Wednesday, 30 November 2016

Sampah Abad 21



Sampah Abad 21
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sampah abad 21

Sampai saat ini banyak pakar, ahli, atau sekedar penulis lepas yang mengangkat tema abad 21. Hampir kesemuaan isi tulisan bertema abad 21 bersifat prediksi atau meramalkan masa yang akan datang. Padahal berdasarkan kalender masehi dunia telah memasuki abad 21 sejak tahun 2001. Terhitung 16 tahun sudah umat manusia hidup di abad 21. Oleh karena itu, abad 21 bukan tentang masa depan, melainkan realitas yang sedang umat manusia jalani pada masa sekarang. Artinya, arah pembahasan abad 21 khususnya pada tulisan ini merujuk pada realitas saat ini.
Memasuki abad 21, manusia senantiasa menciptakan inovasi di segala bidang. Hal ini menimbulkan semakin cepatnya interval perubahan peradaban manusia. Kata perubahan mengindikasikan bahwa ada suatu hal baru yang menggantikan suatu hal lama. Dalam konteks peradaban manusia, hal yang dimaksud dapat berupa benda fisik maupun ide abstrak. Contohnya transportasi kereta kuda tergantikan oleh mobil atau politik sistem kerajaan tergantikan oleh sistem demokrasi. Kebermanfaatan, efektivitas, dan efisiensi menjadi alasan tergantikannya peradaban lama oleh peradaban yang baru. Artinya manusia meninggalkan peradaban lama karena menganggap nilai ketergunaan peradaban lama tersebut kurang atau bahkan dianggap hilang.
Barang atau benda yang tidak berguna sering kita sebut dengan istilah sampah. Sampah merupakan benda yang dianggap sudah tidak memiliki daya guna. Dalam hal ini konsep sampah bersifat subyektif, karena daya guna bergantung pada persepsi individu. Apabila individu menganggap suatu benda atau barang tidak berguna maka benda atau barang tersebut merupakan sampah yang selanjutnya dibuang atau ditinggalkan. Dengan kata lain, suatu hal disebut sampah apabila dibuang atau ditinggalkan.
Merujuk pada judul tulisan ini “Sampah Abad 21”, sampah dalam konteks ini diartikan sebagai hal yang ditinggalkan atau secara umum dianggap tidak memiliki nilai guna pada abad 21. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, pada abad 21 perubahan peradaban manusia berlangsung sangat cepat. Artinya, semakin banyak pula hal lama yang tergantikan oleh hal baru. Gerobak tergantikan oleh mobil, radio tergantikan oleh televisi, obor tergantikan oleh lampu, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini kecenderungan umum manusia pada abad 21 menganggap nilai guna gerobak, radio, ataupun obor kurang atau bahkan dianggap hilang, maka semua hal tersebut ditinggalkan dan bisa dianggap sampah. Pembahasan ini terkesan tidak menimbulkan masalah apabila dikenakan terhadap hal yang bersifat benda fisik atau barang.
Kita ambil contoh lain yang bersifat ide abstrak pada abad 21 ini. Mencontek dianggap hal yang tabu secara makna dalam dunia pendidikan, namun dianggap biasa dilakukan. Kejujuran telah tergantikan oleh mencontek, untuk itu kejujuran merupakan sampah. Menggunakan helm saat berkendara motor roda dua dan membawa surat izin mengemudi (SIM) saat berkendara merupakan hukum lalu lintas yang berlaku, namun melanggar hal tersebut dianggap biasa. Hukum tergantikan oleh kebiasaan, untuk itu hukum merupakan sampah. Perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan seolah sering sekali kita dengar terjadi. Jiwa dan hak manusia seolah tidak penting, untuk itu jiwa dan hak manusia merupakan sampah. Banyak sekali hal yang dianggap benar malah ditinggalkan. Dengan demikian, kebenaran merupakan sampah.
Pada pembahasan ini, jelas bahwa disadari ataupun tidak disadari manusia pada abad 21 banyak meninggalkan kebenaran dan sama saja dengan menganggap bahwa kebenaran itu sampah. Kita tahu bahwa hal itu benar, namun kita tetap meninggalkan hal tersebut. Kita telah membuang sampah yang salah. Banyak hal yang kita lakukan saat ini justru merupakan sampah yang sebenarnya. Peradaban manusia dibangun dari satuan yang terkecil, yakni individu. Untuk itu, mari kita refleksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita membuang sampah yang benar-benar sampah.


EmoticonEmoticon