Tuesday, 17 January 2017

Dimensi Asesmen Autentik



Dimensi Asesmen Autentik
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
dimensi asesmen autentik

Terdapat kebimbangan dan banyak berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya asesmen autentik, dan elemen asesmen yang manakah yang penting untuk mempertahankan keautentikan. Untuk mengklarifikasi situasi ini, berikut ini akan disajikan lima dimensi asesmen dikatakan autentik. Gagasan otentifikasi berikut adalah suatu rangkaian kesatuan menjadi hasil dari konseptualisasi kelima aspek ini sebagai dimensi yang dapat bervariasi sesuai tingkat keautentikannya.
1.  Task (Tugas). Sebuah tugas autentik adalah sebuah tugas dalam bentuk permasalahan yang mengkonfrontasi siswa dengan aktivitas yang muncul dari praktek sebenarnya. Jadi, peran tugas autentik sangat penting untuk asesmen autentik. Tapi beberapa peneliti berbeda dalam menekankan elemen-elemen dari sebuah tugas autentik. Kerangka berfikir dari beberapa peneliti mendefinisikan sebuah tugas autentik adalah sebuah tugas yang menyerupai standar tugas yang menekankan pada pengintegrasian dari pengetahuan, skill, dan perilaku, kompleksitas dan kepemilikan terhadap tugas. Lebih jauh lagi, pengguna tugas asesmen sebaiknya memperhatikan tugas yang dapat bermakna bagi proses pembelajaran.
Sebuah asesmen autentik meminta siswa untuk mengintegrasikan pengetahuan, skill, dan  perilaku yang dilakukan dalam kondisi sebenarnya (sebagai profesional). Lebih jauh lagi, tugas asesmen seharusnya menyerupai kompleksitas dari kriteria tugas. Tapi tidak berarti bahwa setiap tugas harus selalu kompleks. Walaupun banyak masalah autentik cukup kompleks, melibatkan berbagai disiplin ilmu,  tidak terstruktur, dan memiliki banyak solusi yang mungkin, namun masalah dalam dunia-nyata dapat pula dibuat secara sederhana, terstruktur baik dengan satu jawaban benar, dan dapat melibatkan hanya satu disiplin ilmu.
Kebutuhan yang sama akan persamaan juga dimilki oleh kepemilikan dari tugas dan proses pengembangan sebuah solusi. Kepemilikan bagi siswa dalam tugas asesmen seolah-olah mereka sebagai seorang yang profesional dengan rujukan kepada adanya kriteria tugas. Tugas autentik seharusnya dapat memberikan kepada siswa akan sadarnya kepemilikan pada tugas dan siswa berusaha untuk mengembangkan solusi dalam pembelajaran autentik dan dalam rangka untuk memecahkan masalah yang diajukkan. Oleh karena itu, beberapa teori menyebutkan bahwa dalam sebuah tugas autentik bertujuan untuk membuat siswa kompeten dihadapkan pada masalah-masalah professional, tugas asesmen seharusnya memiliki kompleksitas terencana dan kepemilikan pada tugas menurut level tingkat psikologi siswa yang sesuai dengan kehidupan nyata. Siswa akan terlihat adanya suatu keterkaitan antara tugas asesmen dan ketertarikan personal mereka terhadap tugas tersebut jika sebelumnya mereka merasa bahwa sebuah tugas itu akan bermakna. Perasaan kebermaknaan terhadap sesuatu akan berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya dan akan mungkin berubah seiring siswa semakin banyak pengalaman
Tugas dapat bermakna jika adanya perasaan pada siswa bahwa sebuah tugas (a) bersangkut paut dengan apa yang mereka lihat kaitannya dengan situasi dalam dunia nyata atau situasi pekerjaan, atau (b) mereka menganggapnya sebagai suatu transfer skill/kemampuan yang berharga.
2.   Physical Content (Lingkungan Fisik). Tempat dimana kita berada, seringkali walaupun tidak selalu dapat menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu, dan seringkali tempat sebenarnya lebih kotor (baik tulisan maupun gambar) daripada lingkungan belajar yang aman. Misalnya, sebuah asesmen pada mekanik kendaraan untuk militer atau kapasitas seorang tentara untuk menemukan masalah dalam sebuah mobil jeep yang tidak berfungsi dapat di-assess dalam sebuah garasi yang bersih dan dengan segala peralatan yang dibutuhkan, namun lingkungan fisik di masa mendatang memungkinkan kondisi cuaca yang buruk, tempat yang sempit, dan peralatan yang sedikit. Walaupun tugasnya sendiri adalah autentik, namun dapat dipertanyakan apakah meng-ases siswa di lingkungan yang bersih dan aman benar-benar meng-ases kemampuan siswa untuk menggunakan kompetensi mereka secara bijak dalam situasi dunia nyata.
Lingkungan fisik dari asesmen otantik seharusnya merefleksikan jalannya pengetahuan, skill, dan perilaku yang akan digunakan dalam profesional (sebenarnya). Seperti dari ketelitian sering digunakan dalam konteks simulasi computer, yang menjelaskan seberapa dekatnya sebuah simulasi meniru realitas. Asesmen autentik seringkali berhubungan dengan konteks dengan ketelitian tinggi. Keberadaan materi, alat, bahan dan sejumlah detail lainnya yang disajikan dalam konteks adalah aspek penting dalam derajat ketelitian. Demikian juga, elemen penting dari keautentikan dari konteks fisik dimana angka dan jenis sumber daya tersedia yang kebanyakan berisi informasi yang relevan dan tidak relevan serta harus menyerupai sumber daya dalam kriteria situasi sebenarnya. Misal, kebanyakan tes sekolah melibatkan pekerjaan memori, sementara aktivitas di luar sekolah seringkali berhubungan