Monday, 16 January 2017

Respons Siswa Sekolah Dasar terhadap Karya Sastra Bahasa Indonesia



Respons Siswa Sekolah Dasar terhadap Karya Sastra Bahasa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

respon siswa sekolah dasar terhadap karya sastra bahasa indonesia

Karya sastra dapat diartikan sebagai ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Manfaat dan kesenangan dalam sebuah karya sastra tentu bukan milik pembaca dewasa saja, melainkan juga pembaca anak-anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Lukens dalam Nurgiyantoro (2010, hlm. 3) menegaskan bahwa “tujuan memberikan hiburan, tujuan menyenangkan dan memuaskan pembaca, tidak peduli pembaca dewasa atau anak-anak adalah hal yang esensial dalam sastra”.
Karya sastra apapun jenisnya memiliki kekhasan atau ciri yang membedakannya dari jenis tulisan lain. Oleh karena itu, untuk memahami sebuah karya sastra, metode dan pendekatan yang digunakan akan berbeda dengan memahami sebuah tulisan biasa. Setidaknya ada empat pendekatan kritis yang dikemukakan oleh Abrams dalam Teeuw (1988, hlm. 50) yakni, “pendekatan obyektif, pendekatan ekspresif, pendekatan mimetik, dan pendekatan pragmatik”. Pendekatan obyektif berpusat pada karya sastra, pendekatan ekspresif berpusat pada penulis, pendekatan mimetik berpusat pada keselarasan dengan alam semesta, dan pendekatan pragmatik berpusat pada kajian terhadap pembaca.
Keberadaan buku sastra yang minim di sekolah dasar (SD) menjadi kendala ketika siswa SD mempelajari teks sastra. Oleh karena itu, teks sastra yang berada dalam buku teks pelajaran bahasa Indonesia menjadi satu-satunya sumber atau pintu masuk siswa untuk mempelajari dan mengenal karya sastra. Lebih lanjut, kurangnya minat baca menjadi penyebab ketidaksukaan terhadap karya sastra. Terlebih guru SD yang tidak hanya mengemban bahasa Indonesia saja, namun seluruh disiplin ilmu, menjadikan guru tersebut kurang mahir dalam penyampaian dan pembelajaran sastra.
Pengajaran sastra belum mendapatkan porsi yang sesuai dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Diabaikannya sastra dalam pengajaran bahasa berawal dari asumsi bahwa “literature contributes negatively to students language skills” (Joseph John, 1986, hlm. 18). Artinya, bahwa sastra berkontribusi negatif terhadap kemampuan berbahasa siswa. Disamping itu, Rudy dan Rita (2002, hlm. 3) berpendapat bahwa “sastra telah diperlakukan secara kurang adil di seluruh jenjang pendidikan”. Kenyataan ini terjadi karena munculnya asumsi bahwa sastra hanya merupakan pelajaran untuk kesenangan dan tidak berpotensi mengembangkan kemampuan berbahasa siswa.
Metode mengajar yang diterapkan guru SD tidak mampu menyulap siswa SD menjadi penikmat dan pengapresiasi sastra. Penerapan model belajar yang konvensional hanya mampu membuat siswa dapat menceritakan kembali isi karya sastra yang telah dibaca. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai kegiatan apresiasi namun baru sebatas mengidentifikasi apa yang tersurat dalam teks sastra. Guru juga kurang menyadari bahwa kemampuan siswa mengapresiasi karya sastra secara tertulis masih sangat jauh dari yang diharapkan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini guru lebih menyukai respons secara verbal dari siswa. Apa yang dapat dilakukan guru apabila ada siswa yang mampu merespon karya sastra dengan menggambar? Apakah guru harus memaksa mereka merespon secara tertulis saja? Bila ini yang dilakukan bagaimana mungkin dapat menghasilkan siswa yang senang menikmati dan mengapresiasi karya sastra sebagai tujuan dari pembelajaran sastra.
Kualitas pengajaran sastra sejauh ini masih sering diragukan dan dipertanyakan. Kondisi ini terjadi berdasarkan fakta empirik yang dikemukakan Taufik Ismail (2000, hlm. 115) membuktikan bahwa penyebab dari hal itu adalah “metodologi pengajaran sastra yang tidak efisien”. Kondisi demikian dipertegas oleh Ajip Rosidi (1983, hlm. 130) bahwa “kualitas pembelajaran sastra masih sangat memprihatinkan diindikasikan oleh pengajaran sastra yang seadanya. Kedua sastrawan tersebut merupakan stereotipe yang representatif mengeluhkan buruknya pengajaran bahasa dan sastra di seluruh jenjang pendidikan.
