Monday, 16 January 2017

Cerita Fabel



Cerita Fabel
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Cerita fabel berasal dari kata bahasa Inggris fable yang berarti cerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Fabel termasuk dalam cerita fiksi atau kisah tidak nyata (imajinatif). Fabel merupakan “dongeng yang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata (reptilia), ikan, dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia” (Danandjaja, 2002, hlm. 86). Untuk itu, cerita fabel mengisahkan kehidupan binatang, tetapi binatang tersebut memiliki karakter layaknya manusia.
Cerita fabel sering juga disebut dengan istilah cerita moral karena pesan yang ada dalam cerita fabel berkaitan erat dengan moral. Binatang-binatang yang ada pada cerita fabel memiliki karakter seperti manusia. Karakter binatang itu ada yang baik, dan ada juga yang kurang baik. Mereka memiliki sifat jujur, sopan, pintar, senang bersahabat, dan mempunyai sikap terpuji. Mereka ada juga yang berkarakter licik, sombong, culas, suka menipu, dan ingin menang sendiri. Karakter-karakter tersebut biasanya kental tergambar pada tokoh cerita fabel.
Fabel atau dongeng binatang ini termasuk karya sastra. Cerita fabel memiliki sifat cerita jenaka dan kebanyakan ditujukan untuk anak-anak sehingga alur cerita mulai dari awal, titik klimaks, hingga akhir cerita berisi pesan moral baik dan selalu diakhiri secara damai, tanpa kekerasan. Cerita fabel tidak mengandung unsur-unsur magis, khayalan, dan angan-angan, tetapi lebih mengedepankan kefaktualan agar pesan moral pada cerita fabel dapat dipahami anak. Dengan demikian, cerita fabel menjadi salah satu sarana yang potensial dalam menanamkan nilai-nilai moral. Anak dapat belajar dan mencontoh karakter-karakter yang baik dari tokoh binatang pada cerita fabel.
Kemunculan cerita fabel di Indonesia tidak lepas dari sejarah perkembangan Indonesia pada masa Hindu-Budha. Fabel awalnya muncul di India, pengarang fabel menggunakan tokoh binatang sebagai pengganti manusia, atas dasar kepercayaan bahwa binatang bersaudara dengan manusia. Adapun tujuan adanya cerita fabel ini adalah untuk memberikan nasihat secara halus kepada Raja Dabsyalim, yakni raja India pada masa itu. Raja tersebut memerintah secara dzalim kepada rakyatnya. Sehingga rakyat membuat nasihat untuk rajanya dengan bercerita menggunakan binatang sebagai tokohnya, dimana jika nasihat itu ditujukan langsung kepada raja, maka rakyat tersebut akan mendapat ancaman dari raja.
Bertepatan dengan masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia, maka fabel juga berkembang pada masa tersebut. Dalam suatu kebudayaan, pada cerita fabel kecenderungan penggunaan
“binatang-binatang itu biasanya terbatas pada beberapa jenis. Di Eropa (Belanda, Jerman, dan Inggris) binatangnya adalah rubah (fox) yang bernama Renard de Fox. Di Amerika tokoh binatangnya kelinci, dan di Indonesia binatangnya adalah pelanduk (kancil) yang sering diberi nama si kancil” (Danandjaja, 2002, hlm. 86).
Secara umum, struktur teks pada cerita fabel dijabarkan, sebagai berikut:
1. Orientasi, yakni bagian awal dari sebuah cerita fabel. Orientasi berisi pengenalan dari cerita fabel, seperti pengenalan latar belakang cerita, pengenalan tokoh, dan latar tempat serta waktu pada cerita.
2. Komplikasi, yakni klimaks dari cerita, berisi puncak permasalahan yang dialami tokoh.
3. Resolusi, yakni pemecahan masalah yang dialami tokoh.
4. Koda, yakni bagian akhir dari cerita. Biasanya berisi pesan dan amanat yang ada pada cerita fabel tersebut.
Selain itu, terdapat kaidah kebahasaan atau unsur kebahasaan yang merupakan ciri dari bahasa yang digunakan pada cerita fabel. Selengkapnya dijabarkan, sebagai berikut:
1. Kata kerja aktif
Salah satu kaidah kebahasaan atau unsur kebahasaan yang terdapat pada cerita fabel adalah adanya kata kerja aktif. Kata kerja aktif pada cerita fabel dikelompokkan menjadi dua kelompok, yakni:
a. Kata kerja aktif transitif, yakni kata kerja aktif yang memerlukan obyek dalam kalimat, seperti memegang, mangangkat, dan sebagainya.
b. Kata kerja aktif intransitif, yakni kata kerja aktif yang tidak memerlukan obyek dalam kalimat, seperti diam, tidur, dan sebagainya.
2. Penggunaan kata sandang si dan sang
Pada teks cerita fabel sering sekali adanya penggunaan kada sandang si dan sang. Kaidah penulisan si dan sang terpisah dengan kata yang diikutinya. Kata si dan sang ditulis dengan huruf kecil, bukan huruf kapital. Contoh seperti si kancil dan sang burung gagak.
3. Penggunaan kata keterangan tempat dan waktu
Pada teks cerita fabel biasanya digunakan kata keterangan tempat dan waktu untuk menghidupkan suasana cerita. Untuk keterangan tempat biasanya digunakan kata depan di (ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya) dan pada keterangan waktu biasanya digunakan kata depan pada atau kata yang menunjukkan informasi waktu. Contohnya, dikisahkan pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman.
4. Penggunaan kata hubung lalu, kemudian, dan akhirnya
Kata lalu dan kemudian memiliki makna yang sama, yakni sebagai penghubung antar kalimat. Sedangkan kata akhirnya biasanya digunakan untuk menyimpulkan dan mengakhiri informasi dalam paragraf atau teks. Contohnya, sang semut memegang erat ranting itu. Kemudian, sang semut berterima kasih kepada kupu-kupu. Akhirnya, sang semut berjanji kepada kupu-kupu bahwa dia tidak akan menghina binatang lain lagi.
Berikut beberapa contoh dari cerita fabel, pada link berikut:
cerita fabel
Kancil yang Cerdik
cerita fabel
cerita fabel

Referensi
Danandjaja, J. (2002). Folklor Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama.


EmoticonEmoticon