Tuesday, 17 January 2017

TAKSONOMI SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes)



TAKSONOMI SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes)
Karya : Siti Putri Indriani
taksonomi SOLO (structure of observed learning outcome)

Taksonomi Solo merupakan salah satu taksonomi tujuan pembelajaran, yang membedakan dengan taksonomi lainnya adalah cara pandang terhadap tujuan pendidikan. Biggs & Collis (1982) mendesain taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) sebagai suatu alat evaluasi tentang kualitas respons siswa terhadap suatu tugas. Jadi, Taksonomi Solo adalah klasifikasi respon siswa mengenai struktur hasil belajar siswa. Menurut Biggs dan Collis bahwa level respon seorang siswa akan berbeda antara suatu konsep dengan konsep lainnya, dan perbedaan tersebut tidak akan melebihi tingkat perkembangan kognitif optimal murid seusianya. Biggs dan Collis pun menyatakan bahwa respon siswa terhadap tugas-tugas yang sejenis adalah bervariasi. Suatu saat seorang siswa menunjukkan tingkat lebih rendah, tetapi disaat lain menunjukkkan tingkat yang lebih tinggi. Hal ini merupakan sifat alami dalam perkembangan intelektual siswa.
Bigg dan Collis menyatakan ada dua fenomena yang dapat diidentifikasi sebagai penentu tingkat respon siswa yaitu modus fungsi (mode of fungtioning) dan rangkaian tingkat yang mendeskripsikan pertumbuhan dalam setiap modus atau disebut siklus belajar (learning cycles). Modus fungsi dari taksonomi SOLO mirip dengan tingkat perkembangan dari Piaget. Modus fungsi ini terdiri dari Sensori-motorik (umur 4 bulan – 2 tahun), ikonik (2 tahun – 6 tahun), simbolik konkrit (7 tahun – 15 tahun), operasi formal pertama (dari umur 16 tahun), dan operasi formal kedua (parameter umur tidak jelas). Sedangkan siklus belajar ini muncul seperti spiral pada tiap tingkat dari modus fungsi. Siklus belajar ini terdiri dari lima tingkat, yaitu prastruktural, unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract.
1.    Tingkat Prastruktural
Tingkat ini merupakan tingkatan yang paling bawah, artinya siswa tidak memberikan respon yang baik terhadap stimulus berupa pertanyaan,atau pun masalah yang ada, dikarenakan informasi yang masih terbatas dan tidak mampu mengaitkan berbagai konsep yang telah dimiikinya, atau bahkan tidak memiliki konsep yang bermakna. Jadi, dalam tingkat ini siswa merespon berdasarkan rincian informasi yang tidak relevan. Konsepsi yang muncul bersifat personal atau subyektif. Oleh karena itu, siswa pada tingkat prakstruktural belum bisa mengerjakan tugas yang diberikan secara tepat, siswa belum benar-benar memahami inti tugas yang diberikan, siswa menggunakan cara yang terlalu sederhana untuk menghadapi tugas, artinya siswa tidak memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan tugas.
2.    Tingkat Unistruktural
Pada tingkat ini terlihat adanya hubungan yang jelas antara satu konsep dengan konsep lainnya namun inti dari konsep tersebut secara luas belum dipahami. Beberapa kata kerja yang digunakan pada tingkat ini adalah mengindentifikasikan, mengingat dan melakukan prosedur sederhana. Disini siswa melakukan proses berpikir dan hanya muncul satu ide atau satu pola pikir yang mengfokuskan pada satu tujuan, obyek, atau solusi. Jadi, pada tingkat unistruktural siswa merespon dengan sederhana pertanyaan yang diberikan namun masih belum dapat dipahami. Hal ini terjadi karena siswa hanya menggunakan satu penggal informasi dalam merespon suatu hal.
3.    Tingkat Multistruktural
Pada tingkat ini siswa telah memahami beberapa komponen yang masih terpisah sehingga belum membentuk pemahaman yang komprehensif. Maksudnya beberapa koneksi sederhana telah terbentuk namun demikian kemampuan metakognisi belum tampak pada tahap ini. Jadi, pada tahap ini siswa dapat menggunakan beberapa penggal informasi tetapi tidak dapat menghubungkannya secara tepat.
4.    Relasional
Dilihat dari pengertian relasi menurut KBBI adalah hubungan, perhubungan, pertalian, banyak. Artinya pada tahap ini siswa dapat menghubungkan fakta dengan teori serta tujuan dan perbuatan, siswa dapat menunjukkan pemahaman beberapa komponen dari konsep-konsep, memahami peran bagian-bagian bagi keseluruhan serta telah dapat mengaplikasikan sebuah konsep tersebut. Jadi, kemampuan siswa pada tingkat relasional mampu memecah suatu kesatuan konsep menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan dengan beberapa model dan dapat menjelaskan kesetaraan model tersebut. Itu berarti siswa telah mampu memadukan penggalan-penggalan informasi terpisah untuk menghasilkan suatu penyelesaian.
5.    Extended Abstract
Tingkat ini merupakan tingkat paling tinggi dari Taksonomi SOLO, dimana siswa pada tahap ini mampu menghubungkan tidak hanya sebatas konsep yang sudah diberikan namun dapat melakukan jauh dari itu. Siswa dapat membuat kesimpulan serta mampu memberikan perumpamaan pada situasi spesifik. Jadi, siswa pada tahap ini sudah menguasai materi dan soal dengan baik sehingga dapat menyelesaikan tantangannya menggunakan berbagai pengetahuan yang telah dimilikinya.
Menurut Biggs (1999) respons siswa pada level extended abstract dan relasional adalah fase kualitatif. Dalam hal ini, siswa merespons suatu masalah dengan cara mengintegrasikan informasi-informasi yang diberikan dengan menggunakan pola (pattern) struktural. Sedangkan untuk level-level di bawahnya merupakan fase kuantitatif. Siswa dalam hal ini melakukan respons terhadap tugas dengan menggunakan satu atau lebih atau bahkan tidak sama sekali dari informasi-informasi yang diberikan.

Daftar Pustaka
Biggs, J. & Collis, K. F. (1982).  Evaluating the quality of learning;  The SOLO taxonomy. New York: Academic Press.
Biggs, J. (1999). Teaching for quality at University. Second Edition. Buckingham: SRHE/OU Press.


EmoticonEmoticon