Monday, 7 November 2016

Model Pembelajaran Problem Based Learning



Model Pembelajaran Problem Based Learning
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran problem base learning

Model pembelajaran “Problem Based Learning (PBL) dikembangkan untuk pertama kali oleh Prof. Howard Barrows sekitar tahun 1970-an dalam pembelajaran ilmu medis di McMaster University Canada” (Amir, 2009). Model Pembelajaran Problem Based Learning menyajikan suatu permasalahan nyata bagi siswa pada awal pembelajaran kemudian diselesaikan melalui penyelidikan. Menurut Duch (1995), “Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk ‘belajar bagaimana belajar’, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata”. Kamdi (2007, hlm. 77) mengemukakan bahwa:
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah”.
Menurut Arends (dalam Trianto, 2007),
Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan (model) pembelajaran di mana siswa dihadapkan pada masalaha autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri”.
Sedangkan Glazer (2001) berpendapat bahwa “Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu strategi (model) pengajaran dimana siswa secara aktif dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata”.
Dari uraian pendapat tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran. Model ini merupakan inovasi yang dapat memberikan kondisi belajar aktif pada siswa. Dalam prosesnya dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat siswa mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki cara belajar sendiri serta kecakapan bekerja sama dalam kelompok. “Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistematik untuk memecahkan masalah atau tantangan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari” (Amir, 2009).
Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) diharapkan siswa mendapatkan lebih banyak kecakapan daripada pengetahuan yang dihafal. “Mulai dari kecakapan memecahkan masalah, kecakapan berpikir kritis, kecakapan bekerja dalam kelompok, kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan pencarian dan pengelolaan informasi” (Amir, 2007). Savery, Duffy, dan Thomas (1995) mengemukakan dua hal yang harus dijadikan pedoman dalam menyajikan permasalahan. “Pertama, permasalahan harus sesuai dengan konsep dan prinsip yang akan dipelajari. Kedua, permasalahan yang disajikan adalah permasalahan riil, artinya masalah itu nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa”.
Berikut merupakan ciri-ciri dari model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menurut Arends (dalam Trianto, 2007), sebagai berikut:
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah
a. Autentik, yakni masalah harus berakar pada kehidupan nyata siswa.
b. Jelas, yakni masalah dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.
c. Mudah dipahami, yakni masalah yang diberikan mesti mudah dipahami siswa dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Luas berarti masalah tersebut harus mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia.
e. Bemanfaat, yakni masalah tersebut bermanfaat bagi siswa sebagai pemecah masalah dan guru sebagai pembuat masalah.
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu
Masalah yang diajukan hendaknya melibatkan berbagai bidang disiplin ilmu dalam pemecahannya.
3. Penyelidikan autentik (nyata)
Penyelidikan ini prosesnya meliputi pengamatan, menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen, membuat kesimpulan, dan menggambarkan hasil akhir.
4. Menghasilkan produk
Produk ini dapat berupa karya maupun ide atau gagasan yang dihasilkan di akhir pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
5. Kolaboratif
Tugas-tugas belajar berupa masalah dalam model pembelajaan Problem Based Learning (PBL) diselesaikan bersama-sama antar siswa.
Adapun karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menurut Tan (dalam Amir, 2007), antara lain:
1. Masalah digunakan sebagai awal pembelajaran.
2. Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang mengambang.
3. Masalah menuntut perspektif majemuk, artinya penyelesaian masalah menuntut siswa menggunakan konsep dari berbagai bidang ilmu yang sebelumnya telah dipelajari.
4. Masalah membuat siswa tertantang untuk belajar.
5. Mengutamakan pembelajaran mandiri (self directed learning).
6. Memanfaatkan sumber belajar yang bervariasi.
7. Proses pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga unsur yang esensial dalam model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yakni adanya permasalahan, pembelajaran berpusat pada siswa, dan belajar dilakukan dalam kelompok.
Berikut tahapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1. Orientasi peserta didik terhadap masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan apa saja yang diperlukan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.
2. Mengorganisasi peserta didik
Guru membagi siswa ke dalam kelompok, membantu siswa mengartikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
3. Membimbing penyelidikan individu atau kelompok
Guru memfasilitasi peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, melaksanakan percobaan dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil
Guru membimbing peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan laporan atau dokumentasi hasil percobaan atau penyelidikan serta membimbing pembagian tugas siswa dalam kelompok.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah
Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil penyelidikan.
Adapun kelebihan dari penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1. Melatih kemampuan siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan baru.
2. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
3. Membantu siswa memahami permasalahan dunia nyata.
4. Melatih tanggung jawab siswa terhadap apa yang ia pelajari.
5. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
6. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang ia ketahui.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), antara lain:
1. Sulit menentukan permasalahan yang bermakna bagi siswa.
2. Sulit mengkondisikan siswa agar mencoba melakukan penyelidikan untuk mencari alternatif penyelesaian masalah.
3. Memerlukan penguasaan keterampilan-keterampilan khusus dalam pelaksanaannya, seperti keterampilan mengumpulkan informasi, bertanya, mengemukakan pendapat, menyajikan data, mengkomunikasikan data, dan sebagainya.

Referensi
Amir, T. (2009). Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Duch, J. B. (1995). Problem Based Learning in Psychics: The Power of Student Teaching Student. [Online]. Diakses dari: http://www.udel.edu/pbl/cte/jan95-phys.html.
Glazer, E. (2001). Problem Based Instruction. In M. Orey (Ed.), Emerging perspectives on  learning, teaching, and technology. [Online]. Diakses dari: http://www.coe.uga.edu/epltt/ProblemBasedInstruct.html.
Kamdi, W., dkk. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Malang: Universitas Negeri Malang.
Savery, Duffy, J. R., & Thomas, M. (1995). Problem Based Learning : An Intructional Model and Its Contructivist Framework. Bloomington: Indiana University.
Trianto (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.


EmoticonEmoticon