Thursday, 8 December 2016

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)



Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
anak berkebutuhan khusus (ABK)
Anak berkebutuhan khusus (ABK) didefinisikan sebagai anak yang memiliki karakteristik berbeda dari anak lainnya yang dipandang normal oleh masyarakat. Menurut Miftakhul Jannah dan Ira Darmawanti (2004, hlm. 15) ABK adalah “anak yang dalam proses pertumbuhan atau perkembangan mengalami kelainan atau penyimpangan fisik, mental-intelektual, sosial, dan atau emosional dibanding dengan anak-anak lain seusianya, sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus”. Sedangkan Abdul Hadist (2006, hlm. 5) ABK diartikan sebagai “anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna”. Selanjutnya Aqila Smart (2010, hlm. 33) berpendapat ABK adalah “anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya”.
Dari beberapa definisi tersebut, maka dapat ditarik garis besar ABK adalah anak yang mengalami kelainan dengan karakteristik khusus yang membedakannya dengan anak normal pada umumnya serta memerlukan pendidikan khusus sesuai dengan jenis kelainannya.
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukan keadaan anak berkebutuhan khusus. Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari children with special need yang kini digunakan secara luas di dunia internasional. Ada beberapa istilah lain yang digunakan untuk menyebut anak berkebutuhan khusus, yakni anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, dan anak luar biasa.
Menurut Irwanto, Kasim dan Rahmi (2010) secara garis besar faktor penyebab anak berkebutuhan khusus jika dilihat dari masa terjadinya dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yakni:
1. ABK yang terjadi pada saat pra kelahiran (sebelum lahir)
Artinya pada masa anak masih berada di dalam kandungan telah diketahui mengalami kelainan dan ketunaan. Kelainan pada masa prenatal berdasarkan periodisasinya dapat terjadi pada periode embrio, periode janin muda, dan periode aktini. Kelainan yang mungkin terjadi, diantaranya gangguan genetika (kelainan kromosom, transformasi), infeksi kehamilan, usia ibu hamil (high risk group), keracunan saat hamil, pengguguran, dan lahir prematur.
2. ABK yang terjadi selama proses kelahiran
Artinya anak mengalami kelainan pada saat proses kelahiran. Ada beberapa sebab kelainan saat anak dilahirkan, antara lain anak lahir sebelum waktunya, lahir dengan bantuan alat, posisi bayi tidak normal, dan kelainan ganda atau kesehatan bayi yang kurang baik.
3. ABK yang terjadi setelah proses kelahiran
Kelainan pada ABK ini muncul pada saat anak dalam masa perkembangan. Ada beberapa sebab kelainan setelah anak dilahirkan diantaranya infeksi bakteri (TBC/virus), kekurangan zat makanan (gizi atau nutrisi), kecelakaan, dan keracunan.
Berdasarkan beberapa faktor di atas, sebagian besar (70, 21%) anak berkebutuhan khusus disebabkan oleh bawaan lahir, kemudian karena penyakit (15,7%), dan kecelakaan/bencana alam sebesar 10,88%.
ABK dapat diklasifikasikan apabila termasuk kedalam salah satu kategori, sebagai berikut:
1. Kelainan sensori, seperti cacat penglihatan atau pendengaran.
2. Deviasi mental, seperti retardasi mental.
3. Kelainan komunikasi, seperti permasalahan bahasa dan ucapan.
4. Ketidakmampuan belajar, termasuk masalah belajar yang serius karena kelainan fisik.
5. Perilaku menyimpang, seperti gangguan emosional.
6. Cacat fisik dan kesehatan, seperti kerusakan neurologis, ortopedis, dan penyakit lainnya seperti leukimia dan gangguan perkembangan.
