Tuesday, 17 January 2017

Taksonomi Bloom Revisi



Taksonomi Bloom Revisi
Karya : Siti Putri Indriani
taksonomi bloom revisi

Pada tulisan sebelumnya kita telah membahas mengenai taksonomi bloom, nah ternyata taksonomi yang dicetuskan oleh Dr Benjamin S. Bloom mengalami perbaikan pada tahun 1994 karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Taksonomi Bloom diperbaiki oleh murid Bloom sendiri yaitu Lorin W. Anderson, David R. Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme. Perbaikan tersebut dibutuhkan waktu yang lama, sehingga pada tahun 2001 hasil perbaikan baru dipublikasikan dalam buku yang berjudul “A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assesing: Arevision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives” yang disusun oleh Lorin W. Anderson dan David R. Karthwohl.
Perubahan yang menonjol dari hasil revisi adalah:
1.      “Changing the names in the six categories from noun to verb forms” artinya mengubah nama dalam enam kategori dari kata benda ke bentuk kata kerja.
         Taksonomi bloom revisi ini mencerminkan bentuk dimana siswa harus berpikir kritis dan aktif serta lebih akurat dari sebelumnya yaitu dari menggunakan kata benda menjadi kata kerja. Dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Taksonomi Bloom Lama
Taksonomi Bloom Revisi
Pengetahuan
Mengingat
Pemahaman
Memahami
Penerapan
Menerapkan
Analisis
Menganalisis
Sintesis
Mengevaluasi
Evaluasi
Mencipta/Mengkreasi
Dalam taksonomi Bloom Revisi, analisis dan sintesis pada taksonomi bloom lama bergabung menjadi satu makna yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu. Sehingga terdapat hal baru yang muncul yaitu mencipta/kreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide dan menjadi kemampuan yang paling tinggi dalam sistem berpikir tersebut.

2.      “Rearranging them as shown in the chart below” artinya menata ulang kategori seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini


         Sama dengan sebelumnya, tiga level pertama (terbawah) merupakan Lower Order Thinking Skills (Kemampuan Berpikir Tingkat Rendah), sedangkan tiga level lainnya Higher Order Thinking Skill (Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi). Maka tingkatan yang dimaksudkan adalah:
     a. Dalam persiapan memahami sebuah konsep, maka terlebih dahulu harus mengingat suatu hal yang berhubungan dengan konsep tersebut;
    b. Setelah mengingat, maka dengan adanya proses berpikir kita akan memahami konsep yang dimaksud;
      c. Konsep sudah dipahami, sehingga kita harus dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar pembelajaran menjadi bermakna;
     d. Setelah mampu menerapkannya, maka selanjutnya menganalisis konsep tersebut agar kita menemukan kekurangan ataupun kelebihan dari konsep tersebut;
     e.  Selanjutnya ketika kita telah mengetahui lebih dalam konsep tersebut,maka kita harus menentukan hasil yang dapat diambil; dan akhirnya
f.       Dalam kategori tertinggi,  kita dapat berkreasi atau menciptakan sesuatu. Artinya dari proses ini harus menempuh dulu proses sebelumnya yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
Penjelasan kategori hasil revisi dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
No
Kategori
Penjelasan dan Contoh
Kata Kerja Kunci
1
Remembering (Mengingat)
Kemampuan menyebutkan kembali informasi /pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan. Contoh: mendefinisikan pengertian pencemaran.
Mendefinisikan, menyusun daftar, menjelaskan, mengingat, mengenali,menemukan kembali, menyatakan,mengulang, mengurutkan, menamai,
menempatkan,menyebutkan.
2
Understanding (Memahami)
Kemampuan memahami
instruksi dan menegaskan pengertian/makna ide atau
konsep yang telah diajarkan baik dalam bentuk lisan, tertulis,maupun grafik/diagram
Contoh : Mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung.
Menerangkan, menterjemahkan, menguraikan, mengartikan, menyatakan kembali,
mendiskusikan,menyeleksi, mendeteksi, melaporkan,
menduga, mengelompokkan, memberi contoh, merangkum menganalogikan, mengubah, memperkirakan.
3
Applying (Menerapkan)
Kemampuan melakukan sesuatu dan mengaplikasikan konsep dalam situasi tetentu. Contoh: Mempraktekkan cara membuat jus
Memilih,menerapkan, melaksanakan, menggunakan, mendemonstrasikan, memodifikasi,menginterpretasikan, menunjukkan,membuktikan, menggambarkan,mengoperasikan, menjalankan,memprogramkan, mempraktekkan, memulai.
4
Analyzing (Menganalisis)
Kemampuan memisahkan
konsep kedalam beberapa
komponen dan mnghubungkan satu sama lain untuk memperoleh pemahaman atas konsep tersebut secara utuh. Contoh: Menganalisis unsur instrinsik sebuah teks cerita.
Mengkaji ulang, membedakan,
membandingkan, mengkontraskan,
memisahkan, menghubungkan, menunjukan hubungan antara variabel, memecah menjadi beberapa bagian, menyisihkan, menduga,mempertimbangkan mempertentangkan,menata ulang, mencirikan, mengubah struktur, melakukan pengetesan, mengintegrasikan, mengorganisir,
mengkerangkakan.
5
Evaluating (Mengevaluasi)
Kemampuan menetapkan
derajat sesuatu berdasarkan norma, kriteria atau patokan
tertentu.
Contoh: Membandingkan hasil perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman.
Mempertahankan,menyeleksi, mengevaluasi,mendukung,menilai, menjustifikasi,mengecek, mengkritik, memprediksi,
membenarkan,menyalahkan, membandingkan.
6
Creating (Mencipta/
mengkreasi)
Kemampuan memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu bentuk baru yang utuh dan koheren, atau membuat sesuatu yang orisinil. Contoh: Membuat
karya dari koran.
Merakit, merancang, menemukan,
menciptakan, memperoleh,
mengembangkan,memformulasikan,
membangun,membentuk, melengkapi,membuat, menyempurnakan,melakukan inovasi,mendisain,menghasilkan karya.