dengan alat dan sumberdaya sehingga membuat tes sekolah kurang autentik. Oleh sebab itu, akan menjadi tidak autentik bila menghilangkan sumber daya pada siswa, karena professional bergantung pada sumberdaya. Karakteristik yang penting lainnya untuk menyediakan lingkungan fisik yang autentik adalah waktu yang diberikan bagi para siswa untuk mengerjakan tugas. Tes biasanya teradministrasi dalam satu periode waktu yang ketat, misalnya dua jam yang sepenuhnya untuk mengerjakan tes. Dalam dunia nyata, aktivitas professional seringkali melibatkan lebih banyak waktu dalam beberapa hari, atau sebaliknya, membutuhkan reaksi cepat dan segera dalam beberapa detik. Dengan kata lain, sebuah asesmen autentik seharusnya tidak bergantung pada rintangan waktu yang tidak realistis.  Singkatnya, level keautentikan dari lingkungan fisik ditentukan oleh kemiripan elemen-elemen yang mempunyai kriteria sesuai situasi.
3.  Social Context (Konteks Sosial). Tidak hanya lingkungan fisik, tapi juga konteks sosial mempengaruhi keautentikan sebuah asesmen. Dalam kehidupan nyata, bekerja bersama kadang adalah sebuah aturan yang tidak ada pengecualiannya, dan sekolah dalam proses pembelajaran merupakan tempat dalam  sistem sosial. Oleh karena itu, sebuah model untuk asesmen autentik seharusnya mempertimbangkan proses sosial yang terdapat di konteks dunia nyata. Apa yang sebenarnya penting dalam autentik asesmen adalah bahwa proses sosial dari asesmen menyerupai proses sosial dalam sebuah situasi yang sejalan dengan kenyataan. Pada literatur lainnya, autentik asesmen mendefinisikan kolaborasi sebagai karakteristik dari keautentikan. Namun, apabila pada situasi nyata membutuhkan kolaborasi, asesmen seharusnya melibatkan kolaborasi, tapi apabila situasi secara normal dapat di tangani secara individual, maka asesmen seharusnya individual. Ketika asesmen membutuhkan kolaborasi, proses seperti interaksi sosial, saling ketergantungan yang positif, dan akuntabilitas sosial harus dilibatkan. Ketika asesmen bersifat individual, konteks sosial harus menstimulasi kompetisi positif diantara para pelajar.
4.   Assessment result or form (Hasil atau bentuk Asesmen). Sebuah asesmen melibatkan sebuah penetapan hasil asesmen (dalam suatu lingkungan fisik dan konteks sosial) yang kemudian dievaluasi terhadap beberap kriteria asesmen tertentu. Hasil Asesmen berhubungan dengan jenis dan jumlah output dari tugas asesmen, tidak bergantung pada konten asesmen. Setidaknya ada empat elemen hasil autentik yang dapat dikaji.
-          Seharusnya terdapat suatu produk atau performa berkualitas yang dapat diminta untuk dihasilkan siswa di kehidupan nyata.
-           Produk atau performa harus merupakan sesuatu demonstrasi yang memungkinkan terbentuknya kesimpulan valid mengenai kompetensi-kompetensi yang mendasarinya. Karena demonstrasi dari kompetensi-kompetensi yang relevan dimungkinkan tidak diperoleh dalam suatu tes biasa
-          Asesmen autentik harus melibatkan susunan penuh dari tugas dan berbagai indikator pembelajaran dengan tujuan menghasilkan kesimpulan yang adil. Sehingga perlu adanya sebuah kombinasi dari metode-metode asesmen berbeda yang cukup menjangkau kebiasaan dalam pengajaran professional.
-          Siswa seharusnya menghadirkan pekerjaan mereka kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan, karena adalah penting bahwa mereka mempertahankan pekerjaan mereka untuk memastikan bahwa penguasaan materi yang terlihat adalah asli.
5.    Criteria and Standards (Kriteria dan Standar). Kriteria adalah karakteristik-karakteristik dari hasil asesmen yang bernilai; standar adalah level performa yang diharapkan dari berbagai tingkat dan usia siswa. Menentukan kriteria (rubrik) dan membuatnya eksplisit serta transparan sebelumnya bagi siswa penting dalam autentik asesmen, karena ini akan menuntun pembelajaran. Setelah itu, dalam kehidupan nyata, para siswa akan lebih mengetahui pada kriteria apa saja akan dinilai. Ini berimplikasi bahwa autentik asesmen mengharuskan kriteria penilaian yang jelas. Selain itu, beberapa kriteria harus terkait dengan hasil yang realistis, menjelaskan secara lengkap karakteristik-karakteristik atau persyaratan-persyaratan dari produk, performa, atau solusi-solusi yang perlu diciptakan oleh siswa. Lebih jauh lagi, kriteria dan standar harus memperhatikan pengembangan dari kompetensi professional yang relevan dan harus berdasar pada kriteria yang digunakan di situasi dunia nyata.
Selain mendasarkan kriteria pada situasi dalam dunia nyata, kriteria dari sebuah asesmen autentik dapat juga berdasar pada interpretasi dari empat dimensi di atas. Contohnya, apabila lingkungan fisik menentukan bahwa sebuah asesmen autentik dari suatu kompetensi membutuhkan waktu satu jam, salah satu kriteria seharusnya adalah bahwa siswa perlu menghasilkan hasil asesmen dalam satu jam. Di sisi lain, kriteria yang berbasis pada praktek professional dapat pula menuntun interpretasi dari empat dimensi lain dari asesmen autentik. Dengan kata lain, penjelasan diatas memperlihatkan suatu hubungan timbal balik antara dimensi kriteria/standar dan keempat dimensi lain.


EmoticonEmoticon