara meningkatkan rasa percaya diri anaka dalah dengan bermain peran, hal ini dilakukan untuk melatih berkomunikasi interpersonal. Misal, dengan bermain telpon-telponan, bermain bertamu ke rumah teman, menceritakan teman sekolahnya, atau teman bermainnya.
6.      Biarkan Kesalahan Terjadi dan berikan resiko teringan
Kesalahan akan anak temui saat ia sedang melakukan berbagai hal, biasanya orang tua selalu langsung membantu mereka, nah dalam hal ini orang tua membiarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya agar ia dapat menyelesaikannya, jika hal itu tidak berbahaya. Kesalahan merupakan proses dari kesuksesan, maka biarkan anak bekerja keras terlebih dahulu. Cara ini akan meningkatkan rasa percaya diri anak untuk menemukan hal baru. Misalnya, orang tua sering mendapati anak frustasi karena belum berhasil memasangkan gambar puzzle, sehingga ditengah bermain tiba-tiba anak menjerit dan menangis sendiri. Maka yang perlu orang tua lakukan adalah mendorongnya untuk terus berusaha memecahkan masalahnya selama hal tersebut tidak membahayakannya. Jangan orang tua buru-buru mengatakan “sini,biar ibu bantuin” karena hal ini akan membuat anak tidak belajar untuk mandiri dan percaya diri.
7.      Pahami Kepribadian Mereka
Kepribadian merupakan anugerah terindah dalam diri manusia, karena setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dan manusia tidak dapat memilih kepribadian yang ia inginkan, namun telah diatur oleh Sang Pencipta. Dengan memahami kepribadian anak maka orang tua sudah tidak lagi menebak-nebak cara memberikan asuhan kepada anak, sehingga orang tua berusaha mengerti dan memahami anaknya.


Daftar Pustaka
Hurlock, E.B. (1999). Psikologi Perkembagan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi 5. Surabaya. Erlangga: PT. Gelora Aksara Pratama
[Wibowo, Timothy. (Tanpa Tahun). 7 Cara Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak. [Online]. Diakses dari: www.pendidikankarakter.com.


EmoticonEmoticon