Saturday, 12 November 2016

Skala Likert



Skala Likert
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
skala likert
Skala berarti ukuran-ukuran berjenjang. Skala biasa digunakan dalam penyusunan suatu instrumen penelitian. Salah satu skala yang sering digunakan yakni skala Likert. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur persepsi, sikap, atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai sebuah peristiwa atau fenomena sosial, berdasarkan definisi operasional yang telah ditetapkan oleh peneliti. Nama skala ini diambil dari nama penciptanya yakni Rensis Likert (1932). Likert (1932, hlm. 3) mengasumsikan “sikap dapat diukur dan intensitas suatu pengalaman adalah linear yaitu duduk di sebuah kontinum dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju”.
Rensis Likert (1903-1981) merupakan seorang pakar psikologi dan pengajar di Amerika yang mengembangkan penilitian dalam bentuk model manajemen. Rensis Likert adalah pengajar di Universitas Michigan (institut penelitian sosial) pada tahun 1946-1970. Rensis Likert menerima gelar Bachelor di jurusan sosiologi dari Universitas Michigan tahun 1926. Pada tahun 1932 beliau mendapatkan gelar Ph.D di jurusan psikologi dari Columbia University. Dalam tesisnya, Likert membuat sebuah skala survei (yang kini dikenal dengan sebutan skala Likert) untuk mengukur etika dan menunjukan hal-hal yang dapat memberikan lebih banyak infomasi dibandingkan metode kompeten.
Skala Likert berwujud kumpulan pertanyaan-pertanyaan sikap yang ditulis, disusun, dan dianalisis sedemikian rupa sehingga respon seseorang terhadap pertanyaan tersebut dapat diberikan skor berupa angka yang kemudian dapat diinterpretasikan. Skala Likert bukan hanya terdiri dari satu stimulus atau satu pertanyaan saja, melainkan selalu berisi banyak item (multiple item measure).
Suatu skala Likert umum digunakan dalam kuisioner dan digunakan dalam riset suatu survei. Penggunaan skala Likert biasa digunakan dalam jenis penelitian survei deskriptif (gambaran). Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap pertanyaan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Sejauhmana skala Likert akan berfungsi untuk mengungkapkan sikap individu atau kelompok dengan cermat dan akurat, bergantung pada kelayakan pertanyaan-pertanyaan sikap dalam skala itu sendiri. Stimulus harus ditulis dan dipilih berdasarkan metode konstruksi yang tepat dan skor terhadap respon seseorang harus diberikan dengan cara-cara yang tepat.
Skala Likert merupakan pendekatan penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai sikapnya. Pada pendekatan ini tidak diperlukan kelompok panel penilai (judging group) karena nilai skala setiap pernyataan tidak akan ditentukan oleh derajat favorabelnya masing-masing, melainkan ditentukan oleh distribusi respon setuju atau tidak setuju dari sekelompok responden yang bertindak sebagai kelompok uji coba.
Kelompok uji coba hendaknya memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik individu yang hendak diungkap sikapnya. Selain itu, agar hasil analisis dalam penskalaan lebih cermat dan stabil, responden yang digunakan sebagai kelompok uji coba harus berjumlah lebih banyak sehingga distribusi skor mereka lebih bervariasi.
Skala Likert umumnya digunakan untuk mengukur sikap melalui pernyataan-pernyataan sikap (attitude statements) yakni rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai obyek sikap yang hendak diungkap. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan skala Likert, sebagai berikut:
1. Tabel spesifikasi (kisi-kisi)
Skala Likert hendaknya mencakup aspek obyek sikap yang luas dan relevan. Cakupan ini menyertakan semua aspek yang penting bagi obyek sikap tersebut dan meninggalkan aspek-aspek yang tidak begitu penting. Untuk memperjelas batasan komponen perilaku dan komponen obyek sikap, biasanya digunakan tabel spesifikasi.
Tabel spesifikasi pada umumnya berupa tabel dua jalan yakni tabel yang memiliki dua sisi yang dalam hal ini berisikan komponen obyek sikap dan komponen sikap. Berikut gambaran secara umum model tabel spesifikasi penyusunan skala Likert:
Komponen Obyek Sikap
Komponen Sikap
Total %
Afektif
Kognitif
Psikomotor
I