Pengajaran sastra yang baik dan benar adalah pengajaran yang mengadopsi perspektif estetik dan memberikan penekanan pada sudut pandang tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Rosenbaltt dan M. Louise (1978, hlm. 22) “to teach literature correctly is to emphasize the aesthetic stance and to de-emphasize the efferent”. Artinya, siswa tidak hanya dapat mengidentifikasi apa yang tertuang dalam karya sastra seperti latar, tokoh dan penokohan, serta alur cerita, melainkan mereka juga dapat mengidentifikasi apa yang ada di luar karya sastra itu sendiri seperti maksud pengarang, simbolisme, gaya cerita, dan sebagainya.
Menurut Piaget dalam Santrock (2007, hlm. 255) “perkembangan kognitif anak usia 9-12 tahun termasuk pada fase perkembangan operasional konkret”. Pada tahap ini pemikiran logis menggantikan pemikiran intuitif asalkan pemikiran tersebut dapat diaplikasikan menjadi contoh yang konkret dan spesifik. Pada tahap ini anak dapat membuat klasifikasi sederhana, seperti klasifikasi warna dan klasifikasi karakter tertentu. Pola pikir anak pada tahap ini bersifat egosentris. Anak akan lebih mudah mengidentifikasi sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda sehingga imajinasinya pun berkembang. Selanjutnya, anak mulai dapat berpikir argumentatif dan memecahkan masalah sederhana yang terbatas pada situasi konkret. Pada perkembangan ini anak memungkinkan untuk membaca sastra sendiri dan memahami sastra tersebut secara mandiri.
Berkaitan dengan respons, muncul yang dinamakan teori resepsi sastra atau estetika resepsi. Hal ini dipicu oleh adanya pergeseran paradigma dari pendekatan objektif ke pragmatik, dari struktur instrinsik ke pembaca. Munculnya ketidakpuasan para pengamat sastra terhadap suatu teori bahwa dalam memahami arti karya sastra maka harus dikembalikan kepada penulisnya. Untuk itu, respon atau tanggapan pembaca dibutuhkan untuk menganalisis sebuah karya sastra, karena jika hanya terbatas pada penulisnya maka karya itu hanya terbatas pada orang tertentu. Umar Junus (1985, hlm. 13-14) memberikan beberapa argumentasi tambahan yang menguatkan posisi resepsi ini, yakni:
1. Sebuah karya sastra hidup jauh lebih lama dari penulisnya sehingga ada orang yang hanya membaca karya itu tanpa menanyakan tentang penulisnya.
2. Dengan adanya produksi besar-besaran terhadap karya sastra yang memungkinkan perluasan penyebarannya dalam ruang geografis dan masa, maka orang lebih membaca karya tanpa mengenal penulisnya.
3. Karya sastra hidup jauh lebih lama daripada penulisnya, karena karya sastra dihidupkan oleh para pembacanya.
Selengkapnya Umar Junus (1985, hlm. 51) mengungkapkan beberapa butir penting berkaitan dengan pendekatan respon pembaca, sebagai berikut:
1. Pendekatan ini bertolak pada bagaimana suatu karya berinteraksi dengan pembacanya.
2. Pendekatan ini menginginkan agar pembaca mengkonkretkan hasil bacaannya dengan menggunakan kemampuan imajinasinya.
3. Imajinasi itu berhubungan dengan skemata (horizon of expectation) pembaca terhadap karya sastra, tradisinya, dan skemata pengetahuannya. Artinya, Pembaca akan mengemukakan kesan dalam bentuk respon terhadap karya sastra.

Referensi
Ismail, T. (2000). Pengajaran Sastra yang Efektif dan Efisien di SLTA. Yogyakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
John, J. (1986). Language Versus Literature in University English Departments. English Teaching Forum, 24 (4), hlm. 18.
Junus, U. (1985). Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Nurgiyantoro, B. (2010). Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rudy dan Rita, I. (2002). Pengembangan Kualitas Pembelajaran Sastra sebagai Seni Bahasa dalam Menggali Nilai-nilai Budaya di Perguruan Tinggi. (Makalah). Dipresentasikan dalam Forum Sastra dan Budaya II di UPI Bandung, 24-26 Oktober 2002.
Rosenbalt dan Louise, M. (1978). The Reader, the Text, the Poe: The Transactional Theory of the Literary Works. Illinois: Southem Illinois University Press.
Rosidi, A. (1983). Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastra (Kumpulan Karangan). Surabaya: PT Bina Ilmu.
Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Teeuw, A. (2003). Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.


EmoticonEmoticon