3.      “Creating a processes and levels of knowledge matrix” artinya menciptakan proses dan tingkat matriks pengetahuan
         Taksonomi Bloom Revisi tidak hanya meningkatkan kemampuan dengan menggunakan kata-kata tindakan, tetapi menambahkan matriks kognitif dan pengetahuan atau dimensi pengetahuan.
Dimensi pengetahuan yang dimaksud adalah:
       a.   Faktual, yaitu kemampuan siswa mengenai ilmu pengetahuan serta dalam memecahkan masalah.
      b. Konseptual, yaitu timbal balik antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar yang memungkinkan semua kategori berfungsi bersama-sama.
       c. Prosedural, yaitu kemampun dalam melakukan sesuatu, metode penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan keterampilan, algoritma, teknik, dan metode.
       d. Metakognitif, yaitu pengetahuan tentang kognisi pada umumnya, serta kesadaran dan pengetahuan seseorang terhadap dirinya sendiri.
Dimensi pengetahuan ini pun sudah digunakan dalam pendidikan kita, terdapat dalam kurikulum 2013 yang telah mengalami revisi dan tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Lebih spesifiknya lulusan SD/MI/SDLB/Paket A memiliki kompetensi pada dimensi ini yaitu memiliki pengetahuan factual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar berkenaan dengan:
-     Ilmu pengetahuan
-     Teknologi
-     Seni
-     Budaya
Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan Negara. Istilah pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada jenjang SD/MI/SDLB/Paket A dijelaskan sebagai berikut:
1. Faktual yaitu pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan Negara.
2. Konseptual yaitu terminologi/ Istilah yang digunakan, klasifikasi, kategori, prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan Negara.
3. Prosedural yaitu pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan Negara.
4. Metakognitif yaitu pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan Negara.
Untuk mengetahui ke-empat istilah yang terdapat dalam jenjang sekolah lainnya, dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 20 Tahun 2016.

Daftar Pustaka
Anderson, L.W., Krathwohl, D.R., dkk. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Pearson, Allyn Bacon.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016.


EmoticonEmoticon