Adapun lebih lengkapnya jenis kelainan ABK dijabarkan, sebagai berikut:
1. Tunagrahita atau retardasi mental
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa, anak tunagrahita diartikan sebagai anak-anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata anak pada umumnya. Anak tunagrahita seringkali memiliki masalah dalam pengendalian emosi, pengendalian fisik, dan keterampilan sosial, tapi masih bisa belajar. Proses pembelajaran pada anak tunagrahita berbeda dengan anak pada umumnya. Pembelajaran pada anak tunagrahita harus lebih sering diulang, menggunakan bahasa yang jelas (mudah dipahami). Berikut tabel klasifikasi tingkatan tunagrahita:
Klasifikasi
Karakteristik
Tunagrahita ringan (inferior) (IQ 51-70)
-Tidak tampak sebagai anak retarded oleh orang biasa.
-Dapat belajar keterampilan praktis, membaca atau menghitung sampai level kelas 6 sekolah dasar (SD), tapi harus dididik di sekolah luar biasa.
-Dapat mencapai keterampilan untuk penyesuaian sosial dan pekerjaan untuk pemeliharaan diri tapi dilakukan dengan lamban.
-Membutuhkan dukungan dan bimbingan berkala saat mengalami tekanan ekonomi atau sosial yang tidak biasa.
Tunagrahita sedang (Moron) (IQ 36-51)
-Lambat dalam bergerak, berbicara, dan berkomunikasi secara sederhana.
-Bisa dilatih mengerjakan tugas-tugas sederhana untuk menolong diri.
-Dapat dilatih keterampilan-keterampilan tangan sederhana.
-Mampu berjalan sendiri di tempat-tempat yang dikenal.
-Tidak mampu merawat diri sendiri.
Tunagrahita berat (embicile) (IQ 20-35)
-Lambat dalam perkembangan motorik.
-Sedikit atau tanpa kemampuan berkomunikasi.
-Masih bisa dilatih untuk keterampilan dasar untuk menolong diri sendiri.
-Dapat melakukan aktifitas sehari-hari yang sifatnya rutin dan berulang.
-Membutuhkan petunjuk dan pengawasan dalam sebuah lingkungan yang terlindung.
Tunagrahita sangat berat (idiot) (IQ di bawah 20)
-Memiliki kapisitas minimal dalam fungsi-fungsi sensori motor.
-Lambat dalam semua aspek perkembangan dan pembicaraan sulit dipahami.
-Menunjukan emosi dasar.
-Mungkin mampu dilatih untuk menggunakan kaki, tangan, dan rahang.
-Tidak mampu merawat diri dan membutuhkan pengawasan yang ketat serta perawatan.
Tabel Klasifikasi dan Karakteristik Tunagrahita
2. Kesulitan belajar
Kesulitan belajar tidak ada kaitannya dengan inteligensi yang rendah. Kesulitan belajar dapat didefinisikan sebagai suatu istilah umum yang mengacu pada beragam kelompok gangguan yang terlihat pada kesulitan dalam menguasai dan menggunakan kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, berpikir, atau kemampuan matematis. Kesulitan belajar dibagi menjadi dua, yakni kesulitan belajar umum (learning disability) dan kesulitan belajar khusus (specific learning disability). Kesulitan belajar umum ditunjukkan dengan prestasi belajar rendah untuk semua pelajaran. Sedangkan kesulitan belajar khusus ditujukan pada siswa yang berprestasi rendah dalam bidang akademik tertentu, seperti membaca, menulis, berkomunikasi, dan kemampuan matematis.
3. Hiperaktif (ADHD dan ADD)
Hiperaktif adalah bagian dari attention deficit with/without hyperactivity disorder (ADD/HD) atau yang dikenal dengan istilah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). ADHD/GPPH mencakup gangguan pada tiga aspek, yakni sulit memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsivitas. “Hiperaktif bukan merupakan suatu penyakit, namun gejala yang terjadi disebabkan faktor kerusakan otak, kekacauan emosi, atau retardasi mental” (Solek dalam Bandi Delphie 2006). Untuk itu, hiperaktif merupakan gangguan belajar yang bersifat umum terjadi pada anak.