II




III




IV




V




Total %



100%

Angka-angka ditulis dalam setiap sel untuk menunjukan persentase banyaknya pertanyaan sikap yang perlu dibuat agar skala tersebut setelah selesai ditulis akan mencakup keseluruhan aspek obyek sikap secara proporsional sesuai dengan bobot relevansi setiap aspek dalam komponen obyek sikap yang telah ditentukan. Bobot relevansi ini ditentukan melalui judgment perancang sendiri atau hasil diskusi dengan pihak ahli. Apabila tidak terdapat dasar yang jelas untuk membedakan bobot relevansi tersebut, maka dapat diatasi dengan cara menyamakan semua bobot dari setiap aspek.
2. Menulis pernyataan
Penulis item dapat memanfaatkan berbagai sumber bacaan atau referensi, gagasan, informasi, hasil pengamatan, dan kreativitasnya sendiri sepanjang tidak menyimpang dari spesifikasi yang telah dibuat. Berikut pedoman penulisan pernyataan menurut Edward (dalam Azwar, 1995, hlm. 110), sebagai berikut:
a. Jangan menuliskan pernyataan yang membicarakan mengenai kejadian yang telah lewat kecuali kalau obyek sikapnya berkaitan dengan masa lalu.
b. Jangan menuliskan pernyataan yang berupa fakta atau dapat ditafsirkan sebagai fakta.
c. Jangan menuliskan pernyataan yang dapat menimbulkan lebih dari satu tafsiran.
d. Jangan menulis pernyataan yang tidak relevan dengan obyek psikologisnya.
e. Jangan menuliskan pernyataan yang sangat besar kemungkinannya akan disetujui atau tidak disetujui oleh hampir semua orang.
f. Pilih pernyataan-pernyataan yang diperkirakan akan mencakup keseluruhan obyek sikap yang diinginkan.
g. Usahakan setiap pernyataan ditulis dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan langsung.
h. Setiap pernyataan hendaklah ditulis dengan ringkas dan menghindari kata-kata yang tidak akan memperjelas isi pernyataan.
i. Setiap pernyataan harus berisi satu ide gagasan yang lengkap.
j. Hindari pernyataan yang berisi unsur universal seperti “tidak pernah”, “semuanya”, “selalu”, “tidak seorangpun”, dan sejenisnya.
k. Gunakan seperlunya kata-kata seperti “hanya”, “sekedar”, “semata-mata”, dan sejenisnya, agar tidak menimbulkan kesalahan penafsiran.
l. Jangan menggunakan kata atau istilah yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh responden.
m. Hindari pernyataan yang berisi kata negatif ganda.
Adapun prosedur penyusunan dan pengembangan instrumen pengukur skala Likert dikembangkan, sebagai berikut:
1. Identifikasi tujuan ukur untuk memilih suatu definisi konseptual dan teori yang mendasari atribut konstruk psikologis yang hendak diukur.
2. Operasi analisis ranah yang hendak akan diukur berdasarkan konstruk psikologis. Konstruk dibatasi dengan ukuran komponen-komponen atau dimensi yang jelas, sehingga instrumen akan mengukur secara komprehensif dan relevan serta dapat menunjang validitas konstruk yang hendak diukur dari variabel yang bersangkutan. Untuk mengoperasikan dimensi-dimensi bersangkutan, penulisan butir dirumuskan ke dalam bentuk indikator-indikator perilaku yang hendak diungkap dari suatu obyek.
3. Penulisan butir diawali dengan pembuatan kisi-kisi yang memuat komponen-komponen atribut dan indikator-indikator perilaku yang hendak diukur.
4. Revisi dengan cara judgment oleh peniliti itu sendiri atau dibantu para ahli.
5. Uji coba ke kelompok uji coba.
6. Analisis butir dilakukan sebagai pengujian parameter-parameter butir untuk mengetahui kelayakan persyaratan butir tersebut. Butir yang tidak memenuhi syarat harus direvisi.
7. Dilakukan pengujian reliabilitas.
8. Diperoleh format akhir instrumen yang dimuat dengan tampilan menarik, namun tetap memudahkan responden untuk mengisi.
Berikut contoh pernyataan skala Likert:
IPA merupakan mata pelajaran yang sulit dipahami.
A. Sangat setuju sekali
B. Sangat setuju
C. Setuju
D. Agak setuju
E. Netral
F. Agak tidak setuju
G. Tidak setuju
H. Sangat tidak setuju
I. Sama sekali tidak setuju
Opsi-opsi tersebut dapat direduksi (dikurangi) sesuai dengan kebutuhan. Semakin banyak opsi yang disediakan, maka jawaban responden akan semakin mendalam dan bervariasi.

Referensi
Azwar, S. (1995). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Likert, R. (1932). A Technique for the Measurement of Attitudes. Archives of Psychology Vol. 140: pp. 1-55.


EmoticonEmoticon