4. Tunalaras
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Seorang tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Adapun karakteristik anak tunalaras menurut Slavin (2006), sebagai berikut:
a. Kurang mampu dalam belajar karena faktor intelektual, sensori, atau faktor kesehatan.
b. Tidak mampu membangun atau memelihara hubungan interpersional yang baik dengan guru atau teman sebaya.
c. Seringkali menunjukan sikap tidak sopan.
5. Tunarungu
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran, sebagai berikut:
a. Gangguan pendengaran sangat ringan (15-40dB), tidak dapat mendengar percakapan berbisik dalam keadaan sunyi pada jarak dekat.
b. Gangguan pendengaran sedang (40-60dB), tidak dapat mendengarkan percakapan normal dalam keadaan sunyi pada jarak dekat.
c. Gangguan pendengaran berat (60-90dB), hanya mampu mendengarkan suara yang keras pada jarak dekat.
d. Gangguan pendengaran eksterm/tuli (di atas 90dB), hanya dapat mendengarkan suara yang sangat keras.
Setiap anak yang mengalami gangguan pendengaran seringkali mengalami beberapa masalah lain, seperti gangguan bahasa. Walaupun memiliki potensi yang sangat tinggi dan cara berpikir kreatif visualnya juga tinggi, apabila kemampuan berbahasanya kurang, maka perkembangan kognitif, prestasi akademik, dan kemampuan sosial.
6. Tunanetra
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yakni, buta total (blind) dan low vision.
7. Autis
Mayoritas gangguan autisme disebabkan karena abnormalitas di otak. Karakteristik umum dari gangguan ini ditandai dengan adanya gangguan dalam kondisi sosial, kemampuan sosial, dan interaksi sosial. “Anak-anak dengan autisme seringkali menunjukkan sifat-sifat kelainan yang bisa diidentifikasi sejak sebelum umur 3 tahun” (Semiawan dan Mangunsong, 2010), diantara sifat-sifat tersebut, antara lain:
a. Tidak tanggap terhadap orang lain.
b. Gerakan diulang-ulang seperti bergoyang, berputar, dan memilin tangan.
c. Menghindari kontak mata dengan orang lain.
d. Tetap dalam kebiasaan dengan intensitas tinggi.
8. Tunadaksa
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit, atau akibat kecelakaan termasuk celebral parsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah:
a. Ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetapi masih bisa ditingkatkan melalui terapi.
b. Sedang yaitu memiliki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik.
c. Berat yakni memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
9. Tunaganda
Istilah ini digunakan untuk menyebut anak yang memiliki cacat ganda atau lebih dari satu macam. Misalnya seorang anak yang mengalami kelainan pendengaran sedang dan gangguan penglihatan total. Kasus seperti ini perlu penanganan yang lebih kompleks sesuai dengan kondisi anak.

Referensi
Delphie, B. (2006). Pembelajaran Anak Berkubutuhan Khusus. Bandung: Refika Aditama.
Hadist, A. (2006). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik. Bandung: Alfabeta.
Irwanto, Kasim, & Rahmi (2010). Analisis Situasi Penyandang Disabilitas di Indonesia Pusat Kajian Disabilitas. Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial & Politik.
Jannah, M. & Darmawanti, I. (2004). Tumbuh Kembang Anak Usia Dini & Deteksi Dini pada Anak Berkebutuhan Khusus. Surabaya: Insight Indonesia.
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa.
Semiawan, C. R. & Mangunsong, F. (2010). Keluarbiasaan Ganda (Twice Exceptionality): Mengeksplorasi, Mengenal, Mengidentifikasi, dan Menanganinya. Jakarta: Kencana Predana Media Group.
Slavin, R. E. (2006). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Allyn and Baccon.
Smart, A. (2010). Anak Cacat Bukan Kiamat (Metode Pembelajaran & Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Kata Hati.


EmoticonEmoticon